14. Malaikat dalam Sangkar

1485 Words
Cahaya menyakitkan mataku saat pintu besi dibuka. Saat pintu besi Ruang Hening dibuka, cahaya lampu koridor menusuk mataku seperti jarum—padahal biasanya terasa lembut. Aku terpejam rapat, merintih saat pupil mataku yang sudah terbiasa dengan kegelapan absolut mencoba beradaptasi dengan paksa. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku di dalam sana. Dua hari? Tiga hari? Waktu tidak lagi berarti. Semuanya hilang dalam kesunyian itu. "Nyonya," suara Silas terdengar, datar dan dingin seperti biasa. "Tuan Lockwood meminta Anda untuk kembali ke kamar. Beliau ingin Anda beristirahat dan membersihkan diri sebelum makan siang." Aku tidak menjawab. Tubuhku terasa seperti kayu yang sudah mengeras. Aku mencoba berdiri, tapi kakiku gemetar hebat, dan aku nyaris tersungkur jika Silas tidak menahan lenganku dengan cengkeraman besinya. Aku merasa kotor, bauku seperti campuran keringat dan sesuatu yang busuk. Saat aku diseret pelan melewati lorong basement menuju lift, aku menatap pintu-pintu besi lain yang berderet di sana. Di salah satu pintu itu, Daniel berada. Jaraknya mungkin hanya beberapa meter, tapi terasa seperti dunia yang berbeda. Aku ingin berteriak memanggil namanya, tapi lidahku terasa kelu. Tunggu aku, Daniel. Aku masih di sini. Sesampainya di kamar atas, aku dibiarkan sendiri. Aku mandi dengan air dingin yang nyaris membekukan tulang, mencoba membilas ingatan akan kegelapan itu. Aku menggosok telapak tanganku yang terluka akibat pecahan kaca tempo hari. Lukanya sudah mengering, meninggalkan bekas kemerahan yang perih. Aku mengenakan gaun katun putih yang sederhana, menolak semua perhiasan pemberian Leonard yang berkilau di atas meja rias. Aku muak menjadi boneka pajangan. Namun, di tengah kesunyian kamarku, aku mendengar sesuatu. Bukan suara rintihan Daniel. Bukan langkah kaki Leonard. Tapi isakan kecil. Sangat halus, hampir tidak terdengar di balik suara angin. Aku berjalan menuju pintu balkon. Isakan itu semakin jelas. Berasal dari taman kecil yang terletak di bawah balkon kamarku—area yang biasanya tertutup dan hanya dipakai untuk membuang sampah taman. Aku mengintip dari balik pagar balkon. Di bawah sana, duduk seorang anak perempuan kecil. Sepertinya dia berusia enam atau tujuh tahun. Rambutnya pirang pucat, dikepang dengan rapi namun sedikit berantakan di ujungnya. Dia mengenakan gaun biru muda yang tampak terlalu formal untuk seorang anak kecil yang sedang duduk di atas rumput. Dia sedang meringkuk, memeluk lututnya, dan bahunya terguncang hebat karena tangis yang ia coba tahan. "Siapa kau?" tanyaku lirih. Anak itu melonjak kaget. Dia mendongak, matanya yang besar dan biru—persis seperti mata Leonard—menatapku ketakutan. Wajahnya mungil dan pucat, seperti jarang melihat matahari. "Aku... aku minta maaf," bisiknya, suaranya gemetar. Dia segera berdiri dan mencoba merapikan gaunnya, seolah dia baru saja tertangkap melakukan kejahatan besar. "Aku tidak bermaksud mengganggu Anda, Nyonya." Nyonya. Dia memanggilku Nyonya. "Aku Davina," kataku, berusaha membuat suaraku terdengar lembut. Aku tidak ingin dia lari. Melihat anak kecil di rumah iblis ini sangat aneh. "Siapa namamu?" "Roseline," jawabnya pelan. Dia menyeka air matanya dengan punggung tangan, meninggalkan noda kemerahan di pipinya yang lembut. Roseline. Aku pernah mendengar nama itu di sela-sela pembicaraan Leonard dengan