9. Rahasia di Balik Pintu Jati

2212 Words
Rasa pahit obat penenang itu masih menempel di pangkal lidahku saat aku membuka mata. Duniaku berputar perlahan sebelum akhirnya berhenti pada satu titik fokus: langit-langit kamar yang tinggi dengan ukiran gipsum rumit berbentuk tanaman merambat. Aku mengerjap, mencoba mengusir kabut tebal yang menyelimuti otakku. Cahaya matahari siang yang pucat menerobos masuk melalui celah tirai berat yang tidak tertutup rapat, menciptakan garis debu yang menari-nari di udara. Jam dinding kuno berdetak dengan irama lambat yang menyebalkan—tik, tak, tik, tak. Aku meraba sisi ranjang di sebelahku. Dingin. Seprei sutra itu licin dan rapi, tidak menyisakan lekukan tubuh siapa pun. Leonard tidak ada di sini. Ingatan semalam menghantamku. Suara ketukan di dinding perpustakaan. Rintihan parau yang memanggil namaku. Wajah marah Leonard. Suntikan jarum Silas. "Kau berhalusinasi," gumamku menirukan ucapan Leonard, suaraku terdengar serak di telingaku sendiri. Aku duduk perlahan, memegangi kepalaku yang berdenyut hebat. Leonard bilang aku gila. Dia bilang aku stres. Tapi hatiku—bagian paling jujur dari diriku yang tidak bisa dibius—menjerit sebaliknya. Suara itu nyata. Getaran di dinding batu itu nyata. Aku menoleh ke arah nakas. Kosong. Gelas wiski tempat Leonard menenggelamkan kalung Daniel semalam sudah lenyap. Tidak ada jejak. Seolah-olah adegan kejam itu tidak pernah terjadi, seolah dia ingin menghapus Daniel sepenuhnya dari eksistensiku, sedikit demi sedikit, sampai aku lupa bahwa aku pernah mencintai orang lain selain dirinya. "b******n," desisku. Aku menyeret kakiku turun dari ranjang. Lantai marmer dingin menyengat telapak kakiku. Rumah ini sunyi. Terlalu sunyi. Kesunyian di mansion Lockwood selalu terasa mengawasi. Aku berjalan ke pintu kamar, memutar gagangnya dengan ragu. Klik. Terbuka. Tumben sekali. Biasanya pintu ini terkunci otomatis. Mungkin Leonard berpikir dosis obat penenang itu cukup untuk membuatku lumpuh seharian, atau mungkin dia terlalu percaya diri bahwa aku tidak punya nyali untuk keluar setelah "hukuman" semalam. Aku melangkah keluar ke koridor lantai dua. Lorong panjang ini dilapisi karpet merah tua yang meredam langkah kaki. Di sepanjang dinding, lukisan-lukisan leluhur keluarga Lockwood menatapku. Wajah-wajah kaku, rahang tegas, tatapan dingin—semuanya mirip Leonard. Aku mendongak. Di sudut langit-langit, sebuah kamera CCTV berkedip pelan. Lampu merah kecilnya menyala seperti mata iblis. Aku menundukkan kepala, membiarkan rambutku menutupi wajah, berpura-pura berjalan gontai menuju tangga seolah aku hanya ingin mencari air minum di dapur. Tapi tujuanku bukan dapur. Instingku membawaku ke arah yang berlawanan. Ke sayap timur, tempat satu-satunya ruangan yang dilarang keras untuk kumasuki dalam "Protokol" gila itu. Ruang Kerja Leonard. Jika ada jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini, atau ke mana dia membuang kalung Daniel, pasti ada di sana. Leonard adalah pria yang terobsesi dengan kontrol. Orang seperti dia tidak membuang barang berharga; dia menyimpannya. Dia mengoleksinya. Aku sampai di depan pintu ganda yang terbuat dari kayu jati hitam. Pintunya kokoh, mengintimidasi, dan tertutup rapat. Tanganku gemetar saat menyentuh pegangannya. Aku bersiap untuk menemukannya terkunci, bersiap untuk menyerah dan kembali ke kamar. Namun, pegangan itu berputar. Jantungku melompat ke tenggorokan. Pintunya tidak dikunci. Entah Leonard sedang ceroboh, atau mungkin Silas sedang membersihkan ruangan di dalamnya dan lupa mengunci kembali. Tanpa membuang waktu, aku menyelinap masuk dan menutup pintu di belakangku sepelan mungkin, menahan napas agar engselnya tidak berderit. Aroma ruangan itu langsung menyergapku. Itu adalah aroma Leonard yang pekat—tembakau mahal, tinta pena tua, kulit asli, dan sandalwood. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya layar monitor yang menyala di dinding sebelah kiri. Aku terkesiap saat melihat apa yang ada di layar itu. Itu adalah siaran langsung dari kamera CCTV di seluruh mansion. Layar 1: Dapur. Layar 2: Gerbang depan. Layar 3: Lorong perpustakaan. Layar 4... Kamar Tidur Utama. Aku melihat ranjangku sendiri di layar itu, kosong dan berantakan. Jadi selama ini dia menontonku? Saat tidur, saat berganti baju, saat menangis sendirian? Rasa mual merayap naik ke kerongkonganku. Aku memalingkan wajah dari layar-layar itu dan berjalan menuju meja kerjanya yang masif. Meja itu terbuat dari kayu mahoni yang dipoles mengkilap, sangat rapi, tanpa ada satu kertas pun yang berserakan. Semuanya presisi, simetris, mencerminkan pikiran Leonard yang terstruktur. Aku mulai membuka laci-laci itu dengan panik. Laci pertama: Dokumen saham Lockwood Group. Laporan keuangan yang angkanya membuat kepalaku pusing. Tidak ada yang menarik. Laci kedua: Kotak peluru dan sebuah pistol semi-otomatis berwarna hitam matte. Aku menatap senjata itu dengan ngeri. Tanganku sempat terulur. Betapa mudahnya mengakhiri semua ini jika aku punya keberanian untuk menarik pelatuk. Tapi bayangan Daniel menahanku. Jika Daniel masih hidup, aku tidak boleh mati. Aku menutup laci itu dengan cepat. Laci ketiga terkunci. "Sial," umpatku pelan. Aku mencoba menariknya lagi, tapi sia-sia. Mataku menyapu permukaan meja, mencari kunci. Tidak ada. Namun, jariku menyentuh bagian bawah permukaan meja, meraba-raba. Ada tombol kecil tersembunyi. Klik. Sebuah kompartemen rahasia di bagian samping meja terbuka perlahan. Di dalamnya, tidak ada emas atau berlian. Hanya sebuah folder kulit tebal berwarna merah darah. Warnanya mencolok di antara d******i warna hitam dan cokelat di ruangan itu. Dengan tangan yang basah oleh keringat dingin, aku mengambil folder itu. Tebal dan berat. Aku membukanya di atas meja. Lembar pertama membuat napasku tercekat. Sebuah foto yang diambil dari jarak jauh. Di foto itu, seorang gadis berjaket kuning sedang berjongkok di trotoar basah di tengah hujan, memayungi seorang wanita tua yang tergeletak. Itu aku. Tanganku gemetar hebat saat memegang foto itu. Aku ingat jaket kuning itu. Itu jaket favoritku saat aku masih mahasiswa baru, sepuluh tahun yang lalu. Aku ingat kejadian itu samar-samar—hujan deras di depan gerbang universitas, seorang nenek yang pingsan, dan aku yang panik menunggu ambulans. Tapi... kenapa Leonard punya foto ini? Aku membalik ke lembar berikutnya. Foto aku sedang duduk di perpustakaan kampus, serius mengerjakan tugas. Foto aku sedang makan es krim di taman kota sendirian. Foto aku saat wisuda, tersenyum lebar ke arah kamera orang tuaku. Sudut pengambilan fotonya dari arah tribun atas, tempat di mana tidak ada keluargaku yang duduk. "Ya Tuhan..." bisikku, kakiku lemas hingga aku harus berpegangan pada pinggiran meja. Ini adalah kronologi hidupku. Leonard tidak "kebetulan" bertemu denganku saat perjodohan bisnis itu diusulkan oleh Ayah bulan lalu. Dia sudah ada di sana. Selama sepuluh tahun. Dia selalu ada. Di balik pohon, di balik jendela kafe, di setiap fase kedewasaanku tanpa pernah kusadari. Dia melihatku tumbuh. Dia melihatku jatuh cinta. Dia melihat segalanya. Rasa jijik dan takut bercampur menjadi satu. Aku merasa ditelanjangi. Seluruh privasiku selama satu dekade terakhir hanyalah ilusi. Aku terus membalik halaman folder itu dengan kasar, mencari jawaban. Semakin ke belakang, foto-fotonya semakin baru. Dan di sanalah aku menemukannya. Bagian yang paling menyakitkan. Foto-foto aku bersama Daniel. Foto kami berdua di pasar malam, tertawa sambil membawa gulali. Foto Daniel yang sedang memperbaiki sepedaku di halaman depan rumah kontrakan kami. Foto kami berciuman di bawah pohon oak tua di pinggir danau. Tapi ada satu hal yang membuat foto-foto ini mengerikan. Wajah Daniel tidak utuh. Di setiap foto, wajah Daniel telah dirusak. Dicoret spidol hitam hingga kertasnya sobek. Dibakar rokok tepat di matanya. Digores pisau cutter hingga wajahnya hanya serpihan kertas. Aku bisa merasakan kebenciannya. Murni dan pekat. Leonard tidak hanya cemburu. Dia ingin menghapus eksistensi Daniel. Dia ingin meniadakan pria itu dari sejarahku. "Kau sakit jiwa, Leonard," isakku, air mata mulai menetes membasahi foto wajah Daniel yang hancur itu. Di halaman terakhir folder, terselip sebuah amplop tua yang kertasnya sudah menguning. Surat wasiat. Tulisan tangannya bergetar dan miring, jelas ditulis oleh orang yang sedang sekarat. “Leonard, cucuku... Dunia ini gelap bagi kita para Lockwood. Tapi gadis itu... gadis di gerbang kampus sepuluh tahun lalu... dia punya cahaya yang tidak dimiliki siapa pun. Nenek melihatnya. Cahaya itu murni. Cari dia. Bawa dia pulang. Kunci dia di dalam lampionmu. Jangan biarkan dunia merusak cahayanya. Dia adalah satu-satunya obat untuk kegilaan yang mengalir di darah kita. Milikilah dia, Leonard. Dengan cara apa pun.” — Silvia Lockwood. Aku menutup mulutku dengan tangan, menahan jeritan. Wasiat. Jadi ini semua karena wasiat nenek tua yang kutolong sepuluh tahun lalu? Kebaikan hatiku hari itu telah menjadi kutukan bagi masa depanku sendiri. Nenek itu menyuruh cucunya yang psikopat untuk "memiliki" aku sebagai obat? Aku bukan manusia bagi mereka. Aku benda. Jimat keberuntungan. "Cahaya" yang harus dikurung supaya hidup Leonard yang gelap bisa sedikit terang. "Gila..." Aku mundur selangkah, menabrak kursi kerja Leonard hingga berdecit nyaring. Folder itu masih dalam genggamanku. Aku harus membawanya. Aku harus menunjukkannya pada polisi, pada Adrian, pada siapa saja. Ini bukti bahwa Leonard sudah merencanakan ini semua sejak lama. Tapi sebelum aku bisa melangkah menuju pintu, suara berat yang familiar terdengar dari arah belakangku. "Kau membuka kotak pandora yang salah, Vina." Darahku membeku. Jantungku berhenti berdetak sedetik. Aku berputar perlahan. Leonard berdiri di sana. Dia bersandar santai di pintu yang kini sudah tertutup rapat. Wajahnya datar, tenang. Dia mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, menampilkan urat-urat tangannya yang kokoh. "Kau..." suaraku tercekat. Aku mengangkat folder merah itu dengan tangan gemetar, menuduhnya dengan bukti dosanya sendiri. "Sepuluh tahun? Kau mengawasiku selama sepuluh tahun?" Leonard berjalan mendekat. Langkahnya pelan, terukur. Setiap langkahnya membuat ruangan yang luas ini terasa semakin sempit. "Aku menjagamu," koreksinya tenang. "Ada perbedaan besar antara mengawasi dan menjaga." "Menjaga?!" teriakku histeris, rasa takutku berubah menjadi keberanian nekat. Aku melempar folder itu ke arahnya. Foto-foto itu berhamburan di lantai marmer, memperlihatkan wajah Daniel yang rusak di mana-mana. "Kau mencoret wajah tunanganku! Kau mengintipku lewat kamera! Kau menjadikan hidupku tontonan pribadimu! Kau sakit, Leonard! Kau monster!" Leonard tidak menghindar saat folder itu mengenai dadanya. Dia membiarkan foto-foto itu berserakan di sekitar kaki mahalnya. Dia berhenti tepat di depanku, menjulang tinggi, memaksaku mendongak untuk menatap matanya yang kelam. "Daniel Bennet bukan tunanganmu," ucapnya dingin. "Dia hanyalah gangguan. Kerikil kecil yang tersandung di jalan takdir kita." "Jangan sebut namanya dengan mulut kotormu!" bentakku. "Dia pria yang seribu kali lebih baik darimu! Dia mencintaiku dengan tulus, bukan karena obsesi gila warisan nenekmu!" Rahang Leonard mengeras. Kilatan emosi akhirnya muncul di matanya—bukan penyesalan, melainkan ketersinggungan. "Cinta?" Leonard tertawa pendek, suara yang kering dan tanpa humor. "Apa yang bisa diberikan dokter miskin itu padamu, Vina? Rumah kontrakan sempit? Cicilan motor? Masa depan yang biasa-biasa saja?" Dia mencengkeram daguku, memaksaku menatapnya lurus. Cengkeramannya kuat, tapi tidak