Leonard Lockwood tidak percaya takdir. Takdir adalah alasan orang lemah saat mereka gagal. Di dunianya yang penuh angka dan akuisisi berdarah, segalanya harus direbut dan dikendalikan. Namun, saat dia berdiri di balkon ruang kerjanya yang luas di The Black Ridge malam ini, menatap kabut yang menyelimuti hutan cemara, dia tidak bisa tidak memikirkan satu-satunya pengecualian dalam hidupnya: Davina.
Atau seperti yang selalu ia sebut dalam keheningan batinnya: Vina.
Leonard menyesap wiski kunonya. Pikirannya melayang mundur, menembus kabut waktu menuju sepuluh tahun yang lalu. Saat itu, dia bukanlah penguasa Aethelgard yang ditakuti seperti sekarang. Dia hanyalah seorang pemuda ambisius yang sedang menyelesaikan gelar masternya, terjebak dalam ekspektasi keluarga Lockwood yang menyesakkan.
Saat itu adalah musim hujan yang buruk di Oakhaven. Leonard ingat betul hari itu. Dia baru saja keluar dari perpustakaan universitas ketika dia melihat kerumunan kecil di depan gerbang utama. Neneknya, Silvia Lockwood—satu-satunya manusia yang pernah memberinya cinta tanpa syarat—telah memaksakan diri untuk mengunjunginya ke kampus tanpa pengawalan yang memadai. Penyakit jantungnya kambuh.
Leonard berlari, jantungnya berdegup kencang. Namun, sebelum dia sampai di sana, dia melihat seorang gadis muda berlutut di atas aspal yang basah. Gadis itu mengenakan jaket kuning cerah yang kontras dengan langit abu-abu. Dia tidak peduli roknya kotor oleh lumpur atau rambutnya lepek karena gerimis. Tangannya gemetar tapi tetap bergerak cekatan. Gadis itu memberikan pertolongan pertama, menyangga kepala Silvia, membisikkan kata-kata penenang hingga napas Silvia kembali teratur.
Gadis itu adalah Davina Montclair.
Leonard berhenti hanya beberapa langkah dari mereka. Dia tidak langsung menghampiri. Beberapa detik dia hanya berdiri, terpaku. Dia melihat ketulusan yang belum pernah dia temui di kalangan elit Oakhaven. Davina tidak tahu siapa wanita tua itu. Dia tidak tahu bahwa dia sedang menolong orang paling berpengaruh di Aethelgard. Dia melakukannya karena memang begitulah Vina.
Sejak hari itu, Leonard mulai mengawasinya. Penasaran dulu. Kemudian obsesi. Dia mengumpulkan setiap fragmen tentang hidupnya: tesisnya, kesukaannya pada mawar putih, hingga bagaimana dia tertawa saat bersama pria bernama Daniel Bennet itu. Leonard melihat Davina memberikan hatinya pada orang lain, dan itu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dia kendalikan.
Hingga saat itu tiba. Hari di mana Silvia Lockwood berada di ranjang kematiannya di mansion The Black Ridge.
Kamar itu berbau antiseptik dan bunga yang mulai membusuk. Leonard duduk di samping tempat tidur neneknya, menggenggam tangan wanita tua yang tampak rapuh.
"Leonard..." suara Silvia nyaris menyerupai bisikan angin.
"Aku di sini, Nek," sahut Leonard, suaranya yang biasanya dingin kini terdengar parau.
Silvia menatap Leonard dengan mata yang mulai kabur, namun penuh permohonan. "Cari gadis itu, gadis di gerbang kampus sepuluh tahun lalu."
"Keluarga Lockwood... kita memiliki terlalu banyak kegelapan di dalam darah kita. Kita selalu menghancurkan apa yang kita cintai. Tapi gadis itu... Davina... dia punya cahaya yang berbeda. Hanya dia yang bisa menyelamatkanmu, Leonard. Cari dia. Bawa dia ke rumah ini. Lindungi dia... tapi jangan hancurkan dia."
Silvia mengembuskan napas terakhirnya tepat setelah kalimat itu selesai. Tangan yang menggenggam Leonard mendadak lemas.
Leonard tidak menangis. Seorang Lockwood tidak dididik untuk menangis. Tapi di dalam dadanya, sebuah janji sudah mengakar. Dia menganggap wasiat neneknya bukan sebagai saran, melainkan sebagai hukum suci. Davina Montclair harus menjadi miliknya. Bukan karena cinta, tapi karena kebutuhan yang lebih gelap dari itu. Baginya, memiliki Davina adalah satu-satunya cara untuk menghormati Silvia.
Jika harus menghancurkan siapa pun yang menghalangi—termasuk dokter residen bernama Daniel Bennet—Leonard tidak akan ragu.
Leonard memutar gelas wiskinya, senyum tipis muncul di wajahnya. Dia teringat bagaimana Daniel Bennet "menghilang" dari peta Oakhaven. Kecelakaan bersih. Tragedi sempurna. Leonard telah menunggu selama dua tahun, membiarkan Davina berduka, membiarkan keluarga Montclair jatuh ke dalam lubang hutang yang ia ciptakan sendiri, sampai akhirnya mangsanya tidak punya tempat lagi untuk lari selain ke dalam pelukannya.
Dia berjalan menuju meja kerjanya yang besar, membuka sebuah laci rahasia yang terkunci dengan kode biometrik. Di dalamnya terdapat sebuah folder tebal berisi foto-foto Davina selama sepuluh tahun terakhir. Foto saat dia sedang belajar di perpustakaan, foto saat dia sedang tertawa di taman, hingga foto sembunyi-sembunyi saat dia sedang menangis di makam Daniel.
Leonard mengusap permukaan salah satu foto di mana Davina tampak sedang tersenyum lebar. "Nenek salah soal satu hal," bisiknya. "Aku tidak akan menghancurkanmu, Vina. Aku akan memilikimu. Dan di rumah ini, kau tidak akan pernah punya alasan untuk menangis lagi karena pria lain."
Dia meletakkan folder itu kembali dan menatap layar monitor besar yang terpasang di dinding. Layar itu menampilkan kamera pengawas di kamar utama.
Di sana, di atas ranjang king-size yang luas, Davina sedang meringkuk. Dia masih mengenakan pakaian tidur sutra yang disediakan Silas, wajahnya terkubur di balik bantal. Bahunya naik turun secara teratur, menunjukkan bahwa dia sedang menangis dalam diam.
Leonard memperhatikan pemandangan itu selama beberapa menit tanpa berkedip. Ada rasa puas yang aneh saat melihat Davina berada di tempat tidurnya, di dalam rumahnya, terkunci di bawah kekuasaannya. Davina harus mengeluarkan semua kenangan tentang Daniel Bennet sebelum Leonard membuat kenangan baru.
"Kau akan segera mengerti, Vina," gumam Leonard sambil mematikan layar monitor. "Cinta yang kau agungkan itu hanya akan membuatmu lemah. Tapi obsesiku akan menjagamu selamanya."
Dia melangkah keluar dari ruang kerja, berjalan menyusuri koridor yang gelap menuju kamar utama. Silas berdiri di dekat tangga, membungkuk saat Leonard lewat.
"Pastikan pengamanan perimeter ditingkatkan malam ini, Silas," perintah Leonard tanpa berhenti. "Jangan biarkan siapa pun mendekati bukit ini tanpa izin tertulis dariku. Terutama keluarga Montclair."
"Baik, Tuan," jawab Silas dengan suara datarnya.
Leonard sampai di depan pintu kamar utama. Dia meletakkan tangannya di gagang pintu, namun tidak segera membukanya. Dia memejamkan mata sejenak, membayangkan aroma tubuh Davina yang akan memenuhi indranya sebentar lagi. Bagi dunia, Leonard Lockwood adalah predator tanpa hati. Di balik pintu ini, dia kolektor yang baru mendapatkan benda paling berharganya.
Dia memutar kunci, suara klik logam yang halus terdengar di tengah kesunyian malam.
Saat pintu terbuka, cahaya dari perapian yang mulai meredup memberikan bayangan kemerahan di seluruh ruangan. Leonard melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, dan memastikan kunci otomatisnya kembali bekerja.
Dia berjalan mendekati ranjang, menatap sosok mungil yang tampak rapuh di tengah kemegahan kamar itu. Vina. Istrinya. Rencana sepuluh tahun yang berbuah.
Leonard duduk di tepi ranjang. Davina tidak bergerak, seolah-olah dia sedang berpura-pura tidur agar tidak perlu berhadapan dengan suaminya. Leonard mengulurkan tangannya, dengan lembut membelai helai rambut Davina yang tersebar di bantal.
"Aku tahu kau belum tidur, Vina," bisik Leonard. Suaranya kali ini tidak kasar, justru lembut. Lebih mengintimidasi. "Berhentilah berpura-pura. Di rumah ini, tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku. Bahkan napasmu memberi tahu aku."
Davina perlahan membuka matanya, menatap Leonard dengan sorot mata yang penuh dengan ketakutan dan kebencian.
Leonard tersenyum, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya yang gelap. "Besok, hidup baru kita akan dimulai. Kau tidak perlu khawatir lagi soal utang ayahmu, atau ambisi kakakmu. Kau hanya perlu mengkhawatirkan satu hal: bagaimana membuatku tetap puas."
Dia membungkuk, mencium kening Davina terlalu lama, seperti memberi tanda kepemilikan. "Selamat malam, Istriku. Tidurlah yang nyenyak. Karena besok, kau tidak akan punya banyak waktu untuk memikirkan masa lalu."
Leonard kemudian bangkit dan berjalan menuju sisi lain ranjang, mulai menanggalkan pakaiannya tanpa rasa ragu. Malam pertama mereka di The Black Ridge. Dan bagi Leonard, ini baru permulaan kemenangan yang ia nantikan sepuluh tahun.