pengacaranya. Keponakannya. Anak dari kakaknya, Calder Lockwood, yang kabarnya merupakan seorang pecandu alkohol dan penjudi yang kasar. "Kenapa kau menangis, Roseline? Apakah kau tersesat?" Roseline menggeleng cepat. Dia menunduk, menatap sepatu kulit hitamnya yang mengilap. "Paman Calder... dia bilang aku tidak boleh menangis. Dia bilang anak Lockwood tidak boleh menunjukkan kelemahan. Tapi..." isakannya kembali pecah. "Tapi dia merusak bonekaku. Dia bilang aku terlalu besar untuk bermain boneka." Dia membuka pelukannya, memperlihatkan sebuah boneka kain tua yang kepalanya sudah nyaris putus karena ditarik paksa. Dadaku sesak. Bahkan anak sekecil ini pun tidak luput dari keluarga Lockwood. Leonard mengurung istrinya, dan Calder menghancurkan masa kecil anaknya sendiri. Mereka semua adalah monster dalam skala yang berbeda-beda. "Tunggu di sana," kataku. Aku berbalik masuk ke kamar, mengambil kotak peralatan jahit kecil yang selalu disediakan pelayan di dalam laci meja rias. Aku membawa kotak itu, keluar dari kamar, dan turun melalui tangga samping menuju taman belakang. Aku menemukan Roseline masih berdiri di tempat yang sama, seolah dia terlalu takut untuk bergerak satu inci pun. "Kemarilah," aku duduk di atas bangku taman yang dingin. "Sini, aku akan memperbaikinya." Roseline mendekat dengan ragu-ragu. Dia memberikan boneka itu padaku. Tangannya kecil dan terasa sedingin es. Aku mulai menjahit kepala boneka itu. Jarum di tanganku bergerak dengan cekatan. Di kampus dulu, aku sering menjahit maket-maket kain, jadi ini bukan hal sulit. Roseline memperhatikan setiap gerakanku dengan mata berbinar kagum. "Kenapa kau ada di sini, Roseline? Aku tidak pernah melihatmu di dalam mansion," tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari jahitan. "Aku tinggal di Paviliun Timur bersama Paman Calder," jawabnya. "Paman Leonard bilang aku tidak boleh masuk ke mansion utama kecuali ada perayaan. Dia bilang... ada 'barang berharga' yang dia simpan di sini, dan aku tidak boleh mengganggu" Barang berharga. Dia membicarakanku seperti benda koleksi yang rapuh. "Kau tidak menggangguku," kataku, memutus benang dengan gigiku. "Selesai." Aku memberikan boneka itu kembali padanya. Kepala boneka itu kini sudah tegak lagi, meski ada bekas jahitan kasar yang tersisa. Bagi Roseline, itu sudah lebih dari cukup. Dia memeluk boneka itu erat-erat di dadanya. "Terima kasih, Nyonya Vina," senyum tipis akhirnya muncul di wajahnya. Senyum yang begitu rapuh hingga aku merasa ingin melindunginya dari seluruh dunia. "Panggil saja Vina," kataku. "Vina..." dia mengulangi namaku dengan nada heran. "Kau sangat cantik. Seperti mawar putih yang ada di kamar Paman Leonard. Dia selalu membicarakannya. Dia bilang mawar itu adalah yang paling penting di The Black Ridge." Aku merasa merinding. Mawar putih. Selalu mawar putih. Obsesinya bahkan sudah sampai ke anak sekecil ini. "Kau harus kembali sebelum Paman Calder mencarimu, Roseline," aku berdiri, merapikan gaun putihku. "Jangan biarkan dia melihatmu menangis lagi. Jika kau butuh sesuatu, carilah aku. Tapi jangan sampai ketahuan Silas atau Pamanmu." Roseline mengangguk mantap. Dia menatapku sejenak, lalu tiba-tiba dia maju dan memeluk pinggangku. Pelukannya singkat, tapi terasa tulus dan hangat—sesuatu yang sudah sangat lama tidak kurasakan di rumah ini. "Kau baik, Vina," bisiknya sebelum melepaskan pelukan dan berlari kecil menuju arah Paviliun Timur. Aku berdiri diam di taman, menatap punggung kecil itu yang menghilang di balik pepohonan cedar yang menjulang tinggi. Rasa hampa di dadaku perlahan terisi. Bukan harapan, tapi perasaan senasib. Roseline sama sepertiku—tawanan keluarga Lockwood. "Dia terlihat manis, bukan?" Suara itu membuatku membeku. Aku berbalik perlahan. Leonard berdiri di teras mansion, bersandar pada pilar batu. Dia mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit dibaca—setengah kagum, setengah posesif. "Kau keluar dari Ruang Hening dan hal pertama yang kau lakukan adalah membantu seorang anak kecil," Leonard menuruni tangga, mendekatiku dengan langkah yang terukur. "Sifat penyayangmu itu... itulah yang membuat nenekku memilihmu. Kau punya empati yang kami, para Lockwood, tidak punya." "Keluargamu adalah racun, Leonard," desisku, tidak lagi repot-repot bersikap manis. "Bahkan anak sekecil itu pun ketakutan di rumahmu sendiri." Leonard sudah berdiri tepat di depanku. Dia mengulurkan tangan, menyelipkan sehelai rambutku yang tertiup angin ke belakang telinga. Jarinya yang hangat menyentuh kulit pipiku, membuatku ingin menepisnya, tapi aku menahan diri. "Dunia ini memang racun, Vina. Itu sebabnya aku mengurungmu di sini. Untuk menjagamu agar tetap murni," bisiknya, suaranya parau. "Roseline adalah darah Lockwood. Dia akan belajar untuk menjadi kuat melalui rasa sakit. Itu adalah cara kami bertahan hidup." "Itu cara kalian menjadi monster," balasku tajam. Leonard tertawa pelan, lalu dia menarik pinggangku agar merapat ke tubuhnya. Aku bisa mencium aroma sandalwood dan sisa aroma cerutu di pakaiannya. "Mungkin kau benar. Tapi setidaknya aku adalah monster yang mencintaimu," dia menunduk, mencium keningku dengan lembut, namun ciuman itu terasa seperti segel besi yang membara. "Ayo masuk. Makan siang sudah siap. Dan aku punya kejutan untukmu." "Kejutan apa lagi?" tanyaku sinis. "Minggu depan, kita akan pergi ke Villa Tebing di perbatasan Vilmera. Udara di sana lebih bersih untukmu. Aku ingin kau merasa lebih baik sebelum dokter spesialis itu datang memeriksa kesiapan rahimmu." Rahim. Program kehamilan. Aku teringat pengkhianatan Adrian. Aku teringat kegelapan di Ruang Hening. Dan sekarang, aku melihat Roseline. Jika aku hamil di rumah ini, anak itu akan jadi seperti Roseline. Atau lebih buruk—seperti ayahnya. Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. "Baiklah, Leonard," jawabku dengan suara yang paling patuh yang bisa kubuat. "Aku akan ikut ke Villa itu." Leonard tampak senang dengan kepatuhanku. Dia merangkul bahuku dan membimbingku masuk ke dalam mansion. Dia tidak tahu bahwa di balik gaun katun putih ini, di paha kiriku, masih tersimpan kikir kuku dan pecahan kaca yang tajam. Pertemuan dengan Roseline memberiku tujuan baru. Aku tidak cuma akan lari. Aku harus menghancurkan rumah ini. Saat kami berjalan melewati koridor utama, aku melihat pantulan kami di cermin besar. Leonard Lockwood yang dominan, dan Davina Montclair yang tampak seperti boneka penurut. Tapi di dalam mataku, cahaya yang selalu dipuji Leonard itu sudah berubah jadi bara. Api kecil yang siap membakar kerajaan Lockwood. Nikmati kemenanganmu sekarang, Leonard. Karena di Villa Tebing nanti, kau akan tahu siapa aku sebenarnya. Aku mulai menyuapkan potongan daging ke mulutku. Aku harus makan. Aku harus kuat. Karena perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD