Mendadak suasana pun menjadi hening. Mendengar kata "hutan" membuat nyali mereka menciut. Bagaimana tidak? Hutan selebat dan se menyeramkan itu pastinya telah dihuni oleh ribuan bahkan jutaan makhluk tak kasat mata. Apalagi waktunya ini adalah malam hari, waktu-waktu di mana mereka berkeliaran dengan bebasnya. Terlebih lagi sebagian dari mereka juga pernah disesatkan oleh penunggu hutan tersebut saat perjalanan ke villa. Hal itu benar-benar membuat semuanya berpikir dua kali untuk melakukan pencarian terhadap Alvaro dan Imam.
"Apa yang kalian pikirkan? Lebih baik kita cari kedua anak itu sebelum terlambat," ucap Pak Togar. Dosen yang satu ini memang punya kepedulian yang tinggi. Ditambah lagi dengan rasa tanggung jawabnya pada mereka.
"Jangan! Kalau kalian ingin mencari mereka, lebih baik besok pagi saja. Hutan ini terlalu berbahaya untuk kita datangi di waktu malam. Konon katanya, ada sosok hantu berwujud bayangan hitam yang menjadi salah satu penghuninya, dan hantu itu bukan sembarang hantu. Dia suka menculik orang-orang yang tersesat dan membunuhnya dengan kejam."
Lagi dan lagi, cerita dari seorang lelaki paruh baya sang pemilik villa itu sukses membuat mereka ketakutan.
"Hantu berwujud bayangan? Tidak, aku yakin itu bukan hantu. Itu manusia. Aku yakin itu. Apa jangan-jangan dia bersekongkol dengannya?" batin Reyhan.
"Kalau kami tidak mencarinya, lalu bagaimana dengan nasib kedua teman kami?" tanya Reyhan dengan nada yang agak tinggi.
"Itu kesalahan mereka sendiri," jawabnya dingin.
Dalam hati Reyhan sudah mengumpati lelaki itu. Ia sangat tidak suka dengan sifatnya yang seolah-olah tak punya rasa peduli sedikitpun pada orang lain.
"Baiklah. Kalau begitu, aku sendiri yang akan mencari mereka," ucap Reyhan tak kalah dinginnya dengan lelaki itu.
***
Di sisi lain, Alvaro baru saja berdiri dan melihat sesuatu yang membuat hatinya gembira. Sesuatu yang dimaksud lagi-lagi adalah sebuah cahaya putih yang terang benderang. Namun kali ini ia sangat yakin bahwa di sanalah ia akan menemukan jalan pulang.
"Mam, itu ada cahaya lagi," ucap Alvaro sambil menunjuk.
Orang yang dipanggilnya itupun ikutan berdiri dan menatap ke arah sesuatu yang ditunjuk oleh Alvaro.
"Jangan-jangan...." Imam menggantung ucapannya.
"Hantu?" tanya Alvaro. Imam hanya mengangguk.
"Hahaha, nggak lah, Mam. Lihat aja tuh warnanya!" ucap Alvaro mencoba meyakinkan Imam.
Merasa tak ada respon dari Imam, Alvaro pun berinisiatif untuk melangkahkan kaki terlebih dahulu. Kaki terkilirnya itu sungguh membuatnya sulit untuk berjalan.
Kemampuan matanya untuk melihat makhluk tak kasat mata kini benar-benar menghilang. Entah karena terlalu lelah atau apa, yang jelas ia belum begitu pahan tentang kemampuannya itu. Sekarang ia tidak ingin memikirkan itu dulu. Masih ada 2 hal yang membuatnya cukup gelisah. Pertama adalah keadaan kedua temannya yang lain dan yang kedua adalah jalan untuk pulang.
Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arah cahaya itu. Tepat seperti dugaannya, yang ia lihat itu bukanlah hantu ataupun semacamnya, melainkan sebuah cahaya harapan yang bisa membawanya ke jalan pulang.
Itu bukan ilusi. Itulah yang Alvaro yakini tentang cahaya itu. Ia akhirnya bisa tersenyum sumringah. Dalam benaknya, dengan ke sana ia pasti bisa menyelamatkan diri sekaligus menyelamatkan kedua sahabatnya itu.
Satu hal yang harus diketahui bahwa baru kali inilah Alvaro benci dirinya tidak bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata. Karena itu pula ia juga mempertimbangkan antara ajakan Imam untuk kembali ke villa atau terus mencari keberadaan Ihsan dan Reyhan.
"Mam, itu villa kita, Mam," ucap Alvaro sambil menunggu.
"Iya, nunggu apa lagi. Ayo cepat ke sana!" sahut Imam langsung berjalan cepat mendahului Alvaro.
"Lah, tadi sok-sokan gak mau, eh sekarang semangat banget," gumam Alvaro pelan.
Di depan villa sana puluhan manusia sudah menunggu kedatangan mereka berdua. Pandangan orang-orang itu tak bisa lepas dari kedua orang yang baru saja sampai. Akibatnya, Alvaro dan Imam pun bingung sekaligus agak canggung dengan tatapan mereka.
"Alvaro! Imam!" ucap Reyhan terkaget ketika melihat sahabat-sahabatnya itu kembali dalam keadaan selamat.
Semua yang melihat itu hanya bisa bernapas lega. Kekhawatiran Delia hilang seketika dan diganti dengan senyuman penuh arti.
Namun penderitaan Alvaro dan ketiga sahabatnya itu belum selesai sampai di situ saja. Mereka berempat harus menghadapi kemarahan dari Pak Togar. Tak ada satupun yang menyangkal, karena mereka memang merasa telah melakukan kesalahan. Hanya kata maaflah yang bisa keluar dari mulut mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul 00:22. Setelah mendengar kemarahan Pak Togar, mereka pun memutuskan untuk tidur. Rasa lelah dan penat benar-benar telah melakukan serangan hebatnya untuk menghancurkan tubuh mereka.
"Al, ada ingin yang aku bicarakan," ucap Reyhan. Sedangkan ketiga teman sekamarnya sudah tertidur.
"Besok aja lah, Rey. Aku ngantuk banget. Sumpah," ucap Alvaro.
"Hufff... ya sudahlah," kata Reyhan yang pasrah.
***
Malam itu Alvaro sudah cukup penat. Matanya bahkan terasa sangat berat untuk difungsikan. Beruntungnya setiap kali hal itu terjadi, maka kemampuannya untuk melihat ataupun merasakan kehadiran makhluk tak kasat mata pun menghilang.
Mungkin benar apa yang dikatakan oleh orang-orang bahwa selalu ada misteri di dalam kegelapan. Di sebuah rumah tua yang letaknya cukup jauh dari villa yang ditempati oleh Alvaro dan teman-temannya, nampak 4 bayangan besar dengan mata merah dan gigi-gigi menyeringainya sedang mengitari rumah tersebut layaknya satpam yang sedang berjaga. Tak ada yang tahu tentang itu, bahkan tidak untuk Alvaro sekalipun. Alvaro mungkin pernah melihat mereka, tapi itu dalam mimpi. Ia belum melihat langsung betapa menyeramkannya 4 sosok hitam itu yang sebenarnya.
Kembali lagi ke tempat Alvaro dan teman-teman sekamarnya. Mereka semua sudah terlelap dalam tidurnya. Namun mereka tak menyadari bahwa di kolong tempat tidurnya tengah ada sosok berambut panjang dengan wajah hancurnya yang sedang menggaruk-garuk ranjang tempat tidur yang ditempati oleh mereka.
Lupakan tentang sosok itu! Mungkin itu cuma hantu kurang kerjaan yang suka usil. Sepertinya pula hantu itu tak membahayakan. Asalkan tidak ada yang mengganggunya saja.
Hoahhh!
Alvaro menguap kencang di hari yang masih cukup pagi. Matanya masih terasa lengket untuk dibuka. Ia pun mencoba untuk duduk, tapu masih dengan mata yang tertutup. Tubuhnya menganjurkan dia untuk tidur kembali, tapi hatinya menganjurkan untuknya segera bangun. Itu sungguh sangat merepotkan baginya.
Namun pada akhirnya ternyata hatinya lah yang menang. Ia dengan perlahan mencoba membuka matanya yang sangat lengket. Wajar saja, ia tak mendapat porsi tidur yang cukup. Matanya akhirnya bisa terbuka, tapi sesuatu yang sangat tidak ingin ia lihat, tiba-tiba muncul tepat di depan matanya. Apakah sesuatu itu?
Mulut Alvaro terkunci seketika. Badannya lemas selemas-lemasnya. Keringat dingin mulai keluar dari pelipisnya. Baru juga ia bangun dan berharap bisa menatap keindahan semesta, tapi ini malah langsung disajikan dengan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan. Sosok penggaruk ranjang tempat tidur yang ia tidak sadari kehadirannya tadi malam, kini sosok itu telah menampakkan diri tepat di depan mata Alvaro.
Alvaro bingung antara mau berdoa atau mengumpat. Napasnya kini sudah mulai tersengal-sengal. Bukan hanya wujud menyeramkannya saja yang membuat Alvaro tak mau berlama-lama bertatapan dengan makhluk itu. Namun bau busuk yang menyengat hidung juga menjadi penyebabnya. Sialnya, tubuhnya benar-benar tak bisa digerakkan. Bahkan untuk berteriak saja pun ia tak bisa. Rasanya ada energi yang terasa mencekiknya.
"Sial!" umpatnya lirih.
Alvaro mencoba melawan ketakutannya. Kalau saja seandainya kedatangan hantu yang satu ini tidak tiba-tiba, mungkin saja ia akan lebih berani melawannya. Kedatangan yang tiba-tiba sungguh membuat Alvaro terdiam seketika.
Ia mulai ingat dengan sang penciptanya. Pikirnya berdoa jauh lebih baik dibanding mengumpat. Apalagi keadaannya ini sudah lain. Mengumpati hantu sama saja dengan hanya menambah kekuatan si hantu tersebut.
Hantu itu tak kunjung hilang dari hadapan Alvaro. Malahan, kini sosok buruk rupa itu semakin menjadi-jadi. Ia mengarahkan wajah hancurnya itu hingga posisinya sudah hampir bersentuhan dengan wajah Alvaro. Untungnya, saat itu juga Alvaro terbebas dari tali gaib yang membelenggunya. Ia akhirnya dapat menggerakkan sekujur tubuhnya lagi. Dengan tanpa basa-basi, ia pun langsung menghindari wajah hantu itu dan berancang-ancang untuk melakukan pukulan. Nampaknya kebodohannya kembali lagi. Saat pukulan tangannya ia hantamkan ke wajah buruk rupa hantu itu, hantu itupun menghilang. Ia lupa atau mungkin ada alasan lain lagi kenapa ia melakukan hal bodoh seperti itu. Harusnya ia berdoa, karena hanya doa lah yang bisa membuat si makhluk tak kasat mata itu pergi dari hadapannya.
"Sial!" umpatnya. Ia melihat sekeliling. Ia yakin kalau hantu itu masih ada di sekitarnya. Namun yang ia lihat hanyalah keempat temannya yang masih tertidur.
Alvaro memutuskan untuk mencari hantu tersebut. Mau bagaimana lagi? Emosinya sudah terlanjur naik akibat kemunculan si buruk rupa tersebut. Bahkan niat dia untuk berdoa pun dalam waktu yang singkat langsung terlupakan.
Ia turun dari tempat tidurnya. Entah kenapa ia merasa tidak enak ketika kakinya menyentuh lantai. Mendadak bulu kuduknya kembali merinding. Ia yakin sekali bahwa hantu itu sedang memperhatikannya dari suatu tempat.
Sreekk!
Deg!
Jantung Alvaro langsung dibuat berdetak sangat kencang ketika kakinya merasakan ada sepasang tangan yang memegang. Dari tekstur yang ia rasakan, tangan itu jelas bukan tangan manusia. Tentu saja. Ia merasakan ada banyak cairan yang ia tak tahu cairan apa itu yang kini melekat di kedua kakinya akibat sentuhan dari tangan misterius itu.
Dia memberanikan diri untuk menengok ke bawah, tapi tidak ada apapun yang nampak di indra pengelihatannya selain lantai dan juga kedua kakinya itu. Ia juga sudah tidak merasakan sentuhan tangan itu maupun cairan menjijikan yang sempat ia rasakan tadi.
Akan tetapi seorang Alvaro Aditama tidak akan pernah menyimpulkan sesuatu dengan cepat. Sesudah ia melihat ke bawah, ia pun berniat untuk melihat apa yang ada di kolong tempat tidurnya. Sebelum itu tentu saja ia perlu menyiapkan mentalnya dulu untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Mana tahu di kolong tempat tidurnya itu ada sosok berbalut kain kafan dengan wajah gosongnya ataupun sosok yang baru saja ia lihat tadi.
"Hufff." Ia menghembuskan napas pelan.
Setelah dirasa siap untuk melihat ke bawah kolong tempat tidur, ia pun menundukkan kepalanya. Sebuah hal yang mengejutkan langsung ia dapatkan. Ketika matanya tak menangkap satupun keanehan di sana. Namun perasaannya tetap mengatakan bahwa makhluk jelek itu masih ada di sekitarnya.
Ia merasakan ada sesuatu di belakangnya. Lebih tepatnya sesuatu itu kini sedang berdiri di atas kasur yang tadi ia gunakan untuk tidur. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun langsung menoleh ke belakang dengan kecepatan di atas rata-rata. Namun apa yang ia dapat? Lagi-lagi ia tak menemukan satu keanehan pun di sana. Jujur ia tak tahu harus bernapas lega atau malah menjadi kesal atas ketidak munculannya hantu itu. Akan tetapi ia memilih untuk bernapas lega, dan....
"AAAAA...!" jeritnya.
Hantu sialan! Si buruk rupa itu benar-benar telah membuat jantung Alvaro berdebar-debar. Bagaimana tidak? Wajah hantu sialan itu kini hampir menempel ke wajah Alvaro hingga membuat si manusia tampan itu berteriak ketakutan. Ia memang sudah terbiasa melihat wajah-wajah menyeramkan semacam itu. Akan tetapi, sesering apapun ia melihatnya, tetap saja kalau dikagetkan ia masih akan ketakutan.
"Alvaro, kau kenapa?"
Sebuah pertanyaan terdengar begitu menggema di telinga Alvaro sesaat setelah ia melakukan teriakan. Keringat dinginnya masih mengguyur deras di kedua pipinya saat ia menoleh ke arah sang penanya.
Ia melihat Reyhan di sana sedang duduk di atas kasur. Begitu pula dengan ketiga temannya yang nampaknya baru saja bangun. Ia tak langsung menjawab pertanyaan Reyhan. Ingatannya kembali mengarah kepada si hantu buruk rupa itu. Alhasil, ia pun mengarahkan pandangannya ke tempat di mana untuk terakhir kalinya ia bertatapan langsung dengan si hantu itu, dan ternyata yang ia lihat hanyalah kekosongan.
"Al, kau kenapa?" tanya Reyhan untuk yang kedua kalinya.
"Ha? Gak apa-apa. Sengaja aja aku teriak supaya kalian semua bangun dari masa hibernasi kalian," jawab Alvaro berbohong.
"Wah, sialan nih bocah!" ucap Aji.
"Hehehe, maaf Ji. Namanya juga sengaja," jawab Ardi polos.
Raut wajah yang berbeda hanya ditampakkan oleh seorang Reyhan. Walau bagaimanapun juga, ia adalah sahabat Alvaro yang pastinya tahu banyak tentang diri Alvaro. Ia tak percaya sama sekali kalau Alvaro berteriak hanya karena ia ingin membangunkan teman-temannya. Reyhan tahu bahwa sebenarnya sesuatu telah terjadi dan Alvaro tidak ingin menceritakan sesuatu itu kepada orang lain.
Sementara itu, Alvaro masih mengedarkan pandangannya ke sekitar. Sepertinya hantu itu telah pergi. Selain karena ia tidak melihat keberadaannya, ia juga sama sekali tak merasakan ada sosok itu di sekitarnya. Padahal rasanya baru sehari ia berada di sana, tapi mengapa banyak hal di luar nalar telah terjadi padanya?
***
Kini Alvaro sedang duduk sendirian di halaman villa tersebut sambil memandang ke arah hutan yang nampak begitu indah di pagi hari. Pikirannya benar-benar sangat kalut. Ia takut kalau mimpi itu nantinya akan menjadi kenyataan yang akan membuat dia dan yang lain berada dalam bahaya. Ia sungguh takut akan hal itu.