23. Ingin Bicara

1107 Words
23. Ingin bicara Yasmin turun dari mobil dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya, dari ambang pintu rumah, Clarissa memanggilnya lantang. Kaki-kaki kecil gadis kecil itu terayun ringan menuju ke arahnya. "Hati-hati, Cla. Perhatikan langkahmu!" Tian yang baru menutup pintu mobil dan melihat ke arah teras berseru memperingati. Hanya ditinggal sehari untuk bekerja, gadis kecilnya sudah sebahagia itu bertemu Yasmin. Jika biasanya sepulang sekolah Clarissa akan berada di toko, siang ini tidak. Yasmin sedang banyak pesanan, membuat wanita itu sedikit khawatir meninggalkan Clarissa sendiri tanpa pengawasan. Juga karena kalau sudah bersama Yasmin, Clarissa akan luar biasa manja. Lihat sekarang, karena mendapati Yasmin sudah pulang, Clarissa langsung tertawa senang, meminta gendong pastinya. Dan istrinya dengan senang hati menuruti permintaan Clarissa. Kalau orang awam melihat interaksi manis di depan sana, sudah tentu mereka akan mengira jika Clarissa adalah anak kandung Yasmin. Tian mengukir senyuman getir, bodoh sekali dia, karena selama awal menikah memperlakukan Yasmin dengan semena-mena. Lalu, apa sekarang segala amarah di dadanya sudah musnah? Belum. Namun bisa dipastikan sudah luruh perlahan. "Lagi ngobrolin apa nih? Kok Papa nggak diajak." Tian mendekatkan wajah, mencuri dengar obrolan antara putri dan istrinya. Keduanya sedang duduk di sofa ruang tamu, dengan Clarissa yang berada dalam pangkuan Yasmin. "Cla cerita, kalau dia habis gambar Papa sama Mama," Yasmin bercerita dengan senyum merekah bahagia, dibalas anggukan mantap dari Clarissa. Bocah manis itu menampakan bola mata berbinar terang, lalu dari balik punggung kecilnya, dia mengeluarkan selembar kertas yang digulung. "Oh ya?" Tian mengerling. "Ini gambarnya Cla?" tanyanya, ketika Clarissa membuka gulungan kertas itu dan menunjukan kertas bergambar dengan warna-warni yang bertebaran. Clarissa menunjuk dengan bangga hasil gambarnya. "Ini Cla, Papa, sama Mama," ujarnya, menunjuk satu persatu hasil karyanya di kertas gambar. "Terus, yang kecil sendiri siapa?" Tian menunjuk gambar kecil berwarna merah muda di sela-sela Clarissa dan Yasmin. Clarissa menyahut ringan penuh kepolosan. "Adiknya, Cla." Jawaban Clarissa berhasil membuat Yasmin mengerjap beberapa kali, sudut matanya melirik wajah Tian yang memberi atensi padanya. "Cla mau adik perempuan?" Tian mengambaikan kerjapan Yasmin yang tampak penuh tanya. Dia lebih suka menunggu reaksi sang putri atas pertanyaannya. "Teman Cla ada yang bawa dede bayi buat jemput. Lucu banget. Cla mau punya adik, Pa." sekali lagi, Cla menjawab teramat ringan. Bibirnya terus menerus mengurai senyuman, hingga menampilkan deretan gigi-gigi kecilnya. Tian mendekap bahu Yasmin, membuat sang istri menoleh ke arahnya. Jarak wajah mereka yang begitu dekat membuat Tian mencuri satu kecupan di pipi Yasmin. "Wah, boleh. Cla minta adik berapa? Tiga, empat?" Clarissa berjingkat senang di atas sofa. "Lima," ujarnya sembari mengangkat dua tangannya ke udara. Tian tergelak pelan. "Itu sepuluh, Sayang. Kalau lima, yang satu nggak perlu dibuka." Dia menggenggam jari tangan Clarissa. "Eh, iya. Cla lupa." Bocah manis itu meringis. Tertawa geli ketika sang Papa memberinya kecupan bertubi. Dari keramaian di sampingnya, Yasmin dibuat termangu, namun bibirnya melengkungkan senyum. Selalu ada do'a dan harapan yang dia panjatkan setiap malam agar lekas diberi amanah buah hati. Namun, hingga usia pernikahan mereka lebih dari enam bulan, dia belum juga positif hamil. "Kamu mau, kan, Yas?" Yasmin mengerjap. "Mau apa?" tanyanya. Mengerutkan kening ketika Tian hanya mencebikan bibir. "Mau bikin adik buat Cla," jawab Tian mengerling. "Aku udah menantikannya dari lama, tentu saja aku mau." Yasmin memeluk Clarissa yang mendekap lehernya, bersembunyi dari Tian yang tak juga melepas Yasmin. Entah mengusap puncak kepala gadis itu atau memberinya kecupan bertubi. "Lima atau sepuluh?" Yasmin mendelik. "Mas," keluhnya. Satu saja dia belum pernah merasakan kehamilan dan melahirkan. Kok, Tian langsung meminta sepuluh. Tian tergelak, tawanya berderai memenuhi ruang tamu. Dia kemudian melingkarkan lengan dan memeluk Yasmin. "Kamu minta berapa pun, akan aku sanggupi, Yas." bisiknya, di samping telinga Yasmin. "Kalau bisa sepuluh. Biar sama Cla jadi kesebelasan. Atau tambah, buat menyaingi gen yang populer itu." Yasmin menghadiahi gumaman Tian dengan cubitan pelan di perut sang suami. "Tapi beneran, Yas. Aku pengen punya banyak buah hati, dari kamu." Dan bisikan itu sukses membuat cubitan yang sempat Yasmin buat berubah menjadi satu lingkaran peluk di punggung Tian. Bibir wanita itu mengulas senyuman, dengan detak jantung yang naik beberapa ketukan. Seperti yang Tian katakan, dia pun ingin memiliki banyak buah hati dengan lelaki itu. Membuat ramai rumah mereka. *** Yasmin memperhatikan gerak Tian yang baru memasuki kamar, lelaki itu baru kembali, setelah sebelumnya mengangkat panggilan dari asisten pribadinya di kantor, tentu saja untuk membahas tentang pekerjaan. "Kamu belum tidur?" Tian menghampiri ranjang, mengambil duduk di samping Yasmin yang bertahan bersandar di kepala ranjang. Dipangkuan wanita itu ada sebuah buku yang terbuka. Yasmin sejak dulu, selalu hobi membaca. Dahulu ketika mereka masih di bangku kuliah, Yasmin adalah sosok mahasiswi teladan. Tian menghela napas, memutus ingatannya yang berkeliaran ke masa lalu. "Nungguin kamu, Mas." Yasmin menutup bukunya, menyimpannya ke atas nakas. Tian menaikkan sebelah alis. "Kenapa? Kalau aku balik ke kamar tengah malam, kamu mau nungguin?" Sekarang ini, jarum jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, ada beberapa rapat yang harus dia hadiri besok pagi, dan asistennya sudah mengingatkan sejak semalam, juga meminta beberapa e-mail yang dikirimkan untuk dia cek. "Ada yang ingin aku bicarakan, Mas." Yasmin melirih, ingin memulai pembicaraan, karena merasa ini lah waktu yang tepat untuk membicarakan perihal Ronald, semakin lama diulur, dia akan semakin khawatir. "Bicara apa? Penting ya?" Tian menarik selimut untuk menutupi sampai paha dan mendekatkan tubuhnya untuk bersinggungan dengan bahu Yasmin. Yasmin mengangguk pelan, mengumpulkan kata-kata yang tepat untuk memulai. Sudah mencoba untuk meluruhkan segala persepsi negatif yang mungkin dia terima dari Tian. Tapi, memang dia tidak memiliki banyak pilihan, Tian jelas bisa membantunya lepas dari Ronald. "Mas, aku bertem--" Tian menguap. "Ngantuk, Yas," ucapnya sembari memejamkan mata dan menutup mulutnya dengan punggung tangan. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Yasmin. "Besok aja, ya, ceritanya. Pengen tidur." Yasmin menghela napas, melirik ke arah Tian yang bersandar padanya. "Ya udah besok aja," Dia mengusap puncak kepala Tian. Nampaknya, malam ini usahanya untuk membuka obrolan tentang Ronald harus ditunda. Lelakinya sedang begitu manja hingga menginginkan untuk tidur saja. Masih dengan tatapan mengarah pada puncak kepala Tian, Yasmin mendekatkan wajahnya memberi satu kecupan di puncak kepala lelaki itu. Membiarkan pelukan Tian di perutnya semakin mengerat. Dia terenyuh untuk setiap pelukan protektif yang Tian berikan. Apa lelaki itu akan menjaganya untuk tetap di sisi, atau memilih meninggalkan seperti dulu lagi. Selama bertahun-tahun, Yasmin selalu berdo'a agar Ronald tak perlu kembali, tak perlu hadir di hadapannya. Namun nampaknya, untuk satu do'anya itu, tak juga dikabulkan. Pada kenyataannya. Ronald kembali datang dan mengusik hidupnya. Dan kali ini, Yasmin berjanji pada dirinya sendiri untuk semakin erat menggenggam yang menjadi miliknya. Tidak akan dia biarkan untuk lepas lagi. Kehilangan Tian, sama saja seperti dia yang akan kehilangan semangat hidupnya lagi. "Aku sayang kamu, Mas." bisiknya merdu dengan segenap perasaan yang menyelimuti dadanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD