Kehidupan Arka

1858 Words
Hujan belum turun malam itu, tapi udara Ardhapura sudah membawa baunya — logam basah bercampur asap knalpot yang tertahan di antara gedung-gedung tinggi. Arka Pratama duduk di meja kerjanya, satu-satunya lampu yang masih menyala di lantai tiga kantor redaksi, mengetik ulang paragraf yang sama untuk keempat kalinya. Proyek revitalisasi Pelabuhan Meranti berjalan sesuai jadwal, klaim Kementerian Perdagangan. Kalimat itu jujur. Itulah masalahnya. Semua yang keluar dari kementerian selalu jujur — dalam artian tidak satu pun katanya bisa dibuktikan bohong, dan tidak satu pun juga benar-benar berarti apa-apa. Ia menghapus kalimat itu, menuliskannya lagi persis sama, lalu bersandar ke kursi. Ruangan redaksi malam hari selalu terasa berbeda dari siangnya. Siang hari, tempat ini ramai oleh dering telepon, obrolan antar-meja, dan suara printer yang tidak pernah benar-benar berhenti. Malam hari, hanya tersisa dengungan AC dan cahaya biru dari layar-layar yang lupa dimatikan. Di dinding dekat pintu masuk, tergantung poster lama bertuliskan kode etik jurnalistik yang sudah menguning di ujungnya — salah satu poinnya, yang selalu membuat Arka tersenyum getir setiap kali membacanya, berbunyi: setiap berita yang berpotensi memengaruhi stabilitas nasional wajib melalui proses verifikasi tambahan sebelum tayang. Tidak ada yang pernah menjelaskan secara pasti apa artinya "stabilitas nasional," dan justru ketidakjelasan itulah yang membuat aturan itu bisa dipakai untuk apa saja — termasuk untuk menahan berita yang sebenarnya sudah lolos semua verifikasi faktual biasa. Ia pernah bertanya soal itu ke seorang editor senior lain, bertahun-tahun lalu, dan jawabannya masih ia ingat sampai sekarang: "Aturan itu nggak dibuat buat dipahami, Arka. Dibuat buat dipakai kapan pun mereka butuh." Di layar kedua, tab-tab lain masih terbuka: laporan tender proyek pelabuhan yang diunggah Kementerian Perdagangan tiga bulan lalu, daftar kontraktor yang sudah diverifikasi negara, dan satu spreadsheet pribadi yang sudah ia isi selama dua minggu terakhir — kolom kosong lebih banyak daripada kolom terisi. Semua dokumen publik itu sempurna secara administratif. Tidak ada yang bisa dituduh cacat. Dan justru itu yang membuat Arka curiga: dokumen negara yang terlalu rapi biasanya menyimpan sesuatu yang sengaja dirapikan. Ia sudah belajar itu sejak magang pertama kali, dari seorang senior yang kini sudah pensiun: kejanggalan yang paling berbahaya bukan yang mencolok, tapi yang terlalu bersih untuk terasa nyata. Ponselnya bergetar — pesan dari rekan sedesk, Vino, menanyakan apakah Arka jadi ikut nonton pertandingan futsal redaksi akhir pekan ini. Ia mengetik balasan singkat, belum tahu, lalu meletakkan ponsel lagi, kembali menatap layar yang masih menampilkan kalimat yang sama. Ia membuka lagi salah satu dokumen tender yang sudah ia unduh minggu lalu — file PDF setebal delapan puluh halaman, sebagian besar berisi lampiran teknis yang sengaja dibuat rumit agar orang yang membacanya cepat menyerah sebelum sampai ke bagian yang penting. Arka sudah belajar caranya: lewati semua istilah teknis, cari bagian anggaran, lalu bandingkan dengan proyek serupa di kota lain. Kali ini, angkanya hampir identik dengan proyek revitalisasi pelabuhan di kota tetangga dua tahun lalu — terlalu identik, bahkan untuk skala proyek yang jelas berbeda ukurannya. Ia menandai halaman itu, menyimpannya ke folder yang sudah penuh dengan tanda tanya serupa dari liputan-liputan lain yang belum sempat ia kejar sampai tuntas. Itulah pekerjaan yang jarang diceritakan orang tentang jadi jurnalis investigasi: sebagian besar waktu dihabiskan bukan untuk mengejar sumber di lapangan yang dramatis, tapi duduk sendirian membandingkan angka-angka membosankan sampai matanya perih, berharap menemukan satu pola yang tidak seharusnya ada di sana. "Masih di sini?" Bu Rahayu berdiri di ambang pintu ruangannya, cangkir kopi di tangan, kacamata bertengger di ujung hidung. Di usia lima puluh lima, ia satu-satunya orang di redaksi yang masih memanggil topik-topik sensitif dengan namanya, bukan eufemisme. Kebiasaan itu, kata orang-orang lama, adalah alasan kenapa namanya pernah masuk daftar yang tidak pernah ia ceritakan detailnya ke siapa pun. "Liputan Meranti," kata Arka. "Nggak ada apa-apa. Cuma proyek pelabuhan." "Kalau nggak ada apa-apa, kenapa kamu masih di sini jam sepuluh malam?" Arka tidak punya jawaban yang bagus untuk itu. Ia menatap layar lagi, mencari kalimat yang tidak ada. Bu Rahayu masuk, meletakkan cangkirnya di sudut meja yang bukan miliknya, dan duduk di kursi kosong seberang Arka — gestur yang selalu ia lakukan ketika mau bicara lebih dari satu menit. "Ada laporan warga soal truk-truk yang keluar-masuk pelabuhan itu tengah malam. Tidak tercatat di manifest resmi. Aku pikir kamu bisa turun ke sana besok, tanya-tanya." "Truk apa?" "Itu yang aku nggak tahu. Makanya kukirim kamu, bukan aku." Ia tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. "Hati-hati kalau ke sana. Jangan tanya terlalu keras di depan orang yang salah." "Aku selalu hati-hati." "Kamu selalu berpikir kamu hati-hati. Itu beda." Arka tidak membalas. Ia sudah pernah mendengar nasihat serupa, dalam berbagai bentuk, sejak hari pertama magang di redaksi ini tiga tahun lalu. Ada sesuatu di suara Bu Rahayu malam ini yang terdengar lebih tua dari biasanya — bukan lelah karena jam kerja, tapi lelah karena mengingat sesuatu yang sudah lama ia coba lupakan. "Bu," kata Arka pelan, "kamu kenal banyak orang dari generasi lama. Jurnalis-jurnalis yang—" ia mencari kata yang tepat, "—yang menghilang. Dulu." Wajah Bu Rahayu tidak berubah, tapi jeda sebelum ia menjawab terlalu panjang untuk terasa wajar. "Kenapa tiba-tiba tanya itu?" "Nggak kenapa-kenapa. Cuma kepikiran." "Jangan main-main sama masa lalu orang, Arka. Termasuk masa laluku." Ia berdiri, mengambil cangkirnya kembali. "Pulang. Liputan pelabuhan itu nggak akan kabur sampai besok pagi." Ia pergi tanpa menunggu jawaban, langkahnya menggema di lorong kantor yang sudah sepi. Arka menatap punggungnya sampai menghilang di tikungan lorong, memikirkan berapa lama Bu Rahayu sudah menyimpan apa pun yang membuatnya bereaksi seperti itu setiap kali topik jurnalis-jurnalis lama disebut. Ia pernah dengar cerita samar dari senior lain — bahwa Bu Rahayu dulu, sebelum jadi pemimpin redaksi, sempat berhenti menulis selama hampir dua tahun tanpa penjelasan jelas, lalu muncul kembali dengan cara kerja yang jauh lebih hati-hati dari sebelumnya. Tidak ada yang pernah berani bertanya kenapa secara langsung. Arka duduk sendirian beberapa menit lagi, mendengarkan suara AC yang mendengung dan lift yang sesekali bergerak di lantai lain. Sebelum benar-benar mematikan komputernya, ia membuka satu tab terakhir — arsip berita lama, pencarian dengan kata kunci "jurnalis hilang", dibatasi rentang waktu belasan tahun lalu. Hasilnya nyaris kosong. Bukan karena tidak ada yang terjadi, tapi karena semua yang mungkin pernah ditulis soal itu sudah lama dihapus, atau tidak pernah diizinkan terbit sejak awal. Ia menutup tab itu, memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh malam ini. Rumah Arka adalah apartemen kecil di distrik tengah, dua kamar yang salah satunya penuh kardus yang belum pernah ia buka sejak pindah dua tahun lalu. Ia tidak langsung tidur. Dari balkon sempitnya, ia bisa melihat menara Istana Presiden menjulang di kejauhan, berpendar putih — pencahayaan yang katanya melambangkan "transparansi pemerintahan." Seseorang di Kementerian Komunikasi pasti bangga menciptakan frasa itu. Ia menelepon ibunya, seperti biasa di malam-malam ia tidak bisa tidur. Panggilan itu dijawab di deringan ketiga. "Arka." Suara dr. Wulan terdengar lelah, seperti biasa. "Ini sudah malam." "Aku tahu. Cuma mau dengar suaramu." Ada jeda. Di ujung sana, Arka bisa mendengar suara televisi dimatikan. "Kamu kerja terlalu keras." "Kerjaan biasa, Bu." "Kamu selalu bilang begitu." Suara ibunya melembut sedikit, lalu mengeras lagi, seperti seseorang yang buru-buru menutup pintu yang sempat terbuka. "Jaga diri baik-baik. Jangan cari masalah yang nggak perlu." Kalimat itu — jangan cari masalah yang nggak perlu — sudah ibunya ucapkan ratusan kali sejak Arka mulai jadi jurnalis. Tapi malam ini, entah kenapa, terdengar berbeda. Lebih seperti permohonan daripada nasihat. "Bu," kata Arka, "kamu baik-baik saja?" "Aku selalu baik-baik saja." Jeda lagi. "Selamat malam, Arka." Sambungan terputus sebelum Arka sempat menjawab. Ia berdiri lama di balkon, menatap cahaya kota yang tidak pernah benar-benar gelap, memikirkan ayahnya — sesuatu yang jarang ia lakukan secara sadar, karena setiap kali ia melakukannya, yang muncul hanya potongan-potongan: suara tawa yang samar, bau kertas dan tinta di ruang kerja yang dulu terkunci, dan satu foto di laci meja ibunya yang tidak pernah dipajang. Bagas Pratama meninggal dalam kecelakaan mobil enam tahun lalu, ketika Arka delapan belas tahun. Itu satu-satunya cerita yang pernah ia dengar, diulang begitu sering hingga terasa seperti fakta yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Ia ingat, samar-samar, seorang anak delapan belas tahun yang berdiri di pemakaman dengan wajah kering karena sudah terlalu syok untuk menangis, sementara ibunya memegang lengannya begitu erat seolah takut kehilangan orang kedua di hari yang sama. Tidak ada penyelidikan panjang. Tidak ada pertanyaan yang diizinkan bertahan lebih dari satu minggu di kepala siapa pun. Kecelakaan tunggal, jalan basah, malam hari — begitu laporan resminya, dan begitu jugalah yang tertulis di setiap dokumen yang pernah Arka lihat sejak saat itu. Ada satu ingatan lain yang lebih tua, yang jarang ia biarkan naik ke permukaan: malam-malam ketika ayahnya pulang larut, mengunci diri di ruang kerja kecil di rumah lama mereka, dan Arka — waktu itu masih sepuluh atau sebelas tahun — mengintip lewat celah pintu, melihat ayahnya duduk di depan tumpukan kertas dengan wajah yang tidak pernah ia lihat di siang hari: lelah, tegang, seperti orang yang sedang menanggung sesuatu yang terlalu berat untuk dibagi ke siapa pun, termasuk ke istrinya sendiri. Suatu malam, ayahnya menangkap basah dirinya sedang mengintip, dan alih-alih marah, ia hanya tersenyum lelah dan berkata, "Suatu hari kamu akan mengerti kenapa beberapa hal harus dijaga diam-diam, Nak. Bukan karena itu salah. Tapi karena beberapa kebenaran butuh waktu yang tepat untuk keluar." Arka tidak pernah benar-benar memahami kalimat itu. Ia bahkan hampir lupa pernah mendengarnya, sampai malam ini, ketika entah kenapa kalimat itu muncul kembali begitu jelas, seolah baru diucapkan kemarin. Tapi malam ini, entah kenapa, kalimat ibunya masih terngiang. Jaga diri baik-baik. Seolah ada yang perlu dijaga dari. Ia masuk kembali ke apartemen, menyalakan lampu meja, dan duduk sebentar di kursi kerja rumahnya — bukan untuk menulis apa-apa, hanya untuk berpikir. Di atas meja itu, tersimpan map biru kusam berisi salinan-salinan lama dokumen tentang kecelakaan ayahnya, yang pernah ia minta dari kantor catatan sipil dua tahun lalu, iseng-iseng, tanpa niat serius untuk menyelidikinya lebih jauh. Ia membuka map itu, membaca ulang laporan singkat yang sudah ia hafal luar kepala: nama, tanggal, lokasi, penyebab. Tidak ada yang baru di sana. Tidak pernah ada. Ia menutup map itu lagi, memasukkannya ke laci, dan mematikan lampu. Ia berbaring di tempat tidur cukup lama sebelum benar-benar bisa memejamkan mata, mendengarkan suara hujan yang akhirnya mulai turun di luar jendela, tetes-tetes pertama yang menandakan malam ini bukan malam yang tenang di seluruh kota — di tempat lain, di sudut kota yang mungkin tidak pernah ia bayangkan, hujan yang sama sedang membasahi atap-atap gudang tua di pinggiran, tempat sesuatu yang belum ia ketahui namanya sedang menunggu untuk ditemukan. Ia memikirkan lagi kalimat Bu Rahayu — jangan tanya terlalu keras di depan orang yang salah — dan bertanya-tanya, untuk pertama kalinya dengan cukup serius, apakah nasihat itu datang dari pengalaman umum seorang editor senior, atau dari sesuatu yang lebih personal yang belum pernah ia ceritakan ke siapa pun di redaksi. Besok pagi, ia harus berangkat awal ke Meranti. Truk-truk yang tidak tercatat, kata Bu Rahayu. Mungkin tidak ada apa-apa. Mungkin cuma penyelundupan barang dagangan biasa yang berakhir jadi berita dua paragraf di halaman dalam, seperti puluhan liputan sebelumnya yang tidak pernah membawanya ke mana-mana. Ia tidak tahu, malam itu, bahwa liputan ini akan menjadi yang terakhir kalinya ia bisa menyebut hidupnya sebagai hidup yang biasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD