Dua hari setelah pertemuan dengan tim Nexora selesai, hidup Alena kembali seperti biasa. Pagi bekerja, siang bekerja, sore tetap bekerja, dan malamnya hanya ingin berbaring santai. Sesimpel itu. Atau setidaknya itulah rencana Alena sampai sebuah musibah kecil terjadi. Pagi itu, Alena berjalan membawa beberapa barang menuju ruang presentasi. Tangannya penuh memegang map dokumen, tablet, sampel parfum, dan berkas-berkas penting lainnya. “Ya Tuhan, tolong jangan sampai jatuh,” gumamnya cemas. “Kalau sampai terjatuh, rasanya gue kayak langsung mau mengundurkan diri saja.” Sandra yang berjalan di sampingnya langsung melotot. “Jangan bicara sembarangan begitu.” “Amit-amit, jauhkan,” sambung Alena. Eli tertawa mendengarnya. “Baru kerja satu bulan saja sudah mau berhenti, ya?” Alena hanya m

