Rio Ananta

1739 Words
Nama itu pertama kali muncul di percakapan Arka dengan Bu Rahayu, dua hari sebelum pertemuannya dengan Damar yang dijadwalkan malam ini. Percakapan itu terjadi tanpa direncanakan — Arka sedang menyerahkan draf liputan rutin ke meja Bu Rahayu ketika ia, entah kenapa, memutuskan untuk sedikit membuka diri soal kebuntuan yang mulai ia rasakan, sesuatu yang biasanya ia hindari karena tidak ingin terlihat lemah atau tidak mampu menyelesaikan liputannya sendiri. Ia sudah punya banyak potongan: nama pejabat, struktur perusahaan cangkang, kata NEXUS yang misterius — tapi semuanya masih terasa seperti kepingan puzzle yang belum menemukan tempatnya, dan ia mulai merasa perlu bicara dengan seseorang yang lebih berpengalaman daripada dirinya sendiri, seseorang di luar Damar yang selalu menjawab dengan begitu banyak misteri di setiap jawabannya. "Kalau kamu benar-benar serius soal ini," kata Bu Rahayu waktu itu, suaranya lebih pelan dari biasa, "ada satu orang yang mungkin bisa membantu. Bukan aku yang akan menghubungkannya — dia harus memutuskan sendiri apakah mau bicara sama kamu atau tidak. Tapi kalau ada satu orang di generasi lama yang masih punya jaringan dan keberanian untuk membicarakan hal-hal yang orang lain pilih lupakan, itu Rio Ananta." "Bu kenal dia dekat?" "Kami pernah bekerja di redaksi yang sama, dulu, sebelum aku pindah ke sini. Dia salah satu dari sedikit orang yang aku masih percaya penuh, meski kami sudah jarang bicara sekarang." Bu Rahayu menatap Arka lekat. "Aku akan hubungi dia dulu. Kalau dia setuju bertemu kamu, itu artinya dia percaya kamu layak dipercaya juga — dan itu bukan sesuatu yang mudah didapat dari orang seperti dia." Tiga hari kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Arka — bukan dari Bu Rahayu, tapi dari nomor asing dengan tanda tangan singkat "R.A." di akhirnya, memberi alamat kafe dan waktu pertemuan tanpa basa-basi lain. Arka membaca pesan itu berkali-kali, mencoba menebak seperti apa sosok di balik reputasi besar yang selama ini hanya ia kenal lewat halaman-halaman koran lama. Nama itu terdengar familiar bagi Arka — bukan karena ia pernah bertemu langsung, tapi karena tulisan-tulisan Rio Ananta pernah menjadi bacaan wajib semasa kuliah jurnalistiknya, sebelum nama itu perlahan menghilang dari sirkulasi media utama, digantikan oleh kolom-kolom opini yang lebih ringan dan aman. Rio Ananta, jika ingatan Arka benar, adalah salah satu jurnalis investigasi paling dihormati di generasinya — dikenal karena serangkaian liputan tajam soal penyalahgunaan anggaran negara di awal tahun 2000-an, sebelum kemudian, entah kenapa, tulisannya menjadi jauh lebih jarang muncul, dan namanya lebih sering disebut sebagai "konsultan media" daripada jurnalis aktif. Salah satu liputan Rio yang paling Arka ingat dari bangku kuliah dulu adalah investigasi panjang soal penggelapan dana bantuan bencana — liputan yang, menurut dosennya waktu itu, menjadi contoh klasik jurnalisme investigasi yang berani, karena berhasil menyeret dua pejabat tinggi ke meja hijau meski menghadapi tekanan luar biasa selama proses penyelidikannya, termasuk ancaman gugatan hukum yang berkali-kali dilayangkan pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh liputan itu. Tapi setelah liputan itu, entah kenapa, karya-karya besar Rio berikutnya seolah menghilang begitu saja, digantikan tulisan-tulisan ringan yang jauh dari reputasinya sebelumnya. "Kenapa dia berhenti nulis liputan tajam kayak dulu?" tanya Arka waktu itu. Bu Rahayu menjawab dengan hati-hati, seolah memilih kata-katanya dengan sangat cermat. "Setiap orang punya alasan sendiri untuk berhenti, atau melambat, atau memilih bertahan dengan cara yang berbeda. Jangan buru-buru menghakimi orang yang sudah bertahan lebih lama darimu di dunia ini, Arka. Kamu belum tahu apa yang harus mereka korbankan untuk sampai sejauh itu." Kalimat itu terngiang di kepala Arka ketika, tiga hari kemudian, ia akhirnya bertemu langsung dengan Rio Ananta di sebuah kafe kecil di sudut kota yang jarang dikunjungi orang-orang media — pilihan tempat yang, Arka curigai, bukan kebetulan. Kafe itu sendiri terasa seperti peninggalan dari era yang berbeda — perabotan kayu tua yang sudah using dimakan waktu, foto-foto hitam putih tergantung di dinding menampilkan Ardhapura di masa yang jauh lebih sederhana, dan seorang pemilik kafe tua yang menyapa Rio dengan anggukan kecil penuh pengenalan, tanpa perlu kata-kata, seolah mereka sudah saling mengenal selama bertahun-tahun tanpa perlu menjadi akrab secara terbuka. Beberapa meja di sudut lain terisi orang-orang tua yang tampak seperti pelanggan tetap, membaca koran atau bermain catur dalam diam — tempat yang jelas dipilih Rio bukan karena kebetulan, tapi karena sudah lama menjadi tempat aman baginya untuk bertemu orang-orang yang perlu bicara jauh dari telinga yang salah. Rio ternyata jauh lebih tua dari yang Arka bayangkan dari foto-foto lama yang pernah ia lihat — rambutnya sudah memutih sepenuhnya, wajahnya dipenuhi garis-garis waktu, tapi matanya masih menyimpan ketajaman yang tidak pudar oleh usia. Ia duduk di sudut paling belakang kafe, menghadap pintu masuk, kebiasaan yang tampaknya sudah mendarah daging dari bertahun-tahun kewaspadaan. "Arka Pratama," katanya, bukan sebagai sapaan, tapi lebih seperti sedang mengonfirmasi sesuatu pada dirinya sendiri. "Rahayu bilang kamu sedang menyelidiki sesuatu yang besar." "Saya nggak yakin seberapa besar. Tapi ya, ada sesuatu yang saya coba pahami." "Ceritakan." Rio menyandarkan diri ke kursinya, jari-jarinya saling bertaut di atas meja, sikap seseorang yang sudah terbiasa mendengarkan lebih banyak daripada bicara. Arka menceritakan garis besar penyelidikannya — truk-truk di Meranti, Bu Ijah yang menghilang, perusahaan cangkang, nama pejabat menengah, dan akhirnya, dengan hati-hati, kata NEXUS yang baru ia temukan beberapa hari lalu. Ketika kata itu disebutkan, sesuatu berubah di wajah Rio — perubahan kecil, nyaris tidak terlihat, tapi cukup jelas bagi Arka yang sudah terlatih membaca reaksi orang selama bertahun-tahun meliput. Rahangnya mengeras sedikit. Matanya berkedip satu kali lebih lama dari biasanya. Tangannya, yang tadinya santai di atas meja, kini mengepal pelan tanpa ia sadari. "Di mana kamu dengar kata itu?" tanya Rio, suaranya masih tenang, tapi ada sesuatu yang berbeda di baliknya sekarang — sesuatu yang mengingatkan Arka pada nada suara Damar ketika pertama kali melihat coretan itu. "Catatan tangan di margin dokumen manifest. Kenapa? Bapak tahu soal ini?" Rio diam lama, menatap ke luar jendela kafe, ke arah jalan yang mulai basah oleh gerimis sore. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang terasa jauh lebih panjang dari yang sebenarnya, sebelum akhirnya ia bicara lagi, suaranya lebih pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. "Aku kenal ayahmu, Arka." Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa pemberitahuan, dan Arka merasa dunianya sedikit bergeser dari porosnya. "Bapak kenal ayah saya?" Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, seolah bukan dirinya yang bicara. "Bagas Pratama. Kami pernah bekerja sama, bertahun-tahun lalu, sebelum kau lahir — atau mungkin waktu kau masih sangat kecil, aku lupa persisnya." Rio menoleh kembali menatap Arka, matanya menyimpan sesuatu yang sulit Arka artikan — mungkin kesedihan, mungkin rasa bersalah, mungkin campuran keduanya. "Dia orang baik. Salah satu orang paling jujur yang pernah aku kenal di dunia yang penuh orang-orang yang pandai berpura-pura jujur." Arka merasa dadanya sesak. Selama enam tahun, ia hampir tidak pernah mendengar orang lain di luar keluarganya berbicara soal ayahnya dengan cara sepersonal ini — kebanyakan orang, kalau nama Bagas disebut sama sekali, hanya memberikan simpati singkat dan buru-buru mengganti topik. "Bagaimana Bapak kenal dia? Kerja bareng soal apa?" Rio menggeleng pelan. "Belum saatnya aku ceritakan detail itu. Tapi percayalah, itu pertanyaan yang layak kau tanyakan, dan suatu hari kau akan mendapat jawabannya — lebih lengkap dari yang bisa aku berikan sekarang, di tempat seperti ini." "Bapak tahu soal kematiannya? Yang sebenarnya?" Rio tidak langsung menjawab. Ia mengangkat cangkir kopinya, menyeruputnya perlahan, seolah memberi dirinya waktu untuk memikirkan seberapa banyak yang aman diucapkan di tempat terbuka seperti ini, meski kafe itu nyaris kosong. "Aku tahu lebih banyak dari yang tertulis di laporan resmi," katanya akhirnya. "Tapi aku nggak akan cerita semuanya sekarang, di sini. Bukan karena aku nggak percaya kamu, Arka. Tapi karena beberapa hal butuh persiapan sebelum diceritakan — persiapan untuk orang yang mendengarnya, dan persiapan keamanan untuk orang yang menceritakannya." "Kapan Bapak bisa cerita semuanya?" "Beri aku waktu. Aku perlu memastikan beberapa hal dulu, menghubungi beberapa orang yang mungkin masih bisa dipercaya setelah sekian lama." Rio menatapnya lekat. "Sementara itu, aku ingin kamu berjanji satu hal padaku." "Apa itu?" "Kalau kamu benar-benar dekat dengan kata NEXUS, jangan bergerak sendirian. Jangan pernah. Aku sudah melihat apa yang terjadi pada orang-orang yang mendekati kata itu tanpa perlindungan yang cukup." Suaranya bergetar sedikit di akhir kalimat, sesuatu yang tidak sesuai dengan citra tenang yang selama ini ia jaga. "Dan jangan pernah simpan semua yang kamu tahu di satu tempat. Sebarkan. Selalu punya cadangan yang orang lain pegang, di tempat yang jauh darimu." "Kenapa Bapak begitu waspada soal ini? Apa yang sebenarnya pernah terjadi?" Rio menatapnya lama, seolah mempertimbangkan berapa banyak lagi yang bisa ia ungkapkan tanpa membahayakan mereka berdua lebih jauh. "Ada orang-orang yang aku kenal, bertahun-tahun lalu, yang mendekati hal yang sama seperti yang sedang kamu kejar sekarang. Sebagian dari mereka berhenti menulis. Sebagian pindah kerja ke luar negeri secara tiba-tiba. Dan sebagian lagi—" ia berhenti, seolah kalimat berikutnya terlalu berat untuk diucapkan secara langsung, "—tidak pernah kembali sama sekali." Hening menggantung di antara mereka, hanya diisi suara hujan yang mulai turun lebih deras di luar jendela. "Aku janji," kata Arka akhirnya, meski kata-kata itu terasa lebih berat sekarang setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan Rio. Mereka berpisah tak lama setelah itu, Rio meninggalkan kafe lebih dulu, memastikan tidak ada yang mengikutinya lewat cara yang tampak sudah menjadi kebiasaan lama — jalan memutar, berhenti sejenak di depan etalase toko untuk mengecek pantulan jalan di belakangnya, baru kemudian benar-benar pergi, menghilang ke dalam kerumunan payung dan mantel hujan yang memenuhi trotoar sore itu. Arka duduk sendirian beberapa menit lagi, mencerna semua yang baru saja terjadi. Ia datang untuk mencari informasi soal NEXUS, dan pulang membawa sesuatu yang jauh lebih personal — kabar bahwa ayahnya, sosok yang selama ini hanya ia kenal lewat kenangan samar dan cerita-cerita terbatas dari ibunya, pernah memiliki kehidupan lain yang lebih luas, terhubung ke orang-orang yang, sampai hari ini, masih menjaga rahasia yang berhubungan dengannya. Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat ke Damar: Baru ketemu orang yang kenal ayahku. Ada yang perlu diceritain. Balasan datang cepat: Nanti malam, cerita lengkap. Hati-hati di jalan. Arka memasukkan ponselnya kembali ke saku, berjalan keluar kafe ke dalam hujan yang semakin deras, pikirannya dipenuhi wajah Rio Ananta yang menatap ke luar jendela dengan mata yang menyimpan terlalu banyak hal yang belum bisa diucapkan. Ia tidak tahu, sore itu, bahwa ini akan menjadi satu-satunya kesempatan ia bisa bicara langsung dengan Rio Ananta — dan bahwa janji yang baru saja ia ucapkan, untuk tidak pernah bergerak sendirian, akan diuji jauh lebih cepat dan lebih kejam dari yang pernah ia bayangkan, dalam hitungan hari, bukan minggu atau bulan seperti yang ia kira akan punya waktu untuk mempersiapkan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD