11. Makan Malam Neraka

1388 Words
Malam itu, The Black Ridge bersinar lebih terang dari biasanya. Lampu-lampu kristal di ruang tamu menyala terang sekali, memantulkan cahaya ke setiap sudut marmer dan emas—kemewahan yang menyilaukan mata. Tapi bagiku, cahaya itu terasa dingin. Aku merasa seperti dipajang di etalase. Aku berdiri di samping Leonard di dekat pintu masuk utama. Tanganku melingkar di lengannya yang kokoh, dibalut jas tuxedo hitam yang dijahit sempurna. Aku mengenakan gaun malam velvet berwarna merah marun—pilihan Leonard, tentu saja. Dia bilang warna ini membuat kulitku terlihat pucat sempurna. "Ingat skenarionya, Vina?" bisik Leonard tanpa menoleh, bibirnya tetap menyunggingkan senyum tipis ke arah jalan masuk. "Senyum. Angguk. Dan setuju dengan semua perkataanmu," jawabku pelan. "Bagus. Jika kau melakukannya dengan baik, besok aku akan mengizinkanmu berjalan-jalan di taman belakang tanpa Silas mengikutimu. Hanya kau dan bunga-bunga mawar itu." Tawaran itu terdengar menarik. Udara segar. Tanpa Silas yang menempel seperti bayangan. Itu kesempatan untuk memeriksa ventilasi luar perpustakaan atau mencari celah di pagar perimeter. "Aku akan menjadi istri terbaik malam ini," janjiku. Sebuah limosin hitam berhenti di depan tangga masuk. Sopir membukakan pintu, dan keluarlah tamu kehormatan kami malam ini: Tuan Arthur Sterling, salah satu investor properti terbesar di negara ini, beserta istrinya yang gemuk dan berwajah ramah, Nyonya Martha. "Leonard, Nak! Senang melihatmu!" Tuan Sterling tertawa menggelegar, menjabat tangan Leonard dengan erat. "Selamat datang di gubuk kami, Arthur," balas Leonard dengan kerendahan hati palsu yang memuakkan. Mata Tuan Sterling kemudian beralih padaku. Dia terdiam sejenak, memandangiku dari atas ke bawah. "Dan ini pasti... Davina. Astaga, rumor itu benar. Kau mendapatkan permata paling berkilau di Oakhaven, Leo." "Selamat malam, Tuan Sterling. Terima kasih atas pujiannya," aku menyodorkan tanganku dengan anggun, memasang senyum yang sudah kulatih di depan cermin selama satu jam terakhir. "Panggil saja Paman Arthur," dia mencium punggung tanganku. Kami pindah ke ruang makan. Makan malam itu menyiksaku perlahan. Pelayan menyajikan hidangan pembuka berupa foie gras dan caviar yang terasa amis di lidahku. Tuan Sterling dan Leonard menghabiskan waktu membahas akuisisi tanah, pembangunan resort, dan bagaimana mereka menyingkirkan pesaing bisnis dengan cara 'halus'. Aku mendengarkan kengerian itu sambil memotong roti kecil-kecil. Leonard berbicara tentang menghancurkan hidup orang lain dengan santai, seolah sedang membahas cuaca. "Jadi, Davina," Nyonya Martha tiba-tiba bertanya, suaranya yang cempreng memecah konsentrasiku. "Bagaimana rasanya menjadi Nyonya Lockwood? Banyak wanita muda di kota ini yang rela membunuh demi berada di posisimu, lho." Aku meletakkan garpuku. Aku bisa merasakan tatapan Leonard menusuk sisi wajahku. Dia sedang menunggu jawabanku. Aku menelan ludah, lalu menatap Nyonya Martha sambil memaksakan senyum. "Rasanya... seperti mimpi, Nyonya," jawabku lembut. "Leonard memperlakukan saya seperti ratu. Saya tidak pernah membayangkan bisa sebahagia ini. Dia melindungi saya dari segala hal buruk di luar sana." Leonard tersenyum. Senyum kemenangan, bukan senyum sopan. Dia meraih tanganku di atas meja dan menciumnya. "Vina adalah segalanya bagiku, Martha," ucap Leonard, matanya menatapku dengan intensitas yang membuatku ingin lari. "Tanpa dia, rumah besar ini hanyalah tumpukan batu." "Ah, romantis sekali," Nyonya Martha bertepuk tangan kegirangan. "Kalian mengingatkanku pada kami waktu muda. Kapan rencana punya momongan? Rumah sebesar ini butuh suara kaki-kaki kecil." Pertanyaan itu membuat dadaku sesak. Bayangan "rahim" dan "pewaris" yang Leonard ucapkan kemarin kembali menghantuiku. "Kami sedang mengusahakannya," Leonard yang menjawab, tangannya meremas jariku sedikit lebih kuat. "Segera. Sangat segera." Makan malam berlanjut ke hidangan penutup. Aku memainkan peranku dengan sempurna. Aku tertawa pada lelucon Tuan Sterling yang tidak lucu. Aku mendengarkan cerita membosankan Nyonya Martha tentang kucing-kucingnya. Aku menjadi istri pajangan yang sempurna. Hingga akhirnya, jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Tamu-tamu itu pamit pulang. Saat pintu utama tertutup dan limosin Tuan Sterling menghilang di balik gerbang besi, senyum di wajahku langsung luntur. Rahangku sakit karena terlalu lama tersenyum paksa. Tubuhku lelah. Aku ingin segera kembali ke kamar, mengunci pintu, dan tidur. "Kau luar biasa," suara Leonard terdengar rendah di telingaku. Aku berbalik hendak pamit tidur, tapi Leonard sudah berdiri tepat di hadapanku, menghalangi jalan. Dia tidak lagi menatapku seperti boneka pajangan. Tatapannya berubah—lebih gelap, lebih lapar. Ada kabut gairah di matanya yang selama ini selalu ia tahan. "Kau tidak berbohong tadi, kan?" tanyanya, melangkah maju hingga tubuh kami bersentuhan. "Soal apa?" tanyaku, mundur selangkah hingga punggungku menabrak dinding koridor. "Soal kau bahagia. Soal aku yang melindungimu." Leonard mengurungku, kedua tangannya menempel di dinding. "Malam ini... aku tidak melihat keraguan di matamu, Vina. Aku tidak melihat bayangan pria lain saat kau menatapku di meja makan tadi. Kau menatapku. Hanya aku." Jantungku berdegup kencang. Strategiku berhasil. Terlalu berhasil, malah. Aku berpura-pura patuh dengan sangat meyakinkan hingga Leonard percaya bahwa aku sudah melupakan Daniel. Dia percaya bahwa "hati"-ku sudah bersih. Dan itu berarti, perlindungan terakhirku sudah hilang. Syarat yang dia buat sendiri—bahwa dia tidak akan menyentuhku sampai aku melupakan Daniel—kini telah terpenuhi oleh kebohonganku sendiri. "Leonard, aku lelah..." cicitku, mencoba mencari jalan keluar. "Aku tahu," bisiknya, tangannya membelai pipiku, turun ke leher, lalu berhenti di bahu gaunku. "Tapi kau sudah menjadi istri yang sangat baik. Kau sudah menepati janjimu. Dan sekarang... aku akan mengambil hakku." Tanpa peringatan, dia membungkuk dan menciumku. Bukan di kening, tapi di bibir. Itu adalah ciuman yang menuntut, posesif, dan penuh dengan rasa kepemilikan yang mutlak. Aku ingin mendorongnya. Aku ingin menggigit lidahnya. Tapi aku ingat kikir kuku yang kusembunyikan. Aku ingat rencana jangka panjangku. Jika aku menolaknya sekarang, semua sandiwaraku hancur. Dia akan kembali menjadi sipir penjara yang kejam, dan aku tidak akan pernah bisa menyelidiki ruang bawah tanah itu. Jadi, aku membiarkannya. Aku mematung. Tanganku tergantung lemas di sisi tubuhku. Leonard melepaskan ciumannya sejenak, napasnya memburu. Dia menatapku, sedikit bingung karena aku tidak membalas, tapi juga tidak menolak. "Katakan padaku, Vina," bisiknya parau. "Katakan kalau kau milikku." Aku menatap mata hitam itu. Mata hitam yang menatapku seperti memiliki. "Aku milikmu," bisikku hampa. Leonard menggeram rendah, lalu mengangkat tubuhku dengan mudah ke dalam gendongannya. Aku tidak meronta. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, menatap kosong ke arah lampu koridor yang bergeser saat dia membawaku menaiki tangga menuju kamar utama. Pintu kamar tertutup. Kunci otomatis berbunyi. Klik. Malam itu, di atas ranjang king-size yang dikelilingi oleh tirai sutra, Leonard Lockwood menagih bayarannya. Dia tidak kasar. Malah sebaliknya—dia memperlakukanku seperti benda berharga yang membuatku takut. Dia menyentuh setiap inci kulitku seolah aku adalah sesuatu yang akhirnya berhasil ia miliki setelah sepuluh tahun menunggu. Dia membisikkan kata-kata cinta, memuji keindahanku, bilang dia sudah menunggu ini sepuluh tahun. Tapi aku tidak di sana. Saat dia menyatukan tubuh kami, aku memisahkan jiwaku dari ragaku. Aku membiarkan pikiranku pergi. Jauh dari sini. Aku membayangkan diriku berada di taman kota sepuluh tahun lalu, duduk di bangku kayu sambil makan es krim. Aku membayangkan diriku berada di boncengan motor Daniel, memeluk punggungnya yang hangat, tertawa saat angin menerpa wajah kami. Aku menatap langit-langit kamar itu tanpa berkedip. Air mata mengalir dari sudut mataku, merembes ke bantal, tapi aku tidak bersuara. Aku tidak mendesah. Aku tidak merintih. Aku hanya diam, membiarkan tubuhku dipakai sebagai wadah bagi obsesi pria di atasku. Ini bukan aku. Aku harus ingat itu. Ini bukan aku. "Vina... Vina..." Leonard menyebut namaku berulang kali saat dia mencapai puncaknya, suaranya penuh dengan kepuasan yang menyakitkan untuk didengar. Dia ambruk di atasku, memelukku erat seolah takut aku akan menguap menjadi asap. Hening menyelimuti kamar itu. Hanya suara napas kami yang terdengar. Napas Leonard yang berat dan puas, dan napasku yang dangkal dan tertahan. Leonard mengecup keningku yang berkeringat, lalu menarik selimut menutupi tubuh kami yang telanjang. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku, menarikku mendekat hingga punggungku menempel di dadanya. "Terima kasih," bisiknya di rambutku. "Malam ini sempurna. Sekarang kita benar-benar suami istri." Beberapa menit kemudian, napasnya mulai teratur. Dia tertidur lelap. Tidur seorang pria yang merasa telah memenangkan dunia. Aku tetap terjaga. Mataku menatap kegelapan kamar yang pekat. Tubuhku terasa sakit, lengket, dan asing. Aku merasa kotor. Kulitku terasa seperti bukan milikku sendiri. Tanganku perlahan bergerak ke bawah bantal, memastikan benda kecil itu masih ada di sana. Kikir kuku itu. Aku tidak jadi menggunakannya malam ini. Aku menukarnya dengan sesuatu yang jauh lebih mahal: kehormatanku. Tapi saat aku merasakan logam dingin itu di ujung jariku, sebuah kesadaran baru muncul. Malam ini, Leonard mungkin telah meninggalkan benihnya di rahimku. Tapi dia juga telah menumbuhkan kebencian yang lebih dalam di hatiku. Dia pikir dia telah memilikiku sepenuhnya. Dia tidak tahu, bahwa wanita yang tidur di pelukannya malam ini bukanlah istrinya. Dia tidak tahu siapa yang sebenarnya tidur di pelukannya malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD