20. Pagi yang Baru
Matahari belum menampakan sinarnya ketika Yasmin keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit rambutnya yang basah. Dia melempar lirikan ke arah ranjang besar kamarnya dan menemukan suaminya masih bergelung nyaman dengan selimut. Padahal sebelumnya lelaki itu sudah bangun, ditinggal mandi, tidur lagi. Akhir pekan menjadikan Tian menjadi sosok malas dan lebih suka menghabiskan paginya diatas kasur.
Sudah seminggu, Yasmin dan Tian pindah ke rumah baru mereka. Beserta Clarissa tentu saja, dan Nami -pengasuh gadis itu juga seorang Bibi kepercayaan Diana. Yasmin sudah menolak, mengatakan bisa mengurus rumah sendiri. Terlalu percaya diri karena nyatanya rumah Tian sebelas dua belas dengan rumah mertuanya yang besar. Kalau diurus sendiri, sudah tentu Yasmin bukannya hanya tidak sempat ke toko, tapi juga tidak punya waktu untuk istirahat.
Yasmin sudah selesai mengeringkan rambut dan hendak keluar kamar ketika laki-laki penghuni ranjang yang sedari tadi memilih terlelap, melenguh perlahan. Diliriknya lelaki itu dengan sebelah alis, menikmati pemandangan di mana Tian menggeliat dan mengerjapkan mata sebelum melempar tatapan sayu padanya.
Tersenyum tipis, Yasmin mendekati ranjang, di mana Tian melambaikan tangan memintanya mendekat. Belum cukup dekat, ketika hanya berdiri di samping ranjang, Yasmin kembali mengikuti permintaan Tian yang menepuk sisi ranjang. "Mau tidur lagi?" tanya Yasmin lirih, diulurkannya tangan untuk mengusap helai rambut Tian yang menjuntai menutupi dahi.
Tian menangkap tangan Yasmin seusai wanita itu mengusap dahinya. Dibawanya tangan halus sang istri kedekapan, sedangkan dia kembali bergelung dengan kelopak mata tertutup. "Nggak mau bangun," gumamnya manja. Dan dengkusan lirih yang dia dapatkan dari Yasmin.
"Aku harus masak, Mas." Yasmin menarik tangannya. Bukannya dilepaskan, jemari tangannya justru dihadiahi kecupan bertubi dari Tian. Membuat bukan hanya wajahnya yang memerah, namun juga hatinya menghangat. Perlakuan Tian yang kerap kali manis seperti ini, selalu sukses membuat Yasmin salah tingkah sendiri.
Semenjak tinggal di rumah baru, Tian memang berkali lipat lebih manja. Lebih terbuka. Dan alhasil, itu membuat Yasmin semakin dimabuk kepayang. Rasanya cinta yang dia miliki untuk Tian semakin menggunung.
"Tapi, aku masih ngantuk." Tian mendesis, semakin merapatkan mata.
"Ya sudah, tidur lagi aja. Nanti aku bangunin kalau sarapan udah siap." Yasmin menarik tangannya, mengusap kening Tian sekali lagi lalu hendak keluar kamar sebelum ketukan di pintu mengagetkannya, disusul satu panggilan ceria.
"Mama. Buka pintunya!"
Sudah jelas siapa yang berada di balik pintu kamarnya. Yasmin segera menuju pintu, membukanya dan disambut satu pelukan dari tubuh mungil Clarissa. "Kok Cla sudah bangun?"
Clarissa memberi kecupan paginya di pipi Yasmin ketika wanita itu menunduk dan menyejajarkan wajah. "Mau olahraga sama Papa. Papa udah janji semalam mau ngajak Cla,"
Yasmin menaikkan sebelah alis. "Oh ya?" tanyanya yang dibalas anggukan antusias dari Clarissa. Membuat Yasmin menegakkan tubuh untuk menoleh kembali ke arah ranjang di mana Tian masih bergelung di dalam selimut. "Papa bilang begitu?"
"Iya, Ma." seperti yang Yasmin lakukan, Clarissa turut menatap ranjang. Dan bibirnya cemberut ketika menemukan sang Papa masih asyik terlelap. "Papa masih tidur?"
"Cla bangunin Papa ya," Yasmin mengusap puncak kepala Clarissa dan gadis manisnya segera berlari menuju ranjang. Menaikinya dan menghentak tubuh Tian, menggoyang-goyangnya dengan tak sabaran.
"Papa bangun, katanya mau olahraga." Clarissa berseru.
Yasmin di ambang pintu hanya menggelengkan kepala sembari mengukir senyuman geli, mendapati sang suami yang tampak terganggu dengan kehadiran Clarissa.
"Papa ngantuk sayang, tidur lagi, yuk.Besok lagi olahraganya. Ini masih pagi sekali atau main sama Mama saja."
Tak ingin menjadikan keinginan Tian terwujud, Yasmin segera beranjak pergi dari kamar, menutup pintunya dengan gerak pelan tanpa menimbulkan bunyi. Biarlah ayah anak di dalam sana saling melempar pendapat. Yasmin tahu pasti, Clarissa tidak akan berhenti membangunkan Tian sebelum lelaki itu menegakkan tubuh dan memenuhi keinginan Clarissa.
Ketika sampai di dapur, Yasmin sedikit menaikkan alis melihat deretan menu sarapan yang sudah tersaji di meja makan. Ini baru pukul enam pagi lewat beberapa menit. Dia yang hendak menyiapkan sarapan alhasil harus ditunda, dan tidak perlu membuat sarapan lagi, Yasmin rasa. Di meja makannya sudah ada nasi goreng, sandwich dan s**u juga segelas jus jeruk yang menjadi kesukaan Yasmin.
"Bi, pagi banget udah bikin sarapan?" Yasmin menghampiri Bi Darmi. Bibi yang ikut serta dengannya, pindah ke rumah baru atas perintah Diana. Bibi yang sudah belasan tahun mengabdi dengan Diana, yang juga menjadi salah satu orang kepercayaan Diana. Usianya sudah tak lagi muda, rambutnya sudah memutih, namun jangan ditanya stamina-nya. Luar biasa.
"Dibantu Nami," Bi Darmi menoleh, mengelap jemari basahnya, yang baru usai menata piring di rak. Nami adalah keponakan Bi Darmi di kampung, dizinkan bekerja dengan Diana, bahkan diberi beasiswa untuk melanjutkan kuliah. Dan selama ada Clarissa, maka Nami hanya perlu menjadi pengasuh Clarissa.
Yasmin melihat Nami yang baru membuka pintu kulkas, mengeluarkan beberapa buah. "Ini hari libur, buat apa bikin sarapan terlalu pagi, dan ini kan waktunya Yasmin yang buat sarapan." dia berdecap, membuat Bi Darmi dan Nami menyungging senyum tipis dengan gumaman maaf.
Dia sudah memberi jadwal pada Bi Darmi dan Nami jika hari libur, maka waktunya Yasmin yang akan berperan untuk mengacaukan dapur. Tapi, ya sudahlah. Yasmin menghela napas, "Aku jadi nggak perlu buru-buru buat masak." ungkapnya. Hingga dia mendengar dendang lagu terlalu ceria. Bawel sekali. Namun selalu membuat senang hatinya.
"Mama, Cla mau olahraga, dong." Clarissa berseru dalam gendongan Tian ketika melihat Yasmin yang berdiri di anak tangga terbawah. Menanti dengan kuluman senyum geli, putri dan suaminya menuruni anak tangga. "Mau apa tadi, Pa. Sepedaan ya?"
Tian mengangguk mantap. "Iya dong. Biar sehat."
Clarissa bertepuk tangan, heboh sendiri. "Mama ikut ayooo ..."
"Loh, jangan. Mama mau bikin sarapan," Tian mengerling ke arah Yasmin, ketika mendapati wajah istrinya tampak cemberut dengan lengan terlipat di depan d**a, dia tergelak pelan.
"Mas ya, yang minta Bi Darmi bikin sarapan. Jadinya aku nggak perlu masak. Pantas tadi, disuruh tidur lagi." Yasmin menatap Tian dengan pandangan menelisik. Tahu benar jika suaminya yang melakukan itu. Meminta Bi Darmi membuat sarapan. Seringkali, Tian memang memilih menghabiskan akhir pekannya hanya di kamar. Yasmin duduk di samping Tian, mengelus puncak kepala lelaki itu, sembari bercerita. Padahal, Tian memejamkan mata.
Melupakan untuk sesaat jika ada bocah manis yang akan terus mengganggu jika tidak mendapati Yasmin dan Tian di pagi hari. Nami memang akan membawa Clarissa jalan-jalan atau bermain apa pun untuk mengalihkan. Namun, bocah manisnya lebih pintar. Tidak akan membiarkan Papa-nya bangun kesiangan. Seperti pagi ini misalnya.
"Mama di rumah aja, sepedaan sama Papa ya," Yasmin mengusap puncak kepala Clarissa. Dengan satu lirikan sebal ke arah Tian.
"Ihh, Mama. Clarissa nggak mau sepedaan sama Papa aja," Clarissa cemberut.
"Loh kenapa?" Tian yang kali ini menatap Clarissa tidak mengerti. Padahal sebelumnya bocah manis itu sudah sepakat untuk sepedaan keliling komplek. Mereka sudah lengkap dengan training dan sepatu. Sepedanya juga pasti sudah disiapkan di depan garasi. Siap gowess.
Tak jauh dari rumahnya ada taman komplek yang juga ada danau buatannya. Biasanya di hari minggu, danau itu akan ramai pengunjung. Entah hanya duduk-duduk di kursi taman tak jauh dari danau, atau jogging dan sepedaan seperti yang akan Tian lakukan.
"Banyak tante-tante deketin Papa. Ihh, Cla nggak suka. Kata Nenek, Cla harus jagain Papa." Clarissa berbisik. Bisik-bisik yang tetap terdengar keras. Meski mulut mungil bocah itu ditutupi dengan sebelah tangan.
Hal itu tentu saja membuat Yasmin membulatkan mata, sebelum akhirnya tergelak tawa. Dia mengusap puncak kepala Clarissa dan menanamkan satu kecupan di pipi gadis manis itu. "Anak mama, pinter banget sih," pujinya.
Clarissa memang tergolong anak yang cepat tanggap. Bicaranya saja tidak cadel. Kalau diberitahu, bahkan dilarang sesuatu, gadis manis itu akan cemberut, mengangguk dan akhirnya menurut. Kapan Clarissa menangis kalau keinginannya tidak terpenuhi. Jarang sekali. Diberi sedikit pengertian oleh Yasmin, akan membuat gadis manis itu mengurungkan keinginan.
"Papa-nya nggak pinter?" Tian nyeletuk, setelah reda tawanya. Dia menaikkan sebelah alisnya, menuntut pujian dari Yasmin. Sembari menurunkan Clarissa dan membiarkan bocah manis itu keluar lebih dulu ketika bunyi bel sepeda kecilnya terdengar.
"Pinter banget," Yasmin tersenyum. "Pelan-pelan, Sayang. Sepedanya nggak akan ke mana-mana." serunya memperingati. Dia mengayun langkah mengikuti Clarissa yang tubuhnya sudah menghilang dari balik pintu depan.
Bukannya membiarkan Yasmin untuk menyusul Clarissa, Tian justru menyambar lengan Yasmin. "Pinter apa?"
Yasmin mengerutkan kening. Berpura-pura berpikir keras. "Pinter apa ya, kok lupa." godanya dengan cengiran khas yang menghiasi wajahnya.
Tian mendekatkan bibirnya di telinga Yasmin dan berbisik lirih di sana. "Pasti pinter bikin kamu jerit-jerit."
Yasmin membulatkan mata. Namun, detik berikutnya dia menjerit karena Tian mencubit pinggangnya, dan tergelak tawa ketika Tian menggelitiki pinggangnya. "Mas, ini nggak lucu." Yasmin berteriak.
"Nah, kan. Jerit deh. Aku itu jagoannya bikin kamu jerit-jerit gitu." Tian tergelak tawa. Lalu melenggang keluar ketika berhasil membuat istrinya tak berdaya.
Berlebihan ya.
Sampai Yasmin nggak bisa membalas deh.
Yasmin menghela napas. Mengusap wajahnya. Baru setelahnya menyusul Tian ke depan. Menemukan Clarissa sedang menaiki sepeda mini dengan dua roda bantu di belakang. Dan Tian yang mengikuti, menjaga bocah manisnya memutari pelataran.
Minggu paginya memang selalu seperti itu. Terkadang Yasmin akan mengikuti di belakang Clarissa dan Tian yang naik sepeda. Namun lebih sering Tian yang mengikuti Clarissa, memutari pelataran dan taman komplek. Yasmin akan berperan sebagai pengamat dari kejauhan, seperti pagi ini.
"Mama, ayo sepedaan. Balapan sama Cla." Clarissa menghentikan kayuhan sepedanya, menoleh ke arah Yasmin dan melambaikan tangan.
"Nggak boleh balapan, Sayang. Nanti jatuh." Yasmin menyahut sembari mendekati Clarissa.
"Sama Papa boleh kok,"
Yasmin mendelik sekilas ke arah Tian. "Mas," hardiknya pelan. "Anak cewek kok diajari balapan."
Tian tentu saja hanya membalasnya dengan cengiran. "Biar bisa ngalahin Papa-nya kalau balap sepeda, besok."
Dan selanjutnya, karena Tian dan Yasmin asyik mengobrol, lalai dengan Clarissa. Bocah manis itu sudah mengayuh sepedanya menjauh, mendekati gerbang. Tian dan Yasmin mendelik. Keduanya sama-sama berlari dan berseru. "Direm sayang,"
Terlambat, sepeda mini Clarissa lebih dulu mencium pagar. Dan sebelum bocah manis itu terguling bersama sepeda, Tian lebih dulu menangkap. "Papa selalu selangkah lebih cepat."
***