Pagi di lingkungan kampus terasa lebih riuh dan sibuk dari biasanya. Udara masih terasa sejuk menusuk kulit, namun kesibukan mahasiswa semester akhir membuat suasana seolah hangat terbakar oleh rasa cemas dan harapan. Mereka berlalu-lalang dengan membawa map tebal berisi naskah skripsi; ada yang wajahnya tegang seolah sedang menghadapi pertempuran hidup mati, ada yang tampak pasrah seolah sudah siap menerima apa saja hasilnya, dan tak sedikit pula yang berjalan dengan tatapan kosong, seolah hanya numpang hidup di dunia ini. Dan tentu saja, kelompok Alena masuk dalam kategori yang paling ribut dan berisik di antara keramaian itu. Pasalnya, pagi ini adalah jadwal bimbingan skripsi mereka, momen yang selalu ditunggu namun juga ditakuti. Di lorong panjang di depan ruangan dosen pembimbing, R

