2. Sosok di Balik Kabut

1341 Words
Restoran The Gilded Cage berdiri angkuh di puncak gedung tertinggi pusat kota Oakhaven. Tempat itu bukan sekadar restoran—ini simbol kasta para penguasa Aethelgard. Malam ini, seluruh lantai lima puluh telah dikosongkan. Tidak ada denting piano, tidak ada gelak tawa tamu lain. Hanya kesunyian. Dipaksakan, dan kabut tebal di balik jendela kaca raksasa, seolah ingin menelan seluruh bangunan. Aku turun dari mobil. Langkahku terasa seperti diseret ke tiang gantungan. Gaun hitam sutra yang kupakai—pilihan Ibu yang katanya "elegan dan pasrah"—terasa begitu berat. Setiap langkahku menuju lift privat bergema. Ketuk. Ketuk. Seolah menghitung detik-detik sebelum aku benar-benar terjebak di sini Di dalam lift, Adrian merapikan dasinya di depan cermin. Dia bahkan tidak melirikku. "Ingat, Vina. Jangan buat malu Ayah. Leonard bukan pria yang suka menunggu. Dia benci dibantah" Aku tidak menyahut. Aku cuma menatap pantulan diriku yang tampak asing di cermin lift. Riasan wajahku tebal, menyembunyikan lingkaran hitam di bawah mata akibat tangisan semalam. Aku terlihat seperti boneka porselen yang siap pecah kapan saja. Pintu lift terbuka. Pelayan menyambut kami, membungkuk rendah tanpa suara. Kami diarahkan ke satu-satunya meja di tengah ruangan luas itu. Ayah sudah duduk di sana, menyesap wine dengan wajah tegang. Dia baru saja menutup teleponnya saat kami mendekat. "Dia akan tiba lima menit lagi," bisik Ayah, suaranya parau. Kami duduk. Hening. Menyiksa. Di depan kami, pemandangan Oakhaven dari ketinggian biasanya mempesona, tapi malam ini lampu-lampu kota itu seperti mata yang mengamatiku. Aku terus meremas jemariku di bawah meja. Dingin merayap di punggungku. Lalu, pintu ganda restoran terbuka. Suara langkah kaki itu... berat, teratur, dan penuh wibawa. Langkah kaki pria yang tahu dia memiliki setiap inci lantai yang dipijak. Ayah dan Adrian serentak berdiri, gerakan refleks yang menunjukkan betapa rendahnya posisi keluarga Montclair. Aku terpaksa ikut berdiri, tanganku bertumpu pada pinggiran meja agar tidak jatuh karena kakiku mendadak lemas. Leonard Lockwood masuk ke dalam ruangan. Dia tidak datang dengan barisan pengawal yang berisik. Dia sendirian, tapi auranya — suhu ruangan ini seolah turun beberapa derajat. Leonard mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang pas sempurna di tubuhnya. Wajahnya—perpaduan ketampanan sempurna dan kekejaman murni. Garis rahangnya keras, rambut gelapnya disisir rapi. Tapi matanya... itu yang paling mengerikan. Hitam, dalam, dan tanpa emosi. Saat mata itu menemukanku, aku merasa seolah seluruh pakaianku dilucuti, rahasia terdalamku dibongkar. "Duduklah," kata Leonard. Suaranya rendah, bariton. Ada daya tekan di sana yang membuat napasku tercekat. Pelayan segera datang menyajikan hidangan pembuka. Tidak ada yang menyentuh makanan itu. Ayah mulai membuka pembicaraan, suaranya terdengar sangat menjilat saat membahas pengambilalihan jalur distribusi di Distrik Utara yang baru saja dimenangkan oleh Lockwood Group. "Itu urusan kecil, Robert," Leonard memotong pembicaraan Ayah dengan santai. Dia bahkan tidak melihat ke arah Ayah. Matanya tertuju padaku, mengawasiku yang sedang menatap kosong ke arah piring. "Aku lebih tertarik membahas masa depan istriku." Ayah tersedak pelan. "Tentu, tentu. Davina adalah wanita yang sangat berbakti. Dia pasti akan menyesuaikan diri dengan cepat." "Kudengar kau sedang mengerjakan tesis tentang arsitektur kuno di Oakhaven sebelum... kejadian itu, Davina," Leonard tiba-tiba bertanya langsung padaku. Aku tersentak, hampir menjatuhkan garpu perakku. Aku mendongak, memberanikan diri menatapnya. "Aku sudah berhenti mengerjakannya sejak dua tahun lalu. Itu sudah tidak penting lagi." "Sayang sekali," sahutnya sambil menyesap wine. Gerakannya sangat elegan, tapi matanya tetap terkunci pada mataku. "Padahal bab tentang ruang bawah tanah di gedung-gedung era kolonial itu sangat menarik. Kau menulis bahwa setiap bangunan besar di kota ini selalu memiliki rahasia yang terkubur di bawah marmernya. Benar begitu?" Darahku seolah berhenti mengalir. Tesis itu... aku baru menulis draf kasarnya. Belum ada yang membacanya selain Daniel dan Megie. Bahkan Ayah dan Adrian tidak tahu apa topik tesisku karena mereka tidak pernah peduli. Bagaimana pria ini bisa tahu detail sekecil itu? "Bagaimana Tuan Lockwood bisa tahu isi draf tesisku?" tanyaku dengan suara yang bergetar. Leonard meletakkan gelasnya dengan denting halus di atas meja. Dia condong ke arahku, memperpendek jarak. Aku bisa mencium aroma parfum cendana dan tembakau mahal miliknya. Memabukkan. Mencekik. "Aku suka mempelajari apa yang akan menjadi milikku secara mendalam, Vina," bisiknya. Volume suaranya cukup rendah—hanya aku yang bisa mendengarnya dengan jelas. Tapi cukup tajam untuk merobek pertahananku. "Aku bukan barang, Leonard," desisku, mencoba menunjukkan sisa keberanianku. Leonard tersenyum tipis. Seringai predator. Dia menyukai perlawananku. "Di dunia ini, setiap orang punya harga. Dan aku sudah membayar hargamu dengan sangat mahal kepada ayahmu. Jadi, secara teknis, kau adalah kepunyaanku." Makan malam itu berlangsung seperti mimpi buruk yang panjang. Setiap kali aku mencoba bicara, Leonard selalu punya cara untuk mengingatkanku bahwa dia tahu segalanya tentangku. Dia tahu makanan kesukaanku, dia tahu bunga yang kubenci, bahkan dia tahu kebiasaanku yang suka duduk di balkon saat tidak bisa tidur. Rasanya seolah-olah selama dua tahun ini, aku tidak pernah benar-benar sendiri. Setelah makan malam berakhir, Leonard bangkit berdiri. "Aku yang akan mengantarnya pulang. Robert, Adrian, kalian bisa pergi sekarang." Ayah dan Adrian segera mengangguk patuh, meninggalkan aku sendirian bersama pria yang baru saja mereka sebut sebagai "pembunuh tunangan" itu. Di dalam SUV hitam miliknya, lebih menyesakkan. Leonard menyetir sendiri, tanpa sopir. Kabut Oakhaven di luar sana semakin tebal, membungkus mobil kami. Isolasi sempurna. "Lepaskan kalung itu," ucapnya tiba-tiba, matanya tetap lurus menatap jalanan remang-remang di depan. Aku refleks memegang liontin perak pemberian Daniel di balik kerah gaunku. "Ini pemberian Daniel. Aku tidak akan pernah melepaskannya." "Mulai besok, segala hal yang menempel di tubuhmu adalah urusanku, Vina." Aku tersentak hebat saat mendengar nama itu keluar dari bibirnya. Suaranya saat mengucapkan "Vina" terdengar begitu berbeda. Daniel mengucapkannya dengan hangat. Leonard... seperti memberi label pada barang inventaris. "Jangan panggil aku dengan nama itu. Hanya orang yang aku cintai yang boleh memanggilku begitu," suaraku meninggi. Leonard menginjak rem. Kasar. Mobil berhenti mendadak di pinggir jalanan sunyi, hanya diterangi lampu jalan yang berkedip. Dia berbalik, menatapku. Matanya menyala—penuh kegelapan—di dalam kabin mobil yang remang. "Orang yang kau cintai? Maksudmu Dokter residen yang sudah membusuk di tanah Distrik Selatan itu?" PLAK! Tanganku bergerak sebelum aku sempat berpikir. Tamparan itu mendarat keras di pipi kirinya, meninggalkan bekas merah yang kontras dengan kulit pucatnya. Suasana mendadak mati. Hanya terdengar mesin mobil yang halus dan napas Leonard yang mulai berat. Aku gemetar hebat, menyadari apa yang baru saja kulakukan. Aku baru saja menampar pria paling berkuasa di Aethelgard. Leonard tidak membalas tamparanku. Dia perlahan memutar wajahnya kembali ke arahku. Tidak ada kemarahan yang meledak. Tapi tatapannya... jauh lebih mengerikan. Dia meraih pergelangan tanganku, mencengkeramnya begitu kuat hingga aku merintih kesakitan. "Ingat ini baik-baik, Vina," bisiknya. Suaranya sangat tenang. Tapi mengandung ancaman mematikan. "Kau boleh menangisi hantu itu sesukamu malam ini. Kau boleh memakai kalung itu sepuasmu di rumah ayahmu. Tapi begitu kau melangkah masuk ke gerbang mansion Lockwood sebagai istriku, kau akan lupa bagaimana cara menyebut namanya. Aku akan pastikan setiap inci tubuhmu, setiap napasmu, dan setiap pikiranmu hanya berisi namaku. Hanya Leonard." Dia melepaskan tanganku dengan sentakan kasar, lalu kembali menjalankan mobil seolah tidak terjadi apa-apa. Sepanjang sisa perjalanan, aku cuma bisa meringkuk di sudut kursi, memandangi kabut yang menelan mobil kami. Di sampingku, Leonard menatap lurus ke depan, pikirannya melayang pada kenangan lama yang hanya ia tahu. Ia ingat neneknya, Silvia Lockwood, di ranjang kematiannya tahun lalu. Sang nenek memegang tangannya, sisa tenaga terakhir. "Leonard... gadis itu... gadis yang menolong nenek di depan gerbang universitas sepuluh tahun lalu... dia adalah satu-satunya alasan nenek masih hidup sampai hari ini. Cari dia. Hanya gadis setulus dia yang bisa menyelamatkanmu dari kegelapan keluarga ini. Jangan biarkan dia jatuh ke tangan orang lain..." Pernikahan ini bukan sekadar transaksi bisnis. Bagi Leonard, ini penebusan janji—kepada satu-satunya orang yang ia sayangi. Dia telah mengawasi Vina selama sepuluh tahun, melihatnya jatuh cinta pada pria lain. Menunggu. Sampai takdir memberikan kesempatan untuk menerkam. "Kita sampai," ucapnya dingin saat mobil berhenti di depan mansion Montclair. "Masuklah. Dan berhentilah menangis. Aku tidak suka calon pengantinku terlihat kusam." Aku keluar dari mobil tanpa menoleh lagi. Saat aku berjalan masuk ke rumah, aku bisa merasakan sepasang mata Leonard terus mengikutiku hingga pintu tertutup. Malam itu, aku tahu satu hal: Oakhaven tidak lagi memiliki tempat bagiku untuk bersembunyi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD