22. Bunga tak Berharga
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Yasmin akan tiba di toko dengan Tian yang mengantar, tentu saja setelah mengantar Clarissa sekolah lebih dulu. Senyumnya mengembang sedari tadi, melupakan seseorang yang menemui dirinya kemarin. Namun, ketika dia baru melewati ambang pintu toko dan melihat sebuket bunga yang tergeletak di meja kasir, dia tak bisa untuk tidak berdecak sebal. Sejak dia tahu siapa pengirim bunga itu, maka bunga itu menjadi haram baginya.
"Yas, ada bunga lagi nih," Riri yang berdiri di meja belakang kasir menyerahkan buket bunga itu. Kali ini sebuket mawar putih yang dirangkai begitu apik.
"Buang aja. Tempat sampah, tempat paling tepat untuk bunga itu." Yasmin melirik tidak suka pada buket bunga itu. Sekarang ketidaksukaannya pada bunga bertambah berkali lipat. Lucu ya, wanita kok tidak suka bunga yang jelas-jelas indah. Lebih tepatnya, Yasmin pemilih tentang bunga. Dan karena itu bunga pemberian Ronald, maka dibuang adalah jawaban paling tepat.
Riri mengernyit. Sedikit bingung dengan ekspresi yang Yasmin tampilkan, kenapa datar sekali. Biasanya wanita itu akan meminta dia untuk memberikan bunganya pada siapa pun, bukan langsung meminta untuk dibuang, bukan. "Kenapa? Di sini tertulis dari kekasihmu." dia berdecap, lalu menggeleng pelan. "Aku masih nggak percaya kalau yang selama ini mengirim bunga adalah Tian. Laki-laki itu beneran nggak bisa ditebak."
"Kenapa Tian?" kening Yasmin mengenryit dalam.
"Seseorang yang mengaku mekasihmu ini siapa lagi, Tian lah pasti." Riri mendekatkan buket bunga dalam genggamnya ke arah Yasmin yang masih memaku kaki satu langkah di depan meja kasir.
Yasmin ingin tertawa. Kalau bisa, ingin tergelak bebas untuk satu pemikiran Riri yang terlampau polos. Kalau itu bunga dari Tian, Yasmin pasti berjingkrak senang dan mendekap buket itu, dia masukan ke vas dan dipajang di toko. "Itu dari Ronald, bukan Tian."
Bola mata Riri membulat, genggamannya di buket bunga terlepas, membuat buket itu jatuh tanpa ampun ke lantai. "Ronald?" dia membeo tidak percaya. "Kenapa bisa?"
Yasmin menghela napas, mengambil langkah mendekat untuk menyingkirkan buket bunga itu dengan kakinya. Melemparnya secara keji. "Bisa, karena dia sudah gila sejak dulu."
Riri menggeleng kepala pelan. "Bukankah dia dipenjara seumur hidup." masih hangat diingatannya bagaimana wajah Ronald yang sempat membuat Yasmin pontang-panting dahulu kala. Dia dan Annisa pun tak luput dari kebingungan. Dipojokkan hingga tidak mampu berkutik.
"Ayahnya punya kuasa, nggak heran kalau dia bisa keluar lebih cepat." Yasmin menggigit bibir bawahnya, mengingat wajah Ronald tempo hari. Dia tahu, laki-laki itu tidak main-main dengan ucapannya, dengan segala ancaman yang diberikan. "Aku bisa kan, Ri. Hanya nyingkirin dia, itu nggak akan sulit."
Tentu akan mudah mendorong Ronald untuk menjauh, kalau saja Ronald adalah orang yang mudah diajak bicara baik-baik. Sayangnya tidak, lelaki itu saja berani menghabisi seseorang yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengannya, hanya karena orang itu berusaha menolong Yasmin. Lalu kalau Ronald tahu dia kembali pada Tian, yang notabene musuh lelaki itu.
Yasmin tidak bisa membayangkan hal buruk terjadi pada Tian atau pada Clarissa. Mereka tidak bersalah.
"Kamu udah cerita sama Tian?" Riri bertanya hati-hati. Mengerti benar kegalauan apa yang sedang menimpa Yasmin. Namun ketika Yasmin menggelengkan kepala, dia berdecap tidak suka. "Kenapa belum?"
Butuh waktu beberapa saat bagi Yasmin untuk menengadah dan memberi tatapan sendunya pada Riri, dia sempat memikirkan untuk memberi tahu Tian, namun ketika segala kemungkinan buruk menyapa benaknya, dia mengurungkan niat. Belum cukup mampu.
"Tunggu, jangan bilang, Ronald udah ketemu sama kamu?"
"Kemarin," Yasmin melirih.
Riri mendesah panjang, dia melirik bunga di lantai yang kelopaknya tampak lepas, dan bertebaran di lantai. Itu hanya salah satu bukti kalau Yasmin bisa marah. Pada bunga yang tidak bersalah saja, wanita itu bisa melampiaskan amarah. "Kamu harus cerita sama Tian. Kamu, aku, nggak bisa hadapin Ronald, dia terlalu keras kepala, dan licik."
"Aki tahu, itu juga yang aku pikirkan."
"Lalu, kamu menunggu apa. Kamu nggak bisa mengulur waktu lebih lama. Bunga itu sudah dikirim berhari-hari lalu, dan baru kemarin Ronald menampakan diri, itu berarti dia sudah memperhatikan gerak-gerikmu. Dan ini nggak ingin aku bilang, tapi kemungkinan dia lagi merencanakan sesuatu, untuk mengacaukan hidupmu."
Riri sudah mengenal Ronald luar dalam. Dia mengerti jalan pikiran lelaki itu. Hal gila apa pun bisa Ronald lakukan kalau itu tentang Yasmin. Selama Yasmin belum tunduk di bawah kaki Ronald maka, bukan hal tidak mungkin Ronald akan menggunakan orang-orang di sekitar Yasmin untuk mengancam. Dia dan Annisa pernah menjadi korbannya dulu kala, hampir celaka. Menggertak namun sungguhan membahayakan nyawa. Beruntung Tuhan masih menyayangi dirinya dan Annisa hingga masih bisa bernapas sampai detik ini.
Yasmin menarik keluar kursi besi dari meja kecil di toko untuk kemudian dia duduki, dia tahu yang Riri katakan benar. Semalaman pun dia memikirkan hal itu. Hanya karena kehadiran Ronald dan dia sudah dibikin kelabakan seperti ini.
"Aku takut," Yasmin berbisik. Ingatan tentang dia yang diseret Ronald untuk masuk ke dalam sebuah bar, dijejali minuman yang tidak dia ketahui lalu akhirnya dibanting ke ranjang sebuah kamar berpenerang temaram. Hampir diperkosa, andai Yasmin tidak menjerit dan menendang Ronald sekuat yang dia mampu. "Dia bisa melukai siapa saja tanpa pandang bulu, aku takut, Ri," imbuhnya masih sama lirih. Ketika akhirnya Yasmin berhasil kabur saat itu dengan tubuh sempoyongan, kemudian dibantu oleh salah satu pegawai bar. Justru pegawai bar itu yang dihajar Ronald sampai tak sadarkan diri. Dan dia tidak ingin hal itu terjadi pada Tian.
Riri menatap Yasmin dengan sendu. Ketakutan wanita itu terasa begitu jelas. "Tapi hanya Tian yang bisa bantu kamu saat ini."
"Kami baru saja baikan," Yasmin menghela napas pelan, mengukir senyum samar. "Susah payah aku membuat hatinya luluh, mau menerima aku, membuka lengannya untuk mendekapku. Itu impian aku bertahun-tahun lalu sejak dia pergi. Tian nggak pernah mau mendengarkan segala cerita masa lalu yang ingin aku jelaskan. Dia selalu menaikkan nada suaranya dan menolak." Yasmin sudah berulang kali mencoba, hanya sedikit membuka masa lalu untuk menjelaskan duduk perkara saat itu yang berujung perpisahan mereka. Namun, Tian tetaplah keras kepala. Lelaki itu selalu menulikan telinga. Menganggap segala masalah itu tak lagi penting.
Yasmin bersyukur di satu sisi, karena tanpa dia jelaskan, Tian mau menerima dirinya dengan sendirinya, namun satu sudut lain dia selalu merasa tak tenang. Alangkah lebih baik jika masalah di masa lalu diungkap, membuka segala kebenaran. Memberi satu penerangan agar ke depannya tak perlu ada kesalahpahaman lagi.
"Kalau aku membawa nama Ronald, kamu tahu apa yang akan terjadi, Ri. Dia bukan lagi sosok Tian yang akan membuka tangan dan mendengarkan dengan sabar semua yang aku ucapkan. Nama Ronald jelas akan membuat dia naik pitam."
Yasmin sempat memikirkan opsi itu, namun bayangan Tian yang lebih dulu memangkas kalimatnya dengan suara tajam, menghantui benaknya. "Aku sayang banget sama Tian, Ri. Kamu tahu itu. Kenapa Ronald harus datang lagi ke hidup aku, Ri. Apa ingin hidup damai dengan lelaki yang aku sayangi itu terlalu muluk-muluk?"
Riri mengambil langkah mendekat, melingkarkan lengan di bahu Yasmin dan mengusapnya pelan. Memeluk tubuh saudarinya dengan hangat. Segala perjuangan Yasmin selama ini tak perlu diragukan lagi. Dia justru sering mendecap sebal dan beradu argumen hanya untuk mengeluarkan Yasmin dari perasaan terlalu dalam pada Tian. Sayangnya, sekeras apa pun Riri berusaha untuk membuat Yasmin melepaskan perasaan pada Tian, selalu berakhir angan belaka. Hati Yasmin sudah menjadi batu, sudah beku karena semua sudutnya hanya dipenuhi seorang Tian.
"Kamu nggak berharap terlalu muluk-muluk, Yas. Kamu pantas bahagia setelah semua perjuangan yang kamu lalui selama ini." Riri berbisik, mengusap matanya sendiri yang tiba-tiba berkabut.
Jika ada predikat wanita terbucin sedunia. Yasmin pantas mendapatkan itu. Dia tidak ada tandingannya. Cinta Yasmin pada Tian terlalu besar. Yang kalau dilihat dari orang awam yang tak mengenal Yasmin dengan baik, perasaan Yasmin adalah kebodohan. Terlalu dibutakan.
Yasmin menarik napas panjang. Berusaha meloloskan sesak di dadanya yang menghimpit menyakitkan. Dia memejamkan mata untuk kemudian mengulas senyum tipis sebelum menggumam terima kasih pada Riri. "Udah Ri, lebih baik kok." dia menyentuh punggung tangan Riri dan melepas rengkuhan lengannya.
"Kamu nggak pernah sendirian, Yas. Ada aku dan Ibu. Kamu bisa menceritakan apa pun pada kami, ngungkapin keluh kesah kamu. Apalagi kalau tentang Ronald, kamu harus cerita sama aku. Biar aku bisa berusaha buat lindungin kamu, hajar dia. Misalnya."
"Memangnya kamu berani?" Yasmin menaikkan sebelah alisnya.
Riri mengernyitkan kening. Berpikir keras sebelum akhirnya mengukir senyum geli. "Demi kamu, aku berani," dia mengerling nakal. Hanya sedikit usaha untuk mencairkan suasana, meluruhkan ketakutan yang mendera Yasmin.
Yasmin mengangguk pasti dengan seulas senyuman geli. "Terima kasih. Tapi, aku mungkin akan cerita sama Tian saja Riri. Entah apa balasan dari lelaki itu, aku akan mencoba mengungkap semua."
"Beneran?"
"Kami sudah menikah. Nggak seharusnya aku menyembunyikan masalah seorang diri. Aku harus bisa membawa topik ini untuk diobrolkan bersama, meski mungkin Tian akan tidak suka awalnya." Yasmin mengetuk sepatunya di lantai, menelisik ujung jarinya dengan kernyitan di kening. Berusaha untuk membulatkan tekad.
Riri menepuk pelan bahu Yasmin, tersenyum menyalurkan kekuatan. "Cuma Tian yang bisa atasi ini, setidaknya dia pasti akan melakukan sesuatu untuk menahanmu tetap berada di sampingnya."
Yasmin tertawa hambar. Entah kenapa dia ragu untuk itu. Menahan dirinya. Meski sudah membuka tangan menerimanya, Tian tak pernah mengutarakan perasaan yang sesungguhnya. Entah masih menyayangi dia, atau bertahan pada kebencian yang coba disembunyikan.
Apa pun itu, Yasmin sudah merasa senang, bisa menjadi pendamping hidup Tian. Lelaki itu tidak akan mengangkat tangan dan memperlakukannya dengan keji seperti yang Ronald lakukan dulu.
Semoga, Tian mau mempertahankan dirinya, dan membantunya menghadapi Ronald.
"Tian pasti akan menjagamu Yas. Aku yakin untuk itu."
Yasmin diam, hanya anggukan pelan yang dia berikan. Karena di dalam hati dia mengaminkan perkataan Riri.
***