Ardhapura malam hari selalu terasa lebih aman daripada Meranti, atau begitulah yang selama ini Arka percaya.
Kereta terakhir dari Meranti tiba di Ardhapura menjelang jam sembilan malam, dan seperti biasa, Arka memilih berjalan kaki dari stasiun ke rumah ibunya alih-alih naik ojek daring — kebiasaan lama yang membantunya berpikir jernih setelah hari yang panjang, meski malam ini pikirannya lebih penuh dari biasanya.
Sepanjang perjalanan kereta pulang, ia terus memikirkan reaksi ibunya tadi — pertanyaan yang terlalu spesifik, jeda yang terlalu lama, penyangkalan yang terlalu cepat. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu cuma kebetulan, bahwa ibunya mungkin sekadar familiar dengan nama Meranti karena alasan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa pun yang sedang ia selidiki. Tapi bagian dirinya yang sudah terlatih mencurigai kejanggalan kecil menolak untuk sepenuhnya percaya pada penjelasan sesederhana itu.
Ia turun dari kereta terakhir sekitar pukul sepuluh, jalanan menuju apartemennya sudah lengang kecuali beberapa pedagang kaki lima yang mulai membereskan dagangan dan sepasang muda-mudi yang berjalan bergandengan tangan tanpa peduli pada dunia sekitar. Lampu-lampu jalan berpendar kekuningan, memantul di genangan sisa hujan sore yang belum sepenuhnya kering, menciptakan bayangan panjang dari setiap tiang dan pohon yang dilewatinya. Arka berjalan dengan langkah cepat, kepalanya masih penuh oleh kejadian di Meranti — gerobak kosong, mobil hitam yang tidak biasa, nada suara Bu Rahayu yang berubah drastis begitu mendengar ceritanya.
Biasanya, perjalanan dari stasiun ke apartemennya memakan waktu lima belas menit yang tidak pernah ia pikirkan dua kali — rute yang sudah ia hafal luar kepala sejak pindah dua tahun lalu, cukup familiar hingga kakinya bisa berjalan sendiri sementara pikirannya melayang ke mana-mana. Malam ini berbeda. Setiap suara langkah di kejauhan, setiap bayangan yang bergerak di sudut matanya, terasa lebih tajam dari biasanya, seolah tubuhnya sendiri sudah lebih dulu menyadari sesuatu yang belum sepenuhnya disadari pikirannya.
Ia melewati toko kelontong yang biasa buka dua puluh empat jam, tapi malam ini tutup lebih awal tanpa alasan jelas, papan "BUKA" yang biasanya menyala kini gelap. Ia melewati taman kecil di ujung jalan, tempat biasanya ada satu-dua orang duduk di bangku sambil merokok larut malam, tapi malam ini kosong melompong. Kota yang biasanya terasa hidup bahkan di jam-jam sepi kini terasa seperti menahan napas, seolah tahu sesuatu yang belum Arka sadari.
Ia baru menyadari ada yang tidak beres ketika berbelok di persimpangan ketiga dari stasiun, tempat yang biasanya sepi tapi cukup terang karena lampu jalan yang masih berfungsi normal. Sekilas, di ujung matanya, ia melihat sosok yang berbelok di persimpangan yang sama, beberapa puluh meter di belakangnya — bukan hal aneh dengan sendirinya, kalau saja sosok itu tidak mempercepat langkah tepat ketika Arka mempercepat langkahnya sendiri. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu cuma kebetulan, mungkin orang lain yang kebetulan searah pulang, tapi bagian dirinya yang sudah waspada sejak kejadian di Meranti menolak untuk sepenuhnya percaya, seolah insting yang selama ini tertidur di dalam dirinya tiba-tiba terbangun penuh.
Ia berhenti sejenak di depan etalase toko yang sudah tutup, berpura-pura memeriksa sesuatu di ponselnya sambil memantulkan pandangan ke kaca etalase. Sosok itu juga berhenti, terlalu jauh untuk terlihat jelas wajahnya, tapi cukup dekat untuk membuat jantung Arka berdegup lebih cepat. Ia menghitung detik yang berlalu, berharap sosok itu akan melanjutkan jalannya, berharap ini semua cuma kebetulan yang akan segera terbukti tidak berarti apa-apa.
Ia mencoba mengingat-ingat, apakah ada yang mengikutinya sejak turun dari kereta, atau bahkan sejak sebelum itu — sejak di kantor kelurahan, atau bahkan sejak rumah ibunya. Pikirannya berputar terlalu cepat untuk memberi jawaban pasti, tapi satu hal yang jelas: ini bukan imajinasinya semata.
Dan bukan cuma satu.
Di seberang jalan, sosok kedua muncul dari arah berlawanan, berjalan santai tapi dengan arah yang terlalu tepat menuju posisi Arka, seolah keduanya sedang menutup dua ujung jalan yang sama tanpa perlu berkoordinasi secara terbuka. Keduanya mengenakan jaket gelap tanpa ciri khusus, jenis pakaian yang dirancang untuk tidak diingat, untuk berbaur dengan kerumunan malam tanpa meninggalkan kesan apa pun di ingatan siapa pun yang kebetulan melihat.
Arka melangkah lagi, kali ini lebih cepat, mengambil rute yang biasanya tidak ia lalui — bukan jalan utama menuju apartemennya, tapi gang lebih kecil yang memotong ke arah yang sama meski lebih berliku. Ia berharap perubahan rute itu cukup untuk mengelabui, atau setidaknya memberinya waktu untuk berpikir.
Suara langkah kaki di belakangnya tidak melambat.
Ia mulai berlari, tidak lagi berpura-pura tenang. Gang yang ia masuki semakin sempit, dinding-dinding beton di kedua sisinya semakin dekat, lampu jalan semakin jarang hingga akhirnya ia berlari dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya bulan dan pantulan lampu kota dari kejauhan. Napasnya memburu, sepatu karetnya berdecit di aspal yang lembab bekas hujan sore tadi.
Ia mencoba mengarahkan diri ke jalan besar yang ia tahu ada di ujung distrik ini, tempat setidaknya ada satu-dua warung yang mungkin masih buka, tempat ia bisa berteriak minta tolong dengan harapan seseorang akan mendengar. Tapi setiap kali ia berbelok, jalan yang seharusnya ia kenal terasa asing, seolah kepanikan telah mengacak semua peta yang selama ini tersimpan rapi di kepalanya. Ia bahkan sempat berpikir untuk berbelok kembali ke arah stasiun, berharap masih ada petugas keamanan yang berjaga di sana selarut ini, tapi jarak yang harus ditempuh terasa terlalu jauh untuk risiko yang harus ia ambil.
Pikirannya berpacu secepat kakinya — haruskah ia berteriak minta tolong? Tapi jalan ini terlalu sepi, dan bagian dirinya yang masih bisa berpikir jernih di tengah panik menyadari bahwa berteriak mungkin justru membuat kedua orang itu bertindak lebih cepat dan lebih kasar daripada yang mereka rencanakan semula. Ia mencoba mengingat rute-rute alternatif yang pernah ia lewati sekali-dua kali, mencoba memetakan dalam kepala jalan mana yang mungkin masih terbuka, jalan mana yang buntu — tapi kepanikan membuat semua ingatan itu kabur, tercampur aduk tanpa urutan yang jelas.
Ini bukan kebetulan. Ini bukan kebetulan.
Kakinya membawa dia melewati tumpukan kardus basah, melompati genangan air tanpa sempat menghitung risiko terpeleset, jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa seperti akan meledak keluar dari dadanya sendiri. Di kejauhan belakang, ia bisa mendengar langkah kaki yang tidak tergesa-gesa — justru itu yang paling menakutkan, cara mereka bergerak begitu tenang, seolah yakin betul mangsanya tidak akan bisa lolos ke mana pun.
Ia membelok ke gang lain, berharap menemukan jalan keluar — dan menyadari, dengan rasa dingin yang menjalar cepat ke seluruh tubuhnya, bahwa gang ini buntu. Tembok tinggi menjulang di depannya, satu-satunya jalan keluar adalah kembali ke arah ia datang, tempat kedua sosok itu sekarang pasti sudah semakin dekat.
Ia menatap sekeliling gang sempit itu, mencari apa pun yang bisa ia gunakan — tumpukan kardus di sudut, tong sampah yang sudah berkarat, tidak ada satu pun yang cukup berguna untuk melawan dua orang yang jelas lebih siap secara fisik dibanding dirinya. Ponselnya di saku, tapi sinyal untuk menelepon siapa pun terlalu lambat untuk situasi yang sudah berkembang secepat ini.
Ia sempat berpikir untuk memanjat tembok di ujung gang, tapi tingginya jelas terlalu curam untuk dipanjat dalam keadaan panik seperti ini, apalagi dengan sepatu yang sudah basah dan licin. Pikirannya berkelebat mencari opsi lain — berteriak sekeras mungkin meski tahu risikonya, melempar sesuatu untuk membuat keributan, atau sekadar berharap ada penghuni gedung di sekitar yang mungkin mendengar dan peduli untuk keluar memeriksa. Tidak satu pun dari opsi itu terasa cukup meyakinkan, tapi setidaknya memikirkannya membantu menahan panik agar tidak sepenuhnya menguasai dirinya.
Ia berbalik, punggungnya menempel ke dinding beton yang dingin, mencoba mengatur napas, mencoba berpikir jernih di tengah panik yang mulai menguasai. Dua bayangan muncul di ujung gang, berjalan pelan sekarang, seolah tahu betul bahwa mangsanya sudah tidak punya jalan lain.
"Nggak usah lari lagi," kata salah satu dari mereka, suaranya datar, tanpa emosi yang berarti, seperti orang yang sudah terlalu sering mengucapkan kalimat serupa hingga kehilangan maknanya sendiri. "Kami cuma mau ngobrol." Ia melangkah semakin dekat, sepatu botnya menimbulkan suara berat di aspal basah, gestur tubuhnya sama sekali tidak tergesa — seolah mereka berdua sudah yakin betul situasi ini sepenuhnya di bawah kendali mereka.
"Ngobrol soal apa?" Arka mencoba menjaga suaranya tetap stabil, meski tangannya sudah gemetar di sisi tubuhnya. Ia melirik ke kiri dan kanan, mencari celah apa pun yang mungkin terlewat, tapi gang ini benar-benar tanpa jalan keluar selain melewati kedua sosok yang kini berdiri menghalangi satu-satunya arah kembali.
"Soal ke mana kamu pergi minggu ini. Soal siapa yang kamu temui." Sosok kedua melangkah lebih dekat, tangannya bergerak ke balik jaket dengan gestur yang membuat perut Arka mengencang ketakutan. "Dan soal apa yang harus kamu lupakan mulai sekarang." Suaranya tetap datar, seolah mengucapkan daftar belanjaan, bukan ancaman yang bisa berujung pada sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar rasa takut.
"Aku nggak tahu maksud kalian," kata Arka, mencoba mengulur waktu meski tahu itu mungkin sia-sia. "Aku cuma jurnalis biasa yang liputan proyek pelabuhan." Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya, terlalu tenang untuk situasi yang jelas-jelas tidak tenang sama sekali, seolah sebagian dirinya masih berharap kalimat itu cukup meyakinkan untuk mengakhiri semuanya di sini.
"Jurnalis biasa nggak nanya-nanya soal truk yang nggak tercatat di manifest," kata sosok pertama, semakin dekat. "Jurnalis biasa juga nggak ngobrol lama-lama sama tukang kopi tua di belakang gudang kosong."
Kalimat itu membuat perut Arka semakin dingin — mereka tahu persis apa yang ia lakukan, sampai ke detail pertemuannya dengan Bu Ijah. Ini bukan tebakan acak. Ini pengawasan yang sudah berjalan lebih lama dari yang ia sadari, sesuatu yang jauh lebih terorganisir daripada yang bisa dilakukan sepasang preman jalanan biasa.
Arka membuka mulutnya, mencoba mencari kata-kata yang mungkin bisa menunda apa pun yang akan terjadi selanjutnya — tapi sebelum ia sempat mengucapkan apa pun, sesosok bayangan ketiga bergerak cepat dari sisi gelap di belakang kedua orang itu, nyaris tanpa suara, seperti sudah menunggu momen yang tepat sejak beberapa saat sebelumnya.
Semuanya terjadi dalam hitungan detik. Satu pukulan tepat ke tengkuk salah satu penyerang, membuatnya limbung ke tanah tanpa sempat berteriak. Yang kedua sempat berbalik, tapi terlambat — sosok itu sudah bergerak lebih cepat, mengunci lengannya dan membantingnya ke dinding dengan kekuatan yang terukur, tidak berlebihan tapi cukup untuk melumpuhkan. Arka berdiri terpaku di tempatnya, saksi mata satu-satunya dari pertarungan yang berlangsung begitu cepat hingga terasa lebih seperti adegan yang direkayasa daripada kejadian nyata di depan matanya — setiap gerakan efisien, tanpa gerakan sia-sia, seperti seseorang yang sudah melatih tubuhnya bertahun-tahun untuk situasi persis seperti ini.
Dalam beberapa detik, kedua penyerang itu tergeletak di aspal gang, mengerang pelan, sementara sosok yang baru saja menyelamatkan Arka berdiri tegak di antara mereka, napasnya nyaris tidak terengah sama sekali, seolah baru saja melakukan sesuatu yang seringan berjalan kaki. Ia memeriksa sekilas kedua tubuh yang tergeletak itu, memastikan mereka cukup lumpuh untuk tidak segera bangkit, sebelum akhirnya menoleh ke arah Arka yang masih membeku di dinding gang, matanya bertemu pandang untuk pertama kalinya dengan sosok yang baru saja menyelamatkan nyawanya — orang asing yang, entah bagaimana, sudah tahu ia akan diserang malam ini.
Arka tidak bisa bergerak selama beberapa detik, pikirannya masih berusaha mengejar apa yang baru saja terjadi di depan matanya — dari ketakutan mati di gang buntu, menjadi saksi pertarungan yang selesai lebih cepat dari yang bisa ia proses, sampai kini berdiri berhadapan dengan seseorang yang jelas bukan orang biasa.