Sepuluh hari setelah percakapan di ruangan Bu Rahayu, Arka kembali menelusuri dokumen-dokumen yang sudah ia kumpulkan, kali ini dengan cara yang lebih sistematis dan lebih sabar dari sebelumnya — ia menyusun semuanya dalam urutan tanggal, mencoba melihat apakah ada pola waktu yang bisa menjelaskan kapan dan kenapa aktivitas di Zona C meningkat atau menurun.
Sepuluh hari itu berlalu dengan tenang yang mencurigakan — tidak ada lagi pesan dari orang tak dikenal, tidak ada lagi sosok mengintai di sudut jalan, tidak ada kejadian yang membuatnya harus lari atau bersembunyi. Ketenangan itu, alih-alih menenangkannya, justru membuat Arka semakin waspada. Ia mulai belajar bahwa dalam dunia yang baru saja ia masuki, keheningan jarang berarti keamanan — lebih sering berarti seseorang sedang mengamati dari jarak yang lebih aman, menunggu waktu yang tepat.
Ia menghabiskan waktu senggangnya, di sela-sela tugas redaksi yang masih harus diselesaikan, untuk mempelajari lebih dalam soal sistem logistik pelabuhan secara umum — bagaimana manifest seharusnya disusun, kode-kode standar yang biasa dipakai industri, dan celah-celah administratif yang memungkinkan barang tertentu "hilang" dari catatan resmi tanpa menimbulkan kecurigaan berarti bagi yang tidak tahu harus mencari ke mana.
Salah satu dokumen yang paling ia andalkan adalah salinan manifest pengiriman yang berhasil ia dapatkan lewat kontak lama di kantor bea cukai — seorang pegawai rendahan yang bersedia membantu bukan karena idealisme besar, tapi karena menyimpan dendam pribadi terhadap atasannya yang, menurutnya, terlalu sering mengambil pujian atas kerja orang lain. Manifest itu, meski hanya mencakup sebagian kecil dari aktivitas resmi pelabuhan, memberi Arka gambaran soal pola pengiriman barang yang tercatat — dan yang lebih penting, pola yang tidak tercatat, yang bisa ia simpulkan dari kekosongan-kekosongan aneh di antara nomor urut dokumen yang seharusnya berurutan.
Ia sudah membaca dokumen itu berkali-kali, tapi malam ini, entah kenapa, matanya berhenti di satu halaman yang sebelumnya ia lewati begitu saja — halaman lampiran berisi catatan tangan seorang petugas, coretan kecil di margin yang tampaknya tidak sengaja ikut terfotokopi bersama dokumen utama.
Di sana, tertulis dengan tulisan tangan yang buru-buru dan agak sulit dibaca: cek ulang jadwal NEXUS, minggu depan.
Arka menatap kata itu lama. NEXUS. Ditulis dengan huruf kapital semua, dicoret sekali lalu ditulis ulang di sebelahnya, seolah orang yang menuliskannya sempat ragu sebelum akhirnya memutuskan untuk tetap mencantumkannya. Tidak ada konteks lain di sekitar catatan itu — tidak ada tanggal spesifik, tidak ada nama orang yang dimaksud, tidak ada penjelasan apa pun soal apa yang dimaksud dengan kata itu.
Ia membalik-balik halaman lain di dokumen yang sama, mencari apakah kata itu muncul lagi di tempat lain. Tidak ada. Hanya satu kali, di margin catatan tangan yang mungkin tidak pernah dimaksudkan untuk dilihat orang luar.
Ia menghubungi kontaknya di bea cukai lagi, menanyakan apakah ia tahu siapa yang menulis catatan di margin dokumen itu.
"Aku nggak tahu pasti, Mas," jawab kontaknya lewat telepon, suaranya terdengar was-was. "Dokumen itu lewat banyak tangan sebelum sampai ke aku. Bisa siapa aja yang nulis catatan kecil kayak gitu — supervisor, petugas lapangan, bahkan orang dari kementerian yang kadang ikut mengecek langsung kalau ada pengiriman khusus."
"Pengiriman khusus seperti apa?"
"Yang aku tahu, ada beberapa kali dalam setahun ada pengiriman yang katanya 'diprioritaskan negara' — dokumennya dipegang langsung sama orang dari pusat, bukan petugas biasa kayak kami. Kami cuma diminta nggak banyak tanya dan urus administrasinya secepat mungkin."
"Kamu pernah lihat langsung siapa yang datang buat pengiriman kayak gitu?"
"Sekali, dari jauh. Orangnya pakai seragam yang nggak familiar buat aku — bukan seragam bea cukai, bukan juga polisi biasa. Lebih formal, kayak orang kementerian yang datang khusus." Kontaknya terdiam sejenak. "Mas, aku udah bantu semampu aku. Tapi ini mulai terasa di luar kapasitas aku buat cari tahu lebih jauh. Aku ada keluarga yang harus aku pikirin."
Arka mengerti dan mengucapkan terima kasih, tidak ingin mendesaknya lebih jauh. Ia menutup telepon dengan perasaan campur aduk — di satu sisi, informasi baru ini menambah lapisan lagi ke teka-teki yang sedang ia susun; di sisi lain, ia mulai merasakan beratnya meminta orang lain mengambil risiko demi sesuatu yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.
NEXUS, pikirnya, mengetikkan kata itu ke mesin pencari yang biasa ia gunakan untuk riset cepat. Hasilnya berupa ratusan tautan tidak relevan — nama produk teknologi, nama proyek perumahan di kota lain, bahkan nama sebuah band indie yang sepertinya cukup populer beberapa tahun lalu. Tidak ada satu pun yang terasa terhubung dengan konteks pelabuhan atau logistik pemerintah.
Ia mencoba pendekatan lain, mencari kombinasi kata "NEXUS" dengan nama-nama kementerian yang sudah ia curigai selama ini — Kementerian Perdagangan, Kementerian Dalam Negeri, bahkan Kementerian Pertahanan, meski ia belum punya alasan kuat untuk menghubungkannya ke sana. Hasilnya tetap nihil. Kata itu seolah sengaja dijaga agar tidak pernah muncul di ruang publik mana pun yang bisa diakses lewat pencarian biasa.
Ia bahkan mencoba mencari lewat basis data paten dan merek dagang, dengan pemikiran bahwa mungkin NEXUS adalah nama proyek resmi yang, meski dirahasiakan dari publik luas, tetap harus terdaftar di suatu tempat karena aturan administratif. Hasilnya juga nihil — tidak ada pendaftaran merek dagang dengan nama itu yang terhubung ke instansi pemerintah mana pun, setidaknya tidak yang bisa diakses lewat basis data terbuka.
Ia mulai bertanya-tanya apakah kata itu mungkin bukan nama proyek dalam arti formal sama sekali, melainkan semacam kode internal yang sengaja tidak pernah didaftarkan secara resmi di mana pun — sesuatu yang hanya ada dalam percakapan lisan dan catatan tangan yang tidak seharusnya pernah terekam, seperti coretan kecil yang baru saja ia temukan.
Ia mengirim foto catatan tangan itu ke Damar, seperti biasa, disertai pertanyaan singkat: Pernah dengar soal ini?
Balasan datang lebih cepat dari biasanya, yang entah kenapa membuat Arka semakin gelisah alih-alih lega.
Di mana kamu dapat ini?
Manifest pengiriman, dari kontak di bea cukai. Kenapa?
Jeda yang lebih lama dari biasanya sebelum balasan berikutnya muncul.
Aku pernah dengar kata itu sekali. Bertahun-tahun lalu, dalam konteks yang nggak mau aku ceritakan lewat pesan teks. Jangan sebarkan kata ini ke siapa pun, termasuk ke Bu Rahayu, sampai kita ketemu langsung.
Arka menatap layar ponselnya, jantungnya berdegup lebih cepat. Ini pertama kalinya Damar bereaksi seperti ini terhadap sesuatu yang ia temukan — biasanya responsnya tenang, terukur, bahkan ketika Arka menemukan nama pejabat menengah yang terhubung ke perusahaan cangkang. Tapi satu kata ini, yang sekilas tidak lebih dari coretan kecil di margin dokumen yang membosankan, membuat Damar bereaksi dengan cara yang berbeda — lebih cepat, lebih tegas, dengan nada yang hampir menyerupai kekhawatiran yang belum pernah Arka lihat sebelumnya dalam pesan-pesan singkatnya yang biasanya begitu terkendali.
Ia mencoba membayangkan apa yang mungkin pernah dialami Damar bertahun-tahun lalu yang membuatnya bereaksi sekeras ini hanya karena satu kata. Apakah itu berhubungan dengan unit rahasia yang disebut purnawirawan yang pernah ia hubungi? Apakah NEXUS adalah nama operasi yang pernah Damar ikuti, atau justru operasi yang menghancurkan sesuatu yang penting baginya?
Seserius apa ini? ketik Arka, tidak bisa menahan diri, jarinya bergerak lebih cepat dari yang biasanya ia lakukan saat mengetik pesan.
Aku belum bisa jawab lewat pesan. Cuma percaya aku soal ini — kalau nama itu benar yang aku pikirkan, ini bukan lagi soal korupsi proyek pelabuhan biasa.
Lalu soal apa?
Tidak ada balasan selama beberapa menit, cukup lama untuk membuat Arka mengecek berulang kali apakah pesannya benar-benar terkirim. Ketika balasan akhirnya datang, isinya singkat namun terasa jauh lebih berat dari kata-katanya sendiri:
Soal kenapa aku ada di sini sekarang, menjaga kamu.
Arka membaca kalimat itu berkali-kali, mencoba memahami implikasinya sepenuhnya. Selama ini, ia selalu menganggap keterlibatan Damar sebagai sesuatu yang terhubung ke masa lalunya sendiri yang misterius — entah tugas lama, entah utang budi ke seseorang. Tapi kalimat ini menyiratkan sesuatu yang lebih spesifik: bahwa alasan Damar melindunginya berhubungan langsung dengan kata NEXUS itu sendiri, bukan sekadar kebetulan yang terjadi bersamaan.
Kapan kita bisa ketemu? balas Arka, jarinya sedikit gemetar mengetik pertanyaan sesederhana itu.
Besok malam. Tempat biasa.
Arka meletakkan ponselnya, menatap kembali ke coretan tangan yang sudah mulai memudar itu — huruf-huruf kapital yang ditulis buru-buru, dicoret dan ditulis ulang, seolah bahkan penulisnya sendiri ragu apakah kata itu sebaiknya dituliskan sama sekali. Ia bertanya-tanya siapa orang di balik tulisan tangan itu, apakah dia masih bekerja di pelabuhan sekarang, dan apakah dia menyadari betapa pentingnya coretan kecil yang mungkin ia buat tanpa berpikir panjang itu.
Ia tidak tahu, malam itu, bahwa kata sederhana yang tampak seperti detail kecil yang mudah terlewat ini — satu istilah tanpa penjelasan, tersembunyi di margin dokumen yang membosankan — pada akhirnya akan menjadi pusat dari segala hal yang ia kejar: alasan kenapa Bu Ijah menghilang, alasan kenapa ayahnya mati, dan alasan kenapa Damar, seseorang yang tampaknya sudah lama terbiasa dengan bahaya dan kekerasan, tiba-tiba terdengar begitu waspada hanya karena mendengar satu nama.
Ia menyalin catatan itu ke buku catatannya sendiri, menuliskannya besar-besar di halaman baru, mengelilinginya dengan tanda tanya yang tidak bisa ia jawab malam ini. Di bawahnya, ia menuliskan semua hal yang sudah ia ketahui sejauh ini — nama pejabat menengah, struktur kepemilikan berlapis PT Cahaya Meranti Sejahtera, plat nomor dari Bu Ijah, kesaksian soal peti logam bersegel merah, dan sekarang, satu kata yang tampaknya menjadi kunci yang menghubungkan semuanya, meski ia belum tahu bagaimana caranya.
NEXUS.
Sebuah nama tanpa wajah, tanpa konteks, tanpa penjelasan — tapi entah kenapa, sesuatu di dalam dirinya, insting yang sudah terlatih bertahun-tahun mengejar cerita-cerita yang orang lain ingin sembunyikan, mengatakan bahwa kata inilah yang akan menjelaskan semuanya, kalau saja ia bisa menemukan cara untuk membukanya.
Ia teringat kembali kalimat Bu Rahayu beberapa hari lalu — soal bagaimana mereka yang berkuasa tidak perlu membungkam semua orang, cukup membungkam cukup banyak untuk membuat sisanya belajar diam. Ia bertanya-tanya apakah NEXUS adalah bagian dari mesin yang sama itu — sesuatu yang dirancang bukan cuma untuk menyembunyikan satu proyek korupsi, tapi untuk menjaga keseluruhan sistem yang telah membungkam begitu banyak orang selama puluhan tahun, sejak generasi Bu Rahayu sendiri, mungkin bahkan sebelum itu.
Pikiran itu membuatnya merinding, tapi juga, entah kenapa, membuatnya semakin yakin bahwa ia berada di jalur yang benar — bahwa semua potongan yang selama ini terasa terpisah, mulai dari truk-truk di Meranti sampai cerita lama Bu Rahayu soal jurnalis yang menghilang, sebenarnya adalah bagian dari satu gambar besar yang sama, yang baru sekarang mulai terlihat bentuknya, meski masih sangat samar.
Ia mematikan lampu malam itu dengan pikiran yang lebih berkecamuk dari biasanya, satu kata asing berputar terus di kepalanya sampai akhirnya kelelahan memaksanya tertidur, tubuhnya lelah tapi pikirannya menolak sepenuhnya beristirahat — tidak menyadari bahwa jawaban atas kata itu sudah lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan, tersimpan dalam ingatan seorang jurnalis senior yang, tanpa sepengetahuannya, sedang menyelidiki jaringan yang sama dari arah yang sama sekali berbeda.