bc

Menikahi CEO

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
HE
love after marriage
fated
friends to lovers
kickass heroine
mafia
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
witty
campus
city
office/work place
love at the first sight
like
intro-logo
Blurb

Sejak kuliah, Alena terus mengejar Reno, sahabat cowok yang diam-diam juga mencintainya tetapi tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Lelah berharap pada hubungan yang tidak pasti, Alena memilih fokus bekerja di sebuah perusahaan besar hingga bertemu ALex, CEO muda dingin yang perlahan jatuh cinta padanya. Saat Reno akhirnya sadar dan ingin mempertahankan Alena, semuanya sudah terlambat karena wanita yang dulu selalu mengejarnya kini akan menikah dengan seorang CEO.

chap-preview
Free preview
Hari Pertama
Alena baru saja menurunkan koper kecilnya di depan pintu kos, lalu menghela napas panjang. Udara kota terasa berbeda setelah hampir satu bulan lebih ia pulang kampung. Lorong kos yang biasanya terasa sempit, kini malah jadi tempat yang anehnya ia rindukan. Hari ini kampus kembali ramai. Semester akhir. Skripsi. Dan entah kenapa, nama seseorang ikut muncul di kepalanya. Reno. Cowok paling menyebalkan sekaligus paling sulit dilupakan selama masa kuliahnya. Alena menggeleng pelan, lalu buru-buru mengambil kunci kamar dari tas selempangnya. "Fokus skripsi, Alena. Jangan aneh-aneh lagi," gumamnya sendiri. Baru saja pintu kos terbuka, suara teriakan langsung terdengar dari ujung lorong. "ALENA!" Alena menoleh. Dian melambai lebay sambil setengah berlari. Di belakangnya ada Fika yang membawa totebag besar, Tasya yang sibuk memainkan ponselnya, dan Rara yang seperti biasa, wajahnya datar tanpa ekspresi. "Ya ampun, kalian sudah datang?" Alena tertawa kecil. Dian langsung memeluknya erat."Kangen banget, woy! Lo makin glowing aja habis liburan!" "Ah masa sih? B aja kali," jawab Alena sambil tertawa malu. Fika menyipitkan matanya sambil memperhatikan. "B aja katanya. Itu pipi makin kinclong gitu. Jangan-jangan pulang kampung ketemu jodoh?" "Ih apaan sih." Alena mendorong pelan bahu Fika. Tasya terkekeh kecil. "Yang jelas bukan Reno kan? Soalnya Reno mah gak bakal gerak. Dia batu." Semua tertawa mendengarnya. Kecuali Rara.Cewek itu hanya berdiri di tempat sambil menyilangkan tangan di d**a. "Udah masuk saja dulu. Capek gak sih berdiri di lorong kayak emak-emak yang lagi ronda?" ucapnya datar. Alena hanya tersenyum mendengarnya. Ia sudah terbiasa.Rara memang seperti itu. Kadang baik, kadang dingin, kadang perkataannya terdengar seperti sindiran tapi dibungkus dengan nada bercanda. Setelah menaruh semua barangnya, Alena baru saja hendak duduk ketika ponselnya berbunyi. Nama Dian muncul di layar. "Halo?" "AYOLAH ALENA, KITA MAKAN-MAKAN! Kan sudah lama juga kita gak ketemu!" Alena tertawa kecil mendengar antusiasme di seberang sana. "Loh bukannya tadi baru saja ketemu?" "Ih beda dong! Ini namanya silaturahmi anak Ekonomi Bisnis setelah liburan semester!" Terdengar suara Fika yang ikut nimbrung dari belakang. "Iya Al, lagi pula ada Reno juga... terus ada Kevin pacarku, sama Dimas pacarnya Tasya. Ayolah ikut!" Mendengar nama itu, tangan Alena refleks berhenti membuka botol minum yang sedang dipegangnya. Reno. Entah kenapa nama itu selalu punya efek aneh padanya.Cowok yang dari awal kuliah selalu ada di dekatnya. Cowok yang kadang terlihat sangat perhatian, kadang bikin berharap, tapi tak pernah benar-benar memberi kepastian. Tiga tahun lebih Alena menyukai Reno. Semua orang di jurusan tahu.Bahkan Reno pun tahu.Tapi cowok itu selalu memilih diam.Tidak menjauh, tidak mendekat, seolah nyaman membuat Alena terus menggantung di situasi yang tak menentu. "Al?" Suara Dian membuyarkan pikirannya yang melayang jauh. "Boleh deh," jawab Alena akhirnya. "ASIKKK!" Teriakan keras dari seberang telepon membuat Alena refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. "Ya ampun, kuping gue!" "Cepat siap! Kita jemput di bawah!" Telepon langsung dimatikan. Alena menghela napas panjang.Kenapa harus ada Reno sih? Empat puluh menit kemudian. Alena keluar dari kos mengenakan kemeja warna krem yang sederhana dipadukan dengan celana jeans biru muda. Rambutnya dibiarkan terurai bebas. Begitu ia turun, Dian langsung berseru heboh. "BEHHH! Cantik banget!" "Lebay," jawab Alena sambil tersenyum malu. Fika mengangguk setuju sambil menatapnya. "Pantes Reno susah move on— eh salah, maksudnya pantes banyak yang suka." Alena mengerutkan dahinya bingung. "Reno move on dari apa? Emang pernah sama gue?" Suasana mendadak hening sepersekian detik. Tasya cepat-cepat tertawa untuk mencairkan keadaan. "Iya juga sih. Orang tuh cowok gak jelas banget." Sementara Rara hanya diam memperhatikan. Tatapannya sebentar jatuh ke wajah Alena, lalu beralih ke arah jalan di depan sana. Ekspresinya tetap datar seperti biasa. "Udah lah ayo. Taksi sudah datang," katanya Rara singkat. Mereka berlima masuk ke dalam taksi daring yang sudah menunggu. Sepanjang perjalanan, Dianlah yang paling ribut mengobrol. "Eh kalian sadar gak sih, bentar lagi mulai bimbingan skripsi? Gue takut dosen pembimbing gue galak banget!" ucap Dian "Sama," keluh Fika. "Kemarin aku kirim chat saja cuma dibaca doang. Kayak aku mantannya gitu perlakuannya." ucap Fika lagi. Semua tertawa mendengar keluh kesah itu. "Kalau Alena aman sih," ujar Tasya tiba-tiba. "Dia kan pintar. Anak kesayangan dosen." ucap nya lagi Nada bicaranya terdengar bercanda, tapi entah kenapa ada sesuatu di sana yang membuat Alena sedikit tidak nyaman. "Ah biasa saja kok," jawabnya pelan. Rara mendadak terkekeh kecil. "Ya iyalah pintar. Orang tiap tugas saja pada numpang lihat punya Alena." Suasana langsung menjadi sedikit canggung. Dian buru-buru menyikut lengan Rara. "Apaan sih Ra. Bercanda mulu lo." "Lah emang salah?" ucap Rara Alena tersenyum kecil, berusaha menunjukkan bahwa ia tidak tersinggung. "Gak apa-apa kok." Padahal kata-kata itu sedikit menusuk hatinya. Restoran Jepang itu cukup ramai malam ini. Lampu-lampu berwarna hangat menyala dengan cantik, dan aroma kuah ramen serta daging panggang langsung menyambut hidung mereka begitu masuk ke dalam. Dan di salah satu meja panjang, Reno sudah duduk di sana.Mengenakan kaos hitam polos, jam tangan yang simpel, dan rambut yang sedikit berantakan. Tapi tetap saja, penampilan itu cukup menyebalkan karena terlalu gampang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Di sampingnya ada Kevin dan Dimas. Kevin langsung melambai melihat kedatangan mereka. "Woi, akhirnya datang juga!" Dimas tersenyum ramah. "Tumben lengkap semuanya." Tapi Reno Cowok itu hanya diam. Tatapannya berhenti tepat saat melihat Alena, dan selama beberapa detik, ia tidak berkedip sedikit pun. Alena pura-pura bersikap biasa saja. "Hai semuanya," ucapnya sambil menarik kursi untuk duduk. "Hai Alena," sapa Kevin dengan ramah. Fika langsung duduk di samping Kevin, Tasya otomatis duduk di dekat Dimas, dan kursi kosong yang tersisa hanyalah satu... tepat di samping Reno. Dian langsung nyengir jahil melihat itu. "Nah Alena, sini duduk!" "Aku sana saja—" ucap Alena. "Udah, sini saja," potong Reno tiba-tiba. Semua langsung diam. Alena ikut membeku di tempat. Reno baru saja berbicara, dan langsung berkata begitu? Cowok itu menggeser kursinya sedikit ke samping untuk memberi ruang. "Duduk saja." Nadanya pelan dan datar, tapi entah kenapa membuat jantung Alena terasa tidak aman. "Oh... iya." Begitu ia duduk, suasana kembali ramai seperti semula. Dian sibuk menceritakan kegiatan liburannya, sementara Kevin dan Dimas saling mengejek satu sama lain. Tapi beberapa kali, Alena merasa bahwa Reno sedang memperhatikannya diam-diam, seolah sedang memastikan sesuatu. "Lo kurusan," ucap Reno tiba-tiba. Alena menoleh cepat ke arahnya. "Hah?" "Kurusan." "Masa sih?" "Iya." balas Reno Singkat Lalu diam lagi. "Menyebalkan" batin Alena Kenapa harus bersikap perhatian kalau ujung-ujungnya hanya membuatnya semakin bingung? Di seberang meja, Rara memperhatikan tanpa ekspresi. "Eh, Alena masih suka ya sama Reno?" ucap Rara Kalimat itu membuat suasana di meja mendadak sunyi. Alena refleks membeku di tempat. "Rara!" desis Dian. "Apa? Nanya saja kok." Balas Rara Fika terkekeh kecil. "Dulu sih ngejar banget." Kevin melirik sekeliling meja, mencoba mencegah pembicaraan ini semakin jauh. "Eh udah lah, jangan mulai." Tasya malah ikut menambahkan pendapatnya. "Iya tapi Reno juga aneh sih. Dikasih cewek secantik Alena malah diem saja." Reno mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya tajam. "Gak lucu ya." Semua langsung diam. Untuk pertama kalinya malam itu, Reno terlihat benar-benar kesal.Cowok itu meletakkan sumpitnya di meja. "Makan saja." Suasana mendadak berubah menjadi canggung. Dian cepat-cepat mengganti topik pembicaraan."Eh, skripsi kalian sudah sampai mana?" Tapi Alena tidak bisa fokus mendengarkan. Karena tanpa sadar, tangan Reno diam-diam memindahkan segelas teh hijau ke dekatnya. "Lo belum minum," katanya pelan. Hal kecil, sederhana, tapi cukup untuk membuat hati Alena kembali berharap. Padahal ia tahu, berharap pada Reno selalu berakhir dengan rasa lelah. Malam semakin larut. Saat semua mulai sibuk mengobrol dengan pasangan atau teman di sebelahnya, Alena berdiri dari kursinya. "Aku ke toilet sebentar ya." "Mau ditemenin?" tanya Dian. "Enggak kok." Begitu ia berjalan keluar, Alena tidak sadar bahwa ada seseorang yang ikut berdiri. Reno. Cowok itu mengikuti dari belakang. Dan tepat sebelum Alena masuk ke lorong menuju toilet, suara itu terdengar. "Alena." Langkahnya berhenti.Jantungnya seolah ikut berhenti berdetak. Perlahan ia menoleh. Reno berdiri di sana, tangan dimasukkan ke dalam saku celana, dan tatapannya sulit dibaca. "Apa?" Cowok itu diam selama beberapa detik, seolah sedang mencari kata yang tepat untuk diucapkan. "Lo... besok ke kampus jam berapa?" Alena mengernyit bingung. "Hah?" "Mau bimbingan kan?" Tanya Reno "Iya, mungkin pagi. Kenapa?" balas nya Reno menunduk sebentar, lalu berkata dengan pelan. "Bareng gue saja." Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu berhasil membuat jantung Alena berdebar kencang lagi.Padahal ia sudah berkali-kali berkata pada dirinya sendiri untuk tidak berharap.Karena Reno terlalu pandai membuat seseorang merasa spesial... tanpa pernah benar-benar memilih.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
721.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
958.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
346.7K
bc

Not just, the Beta

read
342.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook