10. Boneka di Etalase

2043 Words
Cermin di kamar rias itu menjulang setinggi langit-langit, membingkai pantulan seorang wanita yang kukenal, namun sekaligus terasa sangat asing. Wanita di dalam cermin itu bukan lagi Davina Montclair—mahasiswi arsitektur yang biasa memakai kemeja flanel kebesaran, rambut dicepol asal-asalan dengan pensil, dan sepatu converse yang solnya sudah menipis. Wanita di cermin itu adalah ciptaan baru. Sebuah mahakarya yang dipahat paksa oleh tangan dingin Leonard Lockwood. Dia mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang jatuh memeluk tubuhnya dengan sempurna, menampilkan lekuk tubuh yang—aku benci mengakuinya—terlihat lebih kurus dalam tiga hari terakhir. Rambutnya, yang dulu sering kusut karena angin, kini disisir rapi, berkilau di bawah lampu kristal, dan berbau lili serta vanila. Di leher jenjangnya melingkar kalung berlian dengan liontin tetesan air mata (teardrop) yang ukurannya cukup besar untuk membeli kembali harga diri keluargaku yang telah tergadai. Wanita itu cantik. Sempurna. Dan wanita itu mati di dalam. Sudah tiga hari. Tiga hari sejak aku menyelinap ke ruang kerja Leonard dan membuka kotak pandora itu. Tiga hari sejak aku melihat bukti bahwa sepuluh tahun hidupku hanyalah sebuah pementasan drama di mana Leonard adalah sutradara sekaligus penonton tunggalnya. Tiga hari sejak dia membakar wajah Daniel di depan mataku, menginjak abunya di atas karpet mahal itu, lalu memintaku berdiri seolah-olah dia baru saja membuang sampah, bukan kenangan. Sejak saat itu, sesuatu dalam diriku patah. Aku berhenti bertanya. Aku berhenti berteriak memaki penjaga. Aku berhenti mencoba mendobrak pintu-pintu yang terkunci. Kemarahanku yang meledak-ledak di awal kedatanganku ke The Black Ridge telah berganti menjadi kehampaan yang dingin. Aku belajar bahwa api tidak bisa melawan air bah; api hanya akan padam. Jadi, aku memutuskan untuk menjadi batu. Diam, dingin, dan menunggu waktu yang tepat untuk menggelinding menghancurkan segalanya. "Kau terlihat indah, Vina. Sangat indah." Suara itu muncul dari belakang, memecah lamunanku. Aku tidak terkejut. Aku bahkan tidak berkedip. Jantungku tidak lagi melonjak kaget karena aku sudah terbiasa dengan kehadirannya yang tiba-tiba, seperti hantu yang menghantui kastilnya sendiri. Leonard masuk ke dalam walk-in closet tanpa suara langkah kaki sedikit pun. Dia berdiri tepat di belakangku, menatap pantulan kami berdua di cermin raksasa itu. Dia mengenakan setelan jas santai berwarna abu-abu arang, kemeja hitam tanpa dasi yang kancing teratasnya dibuka, memperlihatkan sedikit kulit lehernya yang pucat. Kami tampak serasi. Seperti sepasang patung lilin di museum horor yang berpura-pura menjadi suami istri bahagia. Tangannya yang besar dan hangat bergerak perlahan, menyentuh bahuku yang terbuka. Jari-jarinya merambat naik ke leherku, berhenti tepat di atas detak nadiku, lalu menyentuh dinginnya kalung berlian itu. "Apa kau suka kalungnya?" tanyanya lembut, nadanya seperti seorang ayah yang bertanya pada putrinya. "Suka," jawabku singkat. Suaraku datar, tanpa intonasi. "Ini indah." "Bagus. Itu milik nenekku, Silvia," Leonard tersenyum tipis melihat kepatuhanku. Dia memutar liontin itu dengan jarinya, seolah sedang memeriksa kualitas barang dagangannya. "Nenek selalu bilang, berlian ini terlalu berat untuk wanita yang lemah. Tapi kau... kau memakainya seolah itu adalah bagian dari kulitmu. Dia pasti bangga melihat 'pilihan'-nya jatuh ke tangan yang tepat." Perutku mual. Setiap kali dia menyebut neneknya, aku merasa ingin memuntahkan seluruh isi perutku. Nenek tua yang kutolong di tengah hujan deras sepuluh tahun lalu itu... ternyata dialah arsitek dari neraka ini. Wasiatnya-lah yang membuat Leonard memburuku. Kebaikan hatiku hari itu telah menjadi kutukan bagi masa depanku sendiri. Leonard mengambil sisir perak dari meja rias. Dengan gerakan yang sangat pelan dan berirama, dia mulai menyisir rambut panjangku dari puncak kepala hingga ke ujung. Tarikannya lembut, hipnotis, namun posesif. "Rambutmu semakin panjang," gumamnya pelan, matanya terpaku pada pantulan rambut hitamku di cermin. "Dulu, kau selalu mengikatnya sembarangan saat sedang begadang di studio kampus. Aku ingat kau pernah frustrasi dengan maketmu yang roboh, lalu kau menusukkan sumpit mie instan ke rambutmu agar tidak menghalangi pandangan." Tubuhku menegang kaku. Dia melakukannya lagi. Merevisi sejarah hidupku. Dia membicarakan masa laluku—masa lalu yang dia intip dari kejauhan lewat lensa kamera dan laporan detektif—dengan nada nostalgia, seolah-olah dia ada di sana bersamaku. "Aku lebih suka melihatnya tergerai seperti ini," lanjutnya, menyingkirkan rambutku ke satu sisi bahu. "Lebih anggun. Lebih bersih. Lebih pantas untuk Nyonya Lockwood." "Apakah kita akan pergi?" tanyaku, mencoba memotong monolog sakit jiwanya. Aku tidak tahan mendengar dia membandingkan 'Vina yang dulu' dengan 'Vina ciptaannya'. Leonard berhenti menyisir. Dia menatap mataku lewat cermin. "Tidak. Malam ini kita makan malam di rumah saja. Hanya berdua. Tapi aku ingin kau tetap cantik. Keindahanmu adalah satu-satunya hal yang bisa membersihkan mataku setelah seharian melihat grafik saham dan wajah-wajah serakah para dewan direksi." Dia membungkuk, menanamkan ciuman basah di perpotongan leher dan bahuku. Bulu kudukku meremang. Bukan karena gairah, tapi karena rasa takut purba. Insting reptil di otakku berteriak: LARI! Predator ada di lehermu! Sikut perutnya dan lari! Tapi logika baruku menahannya. Jangan bodoh, Vina, bisikku dalam hati. Kau lari, dia akan menangkapmu. Kau melawan, dia akan mengurungmu lagi di kamar tanpa jendela. Jadilah air. Ikuti wadahnya. "Aku sudah memecat koki lama," bisik Leonard di kulitku, getaran suaranya merambat ke tulang selangkaku. Aku tersentak sedikit, reflek menoleh. "Kenapa?" "Masakannya kurang cocok di lidahmu. Aku perhatikan dua hari ini kau tidak menghabiskan makananmu. Kau terlihat kurus, Vina. Tulang pipimu terlalu menonjol. Cahaya tidak bisa bersinar terang kalau bahan bakarnya habis." Kebohongan lagi. Aku tahu alasan sebenarnya. Koki lama itu—seorang pria paruh baya bernama Mr. Davies—pernah tersenyum ramah padaku saat menyajikan teh pagi dan bertanya, "Apakah Anda baik-baik saja, Nyonya?" saat melihat mataku sembab. Leonard pasti melihat itu di CCTV. Dia memecatnya bukan karena rasa makanannya, tapi karena Leonard ingin mengisolasi "cahaya"-nya. Tidak boleh ada interaksi manusia lain yang menunjukkan simpati padaku. "Aku akan makan lebih banyak malam ini," janjiku, hanya agar dia menjauhkan wajahnya dari leherku. Leonard menegakkan tubuhnya. Dia memutar kursi riasku agar aku menghadapnya langsung. Matanya yang gelap, sedalam palung laut, meneliti wajahku inci demi inci. Dia mencari celah. Dia mencari tanda-tanda pemberontakan yang mungkin kusembunyikan di balik bedak. "Kau tahu kenapa aku menyukaimu saat ini?" tanyanya. Aku menggeleng pelan, mataku tertunduk menatap kancing kemejanya. "Karena kau tenang," ucapnya. Tangannya mengangkat daguku, memaksaku menatapnya. "Kau mulai mengerti posisimu. Di luar sana, dunia itu kotor, Vina. Orang-orang saling memangsa, saling menipu—seperti ayahmu yang menjualmu demi menutupi korupsi perusahaannya, atau tunanganmu yang lemah itu. Tapi di sini... di dalam kotak kaca yang kubuatkan ini... kau aman. Kau suci. Tidak ada debu yang boleh menyentuhmu." "Ya, Leonard," jawabku otomatis. Seperti mesin yang sudah diprogram. "Bagus." Dia mengecup keningku—stempel kepemilikan rutinnya. "Tunggu aku di ruang makan sepuluh menit lagi. Silas akan menjemputmu." Leonard berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan langkah tegap. Saat pintu tertutup dan langkah kakinya menjauh, topengku retak. Kakiku lemas seketika. Aku berpegangan pada pinggiran meja rias agar tidak jatuh dari kursi. Napasku memburu, mencoba mengisi paru-paru yang terasa sesak karena kedekatannya tadi. Udara di sekitarnya terasa tipis, seolah dia menyedot semua oksigen di ruangan. Aku menatap kembali cermin. Mataku berkaca-kaca, tapi aku menahan agar air mata itu tidak jatuh dan merusak riasan. Leonard benci ketidakteraturan. Air mata akan dianggap sebagai "kekacauan". Mataku beralih ke laci meja rias yang sedikit terbuka. Di dalamnya, terselip peralatan manikur yang lengkap. Tatapanku terkunci pada sebuah nail file (kikir kuku) dari logam dengan ujung runcing. Pikiranku melayang ke Daniel. Leonard bilang Daniel mati. Dia membakar fotonya. Dia menginjak abunya. Semua logika mengatakan aku harus move on. Tapi telingaku... telingaku tidak bisa lupa suara rintihan di balik dinding perpustakaan tiga malam lalu. Dan keanehan lainnya: Silas sekarang berjaga di depan koridor sayap timur setiap malam. Pintu perpustakaan diganti kuncinya. Jika Daniel benar-benar mati, kenapa penjagaan diperketat? Orang mati tidak bisa lari, kan? Kecurigaan itu adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras. Itu adalah bahan bakar kebencianku. Dengan tangan gemetar, aku mengambil kikir kuku itu. Benda itu kecil, dingin, dan tajam. Tidak cukup untuk membunuh Leonard yang tubuhnya dua kali lipat tubuhku dan terlatih bela diri. Tapi benda ini cukup untuk mencungkil kunci pintu yang sederhana, atau mungkin... cukup untuk menyakiti diriku sendiri jika aku butuh alasan darurat untuk dibawa keluar dari mansion ini menuju rumah sakit. Aku menyelipkan kikir kuku itu ke balik garter (penyangga stoking) di paha kiriku. Dinginnya logam menyentuh kulit pahaku, memberiku sensasi nyata bahwa aku masih punya kendali. Walau sedikit. "Sepuluh menit," bisikku pada bayangan di cermin. Aku menegakkan punggung, memasang kembali ekspresi kosong dan patuh di wajahku. Aku akan turun makan malam. Aku akan memuji makanannya. Aku akan tersenyum saat dia bercerita tentang bisnisnya yang berdarah. Aku akan menjadi boneka tercantik di etalase The Black Ridge, sambil diam-diam mengasah pisau di dalam kepalaku. ------- Ruang makan utama The Black Ridge dirancang bukan untuk kenyamanan, melainkan untuk intimidasi. Meja panjang dari kayu mahoni hitam itu bisa memuat dua puluh orang, tapi hanya ada dua kursi yang terisi. Satu di ujung kepala meja—tempat Leonard bertahta—dan satu di sisi kanannya, tempatku duduk. Lilin-lilin tinggi dalam candelabra perak menjadi satu-satunya penerangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding batu. Suasana ini seharusnya romantis bagi pasangan normal. Tapi bagi kami, ini seperti upacara pemujaan setan. Silas menuangkan wine merah ke dalam gelasku tanpa suara, lalu mundur kembali ke dalam kegelapan di sudut ruangan, berdiri tegak seperti gargoyle penjaga. "Bagaimana steak-nya?" tanya Leonard, memecah kesunyian yang hanya diisi oleh denting garpu dan pisau. Aku menatap potongan daging wagyu yang dimasak medium rare di piringku. Cairan merah dari daging itu mengingatkanku pada darah. Perutku bergejolak, tapi aku memaksakan senyum tipis. "Enak. Sangat lembut," jawabku. Aku menusuk potongan kecil dan memasukannya ke mulut. Rasanya seperti mengunyah abu, tapi aku menelannya. "Koki baru ini... lebih baik." Leonard tersenyum puas. Dia meletakkan pisau dan garpunya, lalu menatapku lekat. Dia tampak menikmati pemandangan aku yang sedang makan. Seolah-olah melihatku menerima asupannya adalah sebuah pencapaian pribadi. "Aku senang mendengarnya. Kau butuh protein, Vina. Rahimmu harus kuat," ucapnya santai, lalu menyesap wine-nya. Aku tersedak. Kunyahan daging di mulutku hampir keluar lagi. Aku meraih gelas air putih dan meminumnya dengan rakus untuk mendorong rasa panik yang tiba-tiba menyumbat tenggorokan. "Rahim?" tanyaku dengan suara tercekat. Leonard meletakkan gelasnya perlahan. "Tentu saja. Kita tidak akan menunda, bukan? Seorang pewaris Lockwood harus lahir dari rahim yang sehat. Dan aku sudah memutuskan, kita akan mulai program kehamilan bulan depan. Aku sudah memanggil dokter spesialis terbaik dari Vilmera untuk datang memeriksa kesiapanmu minggu depan." Tanganku di bawah meja meremas serbet kain hingga buku jariku memutih. Hamil? Anak Leonard? Bayangan mengandung anak dari pria yang membunuh tunanganku dan mengurungku di sini membuat darahku mendidih sekaligus membeku. Aku ingin berteriak "TIDAK!" di depan wajahnya. Aku ingin melempar piring steak ini ke dadanya. Tapi aku ingat kikir kuku di pahaku. Aku ingat rencanaku. Jadilah air. Ikuti wadahnya. Jika aku menolak sekarang, dia akan memaksaku. Atau lebih buruk, dia akan menghukumku lagi. Tapi jika aku berpura-pura setuju... mungkin dia akan memberiku sedikit kelonggaran. Mungkin dokter dari Vilmera itu bisa menjadi celah untuk mengirim pesan keluar. Aku menarik napas dalam-dalam, menelan rasa jijikku bulat-bulat. "Tentu, Leonard," jawabku pelan, menundukkan kepala sebagai tanda kepatuhan palsu. "Apapun yang kau inginkan." Leonard tampak terkejut sesaat dengan kepatuhanku yang begitu mudah, namun segera digantikan oleh rasa kemenangan yang arogan. Dia mengulurkan tangannya di atas meja, telapaknya terbuka, menunggu. Aku meletakkan tanganku di atas tangannya. Dingin bertemu panas. Dia menggenggam jariku, meremasnya pelan. "Kau belajar dengan cepat, Istriku. Sangat cepat. Aku tahu kau cerdas. Kau tahu mana pertempuran yang bisa kau menangkan dan mana yang tidak." Kau salah, Leonard, batinku berteriak. Aku tidak menyerah. Aku sedang menyusun strategi. "Habiskan makanannya," perintahnya lembut, melepaskan tanganku. "Setelah ini, aku ingin kau menemaniku di ruang musik. Aku ingin mendengar kau bermain piano. Sudah lama sekali aku tidak melihatmu bermain piano sejak resital kampusmu lima tahun lalu." Tentu saja. Tentu saja dia tahu aku bisa bermain piano. Dia tahu segalanya. "Baik," jawabku. Aku kembali memotong daging di piringku. Pisau perak di tanganku berkilau di bawah cahaya lilin. Tajam. Mengilap. Sama seperti kikir kuku di pahaku. Sama seperti tekad yang baru saja mengeras di dalam hatiku. Malam ini, aku akan bermain piano untuknya. Aku akan membiarkan dia menikmati kemenangan semunya. Karena semakin tinggi dia merasa menang, semakin sakit jatuhnya nanti saat aku membakar habis semua ini. Di bawah meja, kaki kiriku bergerak sedikit, merasakan logam dingin yang tersembunyi itu menekan kulit. Itu adalah rahasiaku. Satu-satunya hal di dunia ini yang murni milikku, yang tidak diketahui oleh Leonard Lockwood. Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD