Kekuasaan tidak pernah benar-benar kosong. Selalu ada yang ingin mengendalikannya. Yang membedakan hanyalah satu pertanyaan sederhana — akan digunakan untuk siapa.
PROLOG
Hujan turun seperti tembok yang runtuh.
Arka berlari menyusuri lorong beton di antara dua bangunan penyimpanan, sepatunya membelah genangan air tanpa suara yang cukup keras untuk didengar di tengah gemuruh hujan dan sirene yang masih menjerit jauh di belakangnya. Tangan kirinya mendekap sesuatu ke dadanya — benda kecil, keras, seukuran korek api, terbungkus dalam kantong plastik yang sudah setengah basah karena keringat dan air hujan yang merembes dari kerah bajunya.
Ia tidak tahu sudah berapa lama berlari. Waktu terasa runtuh sejak tembakan pertama.
Sorot lampu memotong kegelapan di ujung lorong — dua, lalu tiga, bergerak cepat, suara sepatu bot di aspal basah semakin dekat. Arka membelok ke celah sempit antara dua kontainer karat, dadanya naik turun, paru-parunya terbakar.
Jangan berhenti di sini. Jangan berhenti sekarang.
Ia mengintip dari celah kontainer. Tiga sosok berseragam gelap menyisir area, senter mereka menyapu permukaan air yang tergenang seperti sedang mencari sesuatu yang hidup. Salah satu dari mereka membawa senjata yang masih mengarah ke bawah, siap diangkat kapan saja.
Arka menoleh ke bungkusan di tangannya. Sertifikat digital. Enkripsi asli. Tanpa benda ini, semua yang telah ia korbankan — semua yang telah mereka korbankan — tidak lebih dari sekumpulan file yang bisa disangkal sebagai rekayasa.
Kalau mereka menggeledahnya sekarang dan menemukan ini di tangannya, semuanya selesai di sini.
Di dasar kontainer, ada celah kecil di bawah pelat logam yang sudah berkarat — cukup untuk menyelipkan sesuatu sekecil ini untuk sesaat. Dengan tangan gemetar, Arka mendorong bungkusan itu ke dalam celah, menutupnya kembali dengan lumpur dan serpihan karat, lalu mundur selangkah, berusaha terlihat seperti orang yang tidak membawa apa-apa.
Sorot senter berbelok ke arahnya.
"Di sana!"
Arka berlari lagi — menjauh dari kontainer, sengaja menarik perhatian ke arah lain. Dua dari tiga sosok itu mengejarnya; satu tertinggal, menyisir area yang baru saja ia tinggalkan. Rasa panas menghantam bahunya saat ia berbelok di ujung lorong, begitu keras hingga tubuhnya terhuyung ke dinding. Suara tembakan datang sepersekian detik sesudahnya, seolah rasa sakit selalu lebih cepat dari kesadaran.
Ia menggigit bibirnya sendiri untuk menahan suara, memaksa dirinya bergerak meski dunia berputar di pinggiran penglihatannya. Sorot senter di belakangnya berbalik arah sejenak — panggilan lewat radio, sesuatu tentang area lain yang harus diperiksa. Untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya, tak ada yang mengejarnya.
Arka menyeret dirinya kembali ke celah kontainer, tangan kirinya meraba pelat logam berkarat dengan panik, mengorek lumpur sampai jarinya menyentuh bungkusan plastik yang masih ada di sana. Ia menariknya keluar, mendekapnya ke d**a dengan tangan yang tidak terluka, lalu menembus pagar kawat yang sudah berkarat dan robek di satu sisi, menghilang ke dalam gang sempit yang lebih gelap dari lorong sebelumnya.
Suara langkah dan teriakan aparat masih terdengar — tapi semakin jauh, semakin samar, tertelan derasnya hujan.
Arka tidak berhenti sampai kakinya sendiri menyerah, jauh dari pelabuhan, di sebuah selokan kering di bawah jalan layang yang sudah lama tak terpakai. Ia merosot ke dinding beton, tangan kanan mendekap bahunya yang berdarah, napas tersengal, tubuhnya gemetar bukan cuma karena dingin.
Ia hidup. Untuk sekarang, itu sudah cukup.
Satu pikiran terakhir melintas sebelum ia memaksa dirinya bangun lagi — bukan tentang rasa sakit, bukan tentang siapa yang mengejarnya, bukan bahkan tentang dirinya sendiri.
Semoga ini cukup, Ayah.
Semoga aku menyelesaikan apa yang tidak sempat kau selesaikan.
Ia bangkit, terhuyung masuk lebih dalam ke kegelapan kota, menghilang sebelum siapa pun sempat menemukannya.
Enam bulan sebelumnya.