Pagi di Oakhaven tidak pernah benar-benar cerah. Matahari selalu redup, tertutup kabut tebal, seolah tidak mau melihat apa yang terjadi di kota ini. Hari ini, udara terasa jauh lebih menggigit, menusuk hingga ke sumsum tulang saat aku melangkah keluar dari mobil di depan gerbang Pemakaman Distrik Selatan. Angin dingin membawa bau tanah basah dan daun busuk—bau kematian.
Ini adalah tempat paling sunyi di seluruh Aethelgard, jauh dari hiruk-pikuk klakson dan ambisi manusia yang memuakkan. Tapi bagiku, ini satu-satunya tempat yang masih terasa seperti rumah. Di antara nisan-nisan bisu inilah aku merasa paling hidup, karena hanya di sini aku bisa dekat dengan satu-satunya orang yang pernah menganggapku manusia, bukan aset.
Aku berjalan menyusuri jalanan setapak yang ditumbuhi rumput liar yang mulai memutih karena embun beku. Kerikil berderak di bawah sepatuku, memecah keheningan. Di tanganku, sebuket mawar putih yang kelopaknya mulai layu karena hawa dingin tergenggam erat. Leonard mengirimkan mawar putih pagi ini sebagai tanda kasih sayangnya. Sekarang aku membawanya untuk Daniel—pria yang paling dia benci.
Aku berhenti di depan sebuah nisan granit hitam yang sederhana. Tidak ada ukiran mewah seperti makam keluarga kaya lainnya. Hanya batu kokoh yang berdiri tegak, sama seperti Daniel semasa hidupnya.
Daniel Bennet 1993 – 2024 “Cinta adalah napas yang takkan pernah padam.”
Lututku lemas seketika. Aku jatuh terduduk di atas tanah yang dingin dan lembap, tidak peduli gaun wol mahalku akan ternoda lumpur. Biar saja. Biar saja gaun mahal ini kotor. Tanganku gemetar hebat saat menyentuh permukaan nisan yang kasar. Dingin. Menyakitkan. Daniel selalu terasa hangat, pelukannya adalah tempat paling aman di dunia, namun sekarang, hanya batu beku ini yang bisa kusentuh.
"Daniel..." suaraku pecah, tertelan oleh angin di antara pohon-pohon cemara. "Maafkan aku... Ya Tuhan, maafkan aku. Aku tidak punya pilihan lain."
Aku mulai bercerita, seolah Daniel sedang duduk di sampingku, bersila di atas rumput sambil mendengarkan dengan tatapan lembutnya yang biasa. Aku menceritakan segalanya—hal-hal yang tidak bisa kukatakan pada Ayah, pada Adrian, bahkan pada Megie. Aku bercerita tentang hutang Ayah yang menggunung, tentang saham Montclair yang hancur lebur, dan tentang mimpi-mimpi kita yang terpaksa kukubur hidup-hidup.
"Ingat rencana kita untuk membuka klinik kecil di pinggir kota? Ingat rumah dengan jendela biru yang kau gambar di tisu kafe waktu itu?" tanyaku di sela isak tangis. "Semuanya hilang, Daniel. Mereka menjualku. Mereka menukarku dengan tumpukan uang kertas."
Lalu aku menyebut nama itu. Leonard Lockwood. Pria yang namanya saja sudah cukup untuk membuat bayang-bayang di pemakaman ini terasa lebih gelap dan mencekik.
"Dia tahu segalanya, Daniel. Dia tahu nama panggilanku. Dia tahu tentang tesisku yang bahkan belum selesai. Dia bahkan tahu aku sedang menemuimu sekarang," isakku mulai tak tertahankan, dadaku sesak, rasanya sulit bernapas. Air mata panas mengalir di pipiku, jatuh ke tanah yang membeku.
"Besok adalah hari pernikahan itu. Mereka akan memakaikan gaun putih padaku, tapi bagiku, itu adalah kain kafan. Aku akan mati, Daniel. Davina yang kau kenal akan mati besok, digantikan oleh boneka bernyawa milik Lockwood."
Aku meletakkan mawar putih di atas gundukan tanah dengan hati-hati. Pikiranku melayang ke malam kecelakaan itu. Daniel baru saja selesai bertugas di rumah sakit, dia mengirimiku pesan suara—suara terakhirnya—bahwa dia akan membawakan cokelat hangat favoritku. “Tunggu aku, Vina. Aku pulang.” Itu kata-katanya. Tapi dia tidak pernah sampai. Sebuah truk besar menghantam mobilnya di persimpangan jalan, dan duniaku hancur seketika dalam kobaran api.
Tiba-tiba, bulu kudukku meremang.
Perasaan diawasi itu muncul lagi. Bukan oleh hantu, tapi oleh sesuatu yang hidup. Instingku menjerit, memberitahu bahwa aku tidak lagi sendirian.
Aku menyeka air mataku dengan kasar dan menoleh ke belakang. Di kejauhan, di dekat gerbang masuk pemakaman, sebuah SUV hitam terparkir diam di sana. Mesinnya mati, tapi kehadirannya terasa mendominasi. Kaca filmnya yang pekat memantulkan cahaya pucat matahari, menyembunyikan siapa pun yang ada di dalamnya. Tapi aku tidak perlu melihat untuk tahu. Aku tahu siapa yang sedang duduk di sana, memperhatikan setiap tetes air mataku dengan kepuasan yang dingin.
Leonard tidak membiarkanku berduka dalam damai.
"Vina," sebuah suara berat mengejutkanku dari arah samping.
Aku tersentak dan berdiri dengan cepat, jantungku berpacu liar. Leonard sudah berdiri hanya beberapa langkah di dekatku. Aku tidak mendengar langkah kakinya sama sekali. Dia mengenakan mantel panjang berwarna hitam berbahan wol tebal, tangannya terbenam santai di saku, dan wajahnya tampak datar, sedingin dan sekeras permukaan nisan di depanku.
"Sedang berpamitan?" tanyanya tanpa nada. Matanya yang gelap melirik ke arah nisan Daniel sebentar—tatapan yang penuh dengan ejekan halus—sebelum kembali menatapku.
"Kenapa kau mengikutiku sampai ke sini?" suaraku meninggi, penuh dengan rasa jijik dan amarah yang tak lagi kusembunyikan. "Apa kau tidak punya harga diri sedikit pun? Ini makam Daniel! Tempat ini suci bagiku!"
Leonard melangkah maju, memperpendek jarak di antara kami. Kehadirannya terasa lebih dingin daripada angin Oakhaven. Aroma tembakau mahal dan parfum cendana miliknya langsung mendominasi udara, mengusir aroma tanah dan hujan.
"Harga diri adalah sesuatu yang dimiliki oleh pemenang, Vina. Dan Daniel Bennet kalah," ucapnya tenang, setiap katanya menusuk seperti jarum. "Dia kalah dari takdir, dia kalah dari waktu, dan yang paling penting... dia kalah dariku."
"Kau gila," bisikku ngeri, melangkah mundur hingga betisku menyentuh pinggiran nisan Daniel.
"Aku realistis," sahutnya. Dia mengulurkan tangan, mencoba menyentuh pipiku yang basah. Gerakannya pelan namun otoritatif. Aku menepisnya dengan kasar. Plak! Suara tepisan itu terdengar nyaring di keheningan makam.
Leonard tidak marah. Dia justru tersenyum tipis—senyuman miring yang membuatku merasa seperti mangsa yang terpojok di ujung tebing.
"Menangislah sepuasmu hari ini. Habiskan sisa air matamu untuk pria ini. Puaskan rasa dukamu sekarang. Karena mulai besok, saat kau mengenakan marga Lockwood, aku tidak ingin melihat setetes pun air mata keluar dari matamu kecuali itu karenaku. Entah itu air mata bahagia, atau air mata keputusasaan... semuanya harus tentang aku."
Leonard membungkuk sedikit. Dengan tangan yang terbungkus sarung tangan kulit hitam, dia mengambil setangkai mawar putih yang tadi kuletakkan dengan penuh cinta di makam Daniel. Dia mengangkat bunga itu, memutarnya di depan wajahnya sejenak, mengagumi kerapuhannya.
Lalu, tanpa ragu, dia meremas bunga itu di tangannya.
Aku mendengar suara krak pelan saat batang bunga itu patah dan kelopaknya remuk. Dia meremasnya kuat-kuat hingga hancur, lalu membiarkan serpihan kelopak putih yang kini memar itu jatuh berserakan di atas nisan Daniel seperti sampah.
"Putih melambangkan kesucian, Vina. Tapi di sini, itu hanya melambangkan kematian yang sia-sia," ucapnya dingin, menatap sisa-sisa bunga itu dengan tatapan merendahkan.
Darahku mendidih. "Kau membunuhnya, kan?" tuduhku tiba-tiba.
Kata-kata itu meluncur begitu saja. Suaraku gemetar hebat. Gosip yang Megie ceritakan semalam terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Dia membunuh tunangannya sendiri demi harta. Jika dia bisa membunuh tunangannya, kenapa dia tidak bisa membunuh Daniel? Kenapa kecelakaan itu terjadi tepat saat perusahaan Ayah butuh dana?
Gerakan Leonard terhenti. Matanya yang hitam pekat beralih dari nisan ke mataku. Intensitas tatapannya begitu mengerikan hingga rasanya oksigen di sekitarku tersedot habis. Selama beberapa detik, kesunyian di antara kami terasa menyesakkan.
"Jika aku memang membunuhnya," Leonard berbisik, dia melangkah maju hingga tubuhnya menjulang di atas tubuhku, suaranya terdengar sangat dekat di telingaku, "apakah itu akan mengubah kenyataan bahwa besok kau akan tetap bersumpah untuk setia padaku di depan altar?"
Aku tercekik. Jawaban itu... dia tidak membantah. Dia juga tidak mengakui. Dia tidak menjawab—dan itu lebih menakutkan. Dia hanya memberikan kebenaran pahit bahwa aku tidak punya kekuatan untuk lari, terlepas dari apa pun dosa yang telah dia lakukan.
"Ayo pulang," perintahnya, nada suaranya berubah datar kembali, seolah percakapan tentang pembunuhan tadi tidak pernah terjadi. Dia meraih lenganku dengan cengkeraman yang kuat namun tidak menyakiti—cengkeraman seorang pemilik atas barang miliknya. "Ibumu menunggumu untuk mencoba gaun pengantinmu. Dia bilang ada beberapa bagian yang perlu dipersempit karena kau semakin kurus. Aku tidak mau pengantinku terlihat seperti kerangka di hari bahagiaku."
Aku membiarkannya menarikku menjauh dari makam Daniel. Kakiku terasa berat, seolah tidak mau bergerak. Aku tidak berbalik lagi. Aku takut jika aku menoleh, aku akan melihat bayangan Daniel berdiri di samping nisannya, menatapku dengan sedih karena aku berjalan pergi bersama iblis.
Saat kami berjalan menuju mobil, aku bisa merasakan tatapan Leonard yang terus tertuju padaku dari samping. Dia tidak menatap jalan setapak yang tidak rata, dia menatap profil wajahku seolah dia sedang menghafal setiap garis emosi di sana. Tatapan itu posesif, lapar, dan menakutkan.
Aku tidak mengerti apa yang dia cari di wajahku. Dia menatapku seolah dia mengenalku jauh lebih lama dari yang seharusnya.
"Jangan pernah berpikir untuk lari, Vina," ucapnya saat membukakan pintu mobil untukku. Suara kunci pintu mobil yang terbuka terdengar seperti suara gembok penjara. "Oakhaven adalah kotaku. Dan kau adalah milikku sepenuhnya. Tidak ada tempat bagimu untuk pergi selain ke pelukanku."
Aku masuk ke dalam SUV hitam itu. Interiornya hangat, kontras dengan udara luar, namun terasa sesak. Aroma kulit jok mobil dan aroma cendana yang pekat langsung menyergapku. Saat Leonard masuk dan menyalakan mesin, aku melihat pantulan di kaca spion.
Di sana, di kejauhan, mawar putih yang hancur tergeletak menyedihkan di atas nisan Daniel.
Hari ini adalah akhir dari masa laluku. Dan besok, aku akan terkurung dalam labirin Lockwood bersama pria yang menatapku seolah aku adalah satu-satunya barang berharga di dunia ini.