"Oh ya...." Alvaro menggantung ucapannya sebelum ia melanjutkan langkahnya. Pandangannya juga difokuskan pada mereka bertiga.
"Tidak, tidak jadi. Aku ke kamar dulu," pamitnya, dan kemudian melangkah pergi.
Ihsan masih terdiam semenjak Alvaro yang sudah menuju ke kamarnya. Ia masih ketakutan dengan sosok si Imam, takut jika seandainya Imam yang ini juga jelmaan dari si pocong. Tapi jika apa yang dipikirkannya itu benar, bukankah seharusnya Alvaro tahu kalau yang berada beberapa meter di depannya itu bukanlah Imam, melainkan pocong?
"Sepertinya, ada yang disembunyikan oleh Alvaro," kata Nanda.
"Em. Ya udah, aku juga mau ke kamar dulu. San, kau jangan buat keributan lagi," ucap Nanda, kemudian ia mulai melangkah pergi dan masuk ke kamarnya.
Kini hanya tinggal Ihsan dan Imam yang berada di tempat itu. Suasana canggung menyelimuti diri mereka berdua. Bukan canggung, lebih tepatnya, Ihsan yang masih ketakutan, dan Imam yang bingung dengan sikap Ihsan, tentu itu menciptakan diam dalam pertemuan mereka.
"Nggak mau masuk?" Imam memulai pembicaraan. Ihsan diam.
"Kalau gak mau, ya udah. Tidur di luar, ya," lanjut Imam.
"Eh, tunggu." Ihsan akhirnya sudah mau berbicara sekaligus berlari kecil ke arah kamarnya.
Meski kejadian tadi tidak bisa ia hilangkan dari ingatannya, tapi untuk kali ini ia sedikit yakin bahwa Imam yang berada di depannya ini adalah Imam sahabatnya, bukan jelmaan dari pocong ataupun semacamnya.
***
Malam yang buruk bagi Ihsan, di mana untuk pertama kalinya sepanjang hidupnya ia merasakan sensasi bertatapan langsung dengan makhluk halus yang bernama pocong. Sungguh, ia tak mau mengulang lagi kejadian itu. Ia sudah trauma, dan cukup sekali itu saja ia merasakannya.
Sementara itu, selepas memisahkan diri dari Ihsan, Imam dan Nanda, Alvaro masuk ke kamarnya. Tadi ia sebenarnya ingin membicarakan tentang hal yang selalu terngiang-ngiang di kepalanya itu sekaligus ingin mendengarkan cerita dari Ihsan secara rinci. Namun, sepertinya waktunya kurang tepat.
Ia berbaring di kasur yang berada di kamarnya, masih belum bisa tertidur. Rasanya suasana hatinya cukup kalut. Ia memang takut pocong, tapi bukan itu yang membuatnya kalut. Ada satu hal yang jauh lebih menakutkan daripada hanya melihat pocong baginya.
"Huffff.... Aku harap malam ini tidak bermimpi yang seram-seram," ucap Alvaro dalam hati.
"Semoga saja aku bisa mimpi punya istri 5 yang cantik-cantik," lanjutnya yang masih membatin. Tak lupa ia juga menampakkan senyuman nyatanya.
Ia kemudian memejamkan mata, bersiap untuk tertidur. Di dalam hatinya masih ada kata "semoga". Ia tak mau jika malam ini menjadi malam yang buruk untuknya. Cukup Ihsan saja yang mengalaminya, ia tak mau ikut-ikutan.
***
Sejauh mata memandang, hanya gelap yang dapat terlihat. Suara angin malam yang berhembus menambah kesan menakutkan di malam itu. Rimbunnya pepohonan dan semak belukar seolah-olah akan menjadi petaka bagi siapa saja yang melewatinya.
Di depan rumah tua itu, sedang terduduk dua orang berjubah yang terlihat sangat misterius. Mereka seperti sedang memperbincangkan sesuatu yang mestinya tak ada yang tahu selain mereka berdua.
"Kita akan dapat mangsa baru untuk keabadian kita," kata seseorang berjubah yang dari nada suaranya seperti suara seorang wanita.
"Hati-hati, jangan bertindak gegabah kepada mereka," ucap satu lagi manusia berjubah. Untuk yang ini adalah si lelakinya.
"Kenapa? Sudah lama kita selalu melakukan hal seperti ini, baru kali ini kau memperingatkan aku," ucap si wanita.
"Salah satu dari mereka mungkin akan membawa petaka buat kita. Berhati-hatilah!" kata si lelaki.
"Oh, maksudnya, dia yang tampan itu, ya?" tanya si wanita.
"Dia mempunyai kemampuan yang tidak biasa. Bisa saja dia datang ke sini untuk misi menghancurkan kita," ucap si lelaki.
"Hahahaha." Wanita itu tertawa. Suaranya sungguh begitu menyeramkan.
"Sejak kapan kau jadi penakut seperti ini?" tanyanya kemudian.
"Sudah kubilang jangan gegabah! Jangan remehkan dia," ucap si lelaki.
"Kau itu kebal, lalu apa yang kau takutkan?" tanya si wanita.
"Dasar bodoh! Jika saat waktunya nanti tiba dia tahu kelemahan kita, maka habislah sudah," ucap di lelaki dengan nada tinggi.
Entah siapa yang mereka berdua maksud. Namun sepertinya maksud mereka berdua tentang si manusia tampan yang bisa membawa malapetaka untuknya adalah Alvaro. Siapa lagi? Tentu saja Alvaro. Hanya dia yang punya kemampuan spesial. Sementara yang lain, bahkan kalau ingin melihat penampakan makhluk tak kasat mata saja harus menunggu sampai mereka memunculkan diri terlebih dahulu.
Ada yang aneh dengan mereka berdua. Bagaimana bisa mereka tahu kalau ada mangsa baru untuk mereka? Ah, iya. Mungkin si bayangan hitam yang dilihat Reyhan waktu itu adalah salah satu dari mereka. Atau mungkin juga, mereka berdua adalah orang-orang pemilik villa itu. Kalau begitu, wajar saja jika mereka tahu semuanya. Tentang bagaimana bisa mereka tahu tentang kemampuan yang dimiliki Alvaro, itu sudah tak perlu dipertanyakan. Karena mereka juga bukan orang-orang sembarangan. Komplotannya bukan hanya sekedar preman ataupun mafia-mafia besar, tapi komplotannya adalah para iblis yang menakutkan.
***
Esok hari akhirnya tiba. Di saat itu pula semua ketegangan yang terjadi tadi malam pun mendadak hilang. Ihsan yang tidur dengan gelisah sepanjang malam kini sudah bangun dalam keadaan segar. Sementara Alvaro, dirinya memang sudah terbangun, tapi belum berani untuk membuka matanya. Ia takut kejadian seperti kemarin terulang kembali.
"Oi, Al, bangun!" ucap Reyhan sambil menggoyangkan tubuh Alvaro.
Ketika indra pendengarannya mendengar suara dari Reyhan, Alvaro pun bisa sedikit tenang karena saat ia membuka mata nanti, yang ia lihat adalah Reyhan, bukan wajah hantu wanita jelek itu.
"Emmm.... Iya, udah jam berapa?" tanya Alvaro.
"Jam lima. Kau cepat bangun. Jangan molor terus!" kata Reyhan. Alvaro pun terbangun sambil mengucek-ucek matanya. Ia masih terlihat sangat malas untuk bangun.
Dan ketika ia membuka matanya dengan sempurna, benar saja, yang ia lihat di depannya adalah si Reyhan. Ia bersyukur bahwa di pagi hari ini ia tidak mendapat sambutan yang tidak menyenangkan lagi. Ia masih ingat betul tentang bagaimana sensasi bertatapan langsung dengan hantu tepat ketika baru membuka mata setelah tidur malam. Itu benar-benar sangat menakutkan, dan dia berharap hal semacam itu tak akan terulang lagi sepanjang hidupnya.
Selepas bangun, Alvaro berniat untuk pergi ke kamar mandi. Dia dengan keberanian tingkat tinggi begitu tenangnya berjalan sendirian menuju tempat yang semalam sempat menjadi tempat kejadian perkara di mana Ihsan dihantui oleh sosok pocong. Ia bahkan tak memikirkan hal semalam lagi, dan juga tak punya sedikitpun ketakutan untuk menuju ke sana walaupun harus sendirian. Padahal, mata ajaibnya itu bisa dengan mudah menangkap sosok mereka.
Suasana pagi yang terbilang cukup aneh. Meski sudah pagi, tapi suasananya seperti tengah malam. Namun sepertinya Alvaro tak menyadarinya. Di ruangan kecil yang dinamai dengan kamar mandi itu ia dengan santainya membasuh muka sembari bercermin. Sebuah hal yang mengejutkan tiba-tiba terjadi di kala ia membasuhkan air ke mukanya menggunakan kedua telapak tangannya. Saat kedua telapak tangannya itu benar-benar menutupi matanya, beberapa meter di belakangnya berdirilah sosok hantu bungkus yang biasa disebut pocong. Sosok itu hanya berdiri di sana, namun Alvaro juga tak melihatnya dikarenakan kedua telapak tangan yang menutupi matanya.
Namun tak bisa dipungkiri bahwa ia bisa merasakan kehadiran sosok itu meski tak melihat. Ketika tangannya sudah terpisah dari wajahnya, sosok itu tiba-tiba menghilang. Ia yang seperti merasakan sesuatu yang ada di belakangnya pun langsung menoleh dengan cepat, namun nihil, tak ada apa-apa di belakangnya.
"Hufff.... Biarin aja lah," ucapnya sambil meneruskan aktivitasnya.
Aslinya dia yakin, bahwa tadi sempat ada makhluk tak kasat mata yang berada di belakangnya. Biarpun ia tak sempat melihatnya, tapi kepekaan tubuhnya juga bisa merasakan dengan jelas bahwa tadi dia memang ada di belakangnya. Ia mulai bertanya-tanya, kenapa sosok itu tak mau menampakkan dirinya di depannya? Di dalam hati dia juga menjawab pertanyaannya sendiri, bahwa mungkin itu karena energi-energi yang ada di dalam tubuhnya itu. Padahal sejatinya pun ia sama sekali tak mengerti tentang energi yang dimaksud.
Bahkan sampai ia selesai dengan urusannya pun, tak ada sedikitpun kejadian aneh lainnya selain penampakkan pocong yang hanya nampak di cermin itu. Alvaro berjalan santai keluar dari kamar mandi dengan sangat santainya.
Beberapa saat kemudian, Imam dan Ihsan secara bersamaan datang ke kamar mandi yang tadi dipakai Alvaro. Ihsan masih terlihat sangat ketakutan, sementara Imam terlihat santai karena ia memang belum melihatnya sendiri tentang bagaimana wujud makhluk itu.
"Mam, kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Aku mau buang air kecil dulu," ucap Ihsan yang memasang wajah sangat ketakutan.
"Iya," jawab Imam.
"Awas aja kalau ditinggal," kata Ihsan.
"Iya, San, cepat!" perintah Imam.
Ihsan berjalan masuk ke kamar mandi. Sebelum masuk, ia masih mengawasi keberadaan Imam terlebih dahulu. Setelah dirasa aman, ia pun masuk.
Kamar mandi yang menyimpan sejarah kelam tadi malam, kini harus ia gunakan lagi. Ia melihat seluruh area ruangan itu dengan harapan tak ada si pocong yang berada di situ. Ia merasa semacam dejavu di kala sedang berada dalam proses membuang hajatnya. Baginya, tadi malam itu benar-benar sangat mengerikan.
"Sssssshoah."
Ia tiba-tiba mendengar sesuatu dari arah luar. Bulu kuduknya langsung merinding. Namun ia segera ingat bahwa di luar ada Imam yang jaga. Mungkin itu ulah dari sahabat laknatnya itu untuk menakut-nakuti.
"Mam, gak usah nakut-nakutin, deh!" ucap Ihsan.
"Apa, San?" tanya Imam yang berada di luar.
"Gak usah nakut-nakutin!" ucap Ihsan lagi.
Namun, tak ada jawaban dari luar. Ia semakin yakin bahwa itu adalah ulah dari si Imam. Ia merasa agak tenang sekarang. Setidaknya ia tahu bahwa sosok di balik suara menyeramkan itu adalah si Imam, bukan makhluk halus, termasuk pocong.
"Sssshoah."
Lagi-lagi suara itu muncul. Ihsan tetap tenang, karena menyangka bahwa suara itu datang dari Imam yang sedang iseng. Dia dengan santainya memakai kembali celananya karena proses buang hajatnya telah selesai.
Sreettt!
"Po-po-pocong!" teriaknya.
Sial sekali nasibnya, tepat ketika ia membalikkan tubuhnya, tepat di depan matanya terpampang jelas sosok pocong yang ia yakini adalah pocong tadi malam. Badannya gemetaran karena takut. Sebisa mungkin ia bergerak menuju ke arah pintu kamar mandi.
"Mam, buka, Mam. Cepat!" teriaknya sambil memukul dan menendang pintu kamar mandi itu.
"Mam, buka!" teriaknya lagi.
Pocong itu tiba-tiba membalikkan tubuhnya. Wajah seramnya nampak jelas dari pandangan Ihsan. Ia semakin takut. Kembali ia memukul dan menendangi pintu itu sambil berteriak memanggil nama Imam. Namun anehnya, si Imam seolah-olah tak mendengar teriakannya yang begitu kencang. Muncul pertanyaan di benaknya. Apa mungkin Imam sudah pergi meninggalkan dia sendirian? Atau apa mungkin si Imam sudah terlebih dahulu melihat pocong ini dan kemudian pingsan?
Ihsan yang sedang sangat ketakutan mencoba menenangkan dirinya sendiri. Berkat itu pula pikirannya yang sempat blank kembali normal. Ia ingat bahwa kamar mandi itu hanya diselot dari dalam. Secepat mungkin ia langsung membuka selot dan setelah pintu terbuka, ia segera keluar dari kamar mandi terkutuk itu.
Ihsan berlari dengan begitu kencangnya, sampai ia tak sadar bahwa ketika ia berlari, ia sempat melewati seseorang yang tidak lain adalah si Imam. Imam yang melihat itupun tak bisa tinggal diam. Ia langsung memanggil Ihsan.
"Woi, ada apa, San?" tanya Imam.
Laju lari Ihsan langsung terhenti. Ia menoleh ke belakang dan mendapati bahwa si besar itu sedang berdiri di sana. Dengan napasnya yang ngos-ngosan, Ihsan berusaha untuk berbicara.
"Sialan! Kau ke mana aja tadi?" tanyanya emosi.
"Dari tadi di sini," jawab Imam.
"Emang ada apa?" tanya Imam.
"Ada pocong di dalam," jawab Ihsan.
"Pocong?" Imam seolah-olah tak percaya dengan apa yang Ihsan katakan.
Ia pun berjalan ke arah kamar mandi untuk memeriksa tentang kebenaran dari sesuatu yang Ihsan katakan. Ihsan sudah berusaha untuk mencegahnya, namun Imam bersikeras tetap ingin melihat.
"Mana? Gak ada apa-apa," ucap Imam sambil memandang ke seluruh area dalam kamar mandi.
"Ta-tadi ada di dalam situ. Mungkin udah pergi," kata Ihsan.
"Gak ada nih, coba lihat," kata Imam.
"Sumpah tadi ada. Lagian kau ke mana aja, aku teriak-teriak, apa kau tidak dengar?" tanya Ihsan.
"Teriak? Teriak apanya? Aku gak dengar apapun," kata Imam. Matanya masih fokus ke arah dalam kamar mandi sambil sesekali memandang ke arah Imam.
"Sumpah, deh, aku tadi teriak sambil memukul dan menendang pintu itu. Apa kau tidak mendengarnya sedikitpun?" tanya Ihsan.
Imam membalikkan tubuhnya sambil menghembuskan napas pelan. Kini posisinya adalah membelakangi kamar mandi itu dan berhadap-hadapan dengan si Ihsan.
"San, mungkin kamu hanya halusinasi. Kamu masih ngantuk atau terlalu takut, hingga-"
Belum sempat Imam mengakhiri bicaranya, Ihsan tiba-tiba mengarahkan telunjuknya ke arah Imam. Raut wajahnya juga berubah menjadi sangat ketakutan, entah apa yang terjadi padanya. Bahkan Imam pun bingung dan memutuskan untuk berhenti berbicara. Ihsan yang mendadak bertingkah aneh, memunculkan banyak pertanyaan di benaknya, salah satunya adalah tentang apa yang terjadi dengan si Ihsan.
"Po-po-" Ihsan tiba-tiba jatuh dan akhirnya tak sadarkan diri.