menyakiti—belum. "Lihat aku. Aku memberimu kerajaan. Aku memberimu perlindungan yang tidak bisa ditembus oleh siapa pun. Aku membangun dinding setinggi langit hanya untuk memastikan cahayamu tidak padam dimakan dunia luar. Dan kau menyebut itu sakit? Aku menyebutnya pengabdian." "Kau membunuhnya..." bisikku, air mata mengalir deras membasahi jari-jarinya yang ada di daguku. "Kau membunuh Daniel supaya kau bisa membeliku dari keluargaku, kan? Kecelakaan itu... itu ulahmu." Hening. Leonard menatapku dalam-dalam. Selama beberapa detik, aku mencari tanda pengakuan di matanya. Aku mencari rasa bersalah. Tapi yang kutemukan hanyalah dinding es yang kokoh. "Dia mati karena dia lemah, Vina," jawab Leonard datar. "Mobilnya hancur. Tubuhnya hangus. Itu adalah takdir bagi orang yang mencoba memiliki sesuatu yang bukan haknya." "Dia bukan barang! Aku bukan barang!" Aku menepis tangannya dari daguku dan mundur. "Aku akan melaporkanmu. Foto-foto ini... ini bukti kalau kau penguntit!" Leonard menghela napas panjang, seolah sedang menghadapi anak kecil yang sedang tantrum, bukan istri yang baru mengetahui kebenaran mengerikan. Dia membungkuk, memungut salah satu foto di lantai—foto wajah Daniel yang matanya disundut rokok. Dia mengeluarkan korek api perak dari saku celananya. Crak. Api kecil menyala. "Tidak ada yang akan percaya padamu, Sayang," ucapnya santai sambil membakar ujung foto itu. Kami berdua melihat wajah Daniel dimakan api, berubah menjadi abu hitam yang melayang di udara. "Adrian sudah menikmati uang pelunas hutangnya. Ibumu sedang sibuk belanja tas Corvelle baru. Dan polisi Oakhaven? Mereka makan dari pajak yang kubayar." Dia menjatuhkan sisa foto yang terbakar itu ke lantai, lalu menginjak abunya dengan sepatu kulitnya. "Kau sendirian, Vina. Benar-benar sendirian." Kata-kata itu menghantamku. Lututku goyah. Aku jatuh terduduk di lantai, di antara serpihan foto masa laluku. Harapan itu padam. Dia benar. Tidak ada yang akan menolongku. Keluargaku sudah menjualku, dan hukum adalah milik orang kaya. Leonard berlutut di hadapanku. Dia merapikan rambutku yang berantakan ke belakang telinga, sebuah gestur yang memuakkan karena kelembutannya. "Tapi jangan khawatir," bisiknya, bibirnya menyentuh telingaku. "Kesendirian itu tidak buruk. Karena sekarang, kau punya aku. Hanya aku. Mulai hari ini, aku akan menjadi ayahmu, ibumu, temanmu, dan Tuhanmu." Dia bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangannya padaku. "Berdiri, Nyonya Lockwood. Kita akan makan siang. Dan aku tidak ingin melihat air mata ini lagi di meja makan." Aku menatap tangan itu. Tangan yang mungkin berlumuran darah tak kasat mata. Tangan yang telah mengendalikan hidupku selama sepuluh tahun tanpa kuijinkan. Aku punya pilihan: menepisnya dan diseret paksa, atau menyambutnya dan bertahan hidup untuk mencari celah lain. Ingatanku kembali ke suara di balik dinding semalam. Jika aku melawan sekarang, aku akan dikurung lebih ketat. Aku tidak akan bisa menyelidiki suara itu. Dengan sisa tenaga yang ada, aku menghapus air mataku kasar. Aku tidak menyambut uluran tangannya. Aku berdiri sendiri, tertatih-tatih namun tegak. Leonard menarik tangannya kembali, tidak tersinggung. Dia justru tampak... terkesan. "Anak pintar," pujinya. Dia membukakan pintu untukku. "Silakan, Istriku." Aku berjalan melewatinya, keluar dari ruangan terkutuk itu. Aku meninggalkan bukti obsesi sepuluh tahun itu di lantai, tapi aku membawanya dalam ingatanku. Sekarang aku tahu siapa yang kuhadapi. Leonard bukan sekadar pebisnis dingin. Dia adalah orang gila yang metodis. Dan saat kami berjalan beriringan menuju ruang makan, aku bersumpah dalam hati: Aku akan menjadi istri yang kau inginkan, Leonard. Aku akan menjadi boneka cantikmu. Sampai aku menemukan semua rahasiamu, dan saat itu terjadi, aku yang akan membakar kerajaanmu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD