bc

Pawang Cinta CEO Playboy

book_age18+
156
FOLLOW
1.4K
READ
HE
forced
playboy
boss
heir/heiress
drama
bxg
serious
kicking
bold
campus
city
office/work place
addiction
like
intro-logo
Blurb

Tidak semua perempuan mudah terpesona oleh kekuasaan, harta, dan wajah tampan.Ada yang justru memilih menjaga jarak dan tanpa sadar, menjadi pusat perhatian.Perempuan itu bernama Keshara Ayudya Prameswari, akrab dipanggil Kesya.Seorang mahasiswi cantik dengan wajah yang kerap menghiasi iklan ternama, lahir dari keluarga terpandang, dan memiliki satu kakak laki-laki yang selalu menjaganya dalam diam. Hidupnya nyaris sempurna—hingga kampus mewajibkan program magang.Langkah Kesya membawanya ke Arvando Group, perusahaan prestisius milik seorang CEO muda bernama Kevin Arvando. Tampan, kaya, cerdas dan terkenal sebagai playboy kelas kakap.Kevin punya segalanya: bisnis yang gemilang, hobi motoran, lingkar pertemanan elite, bahkan geng motor yang sesekali ia datangi saat ingin kabur dari rutinitas. Perempuan keluar-masuk ruangannya sudah seperti pemandangan biasa. Makan siang, rapat, hingga gosip kantor selalu ditemani wanita berbeda.Awalnya, Kesya bersikap profesional. Biasa saja.Namun hari demi hari, tingkah Kevin membuatnya muak. Senyum yang sama untuk semua perempuan, tatapan yang tak pernah benar-benar serius, dan kebiasaan mengganti pasangan seolah tak pernah kehabisan pilihan.Yang membuat Kevin terusik bukan penolakan terang-terangan.Melainkan ketidakpedulian.Kesya tak pernah meliriknya lebih dari sekadar atasan.Tak kagum. Tak tersenyum berlebihan. Tak berusaha menarik perhatian. Bahkan seolah tak sudi menilai Kevin sebagai laki-laki.Bagi Kevin, itu penghinaan yang tak pernah ia alami.Bagi Kesya, Kevin memang bukan tipenya dan tak akan pernah.Atau setidaknya, itulah yang ia yakini… sebelum permainan perasaan dimulai, dan sang CEO playboy menemukan satu perempuan yang tak bisa ia taklukkan dengan harta, wajah, maupun pesona.

chap-preview
Free preview
Pengumuman Magang
Musim panas telah tiba di kota ini. Bagi mahasiswa Arvandia Global University, musim panas bukan tentang liburan atau pulang kampung lebih lama. Musim panas berarti satu hal yang sama bagi semua: program magang dimulai. Dan hari ini, pengumuman resmi akhirnya keluar. Di salah satu kafe ramen di area kantin kampus, tiga orang perempuan duduk mengelilingi meja kayu kecil. Uap ramen masih mengepul, mangkuk-mangkuk setengah kosong, dan tiga ponsel tergeletak dengan layar menyala. Kafe itu ramai, tapi meja mereka terasa seperti dunia kecil yang terpisah. “Astaga,” gumam Nadine, sambil menopang dagunya dengan satu tangan. Alisnya sedikit berkerut, ekspresi khas seseorang yang baru saja membaca sesuatu yang tidak sesuai rencana. “Kenapa harus begini, sih.” Di depannya, Alya mendongak dari mangkuk ramen."Kenapa? Nilai lo aman kan?” “Nilai aman,” jawab Nadine cepat. “Tapi tempat magangnya…” Kesya, yang sejak tadi diam, masih memandangi layar ponselnya. Jemarinya menggenggam sendok, tapi ramen di depannya nyaris tak tersentuh lagi. Rambut hitamnya tergerai rapi, wajahnya cantik tanpa usaha cantik yang tidak butuh pengakuan, tidak mencari perhatian. Sebagai model iklan ternama sekaligus selebgram dengan ratusan ribu pengikut, Kesya sudah terlalu akrab dengan sorot mata orang lain. Tapi di meja ini, ia selalu menjadi Kesya yang sederhana. “Jadi,” Nadine menghela napas panjang, lalu menegakkan tubuh. “Kita bertiga… tempat magangnya beda?” nada suaranya datar, tapi jelas ada rasa kecewa yang berusaha ditahan. “Iya lagi beda semua, coy,” jawab Alya cepat. Tangan kanannya ikut bergerak saat bicara, kebiasaan yang tak pernah bisa ia hentikan. “Gue juga baru liat. Fix nggak ada satu pun bareng.” Kesya akhirnya mengunci ponselnya dan meletakkannya pelan di atas meja.“Gak tau harus apa, btw,” katanya singkat. Suara nya tenang, tapi jelas tidak bersemangat. Alya langsung menoleh. Ia memang paling cepat sadar kalau Kesya sedang tidak baik-baik saja."Lo kenapa?” Kesya mengangkat bahu. “Biasa. Cuma… ya gitu.” Nadine menyipitkan mata, lalu melirik ponselnya lagi. “Oke, kita bahas satu-satu. Gue duluan, ya. Gue dapet magang di Virelion Digital Ventures.” Alya bersiul pelan. “Buset. Startup gede itu kan?” Nadine mengangguk. “Iya. Divisi Business Development. Fokus ke market expansion. Lumayan lah.” “Lumayan katanya,” Alya mendengus. “Itu mah target banyak orang.” Nadine tersenyum kecil, penuh percaya diri. “Ya namanya juga usaha. Gue nggak mau nanggung.” Kesya melirik Nadine sekilas. “Lo emang cocok di situ.” “Jelas si,ya” jawab Nadine tanpa ragu. “Gue tipe mahasiswa yang nggak bisa cuma ngerjain teori. Gue pengin pegang proyek, ketemu klien, lihat angka real. Bukan cuma presentasi.” Alya mengangguk-angguk. “Iya, iya. Miss ambisi.” “hmm,” balas Nadine santai. “Ambisi itu penting.” Alya lalu mencondongkan tubuh ke depan. “Oke, sekarang giliran gue. Gue dapet di Helixora Consulting.” “Oh,” Nadine mengangkat alis. “Konsultan?” “Iya. Divisi manajemen operasional. Katanya bakal banyak turun lapangan.” “Cocok sih sama lo,” kata Kesya. “Lo aktif.” “Itu dia,” Alya terkekeh. “Gue nggak bisa duduk manis depan laptop doang. Gue butuh gerak. Butuh ngobrol sama orang. Lagian organisasi kampus gue aja ribet setengah mati.” Nadine tertawa kecil. “Anak organisasi emang beda.” Alya menunjuk Nadine pakai sumpit. “Eh, jangan ngejek. Nanti lo butuh koneksi, baru nyari gue.” “Siap, Bu Ketua,” balas Nadine sambil nyengir. Alya kemudian menoleh ke Kesya. Tatapannya berubah sedikit lebih serius. “Nah. Sekarang lo.” Kesya terdiam sejenak. Ia mengambil napas pelan, lalu membuka ponselnya lagi seolah ingin memastikan apa yang tadi ia baca tidak salah."Aurellion Group,” ucapnya akhirnya. Alya membelalakkan mata. “Hah? Serius?” Nadine langsung duduk lebih tegak. “Yang multinasional itu?” Kesya mengangguk pelan. “Iya.” “Anjir,” Alya refleks menutup mulut. “Itu perusahaan gede banget, Sya.” “Banyak juga yang bilang CEO-nya ganteng parah,” tambah Alya tanpa mikir panjang. Nadine langsung menoleh cepat. “Lo mah otaknya ganteng mulu,” katanya sambil mendecak. “Nggak semua hal harus cowok.” Alya terkekeh. “Gapapa dong. Mana tau jadi kenyataan. Kalau gue punya cowok ganteng, kalian juga kecipratan.” Kesya cuma menghela napas kecil. “Kenapa sih harus dibahas itu.” “Lah,” Alya menatap Kesya. “Lo nggak penasaran?” “Enggak,” jawab Kesya cepat. “Gue ke sana buat magang, bukan buat cari perhatian.” Nadine menyandarkan punggung ke kursi. “Tapi Aurellion Group itu beda. Budayanya keras. Lo harus siap.” Kesya mengangguk. “Gue tau.” “Lo di divisi apa?” tanya Alya. “Corporate Strategy.” Nadine bersiul pelan. “Wow.” Alya menatap Kesya lebih lama. “Lo yakin oke?” Kesya tersenyum tipis. “Harusnya.” Nadine lalu melirik layar ponselnya lagi. “Oke, recap. Gue di Virelion Digital Ventures. Lo di Helixora Consulting. Kesya di Aurellion Group.” Alya menghitung dengan jari. “Berarti… tempat magang gue sama lo deket, Nad.” Nadine mengangguk. “Iya. Gedungnya satu kawasan bisnis.” “Berarti gue bisa nebeng lo sesekali,” kata Alya santai. “Bisa,” jawab Nadine. “Asal jangan telat.” Alya tertawa. “Asyiap.” Lalu Alya menoleh ke Kesya. “Berarti cuma lo yang terpisah jauh.” Kalimat itu melayang di udara lebih lama dari yang seharusnya.Kesya menunduk sedikit. Senyum tipisnya menghilang. “Iya.” Alya langsung menyesal. “Eh… maksud gue bukan gitu.” “Gapapa,” jawab Kesya cepat. “Emang kenyataannya begitu.” Nadine mengamati Kesya sejenak. “Lo nggak seneng?” Kesya mengaduk kuah ramennya pelan, sendok beradu dengan mangkuk. “Bukan nggak seneng. Cuma… capek mikir.” “Capek kenapa?” Alya lembut. “Gue ngerasa,” Kesya berhenti sejenak, mencari kata. “Semua orang selalu mikir hidup gue gampang. Padahal setiap langkah tuh… ya tetap berat.” Alya mengangguk pelan. “Gue tau.” Nadine menyilangkan tangan. “Magang itu cuma fase. Musim panas doang.” Kesya mengangkat wajahnya. “Justru itu. Musim panas selalu singkat. Tapi kadang… dampaknya panjang.” Alya tersenyum kecil. “Filosofis amat.” Kesya tertawa kecil, meski tak sampai ke matanya. “Ya maaf.” Nadine berdiri lebih dulu. “Udah. Ramen kita juga hampir habis. Pengumuman keluar pas banget ya, abis makan.” Alya ikut berdiri. “Iya. Setidaknya perut kenyang dulu sebelum stres.” Kesya ikut bangkit. Ia mengambil tasnya, menatap dua sahabatnya bergantian. “Apapun yang terjadi,” ucap Alya sambil merangkul bahu Kesya, “kita tetap harus siap.” Nadine mengangguk. “Musim panas ini… bakal beda.” Kesya menarik napas dalam-dalam. “Iya.” Senja sudah turun ketika mobil Kesya melewati gerbang rumah mewah keluarganya. Lampu-lampu taman menyala satu per satu, memantulkan cahaya ke kolam kecil di sisi jalan masuk. Rumah itu terlalu tenang untuk ukuran hari yang rasanya panjang dan melelahkan. Begitu pintu utama tertutup di belakangnya, Kesya langsung menjatuhkan tas ke sofa dan ikut duduk dengan tubuh sedikit menjatuh. Sepatu ia lepas sembarang. Bahunya turun, napasnya berat. Baru beberapa detik ia memejamkan mata, sebuah suara laki-laki yang sangat familiar terdengar dari arah tangga. “Welcome home, princess.” Kesya refleks membuka mata. Wajahnya langsung berubah."Bang?!” Ia berdiri nyaris melompat. Pria tinggi dan berwajah tampan dengan jaket hitam rapi dan senyum khas itu berdiri bersandar santai di railing lantai dua. Rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali mereka bertemu, wajahnya matang dengan aura lelah khas orang yang baru turun dari pesawat jauh. “Abang ya ampun,” Kesya berjalan cepat mendekat. “Kapan lo pulang?” “Barusan aja, cantik,” jawabnya ringan sambil menuruni tangga. “Pesawat pagi, rapat siang, langsung ke rumah.” Kesya langsung memeluk kakaknya tanpa mikir. Aroma parfum mahal bercampur wangi khas yang selalu ia kenal sejak kecil. “Gue kira lo masih di London,” gumam Kesya. Rendika Alex atau Alex tertawa ringan sambil mengusap punggung adiknya. “Kalau abang bilang mau pulang, ya pulang.” Kesya menatap wajah Alex lekat-lekat. “Lo makin kurus.” “Namanya juga kerja,” jawab Alex santai. “Lagian lo keliatan capek. Kenapa?” “Biasa,” Kesya mengibaskan tangan. “Hari panjang.” Alex mengangguk seolah paham. Ia lalu mengusap lembut rambut Kesya, kebiasaan yang tak pernah berubah sejak mereka kecil. “Bang,” Kesya menyipitkan mata, senyum kecil muncul. “Abang bawa apa?” Alex tertawa kecil. “Tebak aja.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Mantan Sugar Baby

read
8.4K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
8.3K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.6K
bc

Menikah, Karena Tak Sengaja Hamil

read
1.0K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.3K
bc

I Love You Dad

read
297.5K
bc

The CEO's Little Wife

read
684.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook