21. Yang kembali hadir
Rabu siang, Yasmin menyempatkan waktu untuk menjemput Clarissa di sekolah. Nami sedang diminta Diana untuk membantu wanita itu menyiapkan perjamuan untuk arisan rutinan ibu-ibu komplek rumah Diana.
Yasmin melirik Clarissa yang tertidur dipangkuannya, dijemput sopir pribadi Diana, karena Tian sendiri ada rapat penting di perusahaan. Lelaki itu semakin hari, semakin sibuk saja. Apalagi ketika kini mengemban jabatan sebagai direktur utama. Jangan lagi ditanya. Tian bahkan lebih sering menghabiskan waktu di kantor dari pada dengannya.
"Pak, turun di depan saja. Nggak perlu masuk. Biar Bapak bisa langsung pulang." Yasmin bersuara ketika deretan ruko tempat toko kuenya berada sudah terlihat.
"Loh nggak apa-apa, saya antar sampai depan toko saja Bu." sang sopir pribadi yang kisaran usianya empat puluh tahun itu melirik sekilas ke arah Yasmin lewat spion tengah. Sebelum kembali mengarahkan tatapan pada padatnya jalanan.
Yasmin mengangkat tubuh lelap Clarissa untuk berada di pangkuannya. "Deket kok dari jalan, turun depan ya Pak." pintanya sekali lagi.
Sesuai dengan permintaan, mobil berhenti di pinggir jalan. Yasmin segera mencangklong ransel Clarissa dan turun dari mobil setelah mengucapkan terima kasih. Toko kue-nya hanya berjarak beberapa meter dari pintu masuk area ruko. Dan Yasmin merasa itu bukan masalah.
Clarissa tertidur karena sempat kena macet tadi, perbaikan jalan. Dan Yasmin tak ingin merepotkan sopir Diana lebih banyak lagi. Harusnya Pak sopir stand by di rumah, pasti akan cukup sibuk jika kekurangan beberapa bahan makanan, bukan.
Sembari menggendong Clarissa dibagian depan, Yasmin mengayun langkah menuju toko-nya yang dia tinggal beberapa saat. Namun, ketika sudah cukup dekat dengan toko-nya dan menyadari ada sosok laki-laki yang berdiri di pintu toko yang tertutup. Yasmin menghentikan langkah seketika. Bola matanya membulat ketika tatapan si lelaki membalasnya.
Dia ingin kabur, harus kabur. Tapi, kenapa kakinya seolah terkunci. Dan susah payah dia menelan ludah ketika lelaki itu mengayun langkah mendekati dirinya dengan seringai tipis terukir di wajah. Bekas luka memanjang di pipi kiri lelaki itu dan tatapan mata yang amat menghujam padanya, tak akan pernah Yasmin lupakan.
Kamu harus pergi, Yas. Ada Cla. Gadismu bisa dalam bahaya.
Bisikan itu tidak berpengaruh sedikit pun pada Yasmin. Meski dia begitu ingin melarikan diri. Detik itu juga.
"Hai, Yas. Lama nggak bertemu. Kamu bertambah cantik saja. Berkali lipat lebih cantik dari pada jutaan kali aku membayangkannya." lelaki itu tersenyum tipis, mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi Yasmin, namun wanita itu lebih dulu menghindar. Mundur beberapa langkah memberi jarak dengan tatapan waspada.
"Ayolah Yas, kamu nggak tahu serindu apa aku padamu," lelaki itu kembali bicara sembari mengayun langkah, memupus jarak yang coba Yasmin buat.
Yasmin menoleh kiri kanan mencoba mencari bantuan, namun bantuan seperti apa? selama lelaki itu tak bermain tangan dengannya dia harus menjerit terus akan menjelaskan bagaimana pada orang-orang. Dia menggeleng pelan, semakin mengeratkan dekapannya di tubuh Clarissa. Gadis manisnya harus tetap aman dalam kungkungan lengannya.
"Berhenti Ronald." Yasmin menghardik ketika Ronald -lelaki yang menyambutnya dengan seringai itu terus saja mencoba mendekat dengannya. Yasmin tidak boleh lemah. Dia harus siap menghadapi lelaki di depannya.
Entah karena menuruti permintaan Yasmin atau bukan, Ronald menghentikan langkah. "Aku selalu suka ketika kamu sebut namaku, Yas." dia menyimpan kembali tangan yang hendak menyentuh Yasmin tadi, menyembunyikannya ke dalam saku jaketnya. "Kamu terkejut melihatku, atau terlalu senang sampai memilih bungkam."
Yasmin mengatur napasnya. "Untuk apa kamu bisa di sini?"
Ronald menyeringai. "Kamu pikir, aku akan seumur hidup di dalam penjara? Tentu saja tidak kan. Dan aku di sini sudah pasti untuk menjemputmu, Sayang."
Kalau bisa, Yasmin ingin menyumpal mulut lelaki di depannya dengan sepatu, atau apa pun juga. Seenak jidat memanggilnya sayang. "Pergi, nggak ada urusan antara kamu sama aku, Ronald."
Ronald menaikkan alis kemudian tergelak tawa. Tawa hambar, namun berhasil membuat Yasmin mengeraskan rahang. "Akan selalu ada urusan antara kamu sama aku, Yas. Selalu."
Menggeleng pelan, Yasmin mengutuk tokonya yang masih tutup. Rara dan Widya pastilah masih mengantar pesanan kue ke pelanggan. Kalau ada Rara minimal, Yasmin yakin akan lebih mudah keluar dari situasi menjengkelkan bersama Ronald.
Bukankan lelaki itu harusnya masih berada di dalam penjara?
"Berapa tahun nggak bertemu, kamu udah punya anak saja." ucap Ronald sembari memicing dengan tatapan menyeramkan yang diarahkan ke punggung anak kecil digendongan Yasmin. Seolah ingin melubangi punggung mungil itu detik itu juga. Tidak suka sama sekali ada yang sedekat itu dengan Yasmin-nya meski hanya seorang anak kecil. Lalu dia tersentak dengan bola mata membulat. "Kamu menikah?" Ronald membentak. "Bukankah sudah kukatakan untuk menungguku keluar."
Menunggu?
Yasmin berdecih pelan. Tidak ada dalam kamusnya untuk menunggu Ronald. Sebelumnya pun laki-laki itu adalah yang paling dia hindari. Laki-laki yang paling dia benci dan ingin dia musnahkan dari muka bumi. Andai saja bisa. Andai dia tidak memiliki hati nurani.
"Tapi, tidak masalah. Meski kamu punya anak, aku akan tetap menerimamu apa adanya, Yas." Ronald mengedikan bahu. Kali ini mengulurkan tangan ingin membelai puncak kepala bocah mungil yang rambutnya diikat ekor kuda. Namun tentu saja, Yasmin tidak akan membiarkannya dengan mudah.
"Jangan sentuh annakku." Yasmin menggeram. Suara yang keluar dari bibirnya terdengar amat dalam. Tatapannya tajam menusuk. Tidak sekalipun menerima kehadiran Ronald meski lelaki itu mengumbar kalimat-kalimat bersahabat dan tatapan hangat. Semua yang Ronald lakukan di depannya itu hanyalah sebuah kamuflase. Yasmin paham betul tentang itu.
Ronald mengangkat tangan yang terulur tadi dan mundur selangkah. "Oke. Nggak akan sentuh dia, untuk saat ini." ucapnya diiringi satu seringai tipis. "Oh, aku lupa tentang ini." dia mengimbuhi dengan menarik keluar setangkai bunga mawar merah dari balik jaketnya. Mengulurkannya ke arah Yasmin dengan gaya seorang pangeran. "Aku mengirimnya belakangan ini."
Menahan napas. Yasmin mengutuk kebodohannya. Seharusnya dia mencurigai Ronald ketika kiriman-kiriman bunga dia terima belakangan ini. Harusnya dia lebih mewaspadai tentang itu. "Jangan temui aku lagi. Aku mohon," Yasmin melirih, penuh permohonan. Dia sudah hidup bahagua saat ini, dan munculnya Ronald hanya akan menghancurkan segala kebahagiaan yang dia miliki. Seperti dulu. Beberapa tahun lalu.
Dan berbeda dengan dulu, saat ini dia akan lebih mampu untuk menghadapi, melawan Ronald tentu saja.
"Tidak menemuimu lagi?" Ronald tertawa pelan. "Bagaimana bisa aku tidak menemuimu lagi, Yas. Ketika aku begitu mendamba pertemuan ini. Hari-hariku dipenjara hanya dipenuhi dengan memikirkanmu, kekasihku."
Yasmin ingin muntah ketika Ronald menyebutnya kekasih. Menghadapi Ronald yang gila, harus memiliki begitu banyak rencana. Dikasari, maka dia akan mendapat perlakuan berkali lipat lebih kasar. Seperti dulu, ketika dia berusaha melepaskan, melawan dengan sedikit tenaga yang dia miliki, dia justru menyebabkan temannya harus terkapar di rumah sakit.
Dan Yasmin pikir, Ronald yang dulu dan yang saat ini berdiri di depannya adalah orang yang sama.
"Baiklah, aku pergi sekarang. Besok, pastikan siapkan diri kamu untuk pertemuan selanjutnya." Ronald dengan berani mengusap puncak kepala bocah manis digendongan Yasmin dan menghidu wangi wanita itu, hanya sekilas, namun jelas mengobati kerinduannya yang teramat besar memenuhi d**a. "Aku tak sabar menjadikanmu pengantinku, sayang."
Yasmin menggigit bibir bawahnya, gemetaran. Dekapnya di tubuh mungil Clarissa mengerat, seolah tak akan membiarkannya lepas. Dia biarkan Ronald berlalu darinya, meninggalkan tubuhnya yang melemah. Lutut Yasmin lemas seolah tak bisa lagi menopang tubuhnya.
Dia kira, setelah bertahun-tahun tak bertemu dan sangat yakin jika Ronald akan membusuk di penjara, atau minimal lelaki itu akan melupakannya, Yasmin sungguh tak menduga pertemuan ini.
Dia harus mengatur napasnya agar tidak tersengal karena ketakutan yang sejak tadi dia sembunyikan perlahan nampak kepermukaan, mengungkungnya.
Demi Tuhan, Yas. Kamu nggak boleh seperti ini.
Yasmin berbisik, berusaha menguatkan diri. Berkali-kali dia mengingatkan kalau dia bukanlah Yasmin yang dulu. Dia bisa menghadapinya. Harus.
"Hei, kok diam di sini."
Teguran itu, disusul dengan satu lingkaran lengan di bahunya, menarik kesadaran Yasmin yang sempat mengawang. Wanita itu segera menoleh dan mendapati wajah seorang lelaki tampan sedang menatapnya penuh tanya. Lelaki yang selama ini dia cintai.
"Kamu kenapa?" Tian bertanya ketika Yasmin tak juga memberi balasan.
Yasmin menggeleng, segera menggulirkan pandangannya ke sekitar, mencari sosok Ronald. Tidak ada. Tian tidak bertemu dengan Ronald kan?
Tidak. Suaminya jangan sampai bertemu lelaki b***t itu.
"Yas," Tian memanggil. Meminta antensi.
Yasmin menelan ludah, mengukir senyuman samar. "Nggak apa-apa. Kenapa Mas ada di sini?" Seingat Yasmin, Tian ada rapat bukan. Dan alasan itu juga yang membuat Tian tidak memiliki waktu untuk makan siang bersamanya juga menjemput Clarissa.
"Udah selesai meeting. Tadi Mami telepon, minta kita nginap di rumah nanti." Tian mengambil Clarissa untuk dia gendong. "Berat, ya gendong Clarissa. Udah gemuk banget ini anak." dia mengimbuhi sembari mengusap puncak kepala putrinya. Ulasan senyum di bibirnya tak juga memudar. Dia justru merendahkan tubuhnya sedikit dan mencuri satu kecupan di pipi Yasmin. "Gemas, kalau kamu kayak terkejut gitu liat kehadiran aku."
Yasmin tentu saja tak menyembunyikan bola matanya yang membundar. Tian dengan tindakan impulsifnya tak pernah mampu membuat dia merasa terbiasa. Kali ini, dia justru khawatir tiba-tiba, segera mengedarkan pandangannya lagi ke belakang punggung. Ke sekitar pertokoan dan lahan parkir.
Dia menemukannya di sana. Bersandar di belakang sebuah mobil yang terparkir, beberapa meter dari tempatnya.
"Yas," Tian memanggil ketika menyadari Yasmin tak juga mengikuti langkahnya.
Yasmin tidak sempat menemukan seringai di wajah Ronald, karena wanita itu lebih dulu membalikan tubuh dan menyusul Tian.
Kali ini, dia tidak akan melepaskan Tian. Dia harus menyelesaikan masalahnya dengan Ronald. Mendorong mundur lelaki itu untuk pergi dari kehidupannya.
Benar, harus begitu.
Andai Ronald melepas obsesi padanya.
***