Bagian 03

2263 Words
Lo apa-apaan hah!" Bentak Naran pada Dimas. Dimas menyeringai menatap Naran, "Haha lo itu pembunuh gak usah sok suci. Gue gak masalah anak gue yang di Lisa meninggal, tapi dengan syarat lo harus gantiin Lisa ngandung anak gue. Jangan lupa lo yang udah bikin calon anak pertama gue meninggal" tutur Dimas. Naran membolakan matanya mendengar penuturan Dimas, "Lo jangan coba-coba buat macem-macem sama gue! Lo jangan mendekat, mundur Dim! DIMAS MUNDUR!" teriak Naran namun Dimas tidak menggubrisnya ia tetap mendekat ke arah Naran. "Lo udah bikin calon anak gue meninggal, lo juga harus pergi kayak anak gue. Nyawa di bayar nyawa Naran!" Teriak Dimas dengan lantang kemudian mendorong tubuh Naran hingga sempoyongan dan akhirnya terjatuh dari atap sekolah. Dimas yang menyadari perbuatannya pun berlari meninggalkan atap sekolah dengan cepat tanpa memperdulikan keadaan mayat Naran. Naran meninggal secara mengenaskan bahkan lebih mengenaskan dari Lisa beberapa hari sebelumnya. Pandangan Kana kembali memburam dan beberapa detik setelahnya ia kembali terbangun. Ia mendapati Qila yang sedang menunggu dirinya terbangun di ruang guru bersama beberapa guru lain. "Eungh" lenguh Kana. Qila yang menyadari Kana telah sadar pun segera berhamburan memeluk Kana dan menghujami Kana dengan berbagai pertanyaan. "Tenanglah Qila, aku tidak apa-apa" tutur Kana dengan tujuan agar Qila tidak terlalu khawatir akan dirinya lagi. Kana menceritakan segala kejadian yang ia alami dan liat dalam dunia mimpinya barusan. Qila mengangguk mengerti mendengar perkataan Kana. "Kasian banget hidup Naran saat dia masih hidup ternyata" gumam Qila yang kaget atas cerita Kana barusan. Kana menganggukkan kepalanya setuju dengan pendapat Qila. "Jadi sekarang kita mesti ngapain?" Tanya Kana bingung. "Ya kita harus bantu tenangin arwah Naran lah" jawab Qila. Kana memutar bola matanya malas menatap Qila. "Iya tau maksudnya caranya itu loh gimana?" Tanya Kana dengan lebih rinci pada Qila. Qila semacam berfikir sebentar kemudian kembali menatap Kana. "Ikut aku" ajak Qila kemudian menggandeng Kana berjalan menuju ruang kepala sekolah yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruang guru.  "Ngapain ke sini?" Tanya Kana yang heran dengan maksud Qila membawa dirinya ke ruang kepala sekolah ini. "Kita mau nenangin arwah Naran, dan caranya ya kita harus cari tau tentang Dimas pacarnya Naran yang kamu ceritain itu Kana" jawab Qila. Kana mengangguk paham. "Hm yaudah ayo masuk, eh tapi pak kepalanya ada gak?" Tanya Kana yang tiba-tiba teringat akan hal itu. "Ada kok, nanti mau rapat soalnya jadi dia pasti hadir" ujar Qila. Mereka memasuki ruang kepala sekolah, tapi sebelum itu mereka mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah di persilahkan barulah mereka masuk dan mengungkapkan hal yang mereka inginkan. "Jadi kenapa kalian menemui saya?" Tanya pak Rudi, kepala sekolah SMA Bintang Cendekia. "Jadi begini pak kami bermaksud ingin melihat buku daftar tahunan siswa sekolah ini" pinta Qila pada Pak Rudi. Pak Rudi mengerutkan keningnya 'untuk apa?' itulah mungkin maksud dari raut wajah Pak Rudi. Qila yang mengerti akan raut wajah Pak Rudi pun mulai menjelaskan lebih rinci tentang maksudnya. Setelah selesai menjelaskannya Pak Rudi pun mempersilahkan Kana dan Qila untuk menggunakan buku itu.  "Ini bukunya" tutur Pak Rudi seraya menyerahkan sebuah buku bersampul hitam yang sangat tebal. Qila menerimanya, "Terimakasih Pak, jika sudah selesai kami gunakan akan segera kami kembalikan" tutur Qila. Pak Rudi tersenyum, "Tidak perlu terburu-buru mengembalikannya. Gunakan buku itu sebaik mungkin, saya yakin kalian bisa menjaganya dengan baik" titah Pak Rudi pada Kana dan Qila. Qila mengulas senyum yang indah dan berterimakasih pada Pak Rudi. Sedangkan Kana setia dengan wajah cueknya. Setelah selesai Kana dan Qila pun berpamitan pada Pak Rudi dan bergegas ke ruangan Qila untuk mencari data-data diri tentang Dimas. Lembar demi lembaran di buka oleh Kana, tidak membutuhkan waktu lama hingga ia menemukan seseorang yang mereka cari. "Qil ini dia bionya Qil" ujar Kana dengan cepat. Qila mengalihkan pandangannya pada biodata yang di maksud Kana.  "Yakin ini?" Tanya Qila pada Kana. Kana menganggukkan kepalanya mantap. Mereka mulai membaca setiap rinci dari biodata murid bernama Dimas itu. Setelah selesai membacanya mereka pun menelpon telpon rumah yang tertera di biodata itu. Sebenarnya bisa saja mereka langsung mengunjungi alamat di biodata itu, tapi mereka urungkan sebab bisa saja Dimas sudah pindah dari alamat itu. Setelah beberapa kali mencoba telfonnya pun tersambung. Qila berbincang sebentar di sana kemudian setelah menutup telfonnya Qila pun mengajak Kana untuk ikut dengannya ke rumah Dimas sepulang sekolah nanti. Setelah kelas terakhir berakhir para murid pun berbondong keluar dari kelas mereka. Saat ini Kana dan Qila sedang berjalan menuju parkiran tempat dimana mobil Qila terparkir. Ya sejak kelas selesai Qila memang sudah menunggu Kana di depan kelas mereka. ◇◇◇ Kurang lebih 40 menit mereka menempuh perjalanan ke rumah Dimas kini mereka telah sampai di sebuah perumahan mewah. "Yakin ini rumahnya?" Tanya Kana pada Qila. Qila menganggukkan kepala sebagai jawaban. Mereka memasuki rumah dengan pagar bercat hitam itu dan mulai mengetuk pintu bercat putih dari rumah itu. Kelek~ Pintu bercat putih itu terbuka, menampilkan seorang pria berusia kurang lebih 20 tahunan. "Dengan siapa?" Tanya Dima, sopan pada Qila dan Kana.  Qila dan Kana di persilahkan masuk dan memperkenalkan diri mereka di dalam sana. Setelah menjelaskan alasan kedatangan mereka ke sana raut wajah Dimas yang semula tenang dan biasa saja perlahan berubah menjadi khawatir bercampur cemas dan amarah.  Dimas menatap tidak percaya ke arah Qila yang menjelaskan segala kejadian yang di alami Kana di alam mimpinya. "Apa benar yang kalian katakan itu?" Tanya Dimas menatap serius ke arah Qila. Qila mengangguk mantap pada Kana. Dimas menghembuskan napas berat. "Haha lalu apa yang bisa ku lakukan memangnya?" Tanya Dimas dengan tawa garing. Bisa-bisanya ia masih bisa tertawa seperti itu setelah melakukan kejahatan k**i yaitu membunuh seseorang, apalagi orang yang ia habisi adalah mantan pacarnya sendiri. "Kami ingin membantu Naran untuk kembali ke alamnya, jadi kami minta tolong pada mu. Tolong ikut kami untuk menemui roh Naran yang bergentayangan tidak tenang akibat perbuatan mu padanya dulu" pinta Qila namun lebih terdengar seperti sebuah perintah. "Aku? Sayang sekali aku tidak akan datang" ujar Dimas menghentikan tawanya. Qila dan Kana mengerutkan dahi mereka mendengar perkataan Dimas. "Maaf kak apa maksud kakak tidak mau ikut bersama kami? Apa kak Dimas tidak ingin kak Naran kembali ke alamnya dan beristirahat dengan tenang di sana?" Tanya Kana menatap intens pada Dimas. "Ya, aku ingin dia menderita. Biarkan saja jika ia bergentayangan, aku tidak perduli. Dia sudah membunuh calon anak ku, bahkan dia juga menyebabkan Lisa, pacar ku itu meninggal" ujar Dimas. Ujaran Dimas sontak membuat Kana membolakan matanya. Bagaimana mungkin Dimas berpikir cetek seperti itu. Apa ia tidak memikirkan hal-hal yang pernah ia lalui bersama Naran yang notabenya pacar sekaligus calon tunangan dirinya. "Maaf kak Dimas, tapi apa kakak yakin gak mau bantuin kak Naran? Apa kakak gak mau lihat mantan calon tunangan kakak tenang di alamnya?" Tanya Kana dengan penuh tanda tanya dalam setiap kalimatnya. Dimas terdiam sebentar kemudian kembali menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Kana dan Qila menghela napas berat. "Yasudah, tapi kakak jangan menyesal kalau semisalnya kakak gak bisa tenang karna rasa bersalah yang besar itu menumpuk di hati kakak" tutur Kana memperingati Dimas. Namun Dimas hanya acuh saja pada perkataan Kana itu. Saat hendak melangkahkan kaki mereka keluar dari rumah Dimas, tiba-tiba saja Dimas memanggil Kana dan Qila kembali. "Tunggu" ujar Dimas menghentikan langkah Kana dan Qila yang sudah hampir mencapai gagang pintu rumah Dimas. Kana dan Qila berbalik menatap Dimas yang juga menatap mereka. "Ada apa?" Tanya Qila pada Dimas. Dimas menghembuskan napasnya pasrah kemudian berkata, "Baiklah aku akan bertemu dengan arwah Naran yang kalian maksud itu" pasrah Dimas. Detik berikutnya sebuah senyum manis pun terbit dari wajah Kana dan Qila. "Baiklah kalau begitu besok tolong datanglah ke sekolah dan kita bertemu di depan gerbang sekolah yah" ujar Qila. Dimas menganggukkan kepalanya. Sebenarnya aku tidak ingin membantu kalian ataupun Naran, tetapi jika aku tidak melakukannya maka aku takut arwah Naran justru akan mengganggu ku dan keluarga ku nantinya~ batin Dimas. Ia tidak tau saja bahwa Kana dapat membaca pikiran seseorang hanya dengan menatap wajah dari orang itu. Kana menghela napas. "Bodoh sekali" gumam Kana dengan suara kecil sekecil mungkin hingga Qila pun tidak sadar akan apa yang di katakan oleh Kana barusan. "Yasudah kalau begitu kami kembali dulu sampai jumpa Dimas" ujar Kana pada Dimas. Kana dan Qila pun meninggalkan rumah Dimas, Qila sudah merasa sangat senang karna berhasil dengan langkah pertama rencana mereka. Sedangkan Kana, ia sama sekali tidak sesenang yang di bayangkan.  Ada rasa khawatir yang menghantui pikirannya. Namun ia menepis pikiran itu, tidak ingin terlalu membebani pikirannya sendiri saat ini.  ~~ Keesokan harinya, sesuai dengan janji mereka kemarin. Dimas bertemu dengan Kana dan Qila di depan gerbang SMA Bintang Cendekia. "Apa kau sudah lama menunggu?" Tanya Qila pada Dimas. Dimas menggelengkan kepalanya, "Tidak aku baru saja tiba" ujar Dimas. Qila tersenyum kemudian mengajak Kana dan Dimas kembali ke atap sekolah tempat dimana insiden Naran beberapa tahun lalu terjadi. Klek~ suara pintu atap yang di buka oleh Qila. Kana merasakan aura di sekitarnya dingin dan pasokan oksigen juga serasa semakin menipis. Itu artinya arwah Naran sedang berada di sekitar mereka saat ini. ◇◇◇ Benar saja dengan firasat Kana, saat ini Naran memang sedang berada di dekat mereka lebih tepatnya di dekat Dimas. Kana memejamkan matanya kemudian membukanya kembali, ia terlonjak kaget saat pandangannya mengarah ke Dimas. Ya Dimas, Kana saat ini tengah melihat hantu Naran yang berada di dekat Dimas. Bukan hanya Kana, Qila pun juga sama. Ia juga melihat hantu Naran yang sedang bergelayut di lengan milik Dimas. Bukan bergelayut manja sih, lebih tepatnya menggenggam erat lengan Dimas. "Ada apa?" Tanya Dimas yang heran dengan tingkah Kana dan Qila. "D..di samping mu" ujar Qila dengan terbata-bata. Sebenarnya ia juga takut melihat kondisi dari hantu Naran sekarang. "Ada apa di samping ku? Tidak ada apa-apa di sini" ujar Dimas celingak-celinguk ke arah kanan dan kiri tubuhnya. "Di sisi kanan mu terdapat arwah Naran" jawab Kana dengan jelas. Jika tadi Kana dan Qila yang terlonjak kaget, maka kini Dimas hanya beroh ria. Dimas menunjukan sikap yang sangat tenang bahkan tidak ada raut khawatir atau pun takut yang terpancar di wajahnya. "Dimas apa kau tidak takut dengam arwah Naran?" Tanya Qila pada Dimas. Dimas mendelik sekilas, "Untuk apa aku takut? Aku sama sekali tidak ada salah padanya. Justru ia lah yang membuat masalah pada ku, dia sudah membunuh anak dan pacar ku" jawab Dimas dengan enteng. Sungguh di luar dugaan Qila. Qila berpikir bahwa Dimas telah menyadari kesalahannya dan akan meminta maaf pada Naran sekarang, dan dengan begitu Naran akan dapat pergi ke alamnya dan beristirahat dengan tenang di sana. Namun sayangnya perkiraan Qila sepertinya telah salah. Sedangkan Kana, ia memang sudah menduga hal ini, itu sebabnya ia tidak sebahagia Qila pada saat Dimas bersedia mendatangi SMA Bintang Cendekia dan bertemu dengan Naran. "Jadi jika kau merasa tidak bersalah mengapa kau bersedia datang kemari?!" Tanya Qila dengan nada gusar pada Dimas. Dimas menunggingkan senyum, lebih tepatnya seringaian. "Aku tidak mau hantu wanita itu nantinya justru akan mengganggu ketenangan hidup ku dan keluarga ku, itu sebabnya aku bersedia datang kemari bersama kalian" jawab Dimas lagi-lagi dengan tenang. Tidak tau saja Dimas bahwa sekarang hantu Naran sedang menyeringai seram mendengar setiap perkataan dari Dimas barusan. "Dimas apa kau sungguh tidak merasa bersalah atas perbuatan mu dulu pada Naran?" Tanya Kana dengan serius pada Dimas dan lagi Dimas menganggukkan kepalanya mantap. "Huft" Kana menghela napas.  "Naran kau ingin berbicara dengannya? Masuklah ke dalam tubuhku dan katakan apa yang ingin kau sampaikan pada si b******k ini" ujar Kana dengan mantap pula pada hantu Naran yang sedari tadi menatap tajam ke arah Dimas. Dimas mengkerutkan dahi mendengar perkataan Kana. Tidak lama setelah mengatakan itu tiba-tiba saja tubuh Kana mendelik, Qila tidak terlalu heran ataupun kaget karna memang ia melihat hantu dari Naran yang perlahan berjalan ke arah tubuh Kana. "Dimas" ujar Kana. Lebih tepatnya roh Naran yang berada dalam tubuh Kana. Dimas yang mendengar dirinya di panggil seperti itu pun menampilkan ekspresi kaget. Suara itu, cara memanggil itu dan cara menatap yang sangat di kenali oleh Dimas. Suara yang tak lain adalah suara Naran, cara memanggil yang merupakan khas Naran dan tatapan yang selalu di layangkan oleh Naran. Dimas masih mengingat jelas tentang Naran sang mantan kekasih dj dalam ingatannya dengan jelas. "N...naran" gumam Dimas. Dimas menatap tidak percaya ke arah tubuh Kana yang di kendalikan oleh roh Naran. "Ya gue Naran" jawab Naran. Tatapan mata yang tidak pernah Qila temukan dari Kana kini ia melihat tatapan itu terpancar dari Kana.  "Gak, gak mungkin lo Naran. Naran itu udah meninggal mending lo gak usah pura-pura Kana" ujar Dimas memutar bola mata malas. Naran menyunggingkan senyumnya menatap Dimas. "Dimas lo udah bunuh gue. Lo harus tanggung jawab, lo harus mati juga, laki-laki b******k kayak lo cocoknya itu di neraka hahahah" ujar Naran kemudian tertawa mengerikkan. Tawa mengerikkan yang menggema di atap sekolah yang sepi itu. "Haha lo jangan ngada-ngada. Gue gak salah atas kematian lo! Gue cuman gak suka karna lo calon anak gue meninggal! Lo pantes dapet itu Naran lo pantes dan gue gak akan pernah minta maaf sama lo ataupun ikut sama lo. Gue mau lo menderita walau lo udah jadi seorang arwah yang bergentayangan kayak gini!" Tutur Dimas dengan suara keras. Naran tidak menjawab lagi ia dengan segera keluar dari tubuh Kana. Setelah roh Naran keluar dari tubuh Kana, kini kesadaran Kana telah kembali. Kana mengerjabkan matanya untuk menyesuaikan penglihatannya dengan pencahayaan di atap itu. "Kana?" Tanya Qila kemudian membantu Kana yang sempat terjatuh untuk kembali berdiri. "Gimana? Naran udah pergi ke alamnya atau apa?" Tanya Kana dengan bertubi-tubi pada Qila. Qila mulai menceritakan kembali yang baru saja terjadi pada mereka di atap sekolah itu pada Kana. Kana mencerna perkataan Qila kemudian menatap tajam ke arah Dimas yang ternyata sedang menatapnya juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD