7 Perjanjian Malam Pertama

1454 Words
Hawa dingin merayap dari celah jendela, tapi itu bukan apa-apa dibanding kehadiran Leonard di samping ranjang. Leonard telah menanggalkan kemejanya, menyisakan kaos dalam hitam yang membungkus tubuh atletisnya dengan ketat. Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, otot bahunya menegang. Kekuatan yang menunggu untuk dilepaskan. Aku meringkuk lebih dalam ke bawah selimut sutra. Licin. Tidak nyaman. Jantungku berdebar keras, menyakitkan. Jam dinding kuno di sudut ruangan berdetak—tik, tak, tik, tak—seperti hitungan mundur. Leonard tidak langsung naik ke atas ranjang. Dia berjalan menuju meja kecil, mengambil sebuah dokumen dari dalam laci, lalu melemparkannya ke atas kasur, tepat di depan wajahku. "Baca itu," perintahnya datar. Dengan tangan gemetar, aku meraih kertas-kertas tebal itu. Di bagian atasnya tertulis: PROTOKOL KEDIAMAN THE BLACK RIDGE. "Apa ini?" suaraku serak, hampir tidak keluar dari tenggorokanku yang kering. "Aturan main kita, Vina. Aku tidak suka ketidakteraturan. Di rumah ini, kau tidak akan hidup seperti di rumah ayahmu yang berantakan itu. Kau akan mengikuti jadwalku, aturanku, dan keinginanku." Leonard duduk di tepi ranjang. Tatapannya menembus selimut. Aku mulai membaca baris demi baris. Mataku membelalak ngeri. Poin pertama: Davina Lockwood tidak diizinkan meninggalkan perimeter The Black Ridge tanpa pendampingan Silas atau pengawalan tim keamanan. Poin kedua: Semua perangkat komunikasi akan dipantau secara langsung oleh sistem keamanan pusat. Poin ketiga: Jam makan dilakukan bersama Leonard Lockwood, tanpa pengecualian. Poin keempat: Davina tidak diizinkan masuk ke ruang kerja Leonard atau area bawah tanah tanpa izin tertulis. "Ini... ini bukan aturan rumah. Ini aturan penjara!" aku melempar dokumen itu ke lantai, kertas-kertas itu berserakan seperti sampah. "Kau tidak bisa mengurungku seperti ini! Aku istrimu, bukan tawananmu!" Leonard condong ke arahku. Napasnya menyentuh wajahku—tenang, sedikit berbau alkohol. "Istri adalah posisi yang sangat terhormat, Vina. Dan kehormatan butuh perlindungan. Kau pikir kenapa Josephine Carter berakhir di dasar jurang? Karena dia tidak patuh. Dia pikir dia bisa lari dariku." "Jadi kau mengakuinya?" bisikku ngeri, mataku mulai panas oleh air mata. "Kau benar-benar membunuhnya?" Leonard tersenyum—tanpa kehangatan. "Aku tidak perlu membunuh orang yang sudah menghancurkan dirinya sendiri dengan kebodohannya. Tapi kau, Vina... kau berbeda. Kau cerdas. Kau punya tesis yang menarik tentang ruangan rahasia, bukan? Maka kau harusnya mengerti bahwa beberapa tempat memang tidak ditakdirkan untuk ditemukan." Dia naik ke ranjang, merangkak perlahan ke arahku. Aku mundur hingga kepalaku membentur headboard kayu jati. Leonard mengunci tubuhku—kedua tangannya di sisi kiri dan kanan kepalaku. "Aku tahu apa yang kau pikirkan," bisiknya tepat di depan bibirku. "Kau pikir aku akan memaksamu malam ini. Kau pikir aku akan mengambil hakku sebagai suami dan menyakitimu untuk menunjukkan kekuasaanku." Aku memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan setetes air mata jatuh ke pipiku. Tubuhku gemetar hebat di bawah bayangannya. "Buka matamu, Vina. Lihat aku." Aku membuka mata. Menatap matanya yang gelap. "Aku tidak akan menyentuhmu malam ini," ucapnya. Suaranya lembut. Terlalu lembut. "Aku punya selera yang tinggi. Aku tidak suka menyentuh wanita yang hatinya masih berisi bangkai pria lain. Bagiku, itu menjijikkan." Tangannya bergerak ke saku celananya dan mengeluarkan sesuatu yang berkilau. Kalung perak Daniel. Rantainya sudah putus saat dia menariknya paksa tadi. Dia memutar-mutar liontin itu di depan mataku. "Kau ingin ini?" "Berikan padaku," pintaku dengan suara memohon, tanganku terulur ingin meraihnya. "Tidak sekarang." Leonard menjauhkan tangannya. "Kalung ini akan menjadi hadiah jika kau bisa menjadi istri yang baik selama satu minggu pertama. Tapi jika kau melanggar satu saja poin di kertas tadi..." Leonard menjeda kalimatnya. Dia menoleh ke arah nakas, di mana segelas wiski sisa minumannya masih ada. Dengan sengaja, dia menjatuhkan liontin itu ke dalam gelas. Plung. Cairan ambar itu menelan satu-satunya peninggalan Daniel. "Aku akan memastikan benda ini hancur, sama seperti kenanganmu tentangnya." Aku ingin berteriak, ingin mencakar wajahnya yang angkuh itu, tapi aku hanya bisa terisak dalam diam. Energiku habis terkuras oleh rasa takut. Leonard kemudian berbaring di sampingku, menarik selimut besar itu hingga menutupi tubuh kami berdua. "Tidur, Vina. Matikan lampunya." Aku tidak bergerak. "Aku tidak suka mengulang perintah." Dengan tangan yang masih gemetar, aku mematikan lampu nakas. Ruangan itu langsung jatuh ke dalam kegelapan total, hanya menyisakan cahaya remang dari bara api di perapian yang mulai padam. Aku bisa merasakan kehadiran Leonard di sampingku. Dia tidak menyentuhku, tidak memelukku, tapi panas tubuhnya memancar, memenuhi seluruh ruangan. Bau cendana dari tubuhnya merayap masuk, menggantikan aroma Daniel yang selama ini aku simpan dalam ingatan. Menyakitkan. Seperti pengkhianatan. "Kenapa kau melakukan ini padaku, Leonard?" bisikku di tengah kegelapan, suaranya nyaris tak terdengar. "Ada ribuan wanita di Oakhaven yang akan dengan senang hati menyerahkan hidup mereka padamu. Kenapa harus aku?" Hening sejenak. Hanya suara angin di luar yang menjawab, sampai akhirnya suara Leonard yang dalam terdengar di samping telingaku. "Karena hanya kau yang pernah melihatku bukan sebagai seorang Lockwood, sepuluh tahun yang lalu. Dan karena nenekku benar... kau adalah cahaya. Tapi cahaya yang terlalu terang perlu lampion agar tidak padam ditiup angin. Dan aku... aku adalah lampionmu, Vina." Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Aku tidak ingat pernah melihatnya sepuluh tahun lalu sebagai "bukan Lockwood". Yang aku tahu hanyalah bahwa pria ini gila. "Kau bukan lampionku," balasku lirih, memberanikan diri untuk terakhir kalinya malam ini. "Kau adalah kegelapan yang menelan cahayaku." Leonard tidak menjawab. Hening menggantung di udara selama beberapa detik yang mencekam. Aku mengira dia akan tidur, namun tiba-tiba, kasur di sampingku bergerak kasar. Leonard bangun. Duduk di tepi ranjang, punggungnya yang lebar menghadapku. Dalam kegelapan, napasnya berat dan kasar—menahan amarah, atau frustrasi. "Sial," umpatnya pelan. Dia berdiri, menyambar kemeja yang tadi dia lemparkan ke lantai dan mengenakannya dengan terburu-buru. "Kau... kau mau ke mana?" tanyaku, bingung dan takut. Apakah dia akan mengambil sesuatu untuk menyiksaku? Leonard tidak menoleh. Dia berjalan menuju pintu dengan langkah lebar sambil meraih kunci mobil dari atas meja rias. "Tidur, Vina. Jangan menungguku. Aku butuh udara segar." Suara pintu terbanting menutup, meninggalkan gema di kamar yang luas itu. Kunci otomatis kembali berbunyi. Klik. Beberapa menit kemudian, dari balik jendela, aku mendengar suara derum mesin mobil sport yang dipacu dengan kecepatan tinggi meninggalkan pelataran mansion. Aku ditinggalkan sendirian lagi di malam pertama ini. Aku memeluk lututku di atas ranjang raksasa itu, merasa kecil dan sendirian. Aku tidak tahu ke mana dia pergi. Aku hanya bisa berdoa agar dia tidak kembali malam ini. Sementara aku terjaga menatap langit-langit kamar, aku tidak tahu bahwa di saat yang sama, di bawah lantai marmer tempatku berpijak, di kedalaman gelap mansion ini, seseorang sedang merintih kesakitan... memanggil namaku dalam diam. INTERLUDE: Pelarian Sang Iblis Mobil sport hitam itu melaju di jalanan Oakhaven yang sepi. Leonard mencengkeram kemudi dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam kepalanya, bayangan Davina di atas ranjang tadi—ketakutan, rapuh, namun begitu memikat—terus berputar. Dia menginginkannya. Ingin menghancurkan pertahanannya. Tapi Leonard punya prinsip gila—dia tidak akan menyentuh Davina selama nama Daniel masih ada di bibirnya. Namun, tubuhnya menuntut pelepasan. Adrenalin dan hasrat yang tertahan membuatnya butuh pelampiasan fisik yang kasar, sesuatu yang bisa mematikan rasa di otaknya sejenak. Mobilnya berhenti di depan sebuah apartemen mewah di pusat kota. Penthouse milik Valeria Crowe. Leonard naik ke lantai teratas tanpa perlu mengetuk. Valeria sudah memberinya akses. Saat pintu terbuka, wanita itu tampak terkejut namun segera tersenyum lebar melihat siapa yang datang di malam pengantinnya. Valeria mengenakan gaun tidur sutra merah—warna yang berani, kontras dengan putih suci milik Davina. "Leo?" Valeria mendekat, matanya berbinar licik. "Malam pengantin yang buruk? Apakah istri kecilmu mengecewakanmu?" Leonard tidak menjawab. Dia tidak datang untuk bicara. Dia mendekat, mencengkeram tengkuk Valeria dan menariknya ke dalam ciuman yang kasar dan menuntut. Tidak ada kelembutan di sana, hanya d******i mutlak. Valeria tidak menolak. Dia justru melingkarkan lengannya di leher Leonard, merasa menang. Dia pikir Leonard memilihnya daripada istrinya. Leonard membawanya ke kamar tidur, melampiaskan segala frustrasi, amarah, dan gairah yang tertahan pada tubuh Valeria. Namun, saat dia memejamkan mata, bukan aroma parfum mahal Valeria yang dia cium. Dalam kegelapan pikirannya, dia membayangkan aroma cendana dan sabun bayi milik Davina. Dia membayangkan kulit pucat istrinya, bukan kulit tan Valeria. "Leo..." desah Valeria, mengira erangan Leonard adalah untuknya. Leonard menyeringai. Valeria hanyalah wadah. Tempat sampah untuk membuang sisi gelapnya agar dia bisa kembali "bersih" saat menghadapi Davina nanti. Obsesinya tetap utuh, tak tersentuh, menunggu di The Black Ridge. Satu jam kemudian, Leonard sudah kembali berpakaian rapi. Dia berdiri di depan cermin, mengancingkan kemejanya dengan wajah datar, seolah kejadian barusan tidak pernah ada. Valeria masih terbaring di ranjang, menatapnya dengan penuh harap. "Kau akan menginap?" tanya Valeria. "Tidak," jawab Leonard dingin. Dia melempar sekotak perhiasan beludru ke atas meja rias—bayaran untuk malam ini. "Aku harus pulang. Istriku menunggu." Tanpa menoleh lagi, Leonard keluar dari apartemen itu, meninggalkan Valeria yang terdiam kaku. Dia kembali ke mobilnya, menyetir menembus kabut subuh kembali ke bukit, kembali ke satu-satunya tempat di mana "cahaya"-nya berada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD