19. Pengecut di Balik Gelas Wine

1920 Words

Setir mobil pickup tua itu bergetar hebat di tanganku, seolah mesinnya menjerit kesakitan karena dipaksa melaju di luar kemampuannya. Jalanan aspal Port Vallen yang basah dan gelap terbentang di depan, diterangi satu lampu depan—yang kiri mati, pecah entah kapan. Angin malam menderu masuk lewat jendela yang hancur, menampar wajahku dengan udara asin dan dingin, membawa aroma karat, oli, dan darah yang mulai mengering. "Rose... Rose, dengarkan aku..." teriakku mengalahkan suara mesin yang meraung. "Jangan tidur! Kau dengar aku? Jangan berani-berani menutup matamu!" Di kursi penumpang, tubuh kecil Roseline terguncang-guncang tiap ban mobil menghantam lubang jalanan pelabuhan yang rusak. Kepalanya terkulai miring, darah masih mengalir dari pelipisnya, menetes ke jok kulit sintetis yang sob

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD