Malam mulai menyelimuti Kota Velmora. Dari jendela kamar di Aethera Corporation, gemerlap lampu gedung pencakar langit terlihat begitu indah. Jalan raya masih dipenuhi kendaraan yang berlalu-lalang. Kota bisnis itu seolah tidak pernah benar-benar tidur. Di kamar bernuansa krem milik Alena, hanya terdengar suara pelan dari pendingin ruangan dan bunyi ketikan laptop. Alena masih duduk di depan meja kerjanya. Rambut panjangnya diikat asal, dan kacamata tipis bertengger di hidungnya. Di sebelah laptop sudah ada segelas teh hangat yang mulai mendingin. Beberapa lembar proposal berserakan di meja. Sesekali Alena mencoret sesuatu di buku catatan.“Hmm…” Ia menghela napas panjang. “Lumayan susah juga ya.” Tangannya menopang dagu, lalu matanya kembali membaca bagian analisis investor. “Kalau

