Keluarga Mentari masih menunggu dengan harap-harap cemas. Artha masih terisak, dandananya sekarang sudah tidak beraturan. Artha sudah tidak peduli dengan semua itu. dandanan tidaklah penting, untuk saat ini. bagi Artha, melihat putrinya melewati momen terpenting dalam hidupnya, itu lebih berharga dari apa pun. “Pak Goklas.” Goklas yang masih terduduk di teras dengan kepala tertekuk, mendengar suara seseorang memanggil namanya. Ia menengadah wajah dan melihat Lukman dan beberapa orang lainnya, sudah berdiri di hadannya. Goklas seketika bangkit dan menatap semuanya. “Pak Goklas, sebelumnya saya minta maaf atas sikap dan perlakuan tidak menyenangkan yang pak Goklas dan keluarga dapatkan di sini. Ninik mamak kami ingin mengatakan sesuatu.” “Pak, dengan segala kerendahan hati, kami meminta

