Pagi itu langit terlihat agak mendung dan kelabu, seolah sedang menahan hujan yang siap turun kapan saja. Namun, suasana hati Alena jauh lebih dingin dan suram daripada cuaca di luar sana. Semalam ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata dengan tenang. Bukan karena ia menangis atau meratapi nasibnya berjam-jam, melainkan karena pikirannya terus dipenuhi oleh berbagai pertanyaan dan rasa kecewa yang mendalam. Ia memikirkan semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Memikirkan betapa mudahnya orang-orang menyebarkan fitnah tanpa mau mendengar penjelasan sedikit pun. Dan yang paling menyakitkan Ia memikirkan sosok Reno. Sosok yang selama ini ia anggap paling mengenal dirinya, sosok yang seharusnya mengerti betul siapa Alena sebenarnya. Namun nyatanya, Reno justru lebih memilih untuk per

