Kontak Rahasia

1638 Words
Empat hari berlalu tanpa kabar dari Rio, dan Arka mulai bertanya-tanya apakah pertemuan di kafe itu adalah awal sekaligus akhir dari keterlibatan jurnalis senior tersebut dalam penyelidikannya. Ia menahan diri untuk tidak menghubungi lebih dulu, mengingat cara Rio berpisah waktu itu — begitu berhati-hati, begitu waspada terhadap setiap kemungkinan diikuti — seolah inisiatif berikutnya harus datang darinya, bukan dari Arka. Empat hari itu ia habiskan dengan menyelesaikan tugas-tugas rutin di redaksi sambil sesekali membaca ulang catatan pertemuannya dengan Rio, mencoba mengingat detail-detail kecil yang mungkin luput dari perhatiannya waktu itu — nada suara yang berubah, jeda yang terasa terlalu lama sebelum jawaban tertentu, cara matanya menghindari kontak langsung ketika membicarakan hal-hal yang paling sensitif. Ia mulai belajar bahwa dalam dunia yang baru saja ia masuki, apa yang tidak diucapkan seringkali sama pentingnya dengan apa yang diucapkan. Malam kelima, sebuah amplop cokelat polos terselip di bawah pintu apartemennya, tanpa nama pengirim, tanpa cap pos resmi — seseorang telah mengantarkannya langsung, cukup diam-diam untuk tidak terdengar oleh Arka yang saat itu sedang berada hanya beberapa meter di ruang tamu. Ia membuka amplop itu dengan hati-hati, seolah isinya bisa meledak kapan saja. Di dalamnya, ia menemukan beberapa lembar fotokopi dokumen lama — laporan keuangan sebuah yayasan yang, menurut catatan resminya, bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat pesisir, tapi struktur pendanaannya menunjukkan aliran dana yang jauh lebih besar daripada yang bisa dijelaskan oleh kegiatan sosial biasa. Ia membaca dokumen itu lembar demi lembar, mencatat setiap angka yang terasa janggal — donasi dari perusahaan-perusahaan yang tidak pernah terdengar namanya di dunia usaha, jumlah yang jauh melebihi kewajaran untuk skala yayasan sekecil itu, dan yang paling mencurigakan, sebagian besar dana yang masuk tercatat keluar lagi dalam hitungan hari, dengan keterangan "bantuan operasional program" tanpa rincian program yang dimaksud. Pola aliran dana semacam ini, ia tahu dari pengalaman meliput kasus-kasus serupa sebelumnya, adalah tanda klasik pencucian uang yang menyamar sebagai kegiatan filantropi. Di halaman terakhir, tertulis catatan tangan singkat, gaya tulisan yang sama dengan yang pernah Arka lihat di margin dokumen manifest sebelumnya — namun kali ini, Arka yakin, ditulis khusus untuknya: Yayasan ini salah satu tabir. Ikuti aliran dananya, tapi jangan mendekat langsung ke orang-orang di dalamnya. Aku akan hubungi kalau sudah aman untuk bicara lebih jauh. — R.A. Arka menghabiskan sisa malam itu mempelajari dokumen tersebut, mencatat nama-nama pengurus yayasan, membandingkannya dengan basis data yang sudah ia kumpulkan sejauh ini. Ia juga mencoba mencari jejak digital yayasan itu — situs resminya, jika ada, dan laporan kegiatan tahunan yang biasanya wajib dipublikasikan lembaga nonprofit sebagai syarat perizinan. Situs yang ia temukan tampak profesional tapi kosong substansi, dipenuhi foto-foto kegiatan sosial yang generik dan testimoni warga yang, jika diperhatikan lebih dekat, tidak pernah menyebut nama tempat atau tanggal yang spesifik — pola yang, menurut pengalamannya, sering muncul pada organisasi yang lebih fokus menjaga citra daripada benar-benar menjalankan kegiatan yang mereka klaim. Beberapa nama terasa asing, tapi satu nama membuatnya berhenti sejenak — seorang anggota dewan pembina yayasan itu ternyata memiliki hubungan keluarga dengan menteri yang selama ini hanya ia ketahui lewat berita-berita resmi kementerian, tanpa pernah ia curigai terlibat langsung dalam jaringan yang sedang ia telusuri. Keesokan paginya, sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sama seperti sebelumnya, tanda tangan "R.A." tercantum di akhir seperti biasa. Sudah lihat isi amplopnya? Sudah. Ini yayasan siapa sebenarnya? balas Arka. Belum saatnya aku jelaskan detail itu. Yang perlu kau tahu sekarang: yayasan itu salah satu dari beberapa jalur yang dipakai untuk memindahkan uang tanpa meninggalkan jejak langsung ke sumbernya. Ada beberapa yayasan serupa lainnya — aku akan kirim informasinya bertahap, jangan buru-buru menyimpulkan sebelum kau punya gambaran lengkap. Berapa banyak yayasan yang Bapak maksud? tanya Arka, mencoba memahami skala sesungguhnya dari apa yang sedang mereka hadapi. Cukup banyak untuk membuatmu sadar ini bukan cuma soal satu proyek pelabuhan yang korup. Tapi jangan biarkan angka itu membuatmu kewalahan sekarang. Satu per satu. Kenapa bertahap? Kenapa nggak sekaligus aja? Jeda cukup lama sebelum balasan berikutnya muncul, cukup lama untuk membuat Arka mengecek layar ponselnya berkali-kali memastikan pesan sebelumnya benar-benar terkirim. Karena kalau aku kasih semuanya sekaligus dan sesuatu terjadi padaku, kamu kehilangan semuanya dalam satu pukulan. Kalau bertahap, setidaknya kamu masih punya sebagian, apa pun yang terjadi. Arka menatap kalimat itu lama, merasakan bobot di baliknya jauh lebih berat daripada kata-katanya sendiri. Ia teringat lagi peringatan Rio di kafe waktu itu — jangan simpan semua di satu tempat, selalu punya cadangan. Sekarang ia mulai memahami bahwa nasihat itu bukan sekadar teori keamanan yang diajarkan kepadanya, tapi prinsip yang benar-benar dijalankan Rio sendiri dalam caranya membagikan informasi. Kenapa Bapak seyakin itu sesuatu bisa terjadi ke Bapak? ketik Arka, ragu sejenak sebelum akhirnya mengirimkannya. Balasan yang datang kali ini lebih panjang dari biasanya. Karena aku sudah terlalu lama berada dekat dengan kebenaran yang mereka lindungi. Orang-orang seperti aku, yang tahu terlalu banyak tanpa pernah benar-benar membocorkan semuanya, selalu ada di daftar yang mereka pantau. Selama aku diam, mereka membiarkanku. Begitu aku mulai bergerak lagi — apalagi membantu orang lain bergerak — itu berubah. Kalau begitu kenapa Bapak tetap bantu saya? Karena aku sudah cukup lama diam, dan diam itu punya harganya sendiri yang nggak lebih murah dari bergerak. Lagipula — ini soal anak Bagas. Aku berutang lebih dari sekadar bantuan kecil untuk keluarganya. Utang apa maksudnya? ketik Arka, tidak bisa menahan rasa penasaran yang sudah lama terpendam. Suatu hari, kalau semua ini sudah lewat, aku akan cerita semuanya — termasuk soal itu. Sekarang belum waktunya. Percaya saja bahwa ayahmu pernah melakukan sesuatu untukku yang tidak akan pernah bisa aku bayar lunas, bahkan dengan membantu anaknya sekalipun. Kalimat terakhir itu membuat d**a Arka terasa sesak lagi, sama seperti ketika Rio pertama kali menyebut nama ayahnya di kafe. Ada sesuatu yang lebih besar di balik hubungan Rio dengan Bagas yang belum sepenuhnya ia pahami — utang, entah dalam bentuk apa, yang tampaknya cukup berat untuk membuat seorang jurnalis senior yang sudah lama memilih bermain aman kembali mengambil risiko demi anak dari rekan lamanya. Bapak akan cerita semuanya, kan? Suatu hari? balas Arka, tidak bisa menyembunyikan sedikit keputusasaan di baliknya. Aku janji. Begitu waktunya tepat. Sekarang, fokus dulu ke yayasan itu. Aku akan hubungi lagi minggu depan dengan informasi berikutnya. Percakapan itu berakhir di sana. Arka duduk lama menatap layar ponselnya, mencerna semua yang baru saja terjadi. Ia sudah punya lebih banyak sekarang — sebuah yayasan yang jadi tabir aliran dana, nama pejabat baru yang terhubung tak langsung lewat hubungan keluarga, dan janji akan ada informasi lebih lanjut dalam waktu dekat. Tapi di balik semua kemajuan itu, ada satu perasaan yang tidak bisa ia singkirkan — firasat yang semakin kuat bahwa waktu yang mereka miliki, apa pun bentuknya, sedang berjalan lebih cepat dari yang mereka semua sadari. Ia memikirkan kembali cara Rio berbicara soal dirinya sendiri — bukan sebagai pahlawan yang berani mengambil risiko, tapi sebagai seseorang yang sudah lama menghitung dengan cermat setiap langkah yang ia ambil, memilih diam selama bertahun-tahun bukan karena takut, melainkan karena tahu persis kapan pertarungan itu layak untuk dimulai kembali. Ada kebijaksanaan dalam kehati-hatian semacam itu yang, Arka sadari, belum sepenuhnya ia miliki — semangatnya masih terlalu besar, terlalu tergesa, dibanding pengalaman yang membentuk cara Rio bergerak sekarang. Ia mengirim salinan dokumen dan percakapan itu ke Damar, seperti biasa, disertai ringkasan singkat soal apa yang baru saja terjadi. Ia menambahkan juga hasil pencarian mandirinya soal situs resmi yayasan itu, berharap mata tajam Damar bisa menangkap detail lain yang mungkin terlewat olehnya. Balasan Damar datang tak lama kemudian, lebih pendek dari biasanya, tapi tersirat kekhawatiran yang tidak biasa ia tunjukkan secara terbuka. Hati-hati sama siapa pun yang kirim informasi lewat jalur seperti ini, meski itu orang yang kamu percaya. Kalau dia diawasi, kamu ikut diawasi juga tiap kali dia menghubungimu. Menurut kamu aku harus berhenti komunikasi sama dia? balas Arka, meski pertanyaan itu terasa berat begitu ia ketikkan. Nggak. Informasi yang dia kasih terlalu berharga buat diabaikan. Tapi mulai sekarang, kalau dia mau ketemu langsung lagi, kabari aku dulu. Aku akan pastikan area di sekitar tempat pertemuan aman sebelum kamu datang. Arka membaca peringatan itu dengan perasaan berat, menyadari bahwa setiap langkah maju dalam penyelidikan ini sepertinya selalu diiringi risiko baru yang harus ia terima sebagai bagian dari harga untuk mengetahui kebenaran. Ia menyimpan dokumen dari Rio ke dalam map yang sama dengan yang lain, menuliskan nama yayasan itu di kertas terpisah, dan menariknya menjadi benang merah baru yang menyambung ke gambar besar yang perlahan mulai terbentuk di dinding imajinernya. Setiap kali ia menambahkan satu potongan baru, gambar itu terasa semakin jelas bentuknya, meski masih jauh dari lengkap — seperti melihat siluet dari kejauhan dalam kabut tebal, cukup untuk tahu ada sesuatu di sana, tapi belum cukup untuk mengenali wujud sesungguhnya. Malam itu, sebelum tidur, ia menatap kalimat terakhir dari Rio sekali lagi — ini soal anak Bagas — dan bertanya-tanya, untuk pertama kalinya dengan cukup serius, seberapa banyak orang lain di luar sana yang mungkin masih menyimpan utang yang sama terhadap ayahnya, tanpa pernah ia ketahui sampai sekarang. Ia teringat kembali map lama berisi salinan laporan kecelakaan ayahnya, yang masih tersimpan di laci meja kerjanya di rumah. Selama enam tahun, ia hanya melihat map itu sebagai kenangan pahit yang harus ia terima. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia mulai melihatnya sebagai sesuatu yang lain — mungkin bukan penutup sebuah cerita, tapi justru pembuka dari cerita yang jauh lebih panjang, yang baru sekarang mulai terungkap kepadanya sedikit demi sedikit, lewat orang-orang yang selama ini memilih diam demi melindunginya dari kebenaran yang mereka anggap terlalu berbahaya untuk ia ketahui lebih awal. Minggu depan, pikirnya, mengulang janji Rio dalam kepalanya. Ia berharap keras minggu itu akan datang secepat yang dijanjikan — dan bahwa apa pun yang menunggu di baliknya, mereka berdua, ia dan Rio, akan tetap ada untuk saling bertukar informasi ketika saatnya tiba, tanpa tahu bahwa harapan sesederhana itu akan diuji jauh lebih cepat dan jauh lebih kejam dari yang pernah ia bayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD