12. Kontak Pertama

1623 Words
Pagi itu, tubuhku terasa seperti baru saja dilindas oleh alat berat. Bukan karena kamu memukulku—dia tidak pernah main tangan—tapi karena rasa sakit yang menjalar di setiap otot dan sendiku adalah manifestasi dari penolakan jiwaku. Setiap sentuhan yang dia berikan semalam, setiap ciuman yang dia anggap sebagai 'penyatuan cinta', bagiku hanya cap kepemilikan yang dia tancapkan di tubuhku. Aku membuka mata dan menemukan sisi ranjang sebelahku kosong. Di atas bantal Leonard, tergeletak setangkai mawar putih segar yang masih berembun, dan secarik kertas dengan tulisan tangan tegak bersambung yang rapi: "Terima kasih untuk malam yang indah, Istriku. Nikmati taman hari ini. Sampai bertemu nanti malam." Aku meremas kertas itu hingga menjadi bola kecil, lalu melemparnya ke tempat sampah. Mawar putih itu kubiarkan tergeletak di sana, perlahan layu tanpa air. Aku menyeret tubuhku ke kamar mandi. Di bawah guyuran shower air panas, aku menggosok kulitku dengan spons kasar sampai memerah. Aku ingin mengikis jejak tangan Leonard, menghilangkan bau keringat dan gairahnya yang lengket seperti lilin. Tapi sekeras apapun aku menggosok, rasa kotor itu ada di dalam, bukan di luar. "Kau harus bertahan," bisikku pada pantulan wajah pucat di cermin yang berembun. "Kau punya rencana." Hari ini Leonard menepati janjinya. Dia memberiku sedikit "kebebasan". Pukul sepuluh pagi, Silas mengizinkanku keluar ke taman belakang. Ribuan mawar putih yang ditanam di taman The Black Ridge membentuk pola spiral, air mancur marmer memuntahkan air jernih di tengah-tengahnya, dan patung-patung gargoyle mengawasi dari sudut-sudut atap mansion. Biasanya, Silas akan berdiri hanya dua meter di belakangku, mengikuti setiap langkahku seperti bayangan kematian. Tapi hari ini, sesuai perintah tuannya, Silas berdiri jauh di teras belakang, mengawasi dari kejauhan sambil memegang tablet, mungkin sedang memeriksa laporan keamanan. Ini kesempatanku. Aku berjalan menyusuri jalan setapak berbatu, berpura-pura mengagumi bunga-bunga itu. Mataku bergerak liar, bukan melihat kelopak mawar, tapi mencari celah. Di sudut taman, dekat area gazebo yang tertutup tanaman rambat, aku melihatnya. Seorang pelayan muda—mungkin anak baru, dilihat dari seragamnya yang sedikit kedodoran—sedang sibuk membersihkan meja taman dari debu. Di atas kereta dorong cleaning service-nya, tergeletak sebuah benda persegi pipih berwarna hitam. Ponsel. Jantungku melompat ke tenggorokan. Itu adalah benda paling terlarang di The Black Ridge. Leonard telah menyita ponselku sejak hari pertama, dan semua telepon rumah diputus atau disadap. Ini adalah satu-satunya jendela ke dunia luar. Aku menarik napas dalam-dalam, mengatur detak jantungku agar tidak terlihat mencurigakan di CCTV yang tersembunyi di balik dedaunan. Aku berjalan mendekati pelayan itu dengan langkah santai. "Permisi," sapaku lembut. Pelayan itu melonjak kaget. Dia berbalik dan wajahnya memucat saat melihatku. "Ny... Nyonya Lockwood! Maaf, saya tidak melihat Anda datang." "Tidak apa-apa," aku tersenyum ramah—senyum boneka yang sudah kulatih. "Namamu siapa?" "Elara, Nyonya." "Elara, bisakah kau tolong ambilkan aku segelas air lemon dingin? Matahari hari ini cukup terik, aku merasa sedikit pusing." Aku memegang keningku, berakting seolah-olah aku akan pingsan. Elara tampak panik. Jika Nyonya pingsan saat dia bertugas, bisa-bisa dia dipecat—atau dihukum Silas. "Tentu! Tentu saja, Nyonya! Saya akan segera kembali!" Gadis itu berlari kecil menuju pintu dapur samping, meninggalkan kereta dorongnya begitu saja. Detik itu juga, aku bergerak. Aku memastikan Silas sedang tidak melihat ke arahku—dia sedang menunduk melihat tabletnya. Dengan gerakan tangan yang cepat dan terlatih (terima kasih pada tahun-tahun menyelundupkan contekan saat ujian di kampus), aku menyambar ponsel itu dan menyelipkannya ke balik lipatan gaun terusan longgarku. Aku berjalan cepat menuju gazebo yang tertutup tanaman rambat ivy tebal. Ini adalah blind spot. Satu-satunya tempat di taman ini yang mungkin luput dari pandangan langsung kamera karena rimbunnya daun. Tanganku gemetar hebat saat mengeluarkan ponsel itu. Layarnya terkunci dengan pola. "Sial," umpatku. Keringat dingin mulai mengucur di pelipis. Aku mencoba pola "L". Gagal. Aku mencoba pola "Z". Gagal. Pikir, Vina. Pikir! Ini pelayan muda. Polanya pasti sederhana. Aku mencoba garis lurus dari atas ke bawah. Klik. Terbuka. Aku nyaris menangis karena lega. Aku segera menekan ikon telepon. Jariku bergetar mengetik satu-satunya nomor yang kuhafal di luar kepala selain nomor Daniel. Nomor Adrian. Kakakku. Nada sambung terdengar. Tuuut... Tuuut... "Angkat, Kak. Tolong angkat," bisikku, mataku terus mengawasi jalan setapak, takut Elara atau Silas muncul tiba-tiba. "Halo?" Suara itu. Suara Adrian. Terdengar malas dan serak, diiringi suara musik jazz bising dan denting gelas di latar belakang. Dia pasti sedang di klub atau kasino, padahal ini masih pagi. "Kak! Ini aku! Ini Vina!" suaraku bergetar menahan tangis. Hening sejenak di ujung sana. Musik latar itu tiba-tiba terdengar menjauh, seolah Adrian baru saja pindah ke tempat yang lebih sepi. "Vina? Kau pakai nomor siapa? Leonard bilang kau sedang detoks digital untuk kesehatan mentalmu." "Detoks? Itu bohong! Dia mengurungku, Kak! Dia menyita semua alat komunikasi! Aku tidak boleh keluar rumah!" kataku cepat, kata-katanya meluncur cepat seperti peluru. "Kak, tolong aku... Leonard gila. Dia terobsesi padaku. Dia... dia memaksaku melakukan hal-hal yang tidak kuinginkan. Kau harus menjemputku. Sekarang. Tolong bawa polisi." Aku menunggu jawaban heroik. Aku menunggu Adrian berteriak marah dan bilang dia akan datang membawa pasukan. Tapi yang terdengar hanyalah helaan napas panjang yang terdengar... kesal? "Vina, Vina... berhenti mendramatisir," suara Adrian terdengar dingin. "Kau sudah dewasa. Pernikahan itu memang butuh penyesuaian. Leonard itu orang penting, wajar kalau dia protektif." "Protektif?! Ini penjara, Kak! Dia punya CCTV di kamar tidur kami! Dia membakar foto-foto masa laluku! Dia bahkan mungkin terlibat kematian Daniel!" teriakku putus asa. "Cukup!" bentak Adrian. "Jangan bawa-bawa orang mati. Dengar baik-baik, Davina. Kau tahu di mana aku sekarang? Aku di Corvelle VIP Lounge. Ibu baru saja membeli tiga tas baru. Ayah akhirnya bisa tidur nyenyak karena penagih hutang tidak lagi menggedor pintu rumah kita dengan tongkat baseball. Perusahaan Ayah selamat. Nama baik kita pulih. Itu semua karena siapa? Karena suamimu." Duniaku runtuh. Setiap kata yang diucapkan Adrian terasa seperti paku yang ditancapkan ke peti matiku. "Jadi... kau menjualku?" bisikku, air mata mulai mengalir deras tanpa bisa kutahan. "Kalian menjual adik kalian sendiri demi tas dan gengsi?" "Kami tidak menjualmu. Kami menjodohkanmu dengan pria terkaya di Oakhaven," Adrian meralat dengan nada defensif yang memuakkan. "Kau yang harusnya bersyukur. Kau hidup di istana, makan enak, pakai baju sutra. Berhentilah menjadi egois, Vina. Berhentilah memikirkan perasaanmu sendiri dan pikirkan keluarga. Kalau kau kabur, atau kalau kau bikin Leonard marah, dia bisa mencabut semua investasi itu dalam satu jentikan jari. Kita akan hancur lagi. Kau mau Ibu kena serangan jantung lagi?" "Aku diperkosa setiap malam..." isakku lirih. "Jiwaku mati di sini, Kak." Hening sejenak. Aku berharap ada sedikit rasa kemanusiaan yang tersisa di hati kakakku. "Dia suamimu, Vina. Itu kewajibanmu," jawab Adrian datar. "Lakukan saja tugasmu. Berikan dia anak, maka dia akan lebih lunak padamu. Jangan hubungi aku lagi dengan nomor aneh. Kalau Leonard tahu, kami yang kena masalah." Klik. Sambungan terputus. Aku menurunkan ponsel itu perlahan. Layarnya yang gelap memantulkan wajahku yang basah oleh air mata dan ingus. Rasanya sakit. Lebih sakit daripada saat Leonard menyentuhku. Lebih sakit daripada saat Daniel mati. Ini pengkhianatan dari darah dagingku sendiri. Orang-orang yang seharusnya melindungiku, orang-orang yang tumbuh bersamaku, ternyata lebih mencintai uang Leonard daripada nyawa adiknya sendiri. Aku sendirian. Benar-benar sendirian di dunia ini. Leonard benar. "Tidak ada yang akan percaya padamu, Sayang." Dia tahu persis harga keluargaku, dan dia sudah membayarnya lunas. "Nyonya? Nyonya Lockwood?" Suara Elara terdengar dari kejauhan. Aku tersentak sadar. Panik menyergapku. Aku segera menghapus riwayat panggilan di ponsel itu. Tanganku gemetar, hampir menjatuhkannya ke lantai batu gazebo. Aku mengintip dari balik tanaman rambat. Elara sedang berjalan kembali ke arah kereta dorongnya dengan segelas air di nampan, tampak bingung karena tidak menemukanku. Aku harus mengembalikan ponsel ini. Aku menarik napas dalam-dalam, menyeka wajahku dengan punggung tangan, lalu keluar dari persembunyianku. Aku berjalan cepat—setengah berlari—menuju kereta dorong itu mumpung Elara masih celingukan ke arah kolam ikan. Dengan gerakan cepat, aku meletakkan kembali ponsel itu di atas tumpukan kain lap, tepat di posisi semula. "Nyonya! Ya ampun, saya mencari Anda ke mana-mana." Elara muncul di belakangku. Aku berbalik, jantungku berdegup kencang seolah mau meledak. "Maaf, Elara," kataku, berusaha menormalkan napasku. "Aku tadi melihat kupu-kupu cantik dan mengejarnya ke sana. Terima kasih airnya." Aku mengambil gelas itu dan meminumnya sampai habis dalam satu tegukan, membiarkan rasa dingin dan asam lemon membekukan tenggorokanku yang perih karena menahan tangis. "Anda baik-baik saja, Nyonya? Mata Anda merah," tanya Elara polos. "Alergi serbuk sari," dustaku. "Sebaiknya aku masuk. Matahari ini terlalu menyengat." Aku berjalan kembali menuju mansion. Kakiku terasa berat, seolah aku menyeret bola besi. Silas masih berdiri di teras, menatapku dengan wajah datarnya. Dia mengangguk kecil saat aku lewat, seolah tahu bahwa burung dalam sangkar ini baru saja mencoba terbang dan menabrak kaca. Aku masuk ke dalam kamarku yang dingin dan mewah. Aku berjalan menuju lemari, melihat deretan gaun mahal pemberian Leonard. Adrian bilang aku harus bersyukur. Adrian bilang ini kewajibanku. Keluargaku sudah membuangku. Tidak ada ksatria berkuda putih yang akan datang. Tidak ada polisi. Tidak ada kakak yang penyayang. Aku berjalan ke depan cermin. Menatap wanita menyedihkan di sana. Rasa putus asa itu perlahan mengeras di dadaku, menjadi sesuatu yang tajam dan berbahaya. Jika keluargaku tidak peduli aku hancur, maka aku tidak punya alasan lagi untuk menjaga nama baik mereka. Jika Leonard ingin menghancurkanku, aku akan pastikan aku menjadi pecahan beling yang akan melukai kerongkongannya saat dia menelanku. Aku meraba perutku yang masih rata. Tempat di mana Leonard ingin menanam benihnya. Tempat di mana Adrian berharap ada "pengikat" agar uang bulanan mereka lancar. "Kalian semua akan menyesal," bisikku pada kesunyian kamar. Aku mengambil vas bunga mawar di atas meja rias—mawar putih yang selalu diganti baru setiap hari—dan membantingnya ke lantai. PRANG! Pecahan kaca berserakan. Air menggenang di karpet mahal. Aku memungut satu pecahan kaca yang panjang dan tajam, lalu menyembunyikannya di tempat yang sama dengan kikir kuku itu. Sekarang aku punya dua senjata. Dan aku tidak punya belas kasihan lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD