Peringatan Bu Rahayu

1798 Words
Dua hari setelah percakapan singkat di kantin, Bu Rahayu memanggil Arka ke ruangannya lewat pesan singkat yang hanya berisi satu kalimat: Tutup pintu kalau masuk. Dua hari itu berlalu tanpa kejadian berarti — Arka menyelesaikan tugas-tugas rutin, sesekali bertukar pesan singkat dengan Damar soal langkah selanjutnya, dan mencoba, meski gagal sebagian besar waktu, untuk tidak terus-menerus memikirkan nama pejabat yang baru saja ia temukan. Ketika pesan dari Bu Rahayu itu akhirnya muncul di layar ponselnya, sesuatu di nada singkatnya membuat perutnya langsung terasa tidak nyaman. Arka tahu, dari pengalaman tiga tahun bekerja di bawahnya, bahwa instruksi seperti itu hanya muncul ketika Bu Rahayu ingin bicara sesuatu yang tidak boleh terdengar sampai ke meja-meja lain di ruangan redaksi. Selama ini, ia hanya pernah menerima pesan semacam itu dua kali — sekali ketika ada rencana pemutusan hubungan kerja massal yang belum diumumkan resmi, dan sekali lagi ketika seorang kolega tertangkap menjiplak tulisan media lain. Kedua kali itu, ia keluar dari ruangan dengan perasaan berat. Ia tidak tahu harus berharap apa kali ini. Ia menutup pintu seperti diminta, lalu duduk di kursi seberang meja kerja yang penuh tumpukan berkas dan majalah lama, beberapa di antaranya edisi lawas yang sampulnya sudah kusam, sisa-sisa era ketika redaksi ini masih mencetak jauh lebih banyak eksemplar dibanding sekarang. Bu Rahayu tidak langsung bicara. Ia membuka laci meja, mengeluarkan sebuah map tua yang warnanya sudah pudar dimakan waktu, dan meletakkannya di atas meja tanpa membukanya. "Aku mau cerita sesuatu," katanya akhirnya, "tapi sebelum itu, aku mau kamu janji satu hal. Apa pun yang aku bilang di ruangan ini, tetap di ruangan ini. Nggak masuk catatan, nggak masuk cerita ke siapa pun, termasuk ke orang yang katanya sedang melindungi kamu sekarang." Arka mengangguk pelan, meski penasaran bagaimana Bu Rahayu tahu soal Damar — ia tidak ingat pernah menyebutkan namanya secara eksplisit. "Aku janji, Bu." Bu Rahayu menghela napas panjang, seperti sedang mengumpulkan keberanian yang sudah lama ia simpan. "Dua puluh tahun lalu, sebelum kamu lahir, ada masa di negara ini ketika jurnalis-jurnalis kritis menghilang satu per satu. Nggak semuanya secara dramatis — beberapa cuma dipindahkan ke daerah terpencil, karier mereka dijegal pelan-pelan sampai akhirnya berhenti sendiri. Tapi beberapa yang lain..." Ia berhenti, matanya menerawang ke jendela. "Beberapa yang lain apa, Bu?" "Beberapa yang lain benar-benar menghilang. Nggak ada mayat, nggak ada penjelasan, nggak ada penyelidikan yang serius. Cuma laporan resmi yang bilang mereka 'pindah kerja' atau 'emigrasi ke luar negeri' — kalimat-kalimat kosong yang semua orang tahu bohong, tapi nggak ada yang berani menantangnya secara terbuka." Arka merasakan bulu kuduknya berdiri, teringat kalimat serupa yang digunakan tetangga Bu Ijah beberapa minggu lalu — pindah mendadak. "Aku salah satu yang selamat," lanjut Bu Rahayu, suaranya melirih. "Bukan karena aku lebih pintar atau lebih hati-hati dari yang lain. Cuma karena, entah kenapa, aku berhenti menulis tepat sebelum mereka datang untukku. Aku nggak tahu apakah itu keberuntungan, atau ada seseorang yang sengaja memperingatkanku duluan." "Siapa yang menulis apa waktu itu, Bu? Soal apa?" Bu Rahayu menatapnya lama, seperti menimbang seberapa jauh ia bersedia melangkah dalam percakapan ini. "Soal operasi militer yang katanya membasmi kelompok pemberontak, tapi kenyataannya membunuh banyak warga sipil yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan pemberontakan itu. Aku dulu masih jurnalis muda, kayak kamu sekarang, dan aku pikir aku menemukan cerita terbesar dalam kariernya. Aku salah — bukan soal ceritanya, tapi soal seberapa besar harga yang harus dibayar buat menulisnya." "Operasi militer di mana, Bu?" "Wilayah utara. Daerah pegunungan, jauh dari ibu kota, tempat yang jarang diliput media manapun karena aksesnya susah dan kepentingannya dianggap kecil." Bu Rahayu menatap ke luar jendela, seolah pikirannya sedang berjalan menyusuri jalan yang sudah lama tidak ia lewati. "Laporan resminya bilang itu operasi pembersihan pemberontak bersenjata. Yang kami temukan di lapangan justru sebaliknya — desa-desa yang dibakar tanpa alasan jelas, warga yang ditahan tanpa proses hukum, dan angka korban yang jauh lebih besar dari yang pernah diakui pemerintah." "Apa yang terjadi ke sumber-sumbermu waktu itu?" Bu Rahayu tidak menjawab langsung. Ia membuka map tua di depannya, mengeluarkan selembar foto yang sudah menguning, memperlihatkannya ke Arka — sekelompok orang muda, tersenyum di depan gedung yang tidak Arka kenali, salah satunya adalah Bu Rahayu sendiri, jauh lebih muda, dengan tatapan penuh idealisme yang belum tersentuh apa pun. "Ini aku, dan beberapa rekan seangkatanku waktu itu." Ia menunjuk satu per satu wajah di foto itu. "Dia menghilang setahun setelah foto ini diambil. Dia juga. Dan dia—" jarinya berhenti di satu wajah, seorang pria muda dengan senyum lebar, "—dia yang paling dekat denganku waktu itu. Kami sama-sama mengejar cerita yang sama. Dia yang lebih dulu menemukan detail penting, dan dia yang pertama menghilang." Arka menatap foto itu lebih lama, memperhatikan detail-detail kecil yang terekam di dalamnya — latar gedung tua yang mungkin dulunya kantor redaksi lama, gaya pakaian yang menunjukkan era yang berbeda, dan yang paling mencolok, tatapan mata mereka semua yang penuh keyakinan, seolah dunia masih terasa bisa diubah lewat tulisan-tulisan yang mereka buat. Ia mencoba membayangkan wajah-wajah muda itu tanpa tahu nasib mengerikan apa yang menanti mereka, dan sesuatu di dadanya terasa berat memikirkannya. "Berapa banyak dari mereka yang masih hidup sampai sekarang, Bu?" "Setahuku, cuma aku." Bu Rahayu mengucapkannya datar, seolah sudah lama berdamai dengan fakta itu, meski Arka bisa melihat sesuatu yang retak sekilas di balik ketenangannya. "Yang lain menghilang dalam rentang dua tahun setelah foto ini diambil. Beberapa katanya 'pindah kerja ke luar negeri.' Beberapa lagi 'mengundurkan diri karena alasan pribadi.' Nggak ada yang pernah kudengar kabarnya lagi setelah itu — bukan lewat surat, bukan lewat telepon, bukan lewat apa pun." "Kenapa Ibu baru cerita ini sekarang?" "Karena aku melihat sesuatu di kamu yang mengingatkanku pada diriku sendiri waktu itu. Keberanian yang sama, keras kepala yang sama, keyakinan yang sama bahwa kebenaran itu penting untuk diungkap apa pun risikonya." Bu Rahayu menutup map itu kembali, menyimpannya ke dalam laci. "Aku nggak akan bilang berhenti, karena aku tahu kamu nggak akan dengar, dan sejujurnya, bagian dari diriku juga nggak mau kamu berhenti. Tapi aku ingin kamu tahu risiko sesungguhnya sebelum kamu melangkah lebih jauh — bukan risiko kehilangan pekerjaan atau reputasi, tapi risiko yang jauh lebih permanen dari itu." "Ibu pikir yang terjadi ke Bu Ijah ada hubungannya dengan ini?" "Aku nggak tahu detailnya, dan jujur saja, aku berharap aku salah." Bu Rahayu menghela napas panjang. "Tapi polanya sama persis dengan yang aku lihat dua puluh tahun lalu — orang yang bicara ke jurnalis, lalu menghilang dalam hitungan hari. Itu bukan kebetulan, Arka. Itu metode yang sudah dipakai berulang kali, cukup lama untuk menjadi semacam prosedur standar bagi mereka yang ingin membungkam sesuatu." Arka terdiam, mencerna semua yang baru saja ia dengar. "Kenapa nggak pernah ada yang menulis soal ini? Soal pola penghilangan ini sendiri?" "Karena siapa yang menulisnya akan jadi yang berikutnya menghilang." Bu Rahayu tersenyum getir. "Itulah kejeniusan sistem ini, kalau bisa disebut jenius. Mereka nggak perlu membungkam semua orang. Cukup membungkam cukup banyak orang, dengan cukup brutal, sehingga sisanya belajar sendiri untuk diam." Keheningan menggantung lama di ruangan itu, hanya dipecah oleh suara AC yang mendengung dan derap langkah samar dari luar pintu. "Kenapa Ibu masih di sini, Bu? Di dunia jurnalisme, maksudku. Setelah semua yang terjadi, kenapa nggak berhenti sepenuhnya?" Bu Rahayu tersenyum tipis, senyum yang lebih menyerupai luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. "Karena kalau aku berhenti, itu berarti mereka menang sepenuhnya. Aku nggak lagi menulis cerita-cerita besar seperti dulu — aku tahu batasanku sekarang, aku tahu kapan harus mundur, kapan harus diam. Tapi aku masih di sini, masih membantu jurnalis-jurnalis muda sepertimu menemukan kebenaran, meski dengan cara yang lebih hati-hati. Itu caraku melawan, dengan caraku sendiri, tanpa harus mengulang kesalahan yang membuat teman-temanku menghilang." "Ibu pikir cara itu cukup?" "Aku nggak tahu apa yang cukup, Arka. Aku cuma tahu diam sepenuhnya juga bukan pilihan yang bisa aku terima." Ia menatap Arka lama, matanya penuh sesuatu yang sulit Arka artikan sepenuhnya — mungkin harapan, mungkin ketakutan, mungkin campuran keduanya yang sudah lama ia pelajari untuk menyeimbangkan. "Terima kasih sudah cerita, Bu," kata Arka akhirnya. "Aku tahu ini pasti berat buat diucapkan, apalagi setelah disimpan selama itu." "Jangan berterima kasih. Aku cerita ini bukan buat menenangkan kamu, tapi buat mempersenjatai kamu dengan kenyataan, biar kamu nggak melangkah dengan mata tertutup seperti aku dulu." Bu Rahayu menatapnya lurus, ekspresinya kembali mengeras seperti biasa, topeng profesionalisme yang biasa ia kenakan di depan seluruh redaksi. "Sekarang keluar. Dan seperti yang aku bilang tadi — ini semua tetap di ruangan ini." Arka berdiri, berjalan menuju pintu, tapi berhenti sejenak sebelum membukanya. "Bu, satu pertanyaan terakhir. Nama pria di foto itu — yang paling dekat sama Ibu. Siapa namanya?" Bu Rahayu terdiam cukup lama, seolah mempertimbangkan apakah nama itu terlalu berharga untuk diucapkan, atau justru terlalu menyakitkan. "Itu nggak penting sekarang," katanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Yang penting adalah kamu belajar dari apa yang terjadi padanya. Sekarang keluar, Arka. Aku ada rapat lima menit lagi." Arka keluar dari ruangan itu dengan kepala penuh pertanyaan baru yang bertumpuk di atas pertanyaan-pertanyaan lama, dan satu perasaan yang semakin kuat bahwa apa pun yang sedang ia kejar, itu berakar jauh lebih dalam dan jauh lebih lama dari yang pernah ia bayangkan — bukan sekadar korupsi satu proyek pelabuhan, tapi sesuatu yang sudah membentuk cara negara ini dijalankan selama puluhan tahun, dijaga oleh mereka yang tahu betul cara membungkam siapa pun yang berani mendekat terlalu jauh. Ia berjalan kembali ke mejanya, duduk dalam diam beberapa menit, mencoba mencerna semua yang baru saja ia dengar. Wilayah utara. Operasi militer. Wajah-wajah muda dalam foto yang sudah menguning, yang satu per satu menghilang tanpa jejak. Ia tidak tahu bagaimana caranya, tapi entah kenapa ia merasa yakin bahwa cerita yang baru saja diceritakan Bu Rahayu bukan sekadar latar belakang untuk memperingatkannya — itu adalah bagian dari benang yang sama yang sedang ia tarik sejak pertama kali menginjakkan kaki di Meranti, meski ia belum bisa melihat dengan jelas bagaimana keduanya terhubung. Malam itu, sepulang kerja, ia membuka kembali map biru kusam berisi salinan dokumen kematian ayahnya yang sudah lama tersimpan di lacinya. Ia membaca ulang laporan singkat itu untuk kesekian kalinya — kecelakaan tunggal, jalan basah, malam hari — dan untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya dengan sungguh-sungguh apakah kata-kata itu benar-benar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, atau hanya kalimat kosong lain yang dirancang untuk menutup pertanyaan sebelum sempat diajukan. Pindah kerja. Emigrasi ke luar negeri. Kecelakaan tunggal. Semuanya terdengar begitu mirip satu sama lain — kalimat-kalimat rapi yang dirancang untuk terdengar masuk akal, cukup meyakinkan untuk membuat orang berhenti bertanya, tapi tidak pernah benar-benar menjelaskan apa pun. Ia menutup map itu, menyimpannya kembali ke laci, dan untuk pertama kalinya sejak enam tahun terakhir, merasa bahwa pertanyaan-pertanyaan lama soal kematian ayahnya mungkin bukan sekadar kesedihan masa lalu yang harus ia terima begitu saja — mungkin, itu adalah pertanyaan yang seharusnya sudah lama ia ajukan dengan lebih keras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD