Bab 28

1281 Words
"Ihsan," ucap Imam ketika melihat Ihsan terjatuh. Refleks, ia pun langsung berlari menuju ke arah Ihsan berada. Ia bahkan tak punya pemikiran untuk memikirkan apa yang membuat Ihsan bisa jatuh pingsan. Yang ada di pikirannya cuma ia harus segera menolong sahabatnya itu. Sebenarnya, beberapa detik sebelum Ihsan pingsan, tepatnya saat si Imam berbicara panjang lebar tadi, Ihsan melihat sosok pocong menakutkan itu berdiri tepat di belakang Imam. Sialnya, meski posisi si pocong lebih dekat dengan Imam, malah dia yang harus melihat wujud pocong itu karena posisi Imam yang membelakangi. Oleh karena saking tidak kuatnya melihat sosok menyeramkan itu untuk ke sekian kalinya, ia pun sampai jatuh pingsan. Ihsan menggendong sahabatnya itu dengan begitu mudahnya. Wajar saja, mengingat tubuhnya yang sebesar itu, pastilah ia dengan mudah bisa menggendong tubuh si Ihsan. *** "Eh, Ihsan kenapa?" tanya Alvaro. "Pingsan. Katanya habis lihat pocong," jawab Imam sambil menidurkan Ihsan di kasur. "Pocong?" tanya Aji pada diri sendiri. Ia mendadak langsung terlihat ketakutan. Bukannya membawa Ihsan ke kamarnya sendiri, Imam malah membawa Ihsan ke kamar Alvaro dan teman-teman sekamarnya yang lain. Itu juga bukan tanpa alasan. Saat ini yang Imam percayai tahu tentang hal-hal mistis hanyalah Alvaro. Arul dan Tomi sudah tidak ada di dalam kamar. Hanya ada Alvaro, Reyhan dan Aji, ditambah lagi dengan kedatangan Imam yang membawa Ihsan. "Kau percaya, kalau Ihsan memang pingsan karena habis lihat pocong?" tanya Imam, entah kepada siapa. "Tadi malam, dia juga sempat teriak minta tolong. Katanya lihat pocong di kamar mandi, dan sekarang dia lihat lagi?" tanya Alvaro. "Jadi semalam juga sudah lihat pocong?" tanya Imam. "Di kamar mandi juga?" Reyhan juga mengajukan pertanyaan. "Iya," jawab Alvaro singkat. Mendadak, suasana menjadi hening karena dilanda oleh ketakutan. Imam yang tadinya tak percaya dengan ucapan Ihsan, kini menjadi percaya karena yang berbicara adalah Alvaro. Ia pun jadi ketakutan. "Huwaaa.... Pocong, pocong!" Ihsan terbangun dari pingsannya dan berteriak cukup kencang hingga membuat Alvaro, Reyhan, Imam dan Aji terkejut. Sontak mata mereka berempat pun langsung mengarah ke Ihsan. "Woi, San. Kau sudah aman. Sudah gak ada pocong di sini," ucap Reyhan. "Hah hah hah." Suara napas Ihsan. "Al, aku-aku sepertinya punya kemampuan aneh kayak kamu, deh," ucap Ihsan kemudian. "Kemampuan aneh gimana?" tanya Aji. Ia memang belum tahu tentang kemampuan yang dimiliki oleh Alvaro. "Jadi, sebenarnya Alvaro ini punya kemampuan di dunia supranatural, Ji. Salah satunya ya bisa melihat makhluk tak kasat mata. Tapi tolong, kamu jangan gampang membicarakan tentang kemampuan Alvaro ini kepada siapapun," ucap Reyhan menjelaskan. "Gitu, ya? Okelah, Rey," kata Aji. Titik fokus kembali ke Ihsan yang masih terduduk di kasur. Napasnya masih terdengar memburu seolah-olah sisa-sisa peristiwa menakutkan itu masih terasa sedang terjadi di hidupnya. "Kenapa kau bisa menyebut kalau kau punya kemampuan seperti itu?" tanya Alvaro. "Karena udah dua kali aku bisa melihat wujud mereka. Tadi malam dan sekarang," jawab Ihsan. "Hahaha.... Mungkin bukan karena kau punya kemampuan melihat mereka, San," kata Imam. "Terus?" tanya Ihsan. "Itu karena pocong itu suka sama kamu. Hati-hati lho, minta dinikahi entar, tuh pocong," jawab Imam tanpa beban. "Heleh, mana bisa. Tuh pocong kan, cowok," sangkal Ihsan. "Ya bisa aja dia gak normal. Suka sama sejenis," kata Imam. "Hussss." Alvaro menghentikan perdebatan mereka. "Jangan sembarangan lah, kalau berbicara. Kalau di dalam villa ini memang gak begitu masalah. Akan tetapi nanti kalau di luar villa, jangan begitu!" ucap Alvaro. Mendadak bulu kuduk mereka berempat merinding mendengar penuturan dari Alvaro. Timbul pertanyaan tanpa jawaban yang ada di pikiran mereka. Ada apa sebenarnya sampai Alvaro melarang mengucap kata yang tidak perlu ketika berada di luar villa? "Kenapa, Al?" tanya Imam. "Entahlah, aku rasa hantu di luar sana sangat berbahaya. Contohnya aja waktu kita sedang dalam perjalanan ke sini. Bukankah kita sempat disesatkan oleh mereka?" kata Alvaro. "Bayangkan saja! Terutama kamu, San. Kamu melawan hantu di sini aja udah dibuat pingsan, bagaimana jadinya jika melawan hantu yang di luar sana?" lanjut Alvaro. Ihsan diam mencerna kata-kata Alvaro. Semuanya terdiam, bingung mau berbicara apa. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka setelah itu. Hening, tanpa suara. Mereka membayangkan tentang segala kemungkinan yang akan terjadi jika nantinya bertemu dengan hantu yang ada di luar villa. "Rey, tolong telepon Delia dan lainnya. Suruh ke sini. Ji, kamu telepon Arul sama Tomi. Suruh ke sini juga!" perintah Alvaro. Mereka berdua pun menganggukkan kepala, lalu berjalan beberapa meter menjauh dari mereka untuk menelepon. "Memangnya ada apa, Al?" tanya Ihsan. "Nanti aja, sekalian kalau mereka sudah ke sini aku beritahu," jawab Alvaro. Beberapa saat kemudian, mereka datang silih berganti. Dimulai dari Arul, kemudian Tomi, dan terakhir adalah tiga gadis cantik yang tak lain adalah Delia, Ocha dan Nanda. "Oke, semuanya sudah berkumpul," kata Alvaro. "Memangnya ada apa, Al?" tanya Nanda. "Hufff.... Ini tentang study tour kali ini. Entah kalian percaya atau tidak, aku sempat mendapat pengelihatan dari mimpiku bahwa tempat ini sangat berbahaya. Awalnya aku juga tidak percaya, tapi bersamaan dengan setiap detik yang berlalu, aku semakin banyak mendapatkan petunjuk dan yakin bahwa mimpi itu akan menjadi kenyataan," ucap Alvaro. "Itu cuma mimpi, kan?" tanya Tomi. "Alvaro punya indra ke enam," sahut Reyhan dingin. Tomi diam membisu, namun dari raut wajahnya, ia seperti orang yang sedang ketakutan. Entah ketakutan dengan nada bicara Reyhan yang dingin ataupun dengan kenyataan bahwa Alvaro punya indra ke enam. "Reyhan sudah sempat memberitahukan hal ini pada para dosen, tapi sepertinya mereka tak ada yang percaya. Buktinya, mereka tak menceritakannya pada kalian, kan?" tanya Alvaro pada semuanya. Semuanya mengangguk. "Aku juga tak mau mendahului takdir. Tentang benar atau tidaknya mimpi itu, kita lebih baik berjaga-jaga. Karena aku rasa, si pembawa petaka itu selalu mengintai kita tiap hari," lanjut Alvaro. "Tiap hari? Siapa Al?" tanya Ocha. Alvaro menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya. Ia bersiap untuk bercerita. Tentang semua yang ia ketahui. Rumah tua di tengah hutan itu. Hantu yang sering menakut-nakutinya. Pokoknya semuanya ia ceritakan kepada mereka. Hanya bermodal keyakinan bahwa sahabat adalah orang yang akan selalu mempercayainya, walaupun itu tentang hal yang tidak masuk akal sekalipun. Karena itulah yang dinamakan sahabat sejati. "Kau yakin tentang itu?" tanya Nanda setelah Alvaro selesai bercerita. "Anggap saja itu baru dugaan, tapi kita juga harus waspada," jawab Alvaro. "Jika itu benar, berarti kita selama ini kita sudah terjebak," ucap Arul. "Jadi, apa langkah selanjutnya?" tanya Imam. "Yang pasti pertama kita harus memperingatkan semuanya," jawab Reyhan. "Bagaimana kalau mereka tidak percaya?" tanya Ocha. "Itu urusan nanti. Yang penting kita sudah memperingatkan mereka dulu." Kali ini Alvaro yang menjawab. "Baiklah, sekarang bagaimana cara memberitahukan mereka. Tidak mungkin kan, kalau harus memberitahu satu persatu dari banyaknya teman kita?" tanya Ocha. "Karena si dosen bodoh itu nggak ada yang percaya, mau tidak mau kita buat grup chat aja buat memberitahukan mereka," usul Reyhan. Ia sepertinya masih emosi kepada para dosen yang seakan-akan menganggap apa yang ia katakan itu seperti angin berlalu. "Nah, itu.... Sekarang, yang punya nomor semua teman kita, silahkan buat grup," kata Alvaro. "Cih, ya udah, biar aku aja yang buat," ucap Ocha. Sementara itu, di tempat lain, banyak manusia yang sibuk memainkan ponselnya dan menerima sebuah notifikasi. Pesan yang sangat panjang dibaca oleh satu persatu dari mereka di dalam hati, karena sebelumnya telah diperingatkan oleh sang pengirim pesan supaya jangan ada satupun yang membacanya dengan mengeluarkan suara. Bahkan tak hanya lewat grup saja, sang pengirim pesan yang tak lain adalah Ocha juga mengirimkan pesan penting itu lewat chat pribadi. Namun di lain tempat, terdapat seorang lelaki yang terlihat sedang berduaan dengan seorang perempuan. Dia adalah Arga, dan perempuan itu, perempuan itu adalah orang yang pernah bertemu Alvaro pada saat pertama kalinya Alvaro datang ke villa itu. Namanya Raisya, sang anak pemilik villa. Seperti saat bertemu Alvaro waktu itu, kini Raisya juga berpakaian minim di depan Arga. "Ada apa?" tanya Raisya lembut kepada Arga yang menatap tajam ke arah ponselnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD