Story By Valea B. Lyre
author-avatar

Valea B. Lyre

bc
Pawang Cinta CEO Playboy
Updated at Apr 5, 2026, 23:50
Tidak semua perempuan mudah terpesona oleh kekuasaan, harta, dan wajah tampan.Ada yang justru memilih menjaga jarak dan tanpa sadar, menjadi pusat perhatian.Perempuan itu bernama Keshara Ayudya Prameswari, akrab dipanggil Kesya.Seorang mahasiswi cantik dengan wajah yang kerap menghiasi iklan ternama, lahir dari keluarga terpandang, dan memiliki satu kakak laki-laki yang selalu menjaganya dalam diam. Hidupnya nyaris sempurna—hingga kampus mewajibkan program magang.Langkah Kesya membawanya ke Arvando Group, perusahaan prestisius milik seorang CEO muda bernama Kevin Arvando. Tampan, kaya, cerdas dan terkenal sebagai playboy kelas kakap.Kevin punya segalanya: bisnis yang gemilang, hobi motoran, lingkar pertemanan elite, bahkan geng motor yang sesekali ia datangi saat ingin kabur dari rutinitas. Perempuan keluar-masuk ruangannya sudah seperti pemandangan biasa. Makan siang, rapat, hingga gosip kantor selalu ditemani wanita berbeda.Awalnya, Kesya bersikap profesional. Biasa saja.Namun hari demi hari, tingkah Kevin membuatnya muak. Senyum yang sama untuk semua perempuan, tatapan yang tak pernah benar-benar serius, dan kebiasaan mengganti pasangan seolah tak pernah kehabisan pilihan.Yang membuat Kevin terusik bukan penolakan terang-terangan.Melainkan ketidakpedulian.Kesya tak pernah meliriknya lebih dari sekadar atasan.Tak kagum. Tak tersenyum berlebihan. Tak berusaha menarik perhatian. Bahkan seolah tak sudi menilai Kevin sebagai laki-laki.Bagi Kevin, itu penghinaan yang tak pernah ia alami.Bagi Kesya, Kevin memang bukan tipenya dan tak akan pernah.Atau setidaknya, itulah yang ia yakini… sebelum permainan perasaan dimulai, dan sang CEO playboy menemukan satu perempuan yang tak bisa ia taklukkan dengan harta, wajah, maupun pesona.
like
bc
Gue Suka Sama Lo, So What?
Updated at Jan 26, 2026, 00:13
Zevan adalah CEO muda dengan wajah dingin dan keputusan yang selalu datang lebih cepat dari perasaannya sendiri. Kantornya rapi, hidupnya terkontrol, dan jarak aman selalu dia pasang seolah semua hal bisa diatur seperti laporan keuangan. Sampai hari Zevi duduk di ruang interview miliknya, dengan sikap tenang dan jawaban singkat, lalu keluar dari ruangan membawa kabar diterima kerja lebih cepat dari yang dia duga. Miko, HRD sekaligus sahabat Zevan, cuma tertawa sambil menepuk bahunya, “Cocok juga, Zevan Zevi,” yang dibalas Zevan dengan tatapan datar. Bulan-bulan berlalu, Zevi mulai hafal kenapa dirinya sering kesal oleh sikap Zevan yang seenaknya, sementara Zevan tanpa pernah menanyakan status dengan santai menyebut Zevi pacarnya sendiri, seolah itu keputusan biasa, dan menutup semua protes dengan satu kalimat ringan tapi bikin jantung berantakan: “Gue suka sama lo, so what?”
like