Rumah kontrakan Azzam. “Bagaimana keadaanmu, Zam?” Iqbal yang baru kembali dari masjid, langsung menghampiri Azzam. Pemuda berdarah minang itu yang baru saja selesai melaksanakan salat maghrib di rumah kontrakannya. “Alhamdulillah ... sudah jauh lebih baik, sekarang. Terima kasih, Bal.” “Apa kamu sudah minta izin, tidak bisa mengajar tahfiz, hari ini?” “Sudah, tadi sudah aku beri tahu kepada pengurus masjid, jika aku kurang enak badan. Aku minta beliau menggantikan.” “Baguslah ... Oiya, Zam. Apa kamu masih memikirkan gadis itu?” “Aku tidak tahu, aku sudah berusaha untuk melupakannya, namun aku tidak bisa.” Azzam kembali tertunduk. “Dua minggu lagi, kita akan wisuda. Apa kamu sudah punya rencana?” “Mungkin aku akan kembali ke kota Padang, aku akan mengabdikan diriku di sana.” “Buka

