17.Rasa yang tak terbaca
Siang hari seperti yang Yasmin katakan, dia akan ke rumah ibunya. Dia sudah bersiap-siap, membawa sekotak kue yang dia ambil sendiri dari display. Menentengnya dan keluar dari pintu toko. Sudah berpesan pada Riri dan Widya jika dia mungkin akan kembali sekitar dua jam kemudian.
Masih ingat jelas kalau Tian akan menjemputnya sore ini.
Namun, belum juga Yasmin turun dari undakan tangga tokonya, sebuah sedan putih berhenti tak jauh darinya. Senyumnya mengembang ketika melihat mobil itu, karena sudah begitu hapal dengan siapa penumpangnya.
Seperti yang dia pikirkan, sebelum Yasmin sempat mendatangi mobil itu seorang bocah manis berkuncir dua keluar dari mobil dan mengambil langkah dengan berlari-lari kecil menuju dirinya.
"Cla jangan berlari." ingat Yasmin. Dia merendahkan tubuhnya menyambut Clarissa.
Tidak menurut, bocah manis itu justru semakin bersemangat menyongsong dirinya dan melempar tubuh mungil itu ke pelukan Yasmin.
"Kok Cla ke sini?" tanya Yasmin sembari berdiri. Dan seperti kebiasaan, Clarissa akan melingkarkan lengan di leher meminta gendong.
Diana yang menyusul keluar dari mobil segera menghampiri Yasmin dengan kuluman senyum di wajah paruh baya itu. "Maaf ya Yas, Mami tiba-tiba ke sini."
"Nggak pa-pa, Mam. Yasmin seneng kok ada Cla." Yasmin tersenyum ketika Clarissa mengusak-usak pipi tembabnya di pipi. Tidak mempermasalahkan kedatangan Diana yang tiba-tiba. Karena wanita itu memang lebih sering datang tiba-tiba ke toko, dari pada mengatakannya lebih dulu.
Diana mengusap punggung Clarissa yang betah sekali di dekapan Yasmin. "Mami ada arisan, Cla nggak mau ikut, nggak mau ditinggal di rumah juga. Jadi sama kamu dulu ya. Nanti kalau Mami udah selesai arisan langsung ke sini, jemput." Diana mengutarakan tujuannya mendatangi Yasmin.
Seperti katanya, Clarissa memang tidak mau ditinggal di rumah bersama Nami -pengasuhnya. Tidak mau ikut juga dengannya untuk arisan. Dan bocah manis itu justru mencetuskan satu ide paling menguntungkan bagi Clarissa. Bersama Yasmin. Padahal baru tadi pagi Clarissa sama Yasmin. Tapi sekarang sudah merengek rindu.
Yasmin mengangguk. "Boleh. Yasmin juga mau ke rumah Ibu, biar Cla bisa ikut sekalian. Cla mau kan ke rumah Nenek Annisa?" tawarnya yang segera dibalas anggukan senang dari Clarissa.
Clarissa dan ibunya baru bertemu beberapa kali. Sama seperti bertemu dengannya, Clarissa juga bisa langsung akrab dengan ibunya. Ibunya sering kewalahan kalau Clarissa sudah mulai bercerita macam-macam.
"Ya udah. Sampai sore di rumah ibumu juga nggak apa-apa, Yas. Biar nanti Mami bilang ke Tian buat jemput."
Mendengar nama Tian, Yasmin mengerjap. Dia teringat dengan janji lelaki itu. Rasanya tidak masalah jika Tian menjemputnya di rumah ibu, lagi pula ada Clarissa bersamanya. Maka sebagai jawaban, Yasmin menyetujui usulan Diana. Setelah pamit, Yasmin naik ke mobil pribadi Diana.
Sopir pribadi Diana akan mengantar Yasmin lebih dulu, baru setelahnya mengantar Diana yang memilih tinggal sementara di toko. Itu permintaan Diana.
"Mama, Nenek di rumah?" Clarissa yang memilih berada dipangkuan Yasmin menengadah, melihat Yasmin yang sedari tadi mengusap puncak kepalanya.
"Di rumah. Cla kangen nggak sama Nenek Annisa?"
"Kangen. Nanti minta buatin puding telor mata sapi sama Nenek. Boleh nggak Mama?" Clarissa berseru senang. Matanya berbinar penuh harap. Ketika Yasmin mengangguk maka sepanjang jalan bocah manis dalam dekapannya itu tak bosan berceloteh apa saja.
Mulai dari bercerita tentang anak kecil tetangga rumahnya. Yang dulu saat pertama kali main ke rumah, Clarissa diajak bersepeda, lalu memetik bunga di pinggiran jalan. Tak lupa Clarissa juga bercerita kalau dia sempat menangis dulu, karena ikat rambutnya putus terus ditukar sama karet gelang bekas rames.
Saat itu Yasmin hanya tersenyum. Berusaha sebisanya menenangkan Clarissa dan mengatakan kalau karet gelang juga bisa buat ikat rambut. Bukan cuma ikat sayuran seperti yang sering bocah manis itu lihat diabang-abang tukang sayur.
Itu berkat ibunya yang mengikat rambut Clarissa dengan karet gelang. Saat Yasmin ajan melepas ikatan, Clarissa menolak, mengatakan kalau itu Nenek yang mengikat. Clarissa suka. Tapi juga malu ketika mengingat rambutnya mirip daun singkong yang diikat karet gelang.
Mengingat itu, Yasmin tak kuasa untuk tak mengukir senyuman. Dan ketika tanya dari bibir kecil Clarissa mengudara, Yasmin mengerjap, menoleh.
"Mama kenapa?"
Yasmin mengecup puncak kepala Clarissa. "Keingat sama anak Mama yang cantik ini. Kadang tingkahnya lucu, gemesin."
"Mama juga gemesin." Clarissa bersuara yang membuat kening Yasmin mengernyit. "Papa bilang Mama Yasmin gemesin, pengen dicium-cium kayak Papa cium Cla."
Bola mata Yasmin membulat, senyumnya melebar. Dia tidak tahu Tian pernah mengatakan kalau di gemesin. Ketika Yasmin ingin bertanya lagi, bola matanya yang sesaat tadi terlempar ke luar kaca, tak sengaja menangkap sedan hitam yang mengantarnya pagi ini, keluar dari arah perumahan ibunya.
Keningnya mengernyit semakin menajamkan tatapan. Dia tidak mungkin salah kalau yang baru saja dia lihat sekelebat tadi adalah mobil Tian. Laju mobilnya yang tidak terlalu cepat, membuat Yasmin semakin jelas untuk mengenali.
Dan tidak lama, mobil yang mengantarnya berhenti di depan rumah ibunya. Berada di deretan paling depan dari komplek perumahan, membuat rumahnya begitu mudah ditemukan.
"Kita sampai," ungkap Yasmin, semringah. Tak lagi memusingkan dengan mobil Tian yang sempat dilihatnya tadi. Dia segera membuka pintu mobil dan keluar, bersamaan dengan Clarissa, tentu saja.
Berdiri di sisi mobil dengan tangan kanan menggenggam jemari Clarissa dan tangan kiri menggenggam kantong kertas berisi kue, Yasmin merendahkan tubuh. "Makasih ya Pak." ucapnya tulus. Segera dibalas anggukan oleh Pak Waluyo, kemudian lelaki itu membelokkan mobil dan keluar komplek perumahannya.
Setelah mobil Diana berlalu dari komplek perumahan, Yasmin segera berbalik, menghadap gerbang perumahannya. Dia memencet bel, menunggu dengan sabar ibunya untuk membuka pintu.
"Nenek lama, Ma?" Clarissa mendongak, tangan mungilnya yang bebas menggenggam jari-jari gerbang bercat hitam rumah ibunya.
"Mungkin nenek lagi di kamar mandi, Cla capek berdiri?"
Clarissa menggeleng. "Enggak. Kata Papa, kalau Cla sering minta gendong nanti Mama capek. Cla berat."
Yasmin menghela napas. Apa yang Tian katakan pada bocah manisnya sampai berpikiran begitu. Dan bukannya dia tak pernah mengeluh jika bersama Clarissa. Karena bersama bocah manis itu, Yasmin hanya merasakan bahagia. "Cla kan nggak lama kalau minta gendong. Mama sanggup dong, walaupun Cla berat."
"Jadi Cla berat?" Clarissa cemberut.
Yasmin tergelak pelan, melepas genggamannya di jemari mungil Clarissa untuk dipindah tugas menjadi mengusap-usap puncak kepala bocah manis yang masih cemberut itu. "Jangan cemberut ah, entar imutnya ilang. Kan mau ketemu nenek Annisa, jadi senyum dong."
Tepat ketika Yasmin menyelesaikan ucapan, gerbang hitam dihadapannya berderit terbuka. Yasmin segera menegakkan tubuh dan mengucap salam kemudian memeluk ibunya.
"Ibu sehat?" tanya Yasmin, setelah pelukannya lepas.
"Alhamdulillah, sehat, Yas." Annisa tersenyum senang mendapati putrinya datang berkunjung. Ketika dia mengarahkan tatapan ke arah bocah manis di samping Yasmin, senyumannya bertambah semringah. "Ini siapa yang ikut, cucu Nenek yang paling imut ya?" dia merendahkan tubuh dan memeluk Clarissa.
Clarissa tergelak ketika Annisa erat sekali memeluknya. "Iya Nenek. Cla kangen Nenek Annisa loh." seru bocah manis itu, memamerkan senyumnya yang luar biasa menawan.
"Oh, ya? Nenek juga kangen banget sama Cla." Annisa memberi satu cium di pipi Clarissa kemudian mengajak bocah manis dan putrinya untuk masuk. "Lama ya, nunggu di depan. Nenek lagi di kamar mandi tadi," ungkapnya, ketika mengajak Clarissa untuk duduk di sofa ruang tamu.
Yasmin meletakkan kue yang dia bawa ke atas meja, bersisian dengan cangkir teh. Keningnya mengernyit sembari meloloskan satu tanya. "Siapa yang baru bertamu ke sini, Bu?"
"Oh, Tian yang habis dari sini. Baru banget keluar. Kamu nggak papasan di jalan?" jawab Annisa. Tian memang baru dari rumahnya, duduk mengobrol dengannya hampir setengah jam, sebelum pamit untuk kembali ke kantor.
Yasmin menggeleng. Meski dia sempat melihat mobil Tian. Ternyata dugaannya tentang Tian yang keluar dari komplek perumahan itu benar. Karena laki-laki itu datang berkunjung ke rumah ibunya. "Mas Tian lama di sini, Bu?"
"Nggak. Cuma sebentar, katanya mampir habis meeting di luar kantor. Dia nggak bilang sama kamu?"
"Hari ini kita nggak makan siang bareng sih, jadi, Yasmin nggak tahu kalau Mas Tian akan ke sini." Yasmin meringis. Meski sekala makan siang antara dirinya dan Tian pun hitungan jari. Kalau dia yang tidak mendatangi kantor lelaki itu, pasti tidak akan ada namanya makan siang bersama.
Dan kunjungannya ke kantor Tian adalah hal langka. Yasmin harus berulang kali memikirkan jika ingin memutuskan menyambangi kantor Tian.
"Yas. Ambil minum gih, sekalian puding di kulkas, keluarin juga." pinta Annisa, sembari sibuk mengusap puncak kepala Clarissa dan membalas celotehan bocah manis itu.
Tanpa banyak tanya, Yasmin bangkit berdiri. Berjalan ke arah dapur, menuang air putih dan sesuai permintaan ibunya, dia mengeluarkan puding, sekaligus memotongnya sebelum dipindah ke piring.
"Ibu beli puding di mana? Nggak mungkin kan, Riri bikin puding ini?" Yasmin meletakkan nampan berisi puding dan dua gelas air putih di gelas panjang tepat di hadapan Clarissa.
Puding yang baru dia potong adalah, puding hias dengan ukiran bunga-bunga yang disuntikkan ke dalam puding, sehingga membentuk tumpukan bunga indah di dalam puding. Sayang kalau dimakan. Bikinnya susah.
Yasmin saja hanya beberapa kali membuat puding seperti itu. Sekadar eksperimen. Karena memakan banyak waktu untuk membuat puding seindah itu.
Clarissa yang mendapati potongan puding tersuguh di depannya berseru senang, dan meminta Annisa untuk menyuapinya.
"Tian yang bawa tadi,"
Jawaban pendek dari Annisa, membuat Yasmin termangu beberapa saat. Dia bahkan menatap Annisa seolah tak percaya.
Tian. Membawa puding.
Rasa-rasanya itu satu hal yang tidak bisa dikaitkan.
Annisa menghela napas, mengerti benar dengan ketidak percayaan yang nampak di wajah Yasmin. "Kalau Tian datang ke rumah, selalu membawa sesuatu. Nggak pernah tangan kosong." ungkapnya sembari menyuapi Clarissa yang begitu cepat menghabiskan potongan puding yang dia suap. "Minimal, Tian kalau ke sini bawa makanan. Buat ibu."
Tian tidak pernah bercerita padanya perihal kedatangannya yang rutin ke rumah Ibu. Lelaki itu selalu bersikap acuh tak acuh pada Yasmin.
Yasmin kira, Tian sudah tidak serutin dulu, saat awal-awal mereka menikah atau sebelum menikah. Tapi nyatanya, lelaki itu tetap mempertahankan sikap baik dan menghormati pada sang Ibu.
Dan Yasmin tahu, dia akan semakin jatuh pada Tian.
Bagaimana tidak semakin jatuh cinta, kalau yang Tian lakukan adalah memperlakukan ibunya sebaik-baiknya, seperti menghargai ibu kandung sendiri.
"Mama nggak makan puding? Nenek bilang Papa yang bawa,"
Suara Clarissa disela kunyahan puding, membuat Yasmin mengulum senyuman. "Habisin dulu yang dimulut, baru bicara." pintanya.
Sembari cemberut, Clarissa menganggukan kepala. Seperti permintaan Yasmin, bocah manis itu baru bicara setelah menelan pudingnya. "Nanti Papa ke sini ya, Ma?"
"Iya. Sorean. Jadi Cla bisa main sepuasnya sampai sore sama Nenek."
Annisa menoleh ke arah Yasmin meminta kepastian dari ucapan putrinya. Ketika Yasmin mengangguk, Annisa tak menyembunyikan binar senang. "Nanti Cla ikut Nenek jalan-jalan sore, terus ikut ngaji di TPQ masjid komplek."
Dan balasan dari Clarissa sama semringahnya. Bocah manis itu berjingkat senang dan memeluk Annisa.
Yasmin bahagia, ibunya menerima Clarissa seperti cucu sendiri. Dia selalu mengingat kata-kata sang Ibu ketika awal-awal dia meminta pendapat tentang pernikahannya dengan Tian.
"Anak itu tidak berdosa. Mereka lahir suci. Jadi bagaimana Ibu sanggup melihat gadis manis itu dalam pandangan berbeda. Dan Ibu harap kamu bisa mencintai Clarissa seperti anak sendiri. Kunci bertahannya sebuah rumah tangga adalah saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan. Termasuk menerima tentang masa lalu mereka."
***