18. Seutas cerita
Yasmin mengusap lembut puncak kepala Clarissa, bocah manisnya sedang tertidur di depan TV. Katanya ingin jalan-jalan sore dengan Annisa, namun justru tertidur dan sampai sore menjelang belum juga membuka mata.
Dia sendiri baru selesai membantu Annisa memasak. Dan rasanya menyenangkan setelah beberapa minggu tidak berada di satu dapur dengan ibunya. Bersama sang ibu, Yasmin merasa lebih tenang, apalagi karena kesehatan ibunya semakin membaik. Satu hal yang membuat Yasmin tidak selalu merasa khawatir ketika dia harus tinggal dengan Tian dan meninggalkan ibunya di rumah.
Yasmin sudah akan bangkit dari duduknya untuk masuk ke dapur dan mengambil minum ketika denting bel rumah terdengar.
Dia segera mengambil langkah membuka pintu depan dan sedikit termangu ketika menemukan sosok Tian berada di balik gerbang. Dengan tubuh yang tinggi, wajah Tian terlihat melewati gerbang.
"Masuk Mas, maaf ya, jadi jemput ke sini." Yasmin membuka lebar pintu gerbang, membiarkan Tian masuk lebih dulu, baru kemudian dia mengulurkan tangan meminta tangan Tian untuk dia tempelkan ke sebelah pipi.
Tian melirik Yasmin lewat sudut mata dan menemukan wajah semringah wanita itu. Memang setiap dia pulang kerja pun akan disambut wajah semringah Yasmin. Namun sore ini, wajah itu berkali lipat lebih menawan.
"Mau aku buatin teh dulu, Mas." Yasmin menawarkan ketika Tian mengambil duduk di sofa ruang tamu. Dia memindai wajah Tian yang tampak lelah, wajar saja, karena dari kantor Tian untuk sampai ke rumah ibunya cukup jauh. Belum lagi ini sore hari, jam-nya pulang kantor dan bisa dipastikan jika jalanan Jakarta macet.
Tian mengendurkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Jasnya sendiri sudah dia lepas sejak di kantor dan dia lempar sembarangan ke jok belakang mobil. Bola matanya mengedar dan menemukan sepiring kue di atas meja. Yang Tian pastikan adalah hasil karya istrinya.
Dia sendiri tidak begitu suka kue, namun untuk memakan sepotong kue milik Yasmin, Tian mau-mau saja. Karena kue buatan Yasmin tak perlu diragukan rasanya.
"Boleh, aku haus banget." Tian menjawab yang segera diangguki oleh Yasmin, dan wanita itu berlalu ke dapur. Dan sepeninggal Yasmin, Tian tidak diam aja di tempatnya. Dia bangkit berdiri masuk lebih dalam ke rumah ibu mertuanya, dan senyumnya mengembang menemukan putri kecilnya sedang terlelap di karpet bulu depan TV.
Tian kira, Clarissa sedang jalan-jalan keliling komplek dengan Annisa.
Duduk di sisi Clarissa, Tian mengusap puncak kepala Clarissa dan merendahkan tubuh untuk memberi satu cium di kening malaikat kecilnya. Dia tahu, keluarga Yasmin begitu baik, dan menerima Clarissa menjadi bagian dari keluarga barunya.
"Cla udah tidur dari tadi, tapi belum bangun juga," Yasmin bersuara, menghampiri Tian dan menyerahkan cangkir keramik putih berisi teh hangat pada lelaki itu. Takaran gulanya selalu pas, untuk Tian, tidak terlalu manis.
Tian menyesap teh-nya setelah menghirup dalam-dalam aroma segar teh melati. Membuat dia merasa begitu tenang. "Nggak apa-apa, bangunin nanti aja kalau mau pulang." desahnya, sekali lagi mengitari rumah dengan tatapan. "Ibu di mana?" tanyanya ketika tak kunjung menemukan sosok Annisa.
"Lagi jalan-jalan keluar, tadinya mau ajak Cla, tapi masih tidur. Cuma ke depan kok, biasa ngapeli pedagang kue pancong." Yasmin tak bisa untuk tidak menyungging senyum teramat senang karena Tian yang menyebut ibunya dengan sebutan ibu.
Tian tak lagi bertanya, dia hanya mengangguk pelan dan kembali menyesap teh-nya. Memenuhi rongga dadanya dengan aroma teh melati untuk menggantikan aroma manis yang menguar dari tubuh Yasmin. Wanita itu sudah tampak segar dan aroma manis itu begitu menusuk hidung Tian. Mungkin, sabun mandi yang wanita itu pakai, berbeda dengan yang biasa Yasmin pakai ketika di apartemen. Atau karena dia memang begitu ingin memeluk Yasmin, sejak wanita itu membuka gerbang dan menyambutnya pulang.
"Mas, kalau kita menginap di sini, satu malam aja, mau?"
Tian mengerjap, menggulirkan bola matanya untuk menemukan manik mata Yasmin yang berpendar penuh harap menatap dirinya.
"Ibu yang minta, tapi nggak juga nggak pa-pa. Kita bisa pulang habis maghrib."
Sejak menikah dengan Yasmin, Tian tak pernah sekali pun menginap di rumah mertuanya. Dan dia sadar betul untuk itu. Dia hanya berkunjung beberapa kali, mampir untuk mengunjungi Annisa.
Meski tidak ada niatan awal untuk menginap, Tian memutuskan untuk menganggukan kepala. Tidak ada salahnya untuk menginap di tempat Annisa. Ibu mertuanya pasti akan senang jika Yasmin menginap, dan tidak ada alasan juga baginya untuk menolak permintaan itu.
***
Tian tidak bisa tidur, atau belum. Yang jelas sejak beberapa menit tubuhnya terhempas ke ranjang, usahanya untuk terlelap tak juga membuahkan hasil seperti yang dia inginkan. Menghela napas pelan, dia merubah posisinya menjadi telentang. Dan mulai memejamkan mata diringi do'a tidur yang sekali lagi dia baca di dalam hati.
Di sampingnya, seorang wanita sedang terlelap membelakangi dirinya. Suara wanita itu sudah tak terdengar sejak beberapa menit lalu. Dia melirik, dan hanya mendapati rambut hitam Yasmin yang dibiarkan tergerai.
Susahnya dia adalah harus menyesuaikan diri dulu jika di tempat baru. Dan agar bisa terlelap dia harus sungguhan ngantuk tak tertahan.
"Yas, kamu udah tidur?" Tian menolehkan kepala ke arah Yasmin. Berharap wanita itu menyahut dan menemani dirinya yang tak kunjung mau tidur.
Butuh beberapa lama, hingga akhirnya Yasmin buka suara dengan sedikit tak jelas. "Mas belum bisa tidur?"
Tian menggelengkan kepala. Menatap langit-langit kamar Yasmin yang dihiasi bintang-bintang buatan yang menyala ketika lampu kamar dipadamkan. Dia tersenyum tipis, ketika mengingat dahulu Yasmin pernah menyuarakan satu keinginan. Jika suatu saat langit-langit kamarnya akan dihiasi dengan bintang-bintang buatan yang akan menemani tidur wanita itu.
"Ranjangnya nggak muat," gumam Tian, sembari mengangkat kaki kanannya ke udara, menunjukkannya pada Yasmin. Ranjang Yasmin ukuran kecil, kakinya sampai lebih beberapa senti. Menggantung diujung ranjang.
Menyadari pergerakan di kaki Tian, tak ayal membuat Yasmin sedikit melirik ke bawah untuk akhirnya mengukir senyuman. "Maaf ya, jadi nggak nyaman tidur."
Yasmin lupa, kalau ranjangnya kecil, untuk ukuran Tian yang tinggi besar, pastilah tidak akan muat. Tapi, di rumah ibunya memang tidak ada ranjang besar. Semua hampir seukuran dengan ranjang di kamar Yasmin. Yang bertujuan untuk menghemat tempat di kamarnya yang ukurannya jauh dibawah kamar Tian di apartemen atau pun di rumah Diana.
Ibunya selalu menolak jika Yasmin mulai mengajukan permintaan untuk pindah rumah ke yang sedikit lebih besar agar lebih longgar, tidak sempit seperti rumahnya ini.
Kata ibunya, beliau sudah begitu betah berada di rumah ini, selain karena menjadi saksi perjuangan hidup mereka juga karena para tetangga yang Annisa anggap seperti saudara sendiri.
"Nggak papa sih, untung aja, Cla nggak maksa tidur sama kamu. Kalau iya, aku pasti tersingkir dan tidur di lantai." ketika mengatakan itu, Tian terus mengarahkan tatapan pada satu titik. Sebuah bintang dengan ukuran paling besar. Ada yang sedikit aneh di tengah-tengah bintang itu, yang membuat dia memucingkan mata karena penasaran.
Dan ketika menemukan sesuatu di bintang itu, Tian membulatkan mata. Itu ukiran namanya bukan sih?
Sontak, dia segera menolehkan kepala dan termangu detik itu juga mendapati telaga jernih milik Yasmin yang berpendar menyambut bola matanya. "Itu ukiran nama aku?" Tian menggumam, tanpa berkedip sedikit pun. Menyelami telaga jernih milik Yasmin dengan hati yang berdebar pelan. Dia merindukan tatapan itu. Tatapan Yasmin yang polos dan memancarkan cinta untuk dirinya.
Yasmin mengangguk pelan, tidak berniat untuk mengalihkan tatapan. Rasanya menyenangkan ketika menemukan Tian membalas tatapan darinya. "Selalu ada nama kamu di langit-langit kamarku, dan juga di langit-langit hati aku, sejak bertahun-tahun lalu. Tak pernah bergeser tak pernah berganti."
Mungkin, ini saatnya Yasmin jujur. Tak ingin menyembunyikan perasaan yang sejujurnya pada Tian semakin lama. Dia tak lagi peduli, andai kata karena perasaannya, mungkin membuat Tian menganggap dirinya lemah.
"Benarkah?"
Tian tidak ingin mempercayai itu. Namun, bohong jika hatinya tidak berseru kesenangan mendapati Yasmin masih menyimpan perasaan padanya. Ada yang perlahan mengalir memenuhi rongga hatinya yang selama ini Tian biarkan kosong.
Hanya karena kata-kata dari Yasmin itu, Tian merasakan kelegaan luar biasa.
Yasmin memberanikan diri untuk mengambil jemari Tian, untuk kemudian dia arahkan ke tempat di mana detak jantungnya terasa memburu. "Aku selalu mencintai kamu Tian,"
Tian menggigit bibir bawahnya. Mendekatkan wajah dan meraup bibir Yasmin untuk dia klaim.
Harusnya, dia memang tidak membutakan diri hanya karena kebencian teramat yang dia pupuk untuk mengendap di hatinya. Lihatlah kali ini, betapa tatapan tulus Yasmin dengan satu kalimat cinta telah berhasil menyiram lahan tandus di dalam hatinya untuk kembali bersemi.
Masih pantaskah dia mengungkit masa lalu. Ketika secara jelas di depan mata, Yasmin tak pernah mengambil langkah mundur meski dia berulang kali menyakiti.
Tak terhitung, berapa banyak luka yang Tian coba buat dan ukirkan di hati Yasmin. Namun, sampai detik ini, wanita itu tetap bertahan di sisinya.
Yasmin bukan hanya menerima dirinya yang bodoh dan tidak sempurna ini, wanita itu pun membuka lebar tangannya untuk memeluk dan menerima Clarissa putri tekasihnya.
Lalu, setelah semua itu Yasmin berikan, Tian masih saja berusaha menyakiti dan membalaskan sakit hatinya dulu.
Wajar, jika sahabatnya pernah meminta Tian untuk memeriksa mentalnya yang siapa tahu mengalami konsleting. Sehingga wanita sebaik Yasmin pun Tian sia-siakan.
"Terima kasih," Tian berbisik. Berada tepat di atas Yasmin dan mengurung wanita itu. Sekali lagi, dia menyelami telaga jernih milik Yasmin yang berpendar penuh kerinduan. Sebelum akhirnya menenggelamkan wajah di perpotongan leher Yasmin. Menghirup tak sabar aroma manis yang sedari sore membuat dia penasaran.
Ternyata, memang semanis seperti yang dia bayangkan.
***