8. Mata yang Tak Pernah Tidur

1049 Words
Tirai otomatis terbuka dengan desis mekanis. Tidak ada kicauan burung di The Black Ridge. Cahaya pagi menyeruak masuk. Kamar utama terasa luas dan hampa. Aku terbangun dengan rasa sakit yang berdenyut di pelipisku. Selimut di sampingku sudah dingin. Leonard sudah pergi, namun aroma cendana miliknya masih tertinggal di kamar. Aku duduk di tepi ranjang, menatap gelas wiski di atas nakas. Liontin perak milik Daniel masih ada di sana, tenggelam di dasar gelas yang berisi sisa cairan ambar. Leonard benar-benar melakukannya; dia menjadikannya sandera. "Nyonya Lockwood, sarapan Anda sudah siap." Suara Silas terdengar dari balik pintu yang sekarang sudah tidak terkunci. Aku segera menyeka mataku, berusaha mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang tersisa. Aku mengganti pakaian tidurku dengan gaun terusan sederhana yang sudah disiapkan di ruang ganti—semuanya berwarna netral, tanpa corak. Aku melangkah keluar kamar dan berjalan menyusuri koridor panjang menuju ruang makan. Setiap kali aku melewati sudut ruangan, lensa kamera pengawas berputar perlahan, mengikuti gerakanku. Leonard tidak perlu berada di sini untuk mengawasiku; dia memiliki ribuan mata elektronik yang melaporkan setiap helaan napasku ke layar monitornya. Meja makan bisa untuk dua belas orang. Aku duduk sendirian. Silas berdiri di sudut, diam seperti patung, menungguku menghabiskan sarapan yang rasanya seperti debu di lidahku. "Di mana Leonard?" tanyaku, mencoba memecah kesunyian yang mencekik. "Tuan Lockwood sedang berada di pusat kota untuk rapat dewan komisaris, Nyonya," jawab Silas tanpa ekspresi. "Beliau berpesan agar Anda tetap berada di dalam rumah hari ini karena cuaca yang tidak mendukung." "Aku ingin ke perpustakaan," kataku. "Tentu, Nyonya. Mari saya antar." Perpustakaan Lockwood adalah sebuah ruangan melingkar yang dipenuhi ribuan buku tua hingga ke langit-langit. Di sini, suasana terasa lebih hangat karena dinding-dindingnya dilapisi kayu jati. Aku mulai menelusuri rak-rak buku, mencari apa saja yang bisa mengalihkan pikiranku. Namun, saat aku berjalan ke sudut terdalam perpustakaan, di mana rak-rak buku berhimpitan dengan dinding batu asli bukit ini, bulu kudukku meremang. Aku berhenti. Aku menempelkan telingaku ke dinding batu yang dingin itu. Deg... deg... Bukan suara jantungku. Itu ketukan. Sangat samar. Dari bawah. Suaranya tidak teratur dan sangat pelan. "Nyonya?" suara Silas tiba-tiba terdengar tepat di belakangku. Aku meloncat kaget, jantungku nyaris copot. "Silas! Kau... kau mengagetkanku." "Maafkan saya, Nyonya. Saya hanya ingin memberitahukan bahwa Tuan Lockwood akan pulang untuk makan siang." Silas menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Suara apa itu, Silas? Di balik dinding ini?" tanyaku, mencoba bersikap biasa saja. "Hanya pipa air tua, Nyonya. Mansion ini dibangun di atas fondasi batu yang keras, suara seringkali memantul secara aneh," jawabnya cepat. Terlalu cepat. Aku mengangguk. Aku tidak percaya. Aku mahasiswa arsitektur. Itu bukan suara pipa. Itu adalah suara sesuatu—atau seseorang—yang sedang bergerak. ------- Malam harinya, setelah makan malam yang sunyi bersama Leonard yang terus menatapku, aku kembali ke kamar. Leonard sedang sibuk di ruang kerjanya, jadi aku punya waktu untuk menyendiri. Aku duduk di ambang jendela, menatap hutan yang gelap. Rasa rindu pada Daniel tiba-tiba menghantam. Aku merindukan caranya tertawa. Bau sabun antiseptik di tangannya setelah pulang dari rumah sakit. Dan yang paling menyakitkan—rasa aman saat berada di dekatnya. Aku mulai membayangkan malam kecelakaan itu. Jika saja aku melarangnya menjemputku... jika saja aku tidak egois ingin minum cokelat hangat bersamanya... mungkin sekarang kami sedang duduk di apartemen kecil kami, merencanakan pernikahan kami. "Daniel..." bisikku. Air mataku jatuh. "Kenapa kau meninggalkanku sendirian di tempat ini?" Aku menangis hingga dadaku sesak. Aku kotor. Mengenakan marga pria yang mungkin telah menghancurkan hidup kami. Tiba-tiba, aku teringat suara ketukan di perpustakaan tadi. Aku bangkit dan mengambil senter kecil dari laci nakas. Aku harus tahu. Aku tidak bisa hanya diam menjadi tawanan yang patuh. Dengan langkah sepelan mungkin, aku keluar dari kamar. Kamera-kamera itu mengawasiku. Aku berlagak seperti orang yang sedang berjalan dalam tidur. Namun, alih-alih ke dapur, aku menyelinap kembali ke perpustakaan. Ruangan itu gelap, hanya disinari cahaya bulan yang masuk lewat jendela tinggi. Aku kembali ke sudut dinding batu itu. Aku berlutut, menempelkan telingaku kembali ke sana. Sunyi. Aku menunggu lama. Dan tepat saat aku akan menyerah, suara itu terdengar lagi. Ketuk... ketuk... ketuk... Kali ini lebih jelas. Dan diikuti oleh sebuah suara rintihan. Itu adalah suara rintihan. Sangat parau, sangat lemah. "Tolong..." Suara itu... meskipun pecah dan hampir tidak terdengar, aku mengenalinya. "Daniel?" bisikku. Aku memukul dinding batu itu dengan kepalan tanganku. "Daniel! Apakah itu kau?!" Tidak ada jawaban lagi. Aku mulai meraba-raba sela-sela rak buku, mencari tuas atau pintu rahasia. Pikiranku kacau. Daniel sudah mati. Daniel sudah dikuburkan. Tapi kenapa suara itu terdengar sangat nyata? Apakah aku sudah gila? Apakah Leonard telah memberiku obat-obatan untuk membuatku berhalusinasi? "Nyonya Lockwood." Lampu perpustakaan tiba-tiba menyala terang. Aku berbalik dan melihat Leonard berdiri di pintu masuk. Dia masih mengenakan kemeja kerjanya, lengannya digulung hingga siku. Wajahnya gelap. Aku sulit bernapas. "Apa yang kau lakukan di sini, Vina?" suaranya rendah dan berbahaya. "Aku... aku mendengar suara," kataku, mencoba menyembunyikan senter di belakang punggungku. "Leonard, ada seseorang di bawah sana. Aku mendengar suara Daniel!" Leonard berjalan mendekat. Pelan. Pasti. Dia mencengkeram bahuku, memaksaku untuk menatap matanya. "Daniel sudah mati, Vina. Berhenti mengejar hantu," desisnya. "Kau sedang berhalusinasi karena stres. Kau perlu istirahat." "Tidak! Aku mendengarnya! Dia memanggilku!" Dia merangkul pinggangku dengan paksa dan menyeretku keluar dari perpustakaan. Aku berontak, memukul dadanya, menendang kakinya, namun dia tak tergoyahkan. "Silas!" panggil Leonard dengan suara menggelegar. Silas muncul entah dari mana. "Siapkan obat penenang untuk Nyonya. Dan kunci perpustakaan ini. Jangan biarkan dia mendekati area ini lagi tanpa pengawasanku," perintah Leonard. Aku dibawa kembali ke kamar dan dipaksa untuk meminum cairan pahit yang membuat kepalaku mendadak berat. Saat kesadaranku mulai memudar, aku melihat Leonard duduk di tepi ranjang. Matanya... aneh. Puas sekaligus gelisah. "Tidurlah, Vina," bisiknya sambil mengusap keningku. "Hanya ada kau dan aku di dunia ini. Pria itu... dia tidak akan pernah bisa menjangkaumu lagi." Saat mataku perlahan tertutup, aku mencium bau asap dan daging terbakar. Aku membayangkan Daniel di dalam mobil itu, terjebak dalam api, memanggil namaku saat kulitnya mulai melepuh. Aku menangis dalam tidur. Aku tidak tahu bahwa beberapa lantai di bawahku, di balik dinding kedap suara yang baru saja diperiksa oleh Silas, seorang pria dengan wajah yang separuhnya hancur oleh bekas luka bakar sedang menatap langit-langit beton selnya. Tangannya yang gemetar meraba dinding. Dia tidak bisa bicara banyak. Paru-parunya rusak karena asap. Tapi di dalam hatinya, dia terus meneriakkan nama yang sama. Vina... lari...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD