Malam di Meranti

1511 Words
Rio meninggalkan apartemennya sebelum fajar, memutuskan bahwa menunggu di tempat yang sudah diketahui pengawasnya sama saja dengan menyerah lebih awal. Ia membawa hanya yang perlu — dompet tipis, ponsel lama yang tidak pernah ia gunakan untuk komunikasi sensitif, dan flash drive yang tersimpan aman di saku dalam jaketnya. Ia berjalan kaki menuju stasiun, mengambil kereta pertama menuju Meranti, kota yang ia pilih bukan karena kebetulan — Arka ada di sana untuk liputan susulan hari itu, dan Rio memutuskan sudah waktunya menyerahkan flash drive itu secara langsung, tidak lagi lewat amplop atau pesan terenkripsi yang bisa disadap. Ia meninggalkan apartemennya dengan hati yang aneh tenang, hampir seperti kelegaan — setelah bertahun-tahun hidup dengan kewaspadaan yang tidak pernah benar-benar reda, ada semacam ketenangan ganjil dalam menghadapi bahaya yang akhirnya nyata, dibanding terus-menerus menunggu sesuatu yang mungkin tidak pernah datang. Ia mengunci pintu apartemennya untuk terakhir kalinya, meski ia tidak menyadarinya saat itu, dan menatap sekeliling ruangan yang telah menjadi rumahnya selama lebih dari satu dekade, penuh dengan buku-buku dan kliping berita lama yang menjadi satu-satunya saksi dari kehidupan yang ia jalani jauh dari sorotan publik. Kereta itu nyaris kosong di jam sepagi ini. Rio duduk di sudut, punggung menghadap dinding, mata terus mengawasi setiap orang yang naik di setiap perhentian. Tidak ada yang mencurigakan. Tapi ia tahu, dari pengalaman panjang, bahwa pengawas yang benar-benar baik tidak akan pernah terlihat mencurigakan. Ia tiba di Meranti menjelang siang, menyusuri jalan-jalan yang sudah ia kenal dari kunjungan-kunjungan sebelumnya, mengambil rute memutar yang tidak masuk akal, berhenti di beberapa toko tanpa niat membeli apa pun, hanya untuk memeriksa siapa yang mungkin mengikutinya. Untuk sesaat, ia mulai merasa yakin bahwa ia berhasil kehilangan siapa pun yang mungkin membuntutinya dari Ardhapura. Ia salah. Senja mulai turun ketika Rio mendekati area pelabuhan, memilih jalur belakang yang lebih sepi menuju titik pertemuan yang telah ia sepakati dengan Arka lewat pesan singkat pagi tadi — sebuah gudang kosong yang jarang dikunjungi orang, dua blok dari Zona C, cukup jauh untuk aman, cukup dekat untuk mudah diakses keduanya. Langkahnya terhenti sesaat ketika ia mendengar sesuatu — bukan suara yang jelas, lebih seperti perubahan tekanan udara, kesadaran samar bahwa ia tidak lagi sendirian di lorong sempit antara dua gudang tua. Ia menoleh. Tidak ada siapa pun. Ia mempercepat langkahnya, insting lamanya berteriak lebih keras dari akal sehatnya yang mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kelelahan, hanya paranoia yang wajar setelah berhari-hari waspada berlebihan. Sosok itu muncul dari balik tumpukan kontainer, bergerak dengan efisiensi yang hanya dimiliki seseorang yang sudah melakukan ini berkali-kali sebelumnya — tidak terburu-buru, tidak panik, seolah seluruh momen ini sudah ia perhitungkan sampai ke detik yang paling presisi. Rio berlari. Ia tidak berpikir lagi soal arah, soal rencana, soal apa pun selain menjauh sejauh mungkin dari sosok yang mengejarnya dengan langkah yang, meski tidak terburu-buru, entah bagaimana selalu berhasil mempertahankan jarak yang sama, seolah mengejarnya bukan soal kecepatan, melainkan soal kesabaran menunggu kesalahan kecil yang pasti akan Rio buat. Paru-parunya terbakar, kakinya yang sudah tidak semuda dulu memberontak terhadap tuntutan yang tiba-tiba dan brutal ini. Ia berbelok ke kanan, lalu ke kiri, mencoba mengingat tata letak area ini dari kunjungan-kunjungannya sebelumnya, berharap menemukan jalan keluar yang bisa membawanya kembali ke jalan utama yang lebih ramai, tempat setidaknya ada saksi mata yang bisa membuat sosok di belakangnya berpikir dua kali. Tapi area pelabuhan di jam ini, ketika senja sudah berganti gelap sepenuhnya, adalah labirin gudang-gudang kosong dan lorong-lorong sempit yang dirancang untuk logistik, bukan untuk pelarian seseorang yang berlari demi nyawanya sendiri. Kesalahan itu datang ketika Rio membelok ke jalan buntu, tidak menyadari bahwa jalur yang ia kira jalan pintas ternyata berakhir di tembok bata yang terlalu tinggi untuk dipanjat dalam kondisi paniknya sekarang. Ia berbalik. Sosok itu berdiri di ujung lorong, tenang, tidak terengah sedikit pun meski baru saja mengejar dalam jarak yang cukup jauh. Dalam remang cahaya senja yang tersisa, Rio hanya bisa melihat siluetnya — tinggi, ramping, bergerak dengan kepastian seseorang yang tidak pernah ragu terhadap hasil akhir dari apa yang sedang ia lakukan. "Kau tahu kenapa aku di sini," kata sosok itu, suaranya datar, tanpa emosi yang bisa dibaca. Rio tidak menjawab. Tangannya bergerak diam-diam ke saku dalam jaketnya, jarinya menyentuh tepi flash drive yang masih tersimpan aman di sana. "Serahkan apa pun yang kau bawa, dan ini bisa berakhir cepat." Rio menggeleng pelan, bukan sebagai penolakan terhadap ancaman itu, tapi sebagai keputusan yang sudah lama ia buat jauh sebelum malam ini — bahwa apa pun yang terjadi kepadanya, informasi yang ia bawa tidak akan pernah kembali ke tangan orang-orang yang selama ini berusaha mengubur kebenaran itu selamanya. Dalam beberapa detik yang tersisa, pikiran Rio berlari lebih cepat dari yang pernah ia sadari mungkin terjadi — bukan ketakutan yang mendominasi, melainkan penyesalan kecil bahwa ia tidak sempat menyelesaikan apa yang telah ia mulai bersama Arka, bahwa anak muda itu akan harus melanjutkan perjalanan ini tanpa bimbingan penuh yang ingin ia berikan. Ia memikirkan Bagas sekilas, wajah sahabat lamanya yang sudah lama tiada, dan merasa aneh menemukan semacam ketenangan dalam pikiran bahwa mungkin, dalam beberapa saat, ia akan bertemu kembali dengannya, di mana pun jiwa orang-orang seperti mereka berakhir setelah mengorbankan begitu banyak demi kebenaran yang jarang dihargai selagi mereka masih hidup. "Aku sudah menduga kau akan bilang begitu." Yang terjadi setelahnya berlangsung terlalu cepat untuk benar-benar dipahami sepenuhnya — sebuah gerakan, hampir tidak terlihat dalam cahaya yang meredup, dan kemudian rasa panas yang menyebar dari dadanya, mengambil napasnya sebelum ia sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Rio jatuh berlutut, tangannya masih mendekap saku dalam jaketnya, bahkan ketika dunia mulai mengabur di sekelilingnya. Sosok itu mendekat, memeriksa tubuhnya dengan efisiensi dingin yang tidak menyisakan ruang untuk keraguan atau penyesalan. Tangan-tangan itu menggeledah setiap sakunya, mengeluarkan dompet, ponsel lama, kunci apartemen — tapi ketika mencapai saku dalam jaket tempat flash drive itu tersimpan, sosok itu berhenti sejenak, meraba sesuatu yang tidak lagi ada di sana. Kosong. Sosok itu memeriksa lagi, lebih teliti, menggeledah setiap lipatan pakaian, setiap kemungkinan tempat persembunyian yang bisa dipikirkan seseorang dalam hitungan detik terakhir sebelum kesadarannya benar-benar hilang. Tidak ada apa pun. Kegagalan kecil itu, meski tidak terlihat mengganggu di permukaan wajahnya yang tetap tenang, memicu sesuatu yang menyerupai kekesalan terkendali di balik matanya — sosok ini terbiasa menyelesaikan tugasnya dengan sempurna, tanpa loose end yang tersisa, dan kegagalan menemukan barang yang seharusnya ada di sana adalah anomali yang tidak sesuai dengan standar kerjanya sendiri. Ia berdiri, memindai area sekitar dengan mata yang terlatih, mencoba menghitung kemungkinan ke mana benda kecil itu bisa saja jatuh atau dibuang dalam momen-momen kekacauan tadi. Waktu tidak berpihak padanya — semakin lama ia berada di lokasi ini, semakin besar risiko seseorang lewat dan melihat apa yang seharusnya terlihat seperti kejadian biasa. Beberapa meter dari sana, tersembunyi di celah sempit antara dua tong sampah yang jarang diperiksa siapa pun, sebuah benda kecil tergeletak diam — dilempar dengan gerakan cepat dan hampir tidak terlihat, detik-detik sebelum tangan itu benar-benar menyentuhnya, hasil dari refleks terakhir seorang jurnalis yang telah menghabiskan seumur hidupnya mempelajari bagaimana caranya kehilangan segalanya kecuali yang paling penting. Malam itu, jauh dari lokasi kejadian, sebuah notifikasi kecil muncul di layar laptop tersembunyi milik seseorang yang dikenal hanya sebagai Ghost — sebuah sinyal otomatis, terprogram bertahun-tahun lalu untuk terkirim sendiri jika detak jantung sebuah perangkat pemantau kecil, yang selalu Rio bawa tanpa sepengetahuan siapa pun kecuali dirinya sendiri, berhenti mengirim sinyal selama lebih dari tiga puluh menit. Ghost menatap layar itu lama, membaca pesan otomatis yang sudah lama ia harap tidak akan pernah perlu ia baca. Tangannya sedikit gemetar di atas keyboard, reaksi yang jarang ia alami mengingat betapa banyak situasi genting yang sudah ia lalui selama bertahun-tahun bekerja dari balik layar tanpa pernah menampakkan wajah aslinya kepada siapa pun, termasuk kepada Rio sendiri. Mereka telah bekerja sama cukup lama untuk membangun kepercayaan yang jarang tergoyahkan, dan kehilangan sinyal semacam ini — protokol yang telah mereka sepakati bertahun-tahun lalu sebagai tanda darurat paling serius — bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. *Sinyal Rio Ananta terputus. Protokol darurat diaktifkan.* Di bawah pesan itu, tertaut sebuah lokasi — koordinat sebuah gudang kosong di pinggiran Meranti, dan sebuah instruksi singkat yang telah Rio tuliskan bertahun-tahun lalu, disimpan untuk hari yang ia harap tidak akan pernah datang. *Kalau kau membaca ini, aku sudah tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Cari Arka Pratama. Dia akan berada di sekitar lokasi ini. Berikan apa yang sudah kutinggalkan untuknya. Dia belum tahu apa yang sebenarnya ia warisi dari ayahnya.* Ghost duduk diam beberapa saat, menatap layar itu tanpa berkedip, sebelum akhirnya mulai mengetik serangkaian perintah yang akan membawanya, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun bekerja dari balik layar, keluar dari bayang-bayang yang selama ini melindunginya. Beberapa kilometer dari sana, di sudut lorong yang sudah lama sepi dari siapa pun, tubuh Rio Ananta terbaring sendirian di bawah langit yang mulai gelap sepenuhnya, jauh dari siapa pun yang mengenalnya, jauh dari siapa pun yang akan segera mengetahui bahwa kematiannya bukanlah akhir dari apa yang telah ia mulai — melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan ketika pertama kali memutuskan untuk kembali bicara, satu dekade setelah memilih diam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD