49. Harus bahagia "Cla! Udah siap belum. Papa mau berangkat, nih!" seruan Tian menggema di seluruh rumah, sembari kepalanya mendongak melirik lantai atas. Namun beberapa detik berikutnya, ia segera menunduk dan memejamkan mata. Tersadar jika Clarissa sudah tidak tinggal di rumahnya lagi. Sudah seminggu sejak Harry membawa Clarissa, dan Tian masih saja terlalu terbiasa mencari-cari Clarissa dan memanggil gadis manis itu. Dari arah belakang, Tian merasakan sepasang lengan melingkar di perutnya, disusul wajah seseorang yang menempel di punggungnya. "Mau aku temani ke kantor?" tanya Yasmin, berbisik lirih. Dia mengeratkan dekapan di perut Tian, apalagi saat tangan sang suami menangkup di atas lengannya. "Maaf, aku masih keceplosan memanggil Cla," Tian menarik napas panjang. Menunduk m

