Di depan sebuah villa yang besar, nampak banyak orang yang sepertinya sedang menunggu sesuatu. 3 di antara mereka adalah Delia, Ocha dan Nanda.
"Kalian beneran gak tahu mereka pergi ke mana?" tanya Delia entah sudah ke berapa kalinya.
"Iya Del. Kami gak tahu. Sumpah deh," jawab Aji.
"Kami cuma tahu kalau si Imam datang ke kamar kami dan memanggil Alvaro. Mereka berdua melakukan percakapan sekejap yang kami tidak ketahui. Lalu setelah itu Alvaro berlari dan disusul Imam. Sudah itu saja, selebihnya aku gak tahu," jelas Arul.
Pandangan Delia beralih ke trio R, yakni Raka, Riko dan Rony, yang merupakan teman satu kamar Ihsan dan Imam.
"Kami juga gak tahu. Terakhir kali kami lihat mereka, mereka sedang bermain gitar di sini," ucap Riko yang nampaknya sudah peka dengan maksud tatapan Delia.
"Ya sudah, kita harus cepat-cepat temukan mereka. Malam ini juga kita akan menelusuri hutan. Saya harap tidak ada satupun yang berpencar," ucap Pak Togar yang disambut dengan anggukan mereka semua.
Berita hilangnya empat sekawan itu sebenarnya baru diketahui beberapa menit yang lalu ketika Arul, salah satu teman sekamar Alvaro dan Reyhan terbangun dari tidurnya dan mendapati tidak adanya 2 temannya itu. Ia pun kemudian membangunkan dua temannya yang lain dan menanyakan kepada mereka tentang keberadaan Alvaro dan Reyhan. Namun tentu saja mereka menjawab bahwa mereka tidak tahu. Hingga berita itupun menyebar dan membuat heboh seluruh penghuni villa.
***
Cahaya itu nampak jelas di mata Alvaro dan juga Imam. Hati kecil mereka mengatakan bahwa akhirnya mereka bisa keluar dari hutan itu. Hutan yang sangat menyeramkan. Sebuah hutan yang tersimpan banyak misteri di dalamnya.
Langkah mereka semakin cepat untuk mendekat ke arah cahaya. Saking girangnya, hingga sedari tadi mereka tak merasakan ada kejanggalan yang luar biasa dari cahaya yang mereka lihat itu. Di pikiran mereka, itulah jalannya untuk kembali ke villa itu. Mereka yakin, atau bahkan sangat yakin bahwa cahaya itu berasal dari lampu teras villa tersebut.
"Mam, berhenti!" ucap Alvaro menghentikan langkah Imam. Ia sepertinya sudah menyadari akan kejanggalan itu.
"Ada apa, Al?" tanya Imam.
"Sebentar!" ucapnya serius.
Tak lama kemudian Alvaro mengarahkan tangannya ke kaki kanannya. Kukunya yang tak begitu tajam sukses menjalankan tugasnya untuk menghilangkan rasa gatal itu.
"Sudah, kakiku gatal, tadi," ucap Alvaro sambil cengar-cengir.
"Hadehhhh, Alvaro! Kukira ada apa, tadi," keluh Imam. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.
"Hehehe, ya udah, kita lanjut jalan!" ajak Alvaro sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Imam tak memperdulikan tingkah Alvaro yang mengesalkan baginya. Ia memilih untuk berjalan terlebih dahulu meninggalkan Alvaro. Siapa yang tidak kesal? Dalam keadaan menegangkan seperti itu, Alvaro dengan tanpa berdosanya masih sempat-sempatnya merasakan gatal di kakinya. Parahnya, sebelum itu ia sudah membuat jantung Imam berdetak kencang karena takut jika Alvaro melihat hal-hal yang tak bisa ia lihat.
Cahaya yang mereka lihat lama kelamaan semakin dekat. Namun entah kenapa cahaya itu seperti bergerak. Mereka berdua yang hanya terfokus untuk mencapai tempat cahaya itu tentu saja tak menyadarinya.
"Mam, stop!" Lagi-lagi Alvaro menghentikan langkah Imam.
"Apa? Mau garuk kaki lagi?" tanya Imam kesal.
"Apa kau tidak merasa ada yang aneh?" tanya Alvaro mulai serius.
"Apanya?" tanya Imam balik.
"Kau tahu kan lampu teras villa itu berwarna putih. Tapi cahaya itu berwarna jingga. Satu hal lagi. Apa kau tidak sadar jika cahaya itu bergerak?" ucap Alvaro.
Mata Imam langsung terbelalak memandang ke arah cahaya. Jujur ia baru menyadarinya. Kini ketakutan mulai melandanya meski dalam hati kecilnya ia berharap bahwa cahaya itu setidaknya datang dari obor milik manusia. Namun terlalu mustahil jika ada cahaya obor sebesar itu. Lagipula siapa yang berani masuk hutan malam-malam begini?
"A-Al, i-itu c-cahayanya semakin dekat," ucap Imam dengan sangat grogi sembari menunjuk ke suatu arah.
Alvaro menatap tajam ke arah cahaya yang semakin lama semakin mendekat. Tak perlu lama-lama berpikir, ia langsung menyadari sesuatu.
"Mam, lari!" perintahnya yang kemudian langsung menyeret tangan besar Imam.
5 detik setelah Alvaro dan Imam berpindah dari tempatnya, wujud asli cahaya itu nampak jelas di mata mereka berdua. Sebuah bola api besar yang tampak hidup dengan gigi menyeringainya. Sosok itu sepertinya menyadari kehadiran Alvaro dan Imam. Hal itu terbukti dengan ia yang terbang melesat cepat ke arah kedua manusia itu. Telat satu detik saja, maka nyawa mereka akan tertinggal di tempat itu pula.
Rasanya mulut Imam ingin menjerit sekencang-kencangnya. Namun ia sadar bahwa ia bukan seorang manusia lebay yang bisanya cuma teriak tidak jelas. Kini yang bisa ia lakukan hanyalah melarikan diri sejauh mungkin dari makhluk api tersebut.
Sedangkan Alvaro, dia yang punya kemampuan khususpun kini tak bisa berkutik sama sekali. Baginya bola api itu jauh lebih menakutkan daripada pocong dan sebangsanya. Ia hanya bisa berdo'a dan memohon ampun pada Tuhannya, berharap makhluk api itu bisa lenyap.
Bugh!
Sial! Kaki Alvaro tersandung akar pohon yang menjuntai hingga menyebabkannya terjatuh. Imam yang berada 6 meteran di depannya pun terhenti langkahnya.
"Lari Mam!" perintah Alvaro kepada Imam.
Kini bola api raksasa itu sudah berada hanya sekitar 15 meter dari Alvaro. Jantung Alvaro berdebar kencang, begitupun dengan Imam. Alvaro merasakan kakinya sudah tak mampu untuk berjalan. Ya, ia nampaknya terkilir akibat akar pohon itu. Ia terus menerus menyuruh sahabatnya itu agar pergi meninggalkannya sendirian. Dalam pikirnya, walau harus mati, setidaknya ia sendiri saja yang mati, sahabatnya jangan. Namun Imam tak bergeming sedikitpun dari tempatnya untuk beberapa detik. Hingga pada akhirnya, si besar itu memilih sesuatu yang sebenarnya tidak diharapkan oleh Alvaro.
"Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau lari!" ucap Alvaro sambil terus berusaha untuk berdiri sembari menahan sakit yang luar biasa.
"Bodoh! Mana mungkin aku bisa meninggalkan kamu sendirian dalam bahaya," balas Imam yang dengan cepatnya merangkulkan tangan kiri Alvaro ke bahunya dan membantunya berdiri.
Namun, langkahnya kalah dengan pergerakan si bola api raksasa itu. Dalam sekejap saja, hantu api itu sudah berada tepat di belakang mereka. Kaki Imam mendadak lemas. Ia menjatuhkan lututnya sebagai tanda kepasrahannya dengan takdir kematian.
Mereka hanya bisa menutup mata. Setidaknya berlatih dulu sebelum menutup mata untuk selama-lamanya. Di hati kecil mereka berdua hanya kata kematian yang terlintas. Tak ada kata selain itu. Sudah tak ada harapan untuk selamat di saat hawa panas dari hantu bola api itu mulai membakar kulit, dan....
WUSHHH!!!
Bola api raksasa itu mendadak hilang dalam sekejap. Meninggalkan ketakutan yang luar biasa bagi dua insan yang kini masih bernyawa. Sepertinya sang kuasa masih memberikan kesempatan hidup bagi mereka.
Badan mereka menggigil ketakutan. Rasanya jiwanya telah terpisah dari raga. Mata mereka pun masih menutup. Sepertinya tak ada keberanian sedikitpun dari diri mereka untuk membuka mata. Sungguh inilah pengalaman mistis terburuk. Bahkan bagi Alvaro yang kesehariaannya tak bisa lepas dari makhluk tak kasat mata saja, ia merasakan pengalaman kali ini adalah yang paling menakutkan.
Alvaro perlahan membuka matanya. Ia melihat sekeliling. Hanya gelap yang nampak di matanya. Ia juga melihat si besar itu ketakutan. Tangan kiri Alvaro yang sedari tadi masih bersandar di bahu Imam sukses merasakan apa yang Imam rasakan.
Walaupun sebenarnya ia juga berada dalam mode ketakutan, tapi hatinya seperti sedang tertawa saat mengetahui si Imam yang begitu ketakutan. Kenapa tidak? Bahkan manusia dengan badan sebesar dan sekekar Imam pun segitu takutnya dalam menghadapi makhluk seperti tadi.
"Mam, buka matamu!" perintah Alvaro yang membuat Imam dengan perlahan membuka matanya.
"Di mana ini? Apa ini surga?" tanya Imam.
"Heh, yakin sekali kalau kau akan masuk surga. Ingat amal, Mam!" ucap Alvaro.
Begitulah kata yang begitu mudahnya terucap dari mulut seorang Alvaro Aditama sebagai tanggapan atas ucapan Imam barusan. Memang kalau dipikir-pikir ia tidak salah juga, sih. Kebanyakan manusia selalu berpikir bahwa dirinya sudah mampu untuk masuk surga dengan amalnya yang belum seberapa, padahal belum tentu mereka masuk surga.
Alvaro mencoba berdiri masih dengan menahan sakit di kakinya. Pada saat berdiri itulah ia akhirnya menyadari sesuatu yang membuat hatinya gembira.
***
Reyhan dan Ihsan melihat cahaya terang benderang itu hingga membuat mereka kehilangan fokus pada si anak kecil yang mereka ikuti tadi. Beberapa saat kemudian, giliran Ihsan yang dikejutkan oleh cahaya jingga dari arah belakangnya. Namun cahaya jingga itu mendadak menghilang hingga membuatnya bertanya-tanya dalam hati.
Anak kecil itu masih berada di dalam jangkauan mata mereka. Kini tugas mereka hanya harus mengikuti ke mana arah si kecil melangkah tanpa harus memperdulikan 2 cahaya itu.
"Sebenarnya cahaya apa itu. Apa mungkin itu pintu surga dan neraka? Yang putih di depan sana pasti pintu surga, dan tentu yang jingga tadi, itu pasti pintu neraka," batin Ihsan menganalisa kedua cahaya itu dengan analisa yang tak masuk akal.
Terkejut. Itulah satu-satunya kata yang pantas untuk menggambarkan keadaan diri mereka berdua ketika melihat si anak kecil yang mereka ikuti tiba-tiba berlari kencang. Tanpa pikir panjang, merekapun langsung mengejarnya, tapi nampaknya lari mereka berdua kalah cepat dengan si anak kecil itu. Lama kelamaan, sudah tak sedikitpun terlihat raga bocah tersebut dari sudut pandang mereka berdua. Bisa dibilang, kini Reyhan dan Ihsan kehilangan jejaknya.
Banyak pertanyaan yang hinggap di otak kecil mereka. Mulai dari siapa sosok anak kecil itu? Bagaimana anak sekecil itu bisa berlari secepat kilat? Serta apa sebenarnya cahaya yang mereka lihat tadi? Namun untuk pertanyaan ketiga sepertinya tak perlu dijawab lagi. Karena apa? Karena mereka sudah mengetahui tentang apa sebenarnya cahaya itu. Cahaya terang itu berasal dari lampu teras villa yang kini hanya berjarak beberapa puluh meter dari tempat mereka.
"Terima kasih sudah menolongku."
Tiba-tiba indra pendengaran mereka menangkap sebuah suara tanpa wujud. Namun dari nada bicaranya itu seperti anak kecil yang mereka ikuti tadi. Suara itu hanya terdengar seperti suara bisikan yang sangat lirih. Hanya suara, dan tak ada wujudnya. Tunggu! Jika suara itu tak berwujud, berarti anak kecil itu...?
Reyhan dan Ihsan saling berpandangan. Terlihat jelas dari raut wajah mereka yang menggambarkan akan ketakutan yang luar biasa.
"Hantu...!" teriak mereka bersamaan sembari berlari.
Kecepatan lari yang terasa melebihi kecepatan kereta api itu sontak langsung membawa mereka dengan cepatnya sampai ke halaman villa. Bahkan hal itu sudah seperti teleportasi.
Di depan villa sana mereka dikejutkan oleh banyak pasang mata yang menyaksikan dengan aneh. Mereka adalah teman-teman, para dosen sekaligus sang pemilik villa yang sedari tadi menanti kedatangan Reyhan dan kawan-kawan. Mereka juga nampaknya telah bersiap untuk melakukan pencarian, tapi tertunda oleh kedatangan 2 orang itu.
"Kalian! Syukurlah kalian sudah kembali. Dari mana saja kalian?" tanya Pak Togar dengan hebohnya.
Napas yang masih tersengal-sengal membuat mereka kesulitan untuk berbicara. Alhasil si dosen botak itupun harus menunggu beberapa saat untuk mendengar jawaban dari orang yang ditanyainya itu.
"Ada-ada hantu, di sana," jawab Ihsan tak sesuai dengan apa yang ditanyakan.
"Saya nanyanya dari mana, bukan ada apa di sana. Tolong jawab dengan jelas!" ucap Pak Togar.
Begitulah sifat si dosen pelontos itu. Dalam keadaan apapun juga, ia selalu tidak suka jika ada yang menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang tidak sesuai dengan apa yang ia tanyakan.
"Alvaro sama Imam mana?" tanya Delia tiba-tiba. Ia terlihat cukup panik.
Oh ya. Hampir saja mereka semua melupakan 2 pemuda lainnya yang ikut hilang. Untung saja si gadis cantik itu mengingatkan semuanya walaupun harus memotong pertanyaan dari dosennya sendiri.
"Apa mereka belum kembali?" Kali ini Reyhan yang berbicara. Bukannya menjawab, ia malah bertanya balik kepada Delia.
"Kalau sudah kembali, tidak mungkin aku menanyakannya," jawab Delia. Emosinya sudah mulai meluap-luap. Baru kali inilah seorang Delia Aprilia se emosi ini.
"Sudahlah! Lebih baik kalian ceritakan dulu apa yang sebenarnya terjadi agar mempermudah pencarian kita," ucap salah satu dosen sembari berjalan pelan ke arah Reyhan dan juga Ihsan.
Reyhan nampak berpikir. Tidak mungkin jika ia menceritakan tentang awal mula ia masuk ke dalam hutan karena membuntuti seseorang yang mencurigakan. Ia tentu tak mau membuat mereka semua khawatir atau bahkan yang lebih parah, mereka malah menyangkal pernyataannya dengan hinaan dan sebagainya. Selain itu juga ia takut jika salah satu dari banyaknya manusia di tempat itu, ada yang bersekutu dengan seseorang yang ia ikuti tadi.
"Ayo cerita!" ucap Pak Togar yang sudah tidak sabar.
"Kami tadi tersesat di dalam hutan, dan mungkin Alvaro dan Imam pergi ke hutan untuk mencari kami," ucap Reyhan dengan cerita yang sesingkat-singkatnya.
Delia menatap Reyhan dengan penuh selidik. Ia sudah bersahabat sejak lama dengannya. Ia juga pastinya tahu bahwa lelaki itu sedang menyembunyikan sesuatu dari semuanya. Hanya saja si Reyhan tak bisa ataupun tak mau menceritakannya. Memang seperti itulah sifat dari Reyhan.
"Apa yang kau sembunyikan dari kami, Rey?" batin Delia.