18. Aspal yang Memerah

2113 Words

Darah itu hangat. Itu hal pertama yang otakku tangkap di tengah kekacauan yang membekukan ini. Cairan kental yang merembes keluar dari kepala Roseline terasa sangat panas di kulitku yang dingin, kontras dengan aspal jalan raya yang basah dan kasar di bawah lututku. Dunia tidak berhenti berputar saat tragedi terjadi. Itu kebohongan terbesar dalam novel-novel. Dunia justru terus berputar, bising, dan acuh tak acuh. Di seberang sana, musik karnaval dari wahana ombak banyu masih menderu, diiringi teriakan histeris bahagia para remaja. Lampu sorot warna-warni masih menyapu langit malam, seolah-olah tidak ada nyawa yang baru saja diremukkan di atas jalanan ini. "Rose..." bisikku. Suaraku pecah, hilang ditelan angin laut. Aku menatap wajah gadis kecil di pangkuanku. Mata itu... mata yang tad

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD