5. Ambang Pintu Mansion Lockwood

1495 Words
Mobil SUV hitam itu merayap membelah kegelapan. Jalanan menuju puncak The Black Ridge tidak rata; aspalnya tua dan berkelok-kelok di antara barisan pohon cemara hitam yang dahan-dahannya melengkung ke arah jalan, seperti tangan-tangan raksasa menggapai mobil kami. Di luar sana, kabut Oakhaven semakin pekat, mengubah dunia menjadi gumpalan abu-abu yang tak berujung. Lampu sorot mobil memantulkan bayangan-bayangan aneh di atas kaca jendela. Aku duduk menyandarkan kepala di kaca yang dingin, memandangi pantulan gaun pengantinku yang kini tampak seperti onggokan kain kafan. Leonard tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak kami meninggalkan pusat kota. Tangannya mencengkeram kemudi dengan santai, tapi aku bisa merasakan ketegangan yang memancar dari tubuhnya. Dia sesekali melirik ke arah kaca spion tengah, bukan untuk melihat jalan di belakang, melainkan untuk mengamatiku. Tatapan itu terasa seperti sentuhan fisik yang merayap di kulitku. Akhirnya, gerbang besi raksasa muncul dari balik kabut. Tingginya hampir empat meter, puncaknya dihiasi tombak-tombak runcing dengan ukiran lambang keluarga Lockwood: seekor burung pemangsa yang mencengkeram mawar. Tanpa ada penjaga yang terlihat, gerbang itu terbuka sendiri dengan suara derit logam yang memilukan. Mobil terus melaju menyusuri jalan setapak berkerikil hingga akhirnya, mansion itu muncul. The Black Ridge. Bangunan itu adalah perpaduan antara kemegahan era kolonial dan kedinginan arsitektur modern yang dipaksakan. Dindingnya terbuat dari batu granit gelap yang tampak basah oleh embun. Jendelanya tinggi dan sempit, memantulkan kegelapan di luar sehingga tidak ada yang bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Tidak ada lampu taman yang hangat; hanya lampu sorot putih yang dipasang di setiap sudut atap, membuat bangunan itu tampak seperti penjara daripada rumah tinggal. Leonard mematikan mesin. Kesunyian yang tiba-tiba datang terasa jauh lebih menakutkan daripada deru mesin tadi. "Turunlah," perintahnya singkat. Dia tidak menungguku; dia langsung keluar dan berjalan memutar untuk membukakan pintuku. Saat aku melangkah keluar, udara dingin puncak bukit langsung menyerang bahuku yang terbuka. Aku menggigil hebat. Leonard melepaskan jas tuksedonya dan menyampirkannya di bahuku. Jas itu terasa berat dan hangat, membawa aroma cendana dan tembakau mahal yang mulai kukaitkan dengan rasa takut. Dia tidak meminta izin; dia hanya meletakkannya di sana, klaim diam-diam bahwa suhu tubuhku berada di bawah kendalinya. "Selamat datang di rumahmu, Vina," ucapnya rendah. Kami berjalan menuju pintu kayu ek raksasa di depan. Saat pintu itu terbuka, di depanku terbentang aula utama yang luar biasa luas. Lantainya terbuat dari marmer hitam yang sangat mengkilap hingga aku bisa melihat bayangan gaun pengantinku dengan jelas di bawah kakiku. Lampu gantung kristal raksasa menggantung di langit-langit setinggi sepuluh meter, tapi cahayanya tidak hangat—cahaya putih yang pucat dan steril, membuat setiap sudut ruangan tampak tajam dan tidak bersahabat. Suasana di dalam sini sangat aneh. Baunya seperti campuran kayu cedar tua, lilin lebah, dan sesuatu yang sangat modern—mungkin sistem penyaring udara canggih. Tidak ada debu, tidak ada barang yang diletakkan sembarangan. Semuanya berada pada tempatnya dengan presisi yang mengerikan. "Nyonya Lockwood," suara parau mengejutkanku. Dari balik bayangan pilar, muncul seorang pria tua dengan seragam pelayan berwarna kelabu gelap. Wajahnya datar, hampir tanpa ekspresi, dengan mata yang tampak selalu waspada. "Ini Silas, kepala pelayan di sini," Leonard memperkenalkan pria itu tanpa menoleh. "Dia telah mengabdi pada keluarga Lockwood sejak zaman kakekku. Apa pun yang kau butuhkan, kau bisa mengatakannya padanya. Tapi ingat, Silas hanya menerima perintah dariku." Aku menelan ludah. Kalimat terakhir Leonard adalah penegasan bahwa Silas bukan pelayan untuk membantuku, melainkan pengawas untuk menjagaku. "Kamar sudah disiapkan, Tuan," ucap Silas dengan suara yang tidak memiliki emosi. "Bawa barang-barangnya ke kamar atas. Aku akan mengantar istriku sendiri," sahut Leonard. Dia meraih tanganku, jemarinya yang panjang mengunci jemariku dengan erat, dan mulai menuntunku menaiki tangga melingkar yang megah. Setiap langkah yang kami ambil bergema di aula kosong itu. Aku merasa seperti sedang berjalan menuju kedalaman perut monster. Kami melewati koridor-koridor panjang yang dindingnya dihiasi oleh potret-potret leluhur Lockwood. Mata mereka dalam lukisan itu tampak mengikuti setiap langkahku, seolah menghakimi wanita asing yang berani masuk ke dalam garis keturunan mereka yang gelap. Di sepanjang koridor, aku menyadari ada sesuatu yang tidak biasa. Di sudut-sudut langit-langit yang tersembunyi, ada lampu merah kecil yang berkedip teratur. Kamera pengawas. Sensor gerak. Teknologi keamanan rumah ini jauh lebih canggih daripada mansion manapun di Oakhaven. "Kenapa ada begitu banyak kamera di dalam rumah sendiri?" tanyaku, suaraku bergema lirih di koridor sunyi itu. Leonard tidak berhenti melangkah. "Dunia ini berbahaya, Vina. Orang-orang ingin apa yang kumiliki. Dan sekarang, aku memiliki sesuatu yang sangat berharga di dalam rumah ini. Aku tidak ingin kehilangan apa yang sudah menjadi milikku." Kalimat itu membuat jantungku berdegup kencang. Dia tidak sedang membicarakan harta atau dokumen rahasia. Dia sedang membicarakan aku. Kami berhenti di depan sebuah pintu ganda yang terbuat dari kayu jati berukir rumit. Leonard membukanya, dan kami masuk ke dalam kamar utama. Ruangan itu sangat luas, dengan ranjang king-size di tengah, menghadap langsung ke jendela besar yang menampilkan pemandangan hutan cemara di bawah sana. Warna ruangan itu didominasi abu-abu tua dan biru dongker, menciptakan atmosfer yang sangat maskulin dan mencekam. Ada perapian besar di sudut ruangan, apinya sudah menyala, namun panasnya tidak cukup untuk mengusir rasa dingin yang ada di hatiku. "Ini kamarmu sekarang," Leonard melepaskan genggamannya dan berjalan menuju meja kecil yang di atasnya terdapat botol kristal berisi minuman keras. Dia menuangkan cairan berwarna ambar itu ke dalam gelas. "Dan kamarku juga." Aku berdiri mematung di tengah ruangan, masih terbalut jas tuksedonya. "Kau bilang... kau mencintai wanita lain. Kau bilang ini hanya pencitraan." Leonard menyesap minumannya, matanya menatapku dari balik bibir gelas. Cahaya api perapian memantul di matanya, menciptakan kilatan yang sulit dibaca. "Aku memang mengatakannya. Tapi itu tidak berarti kau bebas untuk melakukan apa pun yang kau mau. Di bawah atap ini, peraturanku adalah hukum." Dia meletakkan gelasnya dan berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuatku ingin mundur, hingga akhirnya punggungku membentur tiang ranjang yang keras. Leonard berdiri tepat di depanku, begitu dekat hingga aku bisa merasakan panas yang memancar dari tubuhnya. Dia mengangkat tangannya, perlahan melepaskan kerudung pengantinku yang masih menempel di rambut. "Gaun ini sangat cantik padamu," bisiknya. Tangannya kemudian merayap ke leherku, jari telunjuknya menyentuh kalung perak pemberian Daniel yang masih melingkar di sana. "Tapi kalung ini... sangat mengganggu pemandangan." Dengan satu sentakan cepat dan kuat, Leonard menarik kalung itu. Rantai peraknya putus, meninggalkan rasa perih di kulit leherku. "Apa yang kau lakukan?!" teriakku, air mata mulai menggenang. Aku mencoba merebut kalung itu kembali, namun Leonard mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Hantu tidak punya tempat di The Black Ridge, Vina," ucapnya dengan nada yang sangat tenang, namun matanya berkilat penuh amarah. Dia berjalan menuju jendela, membukanya sedikit, dan melemparkan kalung itu ke kegelapan hutan di bawah sana. "TIDAK!" aku berlari menuju jendela, namun Leonard menangkap pinggangku dan memutar tubuhku dengan kasar hingga aku terduduk di tepi ranjang. "Dengar baik-baik," Leonard membungkuk, wajahnya hanya beberapa inci dari wajahku. Napasnya berbau alkohol dan cendana. "Aku sudah membayar harga yang sangat mahal untuk membawamu ke sini. Aku memberimu perlindungan yang tidak bisa diberikan oleh ayahmu atau kakakmu yang pengecut itu. Sebagai imbalannya, aku menginginkan ketaatan mutlak. Jangan pernah menyebut namanya lagi. Jangan pernah mencoba mencari benda-benda dari masa lalumu. Mulai malam ini, hidupmu dimulai dari nol." Aku terisak, menutupi wajahku dengan tangan. Rasa kehilangan Daniel terasa begitu nyata kembali, seolah-olah dia baru saja mati untuk kedua kalinya malam ini. Leonard berdiri tegak kembali. Dia tidak menunjukkan rasa kasihan sedikit pun. Dia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. "Mandilah. Silas sudah menyiapkan air hangat dan pakaian tidurmu di kamar mandi. Aku punya beberapa dokumen yang harus kuselesaikan di ruang kerja. Saat aku kembali, aku ingin melihatmu sudah berada di atas ranjang ini." "Kau... kau tidak akan..." suaraku bergetar. Leonard berhenti di kancing terakhir, menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku tidak akan menyentuhmu malam ini, Vina. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena aku ingin kau sadar sepenuhnya siapa pemilikmu sekarang. Aku ingin kau merasakan setiap detik kedinginan di rumah ini sampai kau sendiri yang memohon kehangatan dariku." Dia berbalik dan melangkah keluar kamar, menutup pintu ganda itu dengan dentuman yang berat. Aku mendengar suara kunci otomatis yang berdenting pelan. Klik. Aku terkunci. Aku bangkit dan berlari menuju pintu, mencoba memutar gagangnya. Benar. Pintu itu dikunci dari luar. Aku berlari ke arah jendela, mencoba membukanya, namun jendela itu hanya bisa terbuka sedikit—tidak cukup untuk dilewati tubuh manusia, dan kacanya terasa sangat tebal, mungkin anti-peluru. Aku terduduk di lantai marmer yang dingin, di tengah ruangan mewah yang sekarang terasa seperti sel isolasi. Di luar sana, angin hutan The Black Ridge menderu, memukul-mukul kaca jendela seolah menertawakan kemalanganku. Di dalam katedral tadi, aku merasa seperti sedang menghadiri pemakamanku sendiri. Sekarang, aku menyadari bahwa prosesi itu sudah selesai. Aku sudah berada di dalam liang lahatnya. Dan liang lahat ini bernama Lockwood. Aku memeluk lututku, menatap gaun pengantin sutra putihku yang kini tampak kusam di bawah cahaya lampu yang pucat. Besok, aku harus bangun dan menghadapi kenyataan bahwa nama panggilanku, rahasia tesisku, dan masa depanku telah dirampas oleh pria yang sekarang sedang duduk di suatu tempat di rumah ini, mengawasiku lewat layar monitor. Selamat malam, Vina. Selamat datang di akhir duniamu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD