"Kita nggak ada waktu lagi, Bos." Suara asisten pribadinya terdengar tegas, walau ia tahu lelaki itu sebenarnya juga mulai tertekan. Tapi entah mengapa, di tengah tekanan dan krisis ini, justru Khalil hanya terdiam. Duduk di kursinya, tubuhnya condong ke depan, sementara kedua tangannya menopang kepalanya, jari-jarinya memijat kening dengan pelan seolah ingin meredam badai yang terus mengamuk dalam pikirannya. Tapi tentu saja, tidak ada yang reda. Tidak ada yang jadi lebih ringan. Justru semua terasa makin sesak. Ia menutup matanya sejenak, mengembuskan napas panjang. Nafas yang terasa berat, seperti mengangkat seluruh beban yang menghimpit dadanya. Benaknya penuh—begitu penuh hingga terasa hampir meledak. Ia mungkin pejabat, terbiasa menghadapi tekanan politik, konflik internal, dan per

