4. Gurauan

1463 Words
4. Gurauan Yasmin sedang memotong bolu gulung rasa cokelat dengan butter cream di dalamnya, ketika Riri mendekatinya dan tiba-tiba menyenggol bahunya. Beruntung, dia sudah menandaskan potongannya sehingga tidak melenceng. Dia melirik Riri dengan dagu terangkat. "Ada apa?" tanyanya. Kemudian menutup kotak kertas pembungkus bolu tadi, dan meletakkan kotak di tumpukan bolu lainnya. "Gimana Tian?" tanya Riri. Menata cupcake ke nampan-nampan stainles. "Baik, Alhamdulillah sehat. Berangkat ngantor tadi." Yasmin menjawab jujur. Memang dia dan Tian tidak keluar apartemen bersama, dan lelaki itu pun tak perlu repot mengantarnya ke toko. Tapi, Yasmin baik-baik saja kok, sudah besar, nggak perlu manja-manja minta diantar. Pikirnya, bijak. Riri gemas, dia mengangkat satu tangannya dan meremas angin. "Maksudku, gimana perlakuan lelaki itu. Meski tidak jadi suami manis yang romantis setidaknya dia nggak KDRT kan?" Yasmin membulatkan bibir, menahan senyuman geli. Dia mengernyit, berpikir keras sebelum akhirnya mengedikkan bahu ketika puas menikmati raut wajah Riri yang menanti. "Aman. Kalau pun KDRT, nanti aku uppercut." ucapnya sembari mengerlingkan mata. Tian memang tidak melakukan kekerasan fisik, namun kelakuan lelaki itu jelas melukai hati Yasmin teramat dalam. Dan seolah sakit hati itu bukan perkara penting, Yasmin lebih suka menyimpan lukanya sendiri. Dia tahu, Tian masih membutuhkan waktu, padahal, Yasmin pikir ketika lelaki itu meminta dirinya menjadi istri, dengan bahasa ramah, penuh kesopanan, Tian sudah melupakan masa lalu. Nanti, sekali lagi dan tak akan bosan, Yasmin akan meluruskan segala hal di masa lalu. Tapi itu sudah berlalu teramat lama, bukan? Lalu mengapa Tian masih bersikap seolah-olah kesalahannya sebesar gunung. Masalah perasaan tidak pernah sepele, Yas. Seremeh temeh apa pun itu. Yasmin memejamkan mata. Dia tahu, tidak seharusnya memandang kecil masalah perasaan. "Gimana malam pertama, Yas?" Widya mengerlingkan mata menggoda. "Pasti WOW kan?" imbuhnya sembari berlalu dan mengangkat brownis kukus yang sudah matang. Dia meletakkan kotak brownis yang mengepulkan asap ke atas meja persiapan masih menanti jawaban dari Yasmin. "Se-WOW seperti yang kamu bayangkan, Wid." Yasmin menyahut kalem, menggigit cupcake stroberi, dan membiarkan rasa manisnya meleleh di lidah. Clarissa selalu bilang, cupcake bikinannya nomor satu. Tidak ada yang bisa menandingi. Apalagi ketika Yasmin dengan senang hati menuruti gadis manis itu dengan memberi variasi topping kesukaan, jangan ditanya seberapa basah pipi Yasmin setelahnya, karena dihujani kecupan bertubi dari Clarissa. Widya menjerit tertahan. "Aw, pasti panas banget. Yasmin yang manis-manis kalem, sama Tian yang udah berpengalaman, nggak mengecewakan nih." dan gadis itu heboh sendiri. Tertawa lebar, lalu berceloteh asal tentang dia yang juga akan segera mencari lelaki untuk jadi pendamping hidup. Kalau bisa sebelas dua belas sama Tian. "Lebih panas dari pada dapur kita." Yasmin menambahi lalu tertawa, hambar. Dia tidak berbohong mengenai panas. Di malam setelah resepsi, Tian kembali ke kamar hotel yang dipesan untuk mereka menginap dalam keadaan mabuk. Lelaki itu melepas sembarangan pakaian yang melekat di badan dengan wajah memerah. Lalu meminta Yasmin dengan nada memerintah untuk mengatur AC di suhu terendah. Widya berdecak. Menggeleng pelan. "Wah, nggak cuma punya wajah tampan rupawan, Tian juga pandai memperlakukan wanita, persis sama seperti yang dibicarakan wanita-wanita itu." "Wanita-wanita itu?" Yasmin mengernyit, menatap Widya dengan tatapan menilai. Dia memang mengira jika Tian setiap malam bermain-main dengan banyak wanita. Tapi, ayolah masa Widya, kawannya sendiri bisa tahu kelakuan buruk lelaki itu. Gelagapan. Widya menggoyang-goyang tangannya di udara. "Bukan itu maksudku ..." dia menarik napas lebih dulu, mengingat-ingat bagaimana tepatnya pembicaraan yang dia dengar. "Pas aku ngantar pesanan karyawan ke kantor Tian, aku nggak sengaja denger wanita-wanita di sana ngobrolin Tian. Yang katanya, di samping jiwa kepemimpinan yang luar biasa, Tian juga pandai bersikap, bahkan bicaranya pada wanita nggak kasar. Pokoknya mereka bilang suamiable. Tampan, rupawan, mapan, kaya raya tujuh turunan, dan sosok Ayah sempurna gitu lah." Memaksakan senyuman, Yasmin mengangguk pelan. Dia tidak menyangka jika Tian bersikap baik pada wanita lain namun padanya justru sedingin es. Namun kemudian, dia sadar diri. Dan meluaskan hati kalau dia tak perlu iri atau cemburu. "Kamu tidur sama Tian?" Riri yang baru kembali dari depan, akhirnya melontarkan tanya itu karena tak sengaja mendengar obrolan Yasmin dan Widya. Widya mendecak. "Riri gimana sih, suami istri ya tidur bareng lah, mana ini pengantin baru. Kamu nanya kok, jawaban yang udah jelas." Yasmin tertawa pelan. Widya memang tidak tahu bagaimana hubungan dia dan Tian yang sesungguhnya. Dan dia memaklumi, makanya dia meladeni setiap celoteh yang Widya lontarkan. Sedangkan di satu sisi, Riri tampak mendecap tidak suka. "Kupikir kalian nggak akan tidur bareng, setidaknya sampai beberapa waktu." "Kami tidur satu ranjang," Yasmin menerawang. Ada hela napas begitu berat sebelum dia mengimbuhi dengan nada suara lirih. "Tapi nggak seperti yang kamu dan Widya pikirkan. Tian tidur di sisiku, tanpa menyentuh sedikit pun." Dia lebih suka menyentuh wanita lain, dari pada istrinya sendiri. Dan kalimat itu hanya disimpan Yasmin di dalam hati. Seburuk apa pun kelakuan suaminya, Yasmin berusaha untuk menjaga nama baik sang suami. "Dia nggak sentuh kamu? Tian rabun atau gimana. Ada wanita secantik kamu di sebelah dia tidur dianggurin." Riri menggeleng pelan, komat-kamit yang tidak Yasmin mengerti. Yasmin mencebikkan bibir. "Jadi, kamu lebih suka Tian menyentuhku atau gimana, kok pendapatnya bisa ganti-ganti gitu." Riri nyengir, melirik sekitar dan tidak menemukan Widya. Gadis itu ke depan tadi, karena bunyi lonceng pintu kaca toko terdengar. "Ya kali aja, kalian mau khilaf bikin adik buat Clarissa." "Beruntungnya, Tian nggak khilaf. Dia tenang banget tidurnya, nggak muter-muter menuh-menuhin ranjang." Yasmin mengulum senyuman tipis. Tian memang kalau tidur tenang banget. Dari awal tidur sampai pagi-pagi, posisi lelaki itu ya, di situ-situ saja. Paling mentok, hanya miring kanan miring kiri. Padahal, Yasmin nggak sekali-dua kali berharap lengan Tian akan mampir ke perutnya, lalu menarik dia untuk tidur berpelukan. Sayang, dalam tidur pun Tian begitu pandai mengontrol sikapnya. Dan dia terlalu takut mengawali. Ditatap tajam oleh Tian saja, dia sudah mengkerut ketakutan apalagi kalau dia ketahuan mengambil kesempatan dalam ketidaksadaran lelaki itu yang berujung dia kena omel. Hm, Yasmin lebih baik tak mengambil resiko. "Kenapa senyum-senyum, mesti lagi bayangin yang enggak-enggak?" Riri menoel-noel pipi Yasmin, membuat si korban mengerjap terkejut. Seolah jiwanya baru ditarik kembali setelah terbang ke awan, dan tak ayal membuat wajahnya merah merona. "Hayo ngaku, wajah kamu merah tuh, pasti bener, kan." "Enak aja." Yasmin mendesis, menggeser tubuhnya. Mengulum senyum, sedikit malu karena tebakan Riri tepat sekali. "Aku lagi bayangin yang iya-iya," setelahnya dia tertawa renyah. Serenyah wafer cokelat, yang akhirnya turut serta membuat Riri tersenyum senang. Bagi Riri, setidaknya Yasmin bisa sebahagia ini. Entah bagaimana kelakuan Tian, yang jelas bersama lelaki itu sedikit banyak membuat Yasmin mengukir senyuman. "Yas, dicariin Ayang Beb," Widya memberi tahu, berdiri di pintu pembatas dapur dan toko dengan cengiran lebar dan alis yang bergerak-gerak naik turun. Yasmin mengernyit. "Ayang Beb siapa?" tanyanya tak mengerti. Tidak merasa memiliki seseorang dengan sebutan seperti yang Widya sematkan tadi. Widya mengibaskan tangan. "Halah, pura-pura. Temuin gih, sebelum habis dikerubuti semut." "Temuin deh, beneran abis nanti. Bukan cuma semut tapi tikus-tikus juga tergiur." Riri ikut menambahi, sudah menduga-duga siapa gerangan yang datang. Wajah Widya sudah menyiratkan banyak hal sebenarnya. "Baru ditinggal empat jam, udah kangen berat." Widya kembali berseloroh, lirih saja ketika Yasmin melewati dirinya. Dan akibatnya perutnya dicubit keras oleh Yasmin, membuat dia menjerit tertahan dengan mata membulat. "Angkat roti sana, gosong nanti." ucap Yasmin, berlalu dari Widya dan menemui Ayang Beb yang Widya sebutkan tadi. Lucu saja dengan panggilan itu. Seumur-umur dia tidak pernah menyematkan panggilan seperti itu pada pacar dan terlebih suaminya kini. Eh, pacar yang pernah dia miliki kan hanya satu. Pacar dan suami adalah orang yang sama. Hanya seorang Sebastian Megantara. "Mas Tian?" Yasmin sedikit tertegun mendapati Tian berdiri membelakangi dirinya dan tampak sedang nemindai toko. Senyumnya mengembang ketika lelaki itu menoleh padanya. Padahal tidak ada sedikit pun senyum di bibir Tian, tapi lebih dari cukup membuat d**a Yasmin berdebar memalukan. Hanya karena kehadiran lelaki itu di tokonya. "Maaf ya, lama menunggu." imbuhnya sembari berjalan mendekati Tian. "Kamu sibuk?" Tian masih mempertahankan sikapnya, berdiri dengan sebelah tangan tenggelam di saku celana. "Lumayan," Yasmin menjawab jujur. Bukankah dia bilang pagi tadi, kalau seharian ini akan sibuk. Tian menghela napas. "Clarissa ingin makan siang bareng. Kalau kamu sibuk, ya sudah aku--" Yasmin buru-buru memotong. "Eh, bisa kok, Mas. Sekalian istirahat siang. Selesai makan aku bisa balik ke sini lagi." Dan Yasmin bersyukur sekali Tian dalam mood yang cukup baik, karena setelahnya lelaki itu mengajak Yasmin keluar. "Titip, ya. Aku pergi bentar." Yasmin pamit pada Riri dan Widya yang mengintip dari pintu. "Lama juga nggak apa-apa Yas, nanggung kalau bentar. Marah nanti Tian kalau nggak dituntasin." Widya menyahut selalu tengil. "Tuntasin apa? Pikiranmu kotor banget." Riri menggertak. "Yee, makan siangnya Ri. Kamu kali yang kotor, mikir macem-macem," Widya tak mau kalah, dan mereka berdua akhirnya tergelak. Yasmin sendiri sudah berlalu keluar toko, menghampiri Tian yang menunggu di mobil. Ini, kali pertama dia akan semobil dengan Tian, pas pindah ke apartemen, mereka di antar sopir, dan tak ayal menyadari hal itu kembali membuat Yasmin berdebar dan gugup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD