Bagian 02

2257 Words
"Kau sungguh ingin tau alasan utama ku ingin berteman dengan mu?" Tanya Qila dengan hati-hati pada Kana. Kana menganggukkan kepalanya mantap akan pertanyaan yang ia ajukan tadi. "Baiklah, maaf sebelumnya mungkin ini terdengar sedikit egois, tapi aku ingin berteman dan dekat dengan mu karna aku ingin agar kau membantu ku menenangkan 'mereka' yang sampai saat ini menjadi arwah gentayangan di sekolah ini" tutur Qila menatap lekat mata Kana. Kana yang mendengar itu menghela napas sembari memejamkan matanya sebentar. "Hm" gumam Kana. "Tapi selain itu, aku memang ingin berteman dengan mu, karna aku merasa kau berbeda" sambung Qila dengan cepat. Kana mengerutkan dahi mendengar penuturan Qila. "Berbeda bagaimana maksud mu?" Tanya Kana dengan cuek pada Qila. "Entahlah aku hanya merasa ada sesuatu yang spesial dari dirimu yang membuat ku tertarik untuk berteman dengan mu. Kau tidak masalah kan berteman dengan seorang guru seperti ku?" Tanya Qila dengan mimik mata penuh harap pada Kana. Kana menganggukkan kepalanya mengiyakan saja, daripada harus berdebat yang hanya akan membuang waktu saja, menurut Kana. "Jadi kau setuju kan membantu diriku untuk membebaskan arwah-arwah yang bergentayangan itu untuk kembali ke dunia mereka?" Pinta Qila pada Kana. "Kapan aku mengatakan iya?" Tanya Kana pada Qila. Pertanyaan Kana sukses membuat Qila menurunkan kuluman senyumnya. Ia menatap Kana dan berkata "Baiklah kalau kau tidak mau" pasrah Qila. "Siapa juga yang bilang tidak?" Tanya Kana lagi menaikkan sebelah alisnya menatap Qila. Qila menjadi bingung sendiri sekarang, bukankah tadi Kana bilang tidak mau membantu, tapi saat di tanya kembali ia menjawab siapa yang tidak mau juga. Jadi sekarang itu Kana ingin membantunya atau tidak sih sebenarnya. "Haih jadi kau mau membantu ku atau tidak sih Kana?" Tanya Qila yang gemas akan tingkah muridnya ini. Kana terkekeh kecil melihat tingkah Qila. Kana menganggukkan kepalanya "Iya aku akan membantumu, tenang saja aku juga tidak suka jika tempat yang akan ku gunakan untuk kegiatan menuntut ilmu malah menjadi tempat yang di penuhi oleh hal mistis" tutur Kana dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Ingat bukan, Kana bukanlah orang yang dingin atau pun irit bicara. Hanya saja ia lumayan cuek dengan sekitarnya, sehingga ia jarang berkumpul atau sekadar mengobrol dan tersenyum pada teman-temannya. "Benarkah?!" Tanya Qila memastikan hal yang ia dengar tadi. Matanya besrseri bahagia mendengar perkataan Kana barusan, akhirnya keinginan dirinya selama ini dapat terpenuhi. Kana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Baiklah kalau begitu sekarang ayo ikut dengan ku ke atap tempat tadi kau bertemu dengan arwah yang mengganggu mu" ajak Qila pada Kana. Kana menoleh pada Qila, "Tapi sebentar lagi kan bel masuk bunyi" ujar Kana menghentikan langkah Qila. Qila menyengir kikuk mendengar penuturan Kana. Benar juga yang ia katakan, sebentar lagi kan jam pelajaran akan dimulai, akan sangat tidak baik jika ia mengajak muridnya ini membolos hanya demi egonya untuk membantu arwah-arwah yang bergentayangan untuk kembali ke alam mereka. "Benar juga, baiklah kau kelas IPA kan? IPA berapa tepatnya?" Tanya Qila pada Kana. "IPA2" jawab Kana singkat, setelah mengatakan itu Kana dan Qila pun bersama-sama meninggalkan ruangan itu. Kana pergi ke kelasnya untuk belajar, dan Qila menuju kelas lain untuk mengajar murid kelasnya. Kringg kringg kringg Suara yang di dambakan oleh setiap murid telah berbunyi, Kana sebenarnya sangat malas untuk keluar dari kelasnya. Namun karna Qila, sang guru baru yang menjabat sebagai temannya itu datang menghampiri dirinya untuk di ajak pergi bersama, akhirnya dengan terpaksa ia menurut. Qila mengajak Kana menuju kantin sekolah. Kantin, sebuah tempat yang selama bersekolah di sekolah ini, sama sekali tidak pernah ia datangi barang sekali pun. Qila mengajak muridnya ini kekantin untuk memberi nutrisi pada cacing-cacing di perut mereka tentunya. Setelah selesai makan. Kini Qila mengajak Kana untuk ke tempat yang sempat ingin mereka datangi sebelumnya, namun tertunda karna jam pelajaran yang akan segara di mulai. "Jadi memang benar tentang gosip anak yang bunuh diri di atap ini karna di selingkuhi oleh pacarnya dan parahnya lagi pacarnya berselingkuh dengan sahabat baiknya sendiri. Benar-benar miris sih, tapi menurutku perilakunya ini lebih ke kata bodoh sih" gumam Kana. Saat ini mereka sedang berjalan menuju ke atap sekolah dimana asal rumor gadis itu menyebar. "Hus kamu gak boleh bilang gitu tentang orang yang sudah meninggal, gak baik tau" ujar Qila menasihati Kana. Kana menggaruk tenguknya yang tidak gatal. Setelah beberapa saat mereka berjalan, kini mereka sudah sampai di atap tempat tadi Kana bertemu dengan arwah wanita menyeramkan. "Kamu balik depan aku balik belakang, buat jaga-jaga biar nanti kalau dia muncul kita gak di kagetin ok" titah Qila pada Kana. Kana menurut dan akhirnya berbalik ke arah depan dimana pagar-pagar pembatas atap sekolah ini terlihat. Sedangkan Qila berbalik ke arah sebaliknya, ia berbalik ke arah pintu masuk ke atap sekolah ini. ◇◇◇ Tidak lama setelah mereka membentuk posisi itu, Kana merasa udara di sekitarnya semakin menipis dan terasa sesak. Sedangkan Qila, ia merasa kepalanya mulai berdenyut nyeri saat ini. Hal itu merupakan pertanda bahwa ada arwah yang sedang berada di sekitar mereka saat ini. Kana dan Qila mempererat pegangan tangan mereka. Kana memejamkan matanya dan membacakan sebuah mantra lalu kembali membuka matanya, ia tidak kaget, saat ini netranya tidak menangkap siapa pun di hadapannya. Sedangkan Qila ia memejamkan matanya sekejap kemudian membukanya kembali. Dan kali ini Qila lah yang merasa kaget. Bagaimana tidak, netranya saat ini sedang menangkap sosok yang di temukan oleh Kana tadi pagi. Ia mempererat genggamannya yang sudah erat pada Kana. Kana yang merasa genggaman mereka semakin erat pun secara perlahan membalikkan badannya menatap ke arah yang di tatap oleh Qila. Dan netranya pun menemukan hal apa yang di temukan oleh netra Qila juga. "Dia mendekat" bisik Qila pada Kana yang ikut bungkam dengan apa yang ia lihat. Secara perlahan sosok itu mendekati Kana dan Qila namun ia mengarahkan kepalanya ke arah Kana, semakin lama jarak anrara Kana dan sosok itu semakin menipis. Hingga akhirnya dahi Kana dan sosok itu saling menempel. Pandangan Kana seketika menggelap, namun tidak lama karna pada hitungan berikutnya nampak cahaya yang membawanya ke suatu tempat. Saat ini ia sedang berada di sebuah ruangan, yang dapat ia pastikan merupakan sebuah kelas. Di dalam sana tidak lah terlalu banyak murid hanya ada beberapa tas saja yang terjejer di bangku kelas itu. Di dalam sana terdapat dua orang sejoli remaja yang sepertinya sedang berbincang. "Jadi gimana? Aku hamil loh dan ini anak kamu, tapi kamu sekarang bahkan masih pacaran sama Naran" tutur wanita yang duduk bergelayut manja di paha pria yang sedang duduk di salah satu bangku kelas itu. "Iya sayang aku tau, aku minta maaf karna udah bikin kamu hamil gini. Tapi kamu tenang aja, karna aku bakal mutusin Naran secepatnya. Kamu percaya kan sama aku?" Tutur pria yang duduk di bangku itu. Wanita itu menganggukkan kepalanya, kedua sejoli itu pun kembali bermesraan di dalam kelas yang sepi itu. Namun tanpa mereka sadari sedari tadi ada seseorang yang sedang memperhatikan perbuatan kedua sejoli itu dari kaca jendela kelas. Wanita yang berada di luar yang tak lain adalah Naran itu, menatap kedua sejoli itu dengan tatapan penuh amarah dan dendam. Wanita itu mengepalkan tangannya seraya berjalan ke dalam kelas itu dengan langkah coold. Perlahan pintu yang tadi tertutup itu pun mulai terbuka, kedua sejoli yang bermesraan itu pun seketika mematung saat mengetahui siapa yang telah membuka pintu kelas itu. Keringat dingin mulai mencucuri pelipis kedua sejoli itu dengan mata yang agak membola. "N...naran" gumam pria itu. Sedangkan yang di gumamkan oleh pria tadi hanyalah menyeringai menatap kedua sejoli yang menurutnya sangat menjijikkan ini. "Haha jadi ternyata selama ini kalian main di belakang gue?" Tanya Naran dengan nada mengintimidasi. Pria itu gelagapan, "I..ini gak seperti yang lo pikirin, gue gak ada hubungan sama dia beneran" bela pria itu  "Eleh alasan lo b******n! Gue gak mau tau, mulai sekarang kita putus! Dan untuk suntikan dana yang bakal bokap gue kasih ke perusahaan bokap lo, jangan harap suntikan itu bakal tetap berjalan. Karna gue akan minta bokap gue buat berhentiin itu semua" tutur Naran pada pria itu. "Gak, Ran gue mohon jangan Ran, lo satu-satunya harapan gue dan keluarga gue Ran. Plis jangan lakuin itu" mohon pria itu pada Naran. "Sorry Dim, tapi ini semua hasil dari perbuatan lo sendiri. Silahkan lo nikmati p*****r s****n itu gue gak akan ganggu kok. Gue permisi" ujar Naran pada pria yang di bernama Dimas itu. "Kasian banget lo Nar" gumam Kana prihatin melihat keadaan Naran. Tidak lama setelah mengatakan hal itu pandangan Kana kembali menggelap. Saat pandangannya sudah mulai normal Kana menemukan dirinya di sebuah tempat yang ia yakini adalah atap sekolah. Kana membalikkan tubuhnya namun ia terhenti ketika netranya menemukan orang yang tak asing baginya sedang berkelahi atau lebih tepatnya saling menjambak di atap sekolah itu. Kedua manusia yang saling menjambak itu tak lain adalah Naran dan selingkuhan dari Dimas. "Lo apa-apaan sih! Lepasin gue Lis!" Teriak Naran ketika rambutnya di jambak semakin keras. Namun Lisa bukannya melepas malah semakin mengeratkan jambakannya hingga akhirnya Naran pun ikut menjambak rambut bergelombang milik Lisa. Aksi jambak-jambakan itu berlangsung cukup lama, mereka melakukan hal itu bahkan sampai tidak menyadari bahwa hujan gerimis mulai turun mengguyur tubuh Naran dan Lisa. Namun hujan tidak lah menjadi penghambat dari aksi Naran dan Lisa di atap sekolah itu. ◇◇◇ "Wow udah hujan mereka masih lanjut aja jambak-jambakannya" gumam Kana salut melihat kelakuan Naran dan Lisa.  Mereka saling dorong dan jambak bahkan tidak sadar bahwa kini jarak antara tubuh Lisa dan pembatas atap telah semakin menipis. Lisa berniat mendorong Naran hingga jatuh, namun Naran lebih dulu menepis tangan Lisa. Kondisi yang sedang gerimis membuat tembok yang di tumpui oleh Lisa menjadi licin dan mengakibatkan tubuh Lisa kehilangan keseimbangan. Naran yang melihat Lisa hampir terjatuh pun dengan segera berlari dan mengulurkan tangannya berniat untuk membantu Lisa naik, namun saat tangan Lisa telah mencapai tangan Naran tiba-tiba saja. JDAARRR~ suara petir yang kuat mengagetkan Naran. Secara spontan Naran melepaskan tangannya dari Lisa dan menutup telinganya, karna memang Naran sebenarnya merupakan anak yang takut dengan petir. Tepat di saat Naran melepaskan tangan Lisa, Lisa pun terjatuh ke bawah, darah bercucuran deras dari pelipis dan muncrat dari mulutnya juga. Pemandangan yang sangat menyedihkan, Naran sangat kaget dengan hal ini namun tidak lama setelah Lisa terjatuh tiba-tiba saja ada yang membuka pintu atap itu. Di sana nampak Dimas yang berlari dengan cepat menuju ke arah Naran, ia melihat ke bawah tempat dimana Lisa terjatuh dan meninggal dengan mengenaskan. Dimas menggeram, ia menarik paksa tangan Naran untuk berdiri lalu menampar pipi Naran. ~PLAK~ suara tamparan yang di sebabkan oleh Dimas. Kana meringis melihat kelakuan Dimas pada Naran, tamparan Dimas membekas dengan jelas di pipi sebelah kanan milik Naran. Naran tersungkur kebelakang akibat tamparan itu. "Akhh" ringis Naran mengelus pipinya yang memanas akibat tamparan tadi. "Lo kenapa nampar gue hah?!" Bentak Naran pada Dimas. Dimas yang saat ini sudah berapi-api pun mencengkeram dagu Naran, "Gue nampar lo karna lo pantes dapet itu semua! Lo udah bunuh anak gue Naran! Walau gue butuh banget bantuan lo tapi gue tetep gak akan terima calon anak gue udah lo bunuh!" Bentak Dimas pada Naran. Naran mematung mendengar perkataan Dimas. "Lo itu pembunuh Naran! Lo pembunuh anak gue!" Bentak Dimas lagi. "G..gak! Gue bukan pembunuh! Bukan-bukann guee!" Teriak Naran histeris, kondisi Naran saat ini benar-benar memprihatinkan. "Eh ini kok gelap lagi sih" gumam Kana ketika sekelilingnya kembali menggelap. Namun tidak lama pandangannya kembali menjelas. Sekarang ia sedang berada di dalam sebuah rumah yang cukup mewah, tapi terdengar dengan jelas suara bentakan dua orang sejoli di dalam rumah mewah itu. Kana menemukan seorang pria dan wanita yang kisaran berumur 35-40 tahun sedang bertengkar di dalam rumah mewah itu. "Saya sama sekali gak selingkuh!" Teriak pria di dalam sana. "Kalau bukan selingkuh lalu apa?! Siapa wanita yang jalan sama kamu kemarin di mall itu mas!" Bentak wanita di dalam sana. "Karin! Kamu sudah keterlaluan, saya sama sekali tidak berselingkuh! Atau jangan-jangan ternyata kamu yang berselingkuh hah?!" Bentak pria itu. "Apa maksud kamu mas Bima! Kamu menuduh aku padahal sebenarnya kamu yang berselingkuh!" Amuk wanita yang ternyata bernama Karin itu. "Ma, Pa?" Panggil seorang anak remaja wanita yang tak lain adalah Naran dengan pelan pada dua orang yang sedang bertengkar itu. Karin dan Bima menolehkan wajah mereka ke arah Naran, Bima yang mendapati kedatangan putrinya pun menghentikan pertengkarannya dengan Karin dan memilih keluar meninggalkan istri dan anaknya di dalam rumah itu. Sepeninggal Bima, Karin pun menangis histeris, kakinya sudah tidak mampu menahan beban badannya lagi hingga akhirnya ia terjatuh ke lantai. Naran berlari dan membantu ibunya untuk berdiri, ia tidak tega melihat kondisi ibunya yang sangat mengenaskan saat ini. Padahal sebenarnya ia juga sedang merasa sangat terbebani, namun sebaiknya ia memendam bebannya itu saja sendiri saat ini. Kana yang menyaksikan semua adegan itu pun menjadi sangat sedih dan hampir menitikkan air matanya, namun dengan segera ia menepis air matanya menggunakan tangannya. Pandangan Kana kembali menggelap. Beberapa detik kemudian ia kembali menemukan dirinya di tempat yang tak lain adalah atap sekolah, lagi. "Mamah masuk rumah sakit jiwa karna mentalnya yang gak kuat dengan pengkhianatan Papah. Terus bullyan dan hinaan yang selalu di lontarkan sama anak-anak sekolah tentang gue. Gue gak sanggup hik" teriak Naran yang mulai mentikkan air matanya. Kriet~ suara pintu atap yang terbuka membuat Naran spontan menoleh ke arah seseorang yang membuka pintu itu. Ia menemukan orang yang selama ini ia cintai namun ternyata mengkhianatinya, ia adalah Dimas. Dimas berjalan ke arah Naran. Ia memeluk Naran dari belakang entah apa niatnya saat ini, baik Naran ataupun Kana tidak tau hal itu. Namun semakin lama Dimas semakin bersikap di luar batas pada Naran, Naran yang merasa tidak nyaman pun menepis tangan kurang ajar milik Dimas kemudian melepaskan dirinya dari pelukan Dimas. "Bejar" gumam Kana yang melihat tingkah Dimas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD