Siang yang cerah dan damai. Semua anggota keluarga, kerabat dan juga jemaat gereja, yang hendak menyaksikan sumpah pernikahan dan pemberkatan antara Anggiat dan Mentari, sudah duduk di tempat mereka masing-masing. Lantunan pujian sudah dinyanyikan bersama. Begitu juga dengan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh pendeta. Kini, ke dua calon pengantin sudah berada di depan altar untuk melaksanakan acara pemberkatan. Pendeta mulai memberikan pertanyaan kepada calon pengantin. “Apakah kau Mentari Ginting menerima Anggiat sebagai suami dan bersedia menjadi istri serta mencintainya dalam suka maupun duka sampai maut memisahkan kalian?” Hening ... Ruangan gereja yang begitu luas, seketika hening, karena Mentari sama sekali tidak menjawab pertanyaan pendeta. Ia bahkan tidak menatap A

