"Kamu baik-baik saja?" Suara itu berat, tenang, tanpa nada khawatir yang berlebihan — lebih seperti pertanyaan prosedural daripada kepedulian personal.
Arka menatapnya, masih terengah, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Di bawah cahaya bulan yang minim, ia bisa melihat sosok itu — laki-laki berusia sekitar akhir dua puluhan, tubuh atletis yang jelas terlatih, wajah yang tidak menunjukkan emosi berarti meski baru saja melumpuhkan dua orang dalam hitungan detik. Rambutnya dipotong pendek, gaya yang lebih mengingatkan pada seragam militer daripada mode sipil biasa, dan ada bekas luka tipis di dekat alis kanannya yang terlihat sudah lama, jenis luka yang biasanya datang dari latihan bertahun-tahun, bukan dari kecelakaan sesaat.
"Siapa—" Arka berusaha bicara, suaranya masih gemetar. "Siapa kamu?"
"Nggak penting sekarang." Sosok itu melirik ke arah kedua penyerang yang mulai bergerak lagi di aspal, mengerang, mencoba bangkit. "Yang penting kita harus pergi dari sini sebelum mereka sadar penuh atau ada bantuan datang."
"Tunggu, aku harus tahu—"
"Nggak ada waktu buat tunggu." Ia meraih lengan Arka, tidak kasar tapi cukup tegas, menariknya menjauh dari gang buntu itu lewat jalur lain yang sepertinya sudah ia ketahui sebelumnya — celah sempit di antara dua bangunan yang tidak terlihat jelas dari sudut mana pun kecuali jika seseorang benar-benar tahu keberadaannya.
Mereka berjalan cepat dalam diam selama beberapa menit, menyusuri jalan-jalan kecil yang semakin jauh dari lokasi kejadian, melewati beberapa sudut yang bahkan Arka sendiri belum pernah lewati meski sudah dua tahun tinggal di distrik ini, sampai akhirnya berhenti di sebuah halte bus yang sudah lama tidak beroperasi, cukup jauh untuk merasa aman sementara. Halte itu setengah runtuh, atapnya berlubang di beberapa titik, dengan jadwal bus yang tertera di papan informasi sudah pudar tak terbaca — sisa infrastruktur kota yang ditinggalkan begitu saja ketika rute baru dibuka bertahun-tahun lalu.
Sepanjang perjalanan itu, Arka mencuri pandang beberapa kali ke arah sosok yang berjalan di sampingnya — memperhatikan caranya berjalan, selalu setengah langkah di belakang seolah menjaga sudut pandang ke belakang, matanya yang terus bergerak menyisir setiap sudut jalan tanpa terlihat jelas sedang melakukannya. Ini bukan cara berjalan orang biasa. Ini cara berjalan seseorang yang sudah dilatih untuk selalu waspada, bahkan ketika situasinya tampak aman.
Arka bersandar ke tiang halte, masih berusaha menstabilkan napasnya. Tangannya masih gemetar, entah karena habis berlari atau karena baru saja menyadari betapa dekatnya ia dengan bahaya yang bahkan tidak sepenuhnya ia pahami. "Oke. Sekarang tolong jelaskan siapa kamu, dan kenapa kamu tahu aku bakal diserang malam ini."
Sosok itu menatapnya lama, seperti sedang menimbang seberapa banyak yang bisa ia katakan. "Damar," katanya akhirnya. "Damar Wijaya."
"Itu doang?"
"Itu yang penting buat sekarang." Damar melirik ke arah jalan, memastikan tidak ada yang mengikuti mereka, gerakannya efisien dan terlatih, seperti kebiasaan yang sudah tertanam begitu dalam hingga terjadi tanpa perlu dipikirkan lagi. "Soal kenapa aku tahu — anggap saja aku sudah memperhatikan situasimu beberapa hari terakhir."
"Memperhatikan? Kamu mengikutiku?"
"Menjaga," koreksinya, datar, seolah perbedaan kata itu penting baginya. "Ada bedanya."
Arka menatapnya dengan campuran rasa syukur dan kecurigaan yang sulit ia pisahkan. Orang ini baru saja menyelamatkan nyawanya — mungkin benar-benar nyawanya, mengingat gestur tangan salah satu penyerang tadi ke balik jaket — tapi cara ia bicara, caranya bergerak, semuanya terasa seperti seseorang yang tahu jauh lebih banyak daripada yang bersedia ia bagikan. Ada sesuatu di ketenangannya yang nyaris tidak manusiawi, seolah situasi seperti ini — dua penyerang, gang buntu, malam gelap — hanyalah rutinitas biasa baginya, bukan keadaan darurat yang mengancam nyawa.
Ia memperhatikan cara Damar berdiri, bahkan dalam keadaan santai — kaki sedikit terbuka, berat badan seimbang, seolah siap bergerak kapan saja tanpa perlu bersiap-siap lebih dulu. Ini bukan sekadar orang yang kebetulan bisa bela diri. Ini seseorang yang hidupnya, entah bagaimana, pernah bergantung pada kesiapan semacam ini.
"Sejak kapan kamu 'menjaga' aku?"
"Cukup lama untuk tahu kamu terlalu sering pergi sendirian ke tempat yang seharusnya kamu waspadai." Damar mengucapkannya tanpa nada menggurui, lebih seperti pengamatan objektif dari seseorang yang sudah terbiasa menilai risiko orang lain sebagai bagian dari pekerjaannya.
"Berarti kamu udah ngikutin aku dari Meranti?" Arka mencoba menghitung mundur, mencocokkan waktu dengan setiap tempat yang sudah ia kunjungi minggu ini. "Dari gudang tujuh?"
Damar tidak langsung menjawab, hanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Aku tahu kamu ke sana. Itu cukup buat sekarang."
"Kenapa kamu menjaga aku? Aku bahkan nggak kenal kamu."
"Karena ada orang yang memintaku melakukannya," kata Damar, singkat, tanpa memberi ruang untuk pertanyaan lanjutan. "Itu saja yang bisa kukatakan sekarang."
"Orang yang mana?"
Damar tidak menjawab. Ia hanya menatap Arka sejenak, ekspresinya sulit dibaca di bawah cahaya temaram halte, sebelum akhirnya berkata, "Kamu harus lebih hati-hati mulai sekarang. Apa pun yang sedang kamu selidiki, orang-orang yang barusan mendatangimu bukan orang sembarangan. Mereka nggak akan berhenti cuma karena gagal sekali. Mereka akan coba lagi, dengan cara yang mungkin nggak akan bisa kutebak sebelumnya."
"Kenapa kamu begitu yakin soal itu?"
"Karena aku pernah melihat pola kayak gini sebelumnya," kata Damar, suaranya turun sedikit, lebih berat dari sebelumnya. "Dan biasanya, orang yang mereka incar nggak pernah cukup beruntung dua kali berturut-turut."
"Bagaimana aku bisa percaya kamu bukan bagian dari mereka juga?"
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sesuatu yang menyerupai senyum tipis muncul di wajah Damar — bukan senyum ramah, lebih seperti pengakuan atas pertanyaan yang wajar diajukan. "Kalau aku bagian dari mereka, kamu sudah nggak akan sempat menanyakan itu sekarang."
Arka tidak punya jawaban untuk itu. Logikanya masuk akal, meski tidak sepenuhnya menenangkan. Ia mengamati wajah Damar sekali lagi, mencoba mencari retakan kecil di balik ekspresi tenangnya — sesuatu yang mungkin mengungkap kebohongan, atau setidaknya keraguan. Tidak ada yang bisa ia temukan. Wajah itu seolah sudah lama belajar untuk tidak menunjukkan apa pun yang tidak ingin ia tunjukkan.
"Kalau kamu emang cuma disuruh 'menjaga' aku," kata Arka, mencoba mendapatkan sesuatu yang lebih konkret, "berarti orang yang nyuruh kamu itu tahu aku bakal diserang. Gimana caranya dia tahu?"
Damar terdiam sejenak, seperti sedang memilih kata-katanya dengan hati-hati, gestur yang menunjukkan bahwa pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang lebih rumit dari yang bisa ia jelaskan singkat. "Karena orang yang menyuruhku sudah lebih dulu tahu apa yang sebenarnya kamu selidiki, jauh sebelum kamu sendiri menyadari betapa besarnya itu."
"Itu pertanyaan yang bagus," kata Damar, tanpa nada yang menunjukkan apakah itu pujian atau sekadar pengakuan fakta. "Tapi bukan pertanyaan yang bisa kujawab malam ini."
"Kapan kamu bisa jawab?"
"Kalau waktunya tepat. Dan kalau kamu masih hidup cukup lama untuk mendengarnya."
Kalimat itu, diucapkan dengan nada sedatar mungkin, seharusnya terdengar mengancam. Tapi entah kenapa, Arka justru merasakannya sebagai peringatan yang tulus — seseorang yang tahu persis seberapa nyata bahaya yang sedang ia hadapi, dan tidak ingin membuang waktu untuk basa-basi yang tidak perlu.
"Aku bisa jaga diri sendiri," kata Arka, meski kalimat itu terasa hampa begitu keluar dari mulutnya sendiri, mengingat baru beberapa menit lalu ia nyaris tak berdaya di ujung gang buntu.
"Malam ini membuktikan sebaliknya." Damar tidak mengatakannya dengan nada menghina, hanya menyatakan fakta sesederhana mungkin. "Aku nggak bilang kamu lemah. Aku bilang mereka yang mengejarmu lebih siap dari yang kamu kira."
"Pulanglah," kata Damar akhirnya, melangkah mundur ke arah bayangan jalan. "Kita akan bicara lagi. Untuk sekarang, jangan cerita ke siapa pun soal kejadian ini — bahkan ke orang yang paling kamu percaya sekalipun, sampai kamu tahu pasti mereka aman untuk diajak bicara."
"Termasuk atasanku di redaksi?"
"Terutama orang-orang yang paling dekat denganmu," kata Damar, nadanya sedikit lebih tajam dari sebelumnya. "Mereka yang paling gampang dimanfaatkan tanpa mereka sadari sendiri. Bukan berarti mereka jahat. Tapi kadang, semakin dekat seseorang denganmu, semakin mudah pula dia jadi celah yang bisa dimanfaatkan orang lain."
"Kamu bicara kayak orang yang udah pernah ngalamin sesuatu kayak gitu."
Damar tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menatap Arka sejenak lebih lama dari yang seharusnya, seolah kalimat itu menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari yang ingin ia tunjukkan, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke jalan kosong di depan mereka, seperti sengaja menghindari pertanyaan yang belum siap ia jawab.
"Tunggu, gimana caraku menghubungimu kalau—"
Tapi ketika Arka mendongak, Damar sudah menghilang ke dalam kegelapan gang, secepat dan sesenyap kemunculannya. Arka berdiri sendirian di halte yang sepi, jantungnya masih berdegup kencang, pikirannya dipenuhi lebih banyak pertanyaan daripada yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya sebagai jurnalis.
Ia menunggu beberapa menit di halte itu, setengah berharap Damar akan muncul kembali dengan penjelasan lebih lanjut, tapi jalan di sekitarnya tetap sepi, hanya suara jangkrik dan deru samar kendaraan dari jalan besar yang jauh. Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang, meski setiap langkah terasa lebih berat dari biasanya, tubuhnya masih dipenuhi adrenalin yang belum sepenuhnya reda.
Ia berjalan pulang malam itu dengan langkah yang jauh lebih waspada, menoleh ke belakang setiap beberapa meter, meski kini ia tahu bahaya yang mengintainya tidak selalu datang dari arah yang bisa ia lihat — dan bahwa, entah bagaimana caranya, seseorang yang bahkan tidak ia kenal sudah lebih dulu tahu bahwa hidupnya akan berubah selamanya malam ini.
Sesampainya di apartemen, ia mengunci pintu dua kali, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya, lalu duduk di tepi tempat tidur dalam gelap, menatap tangannya sendiri yang masih sedikit gemetar. Untuk pertama kalinya sejak memulai liputan ini, ia bertanya-tanya apakah ia sudah melangkah terlalu jauh untuk bisa mundur — atau apakah, sejak awal, ia tidak pernah benar-benar punya pilihan untuk berhenti.
Ia memikirkan kembali kata-kata Damar — ada orang yang memintaku melakukannya — dan bertanya-tanya siapa gerangan orang itu, seseorang yang cukup berpengaruh untuk menugaskan seorang mantan pasukan khusus menjaga seorang jurnalis biasa yang bahkan belum menerbitkan satu tulisan pun soal apa yang sedang ia selidiki. Pertanyaan itu terasa lebih mengganggu daripada serangan itu sendiri — karena artinya seseorang, entah siapa, sudah tahu betapa pentingnya penyelidikan ini jauh sebelum Arka sendiri benar-benar memahaminya.
Ia tidak tidur banyak malam itu. Setiap kali matanya mulai terpejam, bayangan dua sosok di ujung gang gelap itu kembali muncul, dan di baliknya, wajah tenang Damar yang menatapnya seolah sudah menduga semua ini akan terjadi — seolah ia bukan orang pertama yang pernah diselamatkannya dengan cara yang sama, dan mungkin, entah kenapa, juga bukan orang terakhir.
Menjelang subuh, ketika langit mulai berubah warna dari hitam pekat menjadi abu-abu kebiruan, Arka akhirnya menyerah untuk mencoba tidur. Ia duduk di meja kerjanya, membuka buku catatan yang sudah penuh coretan sejak minggu ini dimulai, dan menambahkan satu nama baru di halaman terakhir: Damar Wijaya. Di sebelahnya, ia menuliskan satu pertanyaan yang akan terus mengikutinya dalam hari-hari berikutnya — pertanyaan yang jawabannya, ia curigai, akan mengubah segalanya begitu ia menemukannya, entah untuk lebih baik atau justru sebaliknya.
Ia menatap keluar jendela apartemennya, melihat langit yang perlahan berubah warna, memikirkan berapa banyak lagi orang di luar sana yang mungkin sudah mengetahui sebagian dari apa yang sedang ia kejar — ibunya yang bereaksi aneh mendengar nama Meranti, Bu Rahayu yang menyimpan masa lalunya sendiri, dan kini Damar, yang entah bagaimana sudah lebih dulu tahu bahaya yang mengintainya bahkan sebelum bahaya itu benar-benar datang. Semakin lama, semakin ia merasa dirinya bukan orang pertama yang berjalan di jalan ini — hanya orang terbaru yang belum tahu ke mana jalan itu akan berakhir.
Siapa yang menyuruhmu menjagaku, dan sejak kapan?