Kabar Duka

1560 Words
Arka menerima kabar itu keesokan paginya, lewat panggilan telepon dari Bu Rahayu yang suaranya terdengar berbeda dari biasanya — lebih pelan, lebih hati-hati, seperti seseorang yang sedang berusaha keras menahan sesuatu yang lebih besar dari yang bisa diungkapkan lewat kata-kata sederhana. Malam sebelumnya, ia telah menunggu di titik pertemuan yang disepakati sampai larut, memeriksa jam berulang kali, mengirim pesan singkat yang tidak pernah dibalas. Ia sempat berpikir mungkin Rio hanya tertunda, atau sengaja membatalkan karena alasan keamanan yang tidak sempat ia jelaskan lebih dulu — pikiran yang, malam itu, terasa cukup masuk akal untuk membuatnya akhirnya kembali ke penginapan dan mencoba tidur, meski gagal total. Ia sudah bangun sejak subuh, gelisah tanpa alasan yang jelas semalaman, memeriksa ponselnya berkali-kali berharap ada kabar dari Rio soal kelanjutan pertemuan yang batal kemarin sore. Rio tidak pernah muncul di titik yang mereka sepakati, dan meski awalnya Arka mengira itu karena kehati-hatian yang wajar — mungkin Rio merasa diikuti dan memutuskan membatalkan pertemuan demi keamanan — kegelisahan itu terus tumbuh sepanjang malam tanpa bisa ia jelaskan sepenuhnya. "Arka, kamu di mana sekarang?" "Masih di Meranti, Bu. Kenapa?" Ada jeda panjang di ujung telepon, cukup lama untuk membuat perut Arka mulai terasa dingin tanpa alasan yang jelas. "Rio Ananta meninggal semalam." Kata-kata itu jatuh begitu saja, tanpa peringatan, dan untuk beberapa detik Arka tidak bisa memproses apa yang baru saja ia dengar. Ia berdiri diam di tengah kamar penginapan kecil tempat ia menginap semalam, ponsel masih menempel di telinganya, pikirannya menolak menyusun kalimat yang baru saja masuk menjadi sesuatu yang masuk akal. Dunia di sekelilingnya terasa seperti berhenti sejenak — suara kipas angin tua di sudut kamar, deru lalu lintas samar dari jalan di luar, semuanya menjadi latar belakang yang jauh, tidak relevan, sementara satu kalimat itu terus berputar di kepalanya, menolak untuk benar-benar dipahami sepenuhnya. "Apa? Bagaimana bisa—" "Polisi bilang kecelakaan. Terjatuh di area pelabuhan, kepalanya membentur sesuatu. Ditemukan pagi ini oleh petugas kebersihan." Suara Bu Rahayu bergetar sedikit di akhir kalimat, sesuatu yang jarang sekali terjadi padanya. "Aku baru dapat kabar setengah jam lalu, dari kontak lama di kepolisian yang masih mau bicara denganku." Arka duduk di tepi ranjang, kakinya tiba-tiba terasa tidak cukup kuat untuk menopang berat badannya sendiri. Ia baru saja bertemu Rio, baru saja mendengar suaranya, baru saja menerima janji akan ada informasi lebih lanjut minggu depan — dan sekarang, tiba-tiba saja, semua itu tidak akan pernah terjadi. "Di mana persisnya, Bu?" "Kenapa?" "Aku cuma... aku perlu tahu." Bu Rahayu memberikan lokasi kasar — area dekat gudang-gudang tua di pinggiran Zona C, tidak jauh dari titik pertemuan yang telah Arka sepakati dengan Rio lewat pesan singkat kemarin pagi, titik yang, sampai sore kemarin, ia tunggu-tunggu tanpa pernah terealisasi karena Rio tidak pernah muncul. Arka menghitung mundur dalam kepalanya — kalau Rio meninggal semalam, dan lokasinya begitu dekat dengan titik pertemuan mereka, itu berarti Rio kemungkinan besar sedang dalam perjalanan menuju pertemuan itu ketika sesuatu terjadi kepadanya. Mungkin ia sudah hampir sampai. Mungkin hanya tinggal beberapa menit lagi sebelum mereka benar-benar bertemu, sebelum Rio bisa menyerahkan apa pun yang ingin ia berikan secara langsung. Sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang lebih tajam dari sekadar duka, mulai bergerak. "Kecelakaan," ulang Arka pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Bu Rahayu di ujung telepon. "Di area pelabuhan yang sama tempat aku sedang menyelidiki sesuatu yang berhubungan langsung dengan orang yang baru saja meninggal." "Arka—" "Itu bukan kebetulan, Bu." "Aku tahu itu terasa seperti bukan kebetulan. Tapi kamu harus hati-hati sekarang, lebih dari sebelumnya. Jangan buat kesimpulan tergesa-gesa di telepon, dan jangan lakukan apa pun yang berisiko sebelum kamu benar-benar tenang." Suara Bu Rahayu mengeras sedikit, nada yang biasa ia gunakan ketika benar-benar khawatir, bukan sekadar memberi nasihat rutin. "Bu tahu sesuatu yang nggak Bu ceritakan ke aku?" Jeda di ujung telepon terasa lebih panjang dari yang seharusnya. "Aku tahu cukup untuk khawatir, Arka. Itu saja yang bisa aku bilang lewat telepon sekarang." "Pulang ke Ardhapura sekarang. Kita bicara lebih lanjut begitu kamu di sini." Arka mengangguk, meski Bu Rahayu tidak bisa melihatnya, dan menutup telepon dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia duduk diam beberapa menit, mencoba memproses kenyataan yang baru saja menghantamnya — seseorang yang baru saja menawarkan diri untuk membantunya, yang mengaku mengenal ayahnya, yang berjanji akan menceritakan lebih banyak lagi, sekarang sudah tidak ada, dan penyebab resminya adalah sebuah kata yang mulai terasa terlalu familiar bagi Arka: kecelakaan. Kata yang sama yang menjelaskan kematian ayahnya enam tahun lalu. Pikiran itu menghantamnya dengan kekuatan yang tidak terduga. Selama enam tahun, ia telah menerima kata "kecelakaan" sebagai fakta yang tidak perlu dipertanyakan lagi, sesuatu yang sudah cukup sering diulang hingga kehilangan maknanya sebagai penjelasan dan menjadi sekadar label yang menutup pertanyaan. Sekarang, mendengar kata yang sama digunakan untuk kematian seseorang yang baru saja mengaku mengenal ayahnya secara personal, di lokasi yang begitu dekat dengan penyelidikan yang sedang ia jalani, kata itu terasa jauh lebih licik dari yang pernah ia sadari — bukan penjelasan, melainkan penutup yang dirancang khusus untuk mengakhiri pertanyaan sebelum sempat diajukan. Ia bertanya-tanya berapa banyak "kecelakaan" lain yang tersebar di sepanjang sejarah negara ini, masing-masing menutup satu cerita yang seharusnya diceritakan, masing-masing mengubur satu orang yang tahu terlalu banyak untuk dibiarkan hidup, tapi cukup penting posisinya untuk tidak bisa dihilangkan secara terang-terangan tanpa memicu pertanyaan yang lebih besar. Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan cepat ke Damar: *Rio Ananta meninggal semalam. "Kecelakaan" di area pelabuhan, dekat lokasi kami janjian ketemu. Aku nggak percaya ini kebetulan.* Balasan datang dalam hitungan detik, jauh lebih cepat dari biasanya. *Di mana kamu sekarang?* *Penginapan di Meranti.* *Jangan ke mana-mana. Aku ke sana sekarang.* Arka membalas dengan alamat penginapannya, tangannya masih sedikit gemetar saat mengetik. Ia menatap sekeliling kamar kecil itu, tiba-tiba menyadari betapa rentannya posisinya sekarang — sendirian, di kota asing, dengan seseorang yang mungkin sudah tahu keberadaannya di luar sana, menunggu kesempatan yang sama seperti yang baru saja merenggut nyawa Rio. Ia mengunci pintu kamarnya, memeriksa jendela untuk memastikan tidak ada yang bisa masuk dari sana, dan duduk di sudut ruangan yang tidak terlihat langsung dari pintu — kebiasaan baru yang, tiga bulan lalu, tidak akan pernah terpikirkan olehnya, tapi sekarang terasa seperti kewaspadaan yang wajar dan perlu. Arka menatap layar ponselnya, merasakan campuran emosi yang sulit ia pisahkan satu sama lain — duka atas kematian seseorang yang baru saja mulai ia kenal, ketakutan atas apa yang mungkin berarti bagi keselamatannya sendiri, dan di bawah semuanya, sesuatu yang lebih gelap dan lebih menuntut: kemarahan yang mulai tumbuh terhadap sistem yang tampaknya begitu mudah menghabisi siapa pun yang berani mendekati kebenaran yang mereka lindungi. Ia berdiri, berjalan ke jendela kecil kamar penginapannya, menatap keluar ke jalanan Meranti yang mulai ramai oleh aktivitas pagi — orang-orang yang berjalan tanpa tahu, tanpa peduli, bahwa semalam seorang jurnalis yang pernah menjadi suara bagi kebenaran telah dibungkam selamanya hanya beberapa blok dari tempat mereka lewat setiap hari. Kehidupan kota ini terus berjalan seolah tidak ada yang berubah — pedagang membuka kios mereka, anak-anak berangkat sekolah, kendaraan lalu-lalang seperti biasa. Ketidakpedulian yang wajar ini, yang dalam keadaan lain mungkin terasa menenangkan, sekarang justru terasa menyakitkan bagi Arka — bagaimana bisa dunia terus berputar begitu normal ketika sesuatu yang begitu tidak normal baru saja terjadi, tersembunyi rapi di balik kata sederhana bernama kecelakaan. Ia teringat kata-kata terakhir Rio di kafe waktu itu: *jangan pernah simpan semua yang kamu tahu di satu tempat.* Nasihat itu sekarang terasa jauh lebih berat daripada sekadar prinsip keamanan abstrak — itu adalah nasihat dari seseorang yang, entah bagaimana, tampaknya sudah tahu bahwa waktunya terbatas, dan berusaha memastikan bahwa apa pun yang terjadi kepadanya, perjuangannya tidak akan ikut mati bersamanya. Arka mulai memahami, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa Rio mungkin sudah tahu risiko ini jauh sebelum mereka bertemu di kafe waktu itu — bahwa kehati-hatiannya yang berlapis, cara ia membagikan informasi sedikit demi sedikit, semuanya adalah persiapan seseorang yang sudah lama hidup dengan kesadaran bahwa suatu hari keberuntungannya mungkin akan habis. Dan sekarang hari itu telah tiba, lebih cepat dari yang siapa pun harapkan, meninggalkan Arka dengan potongan-potongan informasi yang belum lengkap dan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah terjawab sepenuhnya tanpa Rio di sisinya. Arka mengepalkan tangannya, merasakan sesuatu yang baru mengeras di dalam dirinya — bukan lagi sekadar rasa ingin tahu seorang jurnalis, tapi tekad yang jauh lebih personal, lebih tajam, lebih tidak bisa digoyahkan oleh peringatan atau ancaman apa pun. Ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Rio Ananta. Dan ia tidak akan berhenti sampai ia menemukan jawabannya, apa pun risikonya. Ia memikirkan sekilas soal apa yang akan ia katakan pada ibunya, pada Damar, pada Bu Rahayu — bagaimana caranya menjelaskan bahwa kematian Rio bukan sekadar kehilangan seorang narasumber, melainkan konfirmasi paling kelam bahwa apa pun yang sedang mereka selidiki sungguh-sungguh cukup berbahaya untuk membunuh siapa pun yang mendekatinya terlalu jauh. Ada bagian dari dirinya yang ingin mundur, yang ingin menyerah dan kembali ke kehidupan normal sebelum semua ini dimulai. Tapi bagian yang lebih besar, yang lebih keras kepala, menolak untuk membiarkan kematian Rio sia-sia begitu saja. Di luar, hujan mulai turun lagi, seolah kota ini sendiri tahu ada yang perlu ditangisi hari ini, meski nyaris tidak ada yang mengetahui alasannya. Arka menatap tetes-tetes air yang membasahi kaca jendela, memikirkan berapa banyak orang di kota ini yang, seperti dirinya beberapa bulan lalu, hidup dalam ketidaktahuan yang nyaman, tidak menyadari betapa rapuhnya keamanan yang mereka anggap sebagai hal biasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD