Jalanan menurun dari Villa Tebing menuju Port Vallen berkelok-kelok tajam, gelap seperti ular. Di dalam mobil sedan mewah kedap suara milik Leonard, dunia terasa hening. Terlalu hening. Hanya ada suara napas kami dan alunan musik klasik yang menyedihkan dari speaker. Di luar sana, malam mulai turun, membawa angin laut yang asin dan dingin, tapi di dalam sini, AC mobil disetel pada suhu yang membuat bulu kudukku meremang. Leonard menyetir dengan satu tangan—kebiasaan arogannya yang dulu mungkin terlihat seksi, tapi sekarang hanya membuatku gelisah. Tangan kanannya, seperti biasa, beristirahat di atas paha kiriku. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk pelan mengikuti irama Nocturne Chopin. "Kau terlalu diam, Vina," ucapnya tanpa menoleh. Matanya terfokus pada jalanan curam di depan, tapi aku tahu

