Keheningan di The Black Ridge malam ini terasa berbeda. Biasanya, keheningan di rumah ini punya tekstur—dengung AC, detak jam kakek di koridor, langkah Silas yang berpatroli. Tapi malam ini hampa. Kosong. Seperti udara sebelum badai. Burung-burung berhenti berkicau. Aku duduk di tepi ranjang, meremas gaun malam sutra berwarna biru tua yang disiapkan Elara pagi tadi. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Waktunya makan malam. Tapi tidak ada yang datang menjemputku. Silas tidak mengetuk pintu. Leonard tidak muncul dengan pujian dan sisir rambutnya. Perutku melilit. Bukan karena lapar. Firasat buruk. Apakah Elara melapor? Tidak mungkin. Gadis itu terlihat polos dan ketakutan setengah mati padaku tadi pagi. Dia tidak curiga saat aku meminjam ponselnya dengan alasan sakit kepala. Aku